Tag Archives: UI

Mata Najwa on Stage Universitas Indonesia, Habibie & Suara Anak Negeri

TIDAK SEPERTI BIASANYA Balairung Universitas Indonesia ramai bukan karena upacara wisuda atau OKK. Selasa, 28 April 2015 Mata Najwa on Stage yang mengusung tema Habibie & Suara Anak Negeri datang meramaikan Balairung UI. Seperti reunian akbar, begitu saya menyebutnya tatkala Najwa dan segenap pembicara alumni UI itu —Khofifah Indar Parawansa, Fahri Hamzah, Johan Budi— kembali datang ke UI. Suasana Balairung hari itu benar-benar ramai. Apalagi Mata Najwa turut membawa serta artis-artis kondang seperti Nidji, Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, Cak Lontong, Butet Kertaradjasa dan masih banyak lagi.

Mata Najwa on Stage, Balairung Universitas Indonesia #MataNajwa #Ui #MetroTv #NajwaShihab #Fiesta #kopiko78c #Habibie&SuaraAnakNegeri

Audiens Mata Najwa on Stage, Balairung Universitas Indonesia #MataNajwa #Habibie #Ui #MetroTv #kopiko78c #Fiesta

Meskipun demikian, dari semua yang turut memeriahkan acara, BJ Habibie lah yang paling ditunggu kehadirannya di panggung. Ribuan mahasiswa dan pengunjung rela berdesakan, mengantre di tengah panas demi menyaksikan Habibie lebih dekat. Termasuk saya yang tak kalah antusiasnya dengan yang lain. Meskipun tidak sempat mendapatkan tiket VIP, berada di tengah acara ini sungguh sebuah keberuntungan.

Eyang Habibie, Abang Reza, & Mbak Bunga di Mata Najwa on Stage, Universitas Indonesia

Najwa behind the stage

Lalu apa poin-poin penting dari acara ini?

Di tengah kemelut politik Indonesia saat ini, Habibie memberi pesan kepada anak-cucu intelektualnya untuk tidak takut bermimpi. Habibie ingin agar anak cucunya terus mengembangkan diri melalui potensi yang disukai. Dengan fokus pada apa yang disukai, ia berharap anak-cucunya dapat membawa perkembangan Indonesia ke arah yang lebih baik, khususnya di bidang teknologi.  Continue reading

Saturday and My First Trail Run

SATURDAY“BUSYET, ITU LARINYA DI MANA SAMPE BERLUMPUR GITU…” 

Hihihi… Acapkali ingat kata-kata berikut, rasanya saya tidak bisa menahan tawa. Komentar tersebut keluar dari mulut salah seorang pelari santai yang saya lewati bersama teman-teman Derby di saat menjelang finish. Ia terheran dengan kondisi kaki dan sepatu kami yang tak seperti layaknya pelari lainnya di UI.

Sepatu-sepatu kami tertutup lumpur, banyak bercak cipratan lumpur di betis hingga lutut. Bagi yang belum pernah lihat pelari seperti ini, mungkin mengherankan. Tapi bagi teman-teman Derby lari seperti ini sih biasa. Memang seperti itu trail running…

20150411_072841_1

Yup, hari ini Derby merubah tema lari. Lari yang biasanya mengambil trek di sepanjang jalan UI, hari ini ganti ke hutan UI.

Sejak diumumkan Bang Arief di grup kemarin, saya jadi antusias. Trail running, huh? Kalau saya ikut, ini akan menjadi trail run pertama yang saya ikuti.

IMG-20150411-WA0039_1

Maka Sabtu paginya pun saya segera bergegas ke parkiran Masjid UI yang biasa menjadi tempat mangkal Derby. Setelah pemanasan, dijelaskanlah rute untuk trail run pagi itu. Well, sejujurnya saya tidak begitu mengerti dengan rutenya karena memang tidak ada rambu-rambu yang pasti di hutan. Saya hanya mengandalkan teman-teman yang ada di depan. Setelah bergerak melewati parkiran Fisip, di situlah kami mulai masuk ke hutan, melewati UI Wood, kemudian berputar-putar di dalam hutan, lantas menembus jalan jalan yang mengarah ke Politeknik.

Kira-kira seperti inilah rutenya…

tina latief first trail run

IMG-20150411-WA0035_1

IMG-20150411-WA0030_1

Setelah keluar dari hutan, kami menuntaskan lari hingga halte perpustakaan lama. Seperti biasa, setelahnya ada pendinginan kemudian foto-foto.

IMG-20150411-WA0014_1

20150411_073132_1

My 1st trail run, saya pikir sangat menyenangkan. Dari pengalaman saya, trail run tadi itu jelas sangat berbeda dengan run biasa. Tekanannya lebih berat. Di dalam trek yang seolah tidak terlihat itu, otak harus bisa mensinkronkan antara mata yang harus tetap awas dengan jalanannya yang licin dan berlumpur serta memperhitungkan waktu yang digunakan.

Selain itu, jenis lari ini jelas memerlukan pertimbangan jenis sepatu tertentu. Karena dengan medan seperti tadi itu, jenis sepatu seperti milik saya ini jelas tidak begitu kompatibel.

Saya khawatir jika asal memakai sepatu, justru akan mencederai kaki. Ngomong-ngomong kaki saya tadi sedikit memar di bagian ibu jari dan telunjuk. Sepertinya ini akibat dari kemiringan medan yang cukup memaksa jari-jari kaki saya untuk membuat keseimbangan.

Well, Rute baru selalu membawa suasana baru. Sebagai tipikal pelari yang gemar menjajal rute baru, tadi itu sangat seru. Hanya saja mungkin saya tidak akan pernah menjajalnya sendirian, terutama di hutan UI. Selain seram, banyak hal tak terduga seperti misalnya bertemu kawanan anjing.

Di dalam hutan tadi, saya dan teman-teman sempat berhenti karena ada anjing. “Anjingnya ada empat, satu (pelari) lawan empat (anjing) pasti kalah” kata Bang Arsy. Itu sebabnya saya tidak mau ngetrail sendirian. Lagipula apa sih enaknya lari sendirian. Lari itu enaknya ya kalau rame-rame begini.

IMG-20150411-WA0011_1

Begitu deh ceritanya lelarian tadi. Sampai jumpa di acara lari berikutnya.

Salam Derby 🙂

©Tina Latief 2015

Note: Pictures mostly taken by Tata and Arsy, edited by Tina Latief

My First Run with Depok Running Buddy (DERBY)

SEKEMBALINYA DARI LIBUR PANJANG DI JOGJA, saya khawatir saya tidak bisa berlari lagi. Saya khawatir tidak punya teman lari. Karena bagi pelari pemula, ada baiknya jika saya memiliki teman atau mentor lari yang dapat memotivasi.

Saya takut, ketika tidak punya teman lari, saya akan dihinggapi penyakit malas untuk berlatih. Bayangkan jika rasa malas sudah menghinggap. Mungkin untuk membawa kaki ini melangkah keluarpun akan sangat sulit. Untuk itulah saya menurut kata teman saya “Carilah teman yang mau diajak berlari atau komunitas lari” begitu ucapnya.

Benar, sayapun mulai mencari teman. Dari mulai bertanya kepada teman kampus, hingga akhirnya berkenalan dengan anggota komunitas di Facebook, pada akhirnya Minggu kemarin saya bisa join dengan salah satu komunitas lari di Depok yaitu Depok Running Buddy (Derby).

20150314_075910_1

AIni adalah foto yang kami ambil tatkala usai berlari. Diantaranya saya baru mengenal Bang Jali (dari kiri nomor dua) dan Dony, teman saya sendiri (tengah). Sebenarnya ada banyak anggota Derby, kebetulan saja teman-teman komunitas sedang mengadakan ivent trail running di Salak, “Jadi banyak yang ngga datang”, kata salah seorang pelari.

meWell, bagi saya no problem. Saya sudah senang akhirnya menemukan teman lari. Dari sini saya bisa belajar berlari. Seriously, mereka jago-jago berlari.

Ngomong-ngomong, ini adalah record lari pertama saya dengan Derby kemarin. Dengan mengambil rute lingkar luar UI, pelan-pelan saya bisa membuntut teman-teman Derby berlari.

Meskipun sempat tertatih, tertinggal dengan teman-teman yang lain, senang rasanya bisa mengimbangi jarak lari sejauh ini. Saya tidak menyangka akan kuat berlari seperti ini. Meskipun pace-nya masih jelek, hehe, bisa terus berlari sampai di finish bagi adalah kepuasan tersendiri.

Satu hal lagi yang membuat saya senang, yaitu karena apa yang saya yakini telah terbukti. Running can absolutely chase away my pessimism. Makin semangat saja untuk berlari. Jadi #ayolari !

©Tina Latief

Hari Pertama Kuliah di Tahun Ketiga

LIBUR PANJANG telah usai, waktunya kembali ke bangku kuliah. Dan hari ini adalah hari pertama saya dan teman-teman masuk kuliah di tahun ke tiga. Tahun yang kabarnya semakin berat tantangannya karena sebentar lagi kami segera lulus menjadi sarjana.

Maka pada pagi harinyapun saya mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya. Bangun pagi, mandi, sarapan, shalat Dhuha, tak lupa berdoa agar semuanya diberi kemudahan dan kelancaran.

Karena sejak dini hari tadi hujan tidak kunjung berhenti, maka sayapun mengenakan payung dan jaket tebal untuk menutupi badan. Setelah rapih barulah saya berangkat, naik bus kuning seperti biasa…

Perkuliahan hari ini berlangsung pada pukul sebelas hingga setengah lima sore. Tidak ada basa-basi seperti mahasiswa tahun pertama. Tidak ada pengantar, joke dan sebagainya. Semuanya langsung pada intinya.

Ada mata kuliah istimewa tahun ini, yaitu Masyarakat dan Perubahan Sosial di Asia Tenggara. Mata kuliah yang diajar oleh dosen-dosen istimewa karena kesemuanya lulusan universitas di luar negeri. Maka mata kuliah istimewa ini pun tentu saja disampaikan dengan cara yang istimewa pula. Tebak apa!

Mata kuliah ini disampaikan dengan menggunakan bahasa asing. 🙂

Lalu bagaimana kesannya?

Hihi. Bila teringat suasana kelas terakhir tadi saya malah jadi ingin senyum-senyum sendiri. Pasalnya di kelas yang jumlah mahasiswaya berlebih itu, selain tidak kondusif sama sekali tidak ada yang bisa kami pahami. Dosen kami mungkin terlalu pintar sehingga sulit mengerti apa yang dibicarakannya.

When he speak in bahasa many of us don’t know what he talks about so we never really pay attention to him. Imagine when he speak in English. It worse! 

Demikian bisik saya kepada teman yang belum pernah mengambil kelas sang dosen. Makanya, hari pertama kuliah tadi terkesan seperti kuliah di pertengahan semester. Mau tau apa komentar teman-teman saya, lihat foto dan meme yang saya kutip dari group berikut!

Well, semoga saja perkuliahan semester ini baik-baik saja. Semangat!

©Tina Latief

Segelas Susu untuk Senyum Terbaikmu

Hari pertama perkuliahan di semester baru ini dimulai hari ini, Senin, 1 September 2014. Setelah tiga bulan lamanya menikmati liburan, kini mahasiswa harus kembali ke rutinitas sesungguhnya yaitu B E L A J A R.

Namun, apakah para mahasiswa sudah siap kembali ke medan laga? Jawabnya: biasanya sih tidak!

Hari Senin, jadwal pagi, bayang-bayang kemacetan selama di perjalanan. Biasanya inilah yang menjadi biang kerok, dalang dari lunturnya senyum ceria di hari pertama kuliah. Wajah-wajah cerah usai menikmati masa liburan seketika berubah menjadi wajah-wajah kusut berkerut-kerut.

FSI FISIP UI rupanya mampu membaca situasi ini. Dalam rangka menyambut hari pertama masuk kuliah tadi, mereka berinisiatif memberikan penyemangat kepada teman-teman mahasiswa di FISIP. Beramai-ramai mereka turun ke jalan, membagi-bagikan segelas susu, ditambah dua keping cookies dan kartu ucapan. Syarat mendapatkannya pun mudah, mahasiswa yang datang hanya perlu membayarnya dengan senyuman. 🙂

Kreatif sekali, ya…

20140901_074035Meskipun terbilang sederhana, namun saya menyukai ide tersebut. Berbagi semangat dengan cara yang unik, jarang-jarang bukan?

Saya jadi ada inspirasi. Mengingat semester ini adalah semester yang tidak mudah, alangkah baiknya jika kita meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama.

Saling bantu, support! Agar perkuliahan mendatang menjadi terasa ringan. Hingga pada akhirnya perjuangan akan berbuah manis. Semanis segelas susu, serenyah potongan cookies…

Have a cheerful Monday! 🙂

tinaa

Mendaki Gunung, Lewati Lembah

Hari kedua, Rabu, 18 Juni 2014

Pasir Buncir, Caringin

Makanan dan perut kembung yang sesuatu itu…

Seberkas cahaya jingga keemasan dari ufuk Timur memberikan sambutan hangat pagi hari ini. Sekelompok burung layang-layang saling berputar di atas hamparan jingga langit itu. Sepersekian detik kemudian warna jingga itu berubah menjadi cahaya-cahaya lembut yang berusaha menerobos gugusan awan yang melintas di sekelilingnya. Di sinilah saya melihat detik-detik pergantian antara batara surya yang baru saja terbit, pagi, dan menjelang siang hari… 20140618_055100

20140618_062525

Burung-burung yang tidur di balik pepohonan mulai menampakkan batang hidungnya. Kicauannya riuh seiring dengan kepakan-kepakan sayapnya. Tak lama, wajah-wajah kuyu, kusut, yang semula terbaring kaku di atas 3 lembar kasur tua pun mulai mengikuti jejak sang burung, mengeliat, bergerak. Beberapa turun untuk bergegas mandi, semetara sisanya tidur-tidur ayam sembari menanti giliran. Hari kedua di Pasir Buncir tidaklah buruk setelah semuanya dapat beristirahat. Dengan wajah yang lebih segar dan bersemangat, pagi ini kami ber-18 menyebar ke seluruh penjuru desa dalam rangka mengkonfirmasi  data responden yang telah kami olah pada malam sebelumnya…20140618_085801

Seakan sambutan hangat pagi itu hanyalah halusinasi belaka setelah apa yang terjadi kemudian di lapangan. Saya mulai merasakan kelelahan yang sangat pasca menaiki dan menuruni kontur tanah yang sangat tidak merata di sana. Pencarian rumah RT dan RW 02 (bagian tugas listing populasi kami) ternyata memang tidak semudah yang kami bayangnya. Bak orang buta yang meraba-raba, saya dan salah seorang teman lainnya memang hanya bisa meraba dan menerka bagian-bagian dari desa yang terpisah menyebar tak tentu arah itu.

20140618_125525

Tebak! harga makanan ini berapa? 😥

Kesalahan saya selama di lapangan adalah tidak menanyakan ukuran jarak tempuh kepada warga dengan ukuran baku yang biasa digunakan untuk mengukur jarak. Ketotolan saya, di sini saya justru sering berpatokan pada pendapat orang tentang jauh-dekatnya sebuah jarak wilayah bukanya pada ukuran baku yang semestinya. Tidak terlintas pula di pikiran saya bahwa jarak relatif yang dipatok di sini berbeda dengan yang dipatok di tempat saya berasal. Di sini, di daerah yang terbagi atas beberapa wilayah yang tersebar diantara pegunungan ini, wajar jika masyarakatn menganggapnya sebagai sebuah jangkauan yang cukup dekat. Sayangnya, saya terlambat menyadarinya. Sehingga seringnya saya merasa tertipu ketika mendapati jarak yang sesungguhnya berbeda dengan yang dikatakan orang-orang. “Deket kok, mba. Ngga jauh kok mba”. Padahal jaraknya bisa  berkilometer. Grrrrr…

Lelah mendaki dan mencari ataupun dijuteki oleh salah seorang warga mungkin bukanlah hal yang begitu urgent untuk diberi perhatian saat ini. Disamping menjaga kesehatan pencernaan, perut kembung yang sudah terjadi selama dua hari inilah yang betul-betul perlu diwaspadai. Udara dan air di sini memang sangat dingin, tidak ada pilihan lain selain mandi pagi karena kegiatan berlangsung mulai pagi hingga malam hari. Ditambah dengan tidak adanya keramahan warga dalam menyediakan makanan dengan anggaran yang menurut kami sudah masuk akal (terlalu mencari keuntungan), maka sesungguhnya kesehatan berada di dalam kewaspadaan.

Inilah yang terpenting karena 6 hari lagi kami berada di sini…tinaa

31 Mei, Kemarin adalah Seminar Pertama Kami

Hari itu, Sabtu 31 Mei 2014, saya dan seluruh mahasiswa dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial Kuantitatif (MPS Kuantitatif) melangsungkan seminar Research Design untuk yang pertama kalinya. Seminar itu, meski hanya dihadiri oleh teman-teman satu angkatan dan para pengajar sendiri, namun kesannya begitu membekas di hati. Terkhususnya bagi saya sendiri. Sehingga saya tuliskan pula ceritanya di sini sebagai sebuah ingatan. Bahwa ini adalah permulaan atas eksistensi saya sebagai sosok yang ingin mendedikasikan diri untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan bidang akademis.

suasana presentasi Research Design di gedung AJS, Fisip UI

Presentasi Design Penelitian dengan tema Lingkungan

Meskipun demikian, di dalam cerita saya kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana sidang MPS itu berlangsung atau bagaimana kehebohan tim-tim riset dalam mempresentasikan karyanya. Di sini saya akan menuliskan beberapa hal terpenting dari terselenggaranya seminar kemarin.

1. Tentang Plagiasi
Tentang plagiasi adalah yang paling utama dari apa yang ingin sampaikan dari hasil seminar kemarin. Meski dari kami juga tidak ada yang melakukan plagiasi, ini adalah pesan yang perlu dicamkan dan diingatkan berulang-ulang. Karena bagi seorang akademisi plagiasi adalah hal yang paling tidak bisa dimaafkan. Dosa terbesar, begitu kami biasa menyebutnya. Dosa yang tidak akan pernah termaafkan, sehingga mutlak haram hukumnya.

2. Tentang Literatur
Kekurangan desain penelitian kami adalah tentang penggunaan literatur sebagai bahan kajian. Kentara sekali, kami banyak mengandalkan internet sebagai sumber kami memperoleh informasi baik jurnal maupun literatur jenis lainnya. Minimnya sumber-sumber literatur dari buku menandakan bahwa kami sangat dan sangat kurang membaca. Sehingga pesan utama di sini adalah saya harus lebih banyak membaca buku.

Masih dalam konteks penggunaan literatur, kami mahasiswa juga dipesan untuk menggunakan jenis literatur yang baik. Jenis literatur yang baik menurut seminar kemarin adalah literatur yang bersumber dari tulisan yang terpercaya, memiliki kredibilitas, dan dari sumber-sumber pilihan. Malu rasanya ketika reviewer mengatakan “Kalian mahasiswa UI, masa literaturnya memakai literatur dari sumber begini!” Begitu tertohok hati ini, sayapun hanya tertunduk malu. Mulai dari detik ini saya akan berusaha menggunakan referensi dari jurnal-jurnal dan tulisan-tulisan yang baik.

3. Tentang Presentasi 
Tentang presentasi, menurut saya ini juga penting. Bagi seorang akademisi, berbicara di depan umum menyampaikan gagasan dari apa yang ia temukan adalah hal yang tidak mungkin tidak. Nah, dalam hal ini, seseorang dituntut untuk bisa berbicara yang baik. Ia harus mampu menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang baik sehingga dimengerti orang banyak.

Saat itu saya memang tidak menjadi presentator, kebetulan saya bertugas sebagai penanggungjawab atas reviewer dan pembahas. Namun dari presentasi yang dibawakan oleh teman-teman saya yang lain, saya jadi belajar satu hal. Membawakan sebuah presentasi yang baik itu perlu belajar. Bagaimana seseorang bicara, menarik atensi, menyampaikan gagasan, semua itu perlu belajar untuk menjadi seorang presentator yang baik. Sehingga sayapun membuat rencana untuk studi di semester mendatang. DI semester mendatang saya ingin mengambil mata kuliah public speaking. 

Mengenai plagiasi, jelas ini harus benar-benar di jauhi. Tentang literatur, memang benar kami mahasiswa UI seharusnya memilih sumber-sumber dari penelitian yang terbaik. Meskipun demikian, saya masih memiliki pertanyaan. Di manakah saya bisa memperoleh jurnal dan literatur yang cukup kredibel?

Saat ini saya menggunakan JSTOR sebagai bahan referensi, beberapa lainnya saya peroleh dari perpustakaan online universitas-universitas dunia. Sejujurnya saya masih kesulitan mencari literatur yang baik. Hambatan pertama karena tidak semua jurnal maupun buku digratiskan/ dibuka untuk umum, selain itu saya mulai terbiasa mengandalkan internet.

Bukan karena malas membaca bukunya, tetapi karena sulit menemukan bukunya. Menejemen perpustakaan yang tidak baik menyebabkan saya kesulitan mendapatkan buku yang saya inginkan. Sesungguhnya saya berharap di tengah penggunaan internet yang makin santer ini ada browser yang dapat membawa saya ke penelusuran artikel, jurnal, dan penelitian yang memiliki kredibilitas tinggi. Saat ini seharusnya biasa memperoleh jurnal ataupun ebook dari internet seperti halnya pergi ke perpustakaan. Sayangnya sampai sekarang belum ada. Bahkan Google Cendekia pun tidaklah cukup membantu…

Foto-foto oleh: Ida Ruwaida