Tag Archives: uas

Antiklimaks

SAYA masih ingat betul bagaimana rutinitas saya selama dua minggu terakhir. Biasanya jam segini ini saya belum makan. Belum mandi. Belum bertemu teman. Bahkan belum pula keluar kamar. Kalau tidur pasti sudah melewati jam malam. Kemudian bangun kesiangan karena malamnya kelelahan begadang.

Jadi seharian saya terus berada di kamar. Yang bersama saya hanyalah sebuah laptop, ponsel, setumpuk buku, lalu kue dan air mineral. Yang saya kerjakan adalah nugas, mengerjakan tugas UAS. Yang entah mengapa di semester ini ujian akhir tampak begitu ganjil. Dari delapan mata kuliah, tujuh diantaranya diujikan berupa paper dan laporan penelitian. Sehingga, dua minggu ini terasa begitu melelahkan…

Meskipun demikian saya berhasil melewatinya dengan baik. Tidak ada tugas yang tercecer ataupun peristiwa saya kelelahan kemudian tumbang. Tidak. Syukurlah Tuhan memberikan kemudahan di dalam saya mengerjakan tugas. Hingga hari terakhir UAS yaitu hari ini, semuanya berjalan lancar tiada kurang suatu apapun.

Hari ini saya sudah rehat, mencoba menjalani kehidupan manusia pada umumnya lagi. Tadi saya sudah sempat jalan dengan teman, belanja, ke skin care, hingga makan di restaurant. Rasanya memang menyenangkan bisa kembali ke rutinitas normal.

Hanya saja malam ini sedikit aneh. Ketika UAS telah selesai dan tidak ada lagi yang dikerjakan, saya justru kebingungan. Tidak ada jadwal belajar, tidak ada target selesai mengerjakan tugas. Akhirnya saya hanya bisa berguling ke kiri atau kemudian ke kanan sambil memeluk laptop di atas perut. Kemudian saya memutuskan untuk menuliskan kebingungan saya di sini.

Saya baru ingat, ketika sibuk nugas saya sama sekali tidak sempat membuat tulisan.

Jadi inilah tulisan saya setelah UAS…

©Tina Letief

Satu Hari Itu Tanpa Listrik …

SEBELUM hari ini mungkin saya tidak pernah berpikir bagaimana jika listrik tidak ada lagi. Sebelum hari ini mungkin tidak pernah sekalipun terpikir bahwa mungkin listrik tidak bisa digantungkan selamanya. Mungkin tidak hanya di dalam benak saya, ratusan mahasiswa yang tinggal di asrama UI saat ini mungkin juga berpikir tentang hal yang sama. Hari ini tepat pukul 10.30 malam ketika listrik kembali menyala, barulah kami menyadari betapa pentingnya listrik bagi kehidupan.

***

Sejak pukul 9 pagi listrik di Asrama UI mati. Sementara listrik mati, air juga ikut mati. Aktivitas seperti beribadah, menyediakan makanan di kantin, mandi, belajar, bahkan untuk ke kamar kecil sangat terganggu. Yang lebih parah, dalam sekejab seluruh piranti andalan kami (ponsel, laptop, dll) turut mati kehabisan baterai. Sebelum tengah hari rasa panik telah menyelimuti pikiran saya. Bagaimana dengan nasip tugas UAS yang esok hari segera dikumpulkan?

Mulanya saya menduga, listrik padam —seperti biasa— hanya akan sementara. Akan tetapi semuanya berubah ketika jam demi jam pun berganti. Ketika pagi menjadi siang, siang menjadi sore dan pada akhirnya malam, listrik tak kunjung menyala. Bahkan keran-keran air pun sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyala barang sedikit.

Saya mulai merasakan aura cemas dari semua penjuru asrama. Semua orang mengeluh. Hari ini, tidak ada orang yang tidak kewalahan dengan ketiadaan listrik.

Terlebih padamnya listrik tidak dapat diprediksi. Menurut kabar petugas, gardu listrik utama yang terletak di Lenteng Agung mengalami kerusakan. Sementara kami berharap cemas, tidak ada kabar pasti kapan listrik akan menyala kembali.

Menjelang pukul enam sore, saya memutuskan untuk move on dengan pergi ke kampus. Bukan untuk menghadiri kuliah melainkan untuk mandi dan mencari saluran listrik. Sangat tidak biasa, tapi apa boleh buat. Hanya di sini saja, saya dan dua orang teman saya, Apip dan Farah dapat menemukan sumber listrik.

Sembari menunggu baterai terisi, saya merenung dan berpikir tentang kejadian hari ini. Sebelumnya saya tidak pernah berpikir bagaimana jika listrik benar-benar tidak ada lagi. Percuma saja jika mengandalkan banyak barang elektronik namun tidak dengan sumber dayanya. Rasa-rasanya kembali ke zaman batu akan terasa lebih baik. Yang mana semuanya akan baik-baik saja walau tanpa listrik.

Akan tetapi, jelas saya tidak ingin kembali ke zaman batu. Selain tidak siap, saya ingin terus hidup di tengah modernisasi. Pada akhirnya saya menyadari, jika listrik merupakan perihal yang teramat penting bagi kehidupan manusia maka harus ada yang memperhatikan keberlangsungannya. Pertanyaannya adalah apa yang dapat kita lakukan untuk menjaga keberlangsungan listrik?

Pertanyaan sulit saya kira. Karena hingga saat inipun saya belum tahu apa yang dapat benar-benar saya lakukan untuk  mempertahankan keberadaan listrik di tengah kehidupan. Meskipun demikian ada dua hal penting yang saya garisbawahi pada peristiwa ini, pertama bahwa manusia perlu menata ulang kembali  gaya hidup yang serba bergelimang listrik itu. Bagaimanapun juga semuanya harus menyadari bahwa sudah bukan waktunya lagi boros menggunakan listrik.

Pada akhirnya, jelas, harus ada alternatif baru agar kehidupan manusia tidak melulu bergantung kepada listrik. Misalnya sesuatu yang dapat menggantikan aktivitas menanak nasi, merebus air, mengetik, yang mungkin bisa dilakukan tanpa listrik. Bukan berarti kembali ke zaman batu, hanya saja memang sudah saatnya kita semua bijak memaknai kehidupan yang berkelanjutan.

©Tina Latief