Tag Archives: Travel Tales

Sekelumit Cerita dari Pelosok Banten

Sebagian besar masyarakat di Desa Sujung menggunakan dan mengonsumsi air sungai yang tercemar limbah dan kotoran. Ini kabar buruk bagi masyarakat.

Provinsi Banten hingga saat ini masih menjadi sasaran pembangunan sanitasi Indonesia karena buruknya sanitasi di wilayah tersebut. Terutama untuk wilayah perdesaan yang notabene memiliki tingkat akses terhadap sanitasi layak yang sangat rendah jika dibandingkan perkotaan. Hasil analisa sampel air di Desa Sujung oleh Laboratorium Teknik Penyehatan dan Lingkungan Universitas Indonesia menunjukkan parameter air yang selama ini digunakan warga untuk kegiatan rumah tangga (air sumur dan air sungai) masih melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakart (PerGub). Berdasarkan hasil uji laboratorium, air yang digunakan warga masih banyak mengandungan zat-zat yang berbahaya seperti bakteri E.Coli, COD, TSS, BOD, besi dan mangan.

Continue reading

Membingkai Keindahan Alam Laut Pantai Selatan dari Puncak Mercusuar Tanjung Baron

IMG_20160325_183620

Di atas Mercusuar Tanjung Baron, saya menjajal pengalaman baru dalam menikmati wisata laut. Rasanya begitu fantastis. Saya merasakan nuansa baru dari petualangan alam laut yang merupakan kombinasi antara uji adrenalin dan rasa keingintahuan pada sesuatu yang belum pernah saya jajal sebelumnya.

Kemasyuran keindahan alam laut pantai selatan di Gunung Kidul, Yogyakarta saya pikir tidak perlu diragukan lagi. Biru lautnya, gemuruh ombaknya, pasirnya, hingga hasil tangkapan para nelayannya selalu menjadi daya tarik ribuan pengunjung. Berenang, berselancar dan bermain pasir menjadi ritual yang tidak pernah terlewatkan. Namun pernahkah Anda membayangkan menikmati keindahan laut dari perspektif yang berbeda? Pernahkah Anda menikmati wisata alam laut dari ketinggian 40 meter?

Continue reading

Menjejakkan Kaki di Negeri Sawit

Setelah sempat kalap oleh buruknya cuara —berkali-kali terguncang sangat keras, bahkan sempat diliput suasana gulita— akhirnya, pesawat Boeing yang saya tumpangi berhasil mendarat dengan mulus.

Saya masih ingat bagaimana suasana saat masih di atas, kabin begitu sepi, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut para penumpang. Semuanya diam, membisu menunggu datangnya titik terang. Hingga saat cahaya remang-remang terlihat dari jendela pesawat barulah terdengar hela nafas lega dari para penumpang. Gugusan berwarna hijau tua mirip terumbu karang yang nampak dari jendela kedua sisi pesawat menjadi pertanda bahwa kami sebentar lagi tiba di Riau.

Continue reading