Tag Archives: Thailand

Understanding the Political Corruption in Thailand

FridaySAYA MENCOBA MEMAHAMI korupsi politik yang ada di negara-negara dunia. Kali ini saya mulai dengan Thailand sebagai salah satu dari negara yang tak luput dari peliknya masalah korupsi.

Dalam papernya, Clark D Neher menemukan bahwa korupsi di Thailand sejalan dengan dua preposisi yakni adanya dorongan rasional untuk memaksimalkan keuntungan dan akibat adanya harapan peran orang lain dan orientasi terhadap perannya sendiri.

Naher menjelaskannya melalui studi kasus dalam bagan berikut.

Corruption in a Thai Province

Official A merupakan salah satu pemegang jabatan birokrasi utama di provinsi yang tugasnya bertanggung jawab mengalokasikan barang pertanian (misalnya, pupuk, mesin, insektisida) kepada petani, menyediakan penyuluhan kepada kelompok-kelompok petani dan bertanggungjawab dalam melakukan negosiasi kontrak dengan pemasok bahan pertanian dan dengan perusahaan transportasi lokal untuk mendistribusikan persediaan tersebut. Untuk mempermudah distribusi, ia berhubungan dengan birokrasi formal dan jaringan informal di masyarakat. Dalam kenyataannya, Official A menggunakan posisinya untuk kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan orang-orang tertentu di masing-masing kelompok formal dan informal. Di dalam bagan ditunjukkan bahwa sepertiga dari orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan Official A terlibat dalam perilaku korup. Termasuk saat Official A menerima suap dari perusahaan transportasi dan perusahaan peralatan pertanian untuk memastikan kontrak-kontrak besar dari pemerintah.

Naher menyebutnya sebagai konsekuensi dari hubungan patron-client (hubungan pertukaran peran).

Dalam proses interaksi, sebagian besar orang berusaha untuk memaksimalkan tercapainya imbalan tertentu (nilai positif) dan meminimalkan biaya tertentu (nilai negatif). Ketika individu berinteraksi secara berulang dari waktu ke waktu—misalnya seperti dalam birokrasi— maka akan terjadi hubungan pertukaran berkelanjutan yang menghasilkan nilai-nilai bersama dan harapan terhadap peran yang pada gilirannya akan mendorong terjadinya interaksi terus menerus.

Karena orang cenderung mengulangi pengalaman yang memuaskan dan cenderung menghentikan pengalaman dengan orang-orang yang tidak menyenangkan, sebagian orang berusaha untuk menyesuaikan nilai-nilai dan orientasi peran mereka. Hubungan pertukaran ini menentukan batas-batas aktivitas politik dan menyediakan ruang bagi interaksi norma-norma politik. Di Thailand, norma menghormati otoritas dalam hubungan hierarkis termasuk dari budaya politik. Norma ini secara struktural diwujudkan dalam jaringan hubungan atas-bawah (patron-client) di dalam masyarakat Thailand.

Continue reading