Tag Archives: susah

Mengambil Foto di Kereta Commuter

image

image

Pulang dari Jakarta saya memilih kereta commuter sebagai moda transportasi untuk mengantarkan saya kembali ke kediaman di Depok. Waktu menunjukkan pukul 19.18 di handphone saya, waktunya segera beristirahat sebetulnya. Namun karena perjalanan masih jauh, saya harus bersabar terlebih dulu. Saya hanya berharap kali ini tidak ada ibu-ibu ataupun penumpang yang berkebutuhan khusus. Jujur saja, seharian berjalan dengan heels di acara gladi resik tadi membuat kaki saya enggan untuk diajak berjalan, terlebih untuk berdiri sekedar memberi bantuan.

Harapan saya terkabul. Penumpang ke arah Depok dan Bogor tidak sebanyak yang saya pikirkan. Saya bisa duduk lega, bergerak bebas, hingga duduk berselanjar.

Momen inipun membuat keisengan saya muncul. Saya mengambik foto suasana di kereta. Selain karena lighting yang menurut saya bagus untuk diabadikan, saya ingin menguji kemampuan saya mengambil foto.

Tetapi susah juga ternyata mengambil foto dalam kondisi kereta berjalan. Pikir saya, dengan kondisi kereta yang berjalan mulus dan tidak banyak penumpang ini akan memudahkan saya mengambil gambar di kereta. Nyatanya susah. Selain karena kemampuan fotografi saya masih buruk, mendapatkan fokus gambar dengan kereta yang bergoyang itu susah sekali. Akhirnya ganbarnya ya begini.. jelek. Perlu beberapa kali memotret dan sabar menunggu momen di saat kereta bergerak melambat.

Hhh.. saya jadi makin lelah. Hehe…
Selamat bermalam Minggu sobat!

Ngobrol itu, susah-susah menjengkelkan

Ngobrol itu susah-susah gampang. Malah kadang menjengkelkan.

Misalnya saja masalah IP. Sepanjang yang saya amati kemarin, IP itu sebenarnya topik sensitif di kalangan mahasiswa. Sudah pasti ada kelompok yang menganggap cerita-cerita masalah IP itu haram hukumnya (privacy), tapi juga sebaliknya ada kelompok tertentu yang fulgar-fulgar saja cerita.

Treatment jika kita berada dalam kedua kelompok tersebut tentu berbeda. Dengan kelompok “privacy”, tentu kita lebih menghindari topik obrolan yang menyangkut IP dan lebih memilih topik obrolan yang lain. Sedangkan kita bisa lebih enjoy dengan kelompok “fulgar” tanpa susah-susah memilik topik pembicaraan yang lain.

Mulanya saya pikir mengkondisikan suasana perbincangan dengan kelompok “privacy” akan lebih susah, nyatanya tidak begitu juga. Di dalam kelompok “fulgar” ternyata masih ada kelompok lain yang memerlukan treatment yang berbeda.

Masih masalah IP. Sifatya hampir sama dengan kelompok “fulgar”. Aktif dalam memberikan umpan dan feedback. Jika satu pertanyaan yang kita jawab tidak cukup memuaskan, maka kita akan diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Bagi orang seperti ini, menjawab semua pertanyaannya adalah bentuk penghormatan baginya. Namun mengkondisikan perasaan dibalik perbincangan itulah yang susah.

Misalnya seperti yang saya alami kemarin,
“Eh, IP lo kemarin berapa?”
“ah standar saja”.
“Iya, berapa?”
“Ya berapa sih standarnya UI”
“Oh, jadi 3 koma berapa?”
“………”

[kepo amat]

Jawaban terakhir inilah yang menentukan kondisi perbincangan selanjutnya. Dan biasanya saya langsung malas menjawab. Pengalaman, orang yang saya jawab akhirnya justru badmood dengan jawaban saya. Pelajaran bagi yang mau bertanya. Apapun itu, kalau belum siap mendengar jawabannya lebih baik tidak usah bertanya.

Tentang anak dan orang tua

Anak-anak sekarang seharusnya lebih bahagia karena orang tua yang kurang bahagia di jamannya berusaha keras memperjuangkan kebutuhan anaknya untuk lebih bahagia dibandingkan diriya dulu. Mencukupi segala kebutuhan yang tidak dirasakan orang tuanya dulu. Kasih sayang, perhatian, pendidikan, fasilitas, lingkungan kondusif. Jangan sampai anak kita mengalami nasip seperti kita dulu.

Seharusnya anak-anak yang terlahir sekarang akan menjadi anak yang lebih baik dari orang tuanya. Baik secara moral, pendidikan, pengetahuan, pencapaian, dan segala-galanya. Karena anak yang seperti ini telah dibangun orang tuanya untuk bisa lebih maju beberapa level di atas orang tuanya. Orang tua yang hanya lulusan SD, pasti tidak mau anaknya hanya menjadi lulusan SD. Meski faktor-faktor lain seperti ekonomi sulit, ia akan berusaha memperjuangkan anaknya agar bisa lulus SMP atau SMA. Orang tuanya guru SD, bisa jadi anaknya dosen atau profesi lain yang lebih tinggi. Orang tua pengemis atau pencuri pun tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya. Mereka akan berharap lebih dan lebih karena orang tua telah memiliki pengetahuan dari pengalaman hudupnya.

Tetapi jika anaknya tidak lebih baik dari orang tuanya sesungguhnya orang tualah yang bersalah. Bersalah mengapa tidak memberi kepercayaan dan dukungan bahwa ia akan menjadi seseorang yang lebih baik dari orang tuanya. Bersalah mengapa pola pikir anaknya tidak lebih baik dari orang tuanya. Yes yes, sepenuhnya itu tanggung jawab orang tua. Menjadi apa anak yang sekarang adalah cerminan orang tua. Seberapa banyak, seberapa besar mimpi dan pengetahuan yang dimiliki orang tua tergambar jelas pada anak.

Menjadi orang tua itu mudah. Tetapi menjadi orang tua yang baik itu sangat-sangat susah. Pertanyaan mendasar bagi orang yang ingin membangun keluarga adalah “Keluarga seperti apa yang akan dibangun?”. Lalu, pertanyaan besar bagi orang tua adalah “Akan membesarkan anak seperti apakah kita?”

Baru setelah itu mereka baru memiliki alasan mengapa berkeluarga, mengapa ingin menjadi orang tua. Kalau tidak, Anda benar-benar tidak layak bermimpi. Loh, anak itu bukan untuk coba-coba!

Susah BAB, apa solusinya?

Normalnya setiap pagi saya rutin BAB, diawali dari mulas-mulas sampai akhirnya saya memutuskan nongkrong berham-jam di kamar mandi. Akan tetapi seminggu ini saya mulai tidak rutin BAB. Saya pikir, saya mengalami masalah pencernaan. Maksud saya tentu sisa makanan yang telah dicerna kemarin seharusnya dikeluarkan esok harinya. Namun yang terjadi justru berhari-hari saya tidak bisa BAB. Rasanya lapar disaat memasuki jam-jam makan, namun ketika diisi saya menjadi sulit bernafas. Perut rasanya penuh dan membuncit. Saya jadi ngga pede mau pakai kaus yang lumayan skinny.

Susah BAB memang bukan sekali ini saja, sudah berkali-kali. Menurut beberapa artikel yang saya baca, masalah kurang lancarnya BAB disebabkan oleh kurangnya asupan serat setiap hari. Saya tau serat bisa ditemukan di dalam buah dan sayur, akan tetapi mengonsumsi dalam jumlah banyak pun masih tidak ada efeknya. Sementara solusi terbaik saat ini hanya minum pencahar sebagai alat untuk membantu melancarkan sistem ekskresi. Namun mau sampai kapan? Sedangkan saya belum tau apa efeknya terlalu banyak mengonsumsi pencahar dalam jangka waktu yang cukup lama..

Ada solusi?