Tag Archives: sosiologi

Hari Pertama Kuliah di Tahun Ketiga

LIBUR PANJANG telah usai, waktunya kembali ke bangku kuliah. Dan hari ini adalah hari pertama saya dan teman-teman masuk kuliah di tahun ke tiga. Tahun yang kabarnya semakin berat tantangannya karena sebentar lagi kami segera lulus menjadi sarjana.

Maka pada pagi harinyapun saya mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya. Bangun pagi, mandi, sarapan, shalat Dhuha, tak lupa berdoa agar semuanya diberi kemudahan dan kelancaran.

Karena sejak dini hari tadi hujan tidak kunjung berhenti, maka sayapun mengenakan payung dan jaket tebal untuk menutupi badan. Setelah rapih barulah saya berangkat, naik bus kuning seperti biasa…

Perkuliahan hari ini berlangsung pada pukul sebelas hingga setengah lima sore. Tidak ada basa-basi seperti mahasiswa tahun pertama. Tidak ada pengantar, joke dan sebagainya. Semuanya langsung pada intinya.

Ada mata kuliah istimewa tahun ini, yaitu Masyarakat dan Perubahan Sosial di Asia Tenggara. Mata kuliah yang diajar oleh dosen-dosen istimewa karena kesemuanya lulusan universitas di luar negeri. Maka mata kuliah istimewa ini pun tentu saja disampaikan dengan cara yang istimewa pula. Tebak apa!

Mata kuliah ini disampaikan dengan menggunakan bahasa asing. 🙂

Lalu bagaimana kesannya?

Hihi. Bila teringat suasana kelas terakhir tadi saya malah jadi ingin senyum-senyum sendiri. Pasalnya di kelas yang jumlah mahasiswaya berlebih itu, selain tidak kondusif sama sekali tidak ada yang bisa kami pahami. Dosen kami mungkin terlalu pintar sehingga sulit mengerti apa yang dibicarakannya.

When he speak in bahasa many of us don’t know what he talks about so we never really pay attention to him. Imagine when he speak in English. It worse! 

Demikian bisik saya kepada teman yang belum pernah mengambil kelas sang dosen. Makanya, hari pertama kuliah tadi terkesan seperti kuliah di pertengahan semester. Mau tau apa komentar teman-teman saya, lihat foto dan meme yang saya kutip dari group berikut!

Well, semoga saja perkuliahan semester ini baik-baik saja. Semangat!

©Tina Latief

31 Mei, Kemarin adalah Seminar Pertama Kami

Hari itu, Sabtu 31 Mei 2014, saya dan seluruh mahasiswa dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial Kuantitatif (MPS Kuantitatif) melangsungkan seminar Research Design untuk yang pertama kalinya. Seminar itu, meski hanya dihadiri oleh teman-teman satu angkatan dan para pengajar sendiri, namun kesannya begitu membekas di hati. Terkhususnya bagi saya sendiri. Sehingga saya tuliskan pula ceritanya di sini sebagai sebuah ingatan. Bahwa ini adalah permulaan atas eksistensi saya sebagai sosok yang ingin mendedikasikan diri untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan bidang akademis.

suasana presentasi Research Design di gedung AJS, Fisip UI

Presentasi Design Penelitian dengan tema Lingkungan

Meskipun demikian, di dalam cerita saya kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana sidang MPS itu berlangsung atau bagaimana kehebohan tim-tim riset dalam mempresentasikan karyanya. Di sini saya akan menuliskan beberapa hal terpenting dari terselenggaranya seminar kemarin.

1. Tentang Plagiasi
Tentang plagiasi adalah yang paling utama dari apa yang ingin sampaikan dari hasil seminar kemarin. Meski dari kami juga tidak ada yang melakukan plagiasi, ini adalah pesan yang perlu dicamkan dan diingatkan berulang-ulang. Karena bagi seorang akademisi plagiasi adalah hal yang paling tidak bisa dimaafkan. Dosa terbesar, begitu kami biasa menyebutnya. Dosa yang tidak akan pernah termaafkan, sehingga mutlak haram hukumnya.

2. Tentang Literatur
Kekurangan desain penelitian kami adalah tentang penggunaan literatur sebagai bahan kajian. Kentara sekali, kami banyak mengandalkan internet sebagai sumber kami memperoleh informasi baik jurnal maupun literatur jenis lainnya. Minimnya sumber-sumber literatur dari buku menandakan bahwa kami sangat dan sangat kurang membaca. Sehingga pesan utama di sini adalah saya harus lebih banyak membaca buku.

Masih dalam konteks penggunaan literatur, kami mahasiswa juga dipesan untuk menggunakan jenis literatur yang baik. Jenis literatur yang baik menurut seminar kemarin adalah literatur yang bersumber dari tulisan yang terpercaya, memiliki kredibilitas, dan dari sumber-sumber pilihan. Malu rasanya ketika reviewer mengatakan “Kalian mahasiswa UI, masa literaturnya memakai literatur dari sumber begini!” Begitu tertohok hati ini, sayapun hanya tertunduk malu. Mulai dari detik ini saya akan berusaha menggunakan referensi dari jurnal-jurnal dan tulisan-tulisan yang baik.

3. Tentang Presentasi 
Tentang presentasi, menurut saya ini juga penting. Bagi seorang akademisi, berbicara di depan umum menyampaikan gagasan dari apa yang ia temukan adalah hal yang tidak mungkin tidak. Nah, dalam hal ini, seseorang dituntut untuk bisa berbicara yang baik. Ia harus mampu menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang baik sehingga dimengerti orang banyak.

Saat itu saya memang tidak menjadi presentator, kebetulan saya bertugas sebagai penanggungjawab atas reviewer dan pembahas. Namun dari presentasi yang dibawakan oleh teman-teman saya yang lain, saya jadi belajar satu hal. Membawakan sebuah presentasi yang baik itu perlu belajar. Bagaimana seseorang bicara, menarik atensi, menyampaikan gagasan, semua itu perlu belajar untuk menjadi seorang presentator yang baik. Sehingga sayapun membuat rencana untuk studi di semester mendatang. DI semester mendatang saya ingin mengambil mata kuliah public speaking. 

Mengenai plagiasi, jelas ini harus benar-benar di jauhi. Tentang literatur, memang benar kami mahasiswa UI seharusnya memilih sumber-sumber dari penelitian yang terbaik. Meskipun demikian, saya masih memiliki pertanyaan. Di manakah saya bisa memperoleh jurnal dan literatur yang cukup kredibel?

Saat ini saya menggunakan JSTOR sebagai bahan referensi, beberapa lainnya saya peroleh dari perpustakaan online universitas-universitas dunia. Sejujurnya saya masih kesulitan mencari literatur yang baik. Hambatan pertama karena tidak semua jurnal maupun buku digratiskan/ dibuka untuk umum, selain itu saya mulai terbiasa mengandalkan internet.

Bukan karena malas membaca bukunya, tetapi karena sulit menemukan bukunya. Menejemen perpustakaan yang tidak baik menyebabkan saya kesulitan mendapatkan buku yang saya inginkan. Sesungguhnya saya berharap di tengah penggunaan internet yang makin santer ini ada browser yang dapat membawa saya ke penelusuran artikel, jurnal, dan penelitian yang memiliki kredibilitas tinggi. Saat ini seharusnya biasa memperoleh jurnal ataupun ebook dari internet seperti halnya pergi ke perpustakaan. Sayangnya sampai sekarang belum ada. Bahkan Google Cendekia pun tidaklah cukup membantu…

Foto-foto oleh: Ida Ruwaida