Tag Archives: soal ujian

Tentang Soal Ujian yang Baik

gambar: republika.co.id

gambar: republika.co.id

Tadi siang adalah ujian tengah semester hari pertama. Seperti biasa, saya lebih rajin dari biasanya, bangun pagi dan kembali mengulang materi. Entah mengapa saya sedikit tegang kali ini. Berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya yang saya pikir mudah-mudah saja buat saya. Tentu saja, saya kan sudah belajar. Masalahnya kali ini saya diajar oleh beberapa dosen yang belum pernah saya temui sebelumnya. Karena seperti yang kita tau, setiap karakter dosen pasti berbeda. Dan karena berbeda, maka tipe pembuatan soalnya pasti berbeda pula. Hal inilah yang membuat saya sedikit tegang. Saya bakal masuk kelas dengan sedikit meraba-raba. Saya sih pede saja, toh sudah belajar. Tapi tanpa tau karakter dosen dalam membuat soal sebelumnya tentu persentase keyakinan saya lain dari biasanya. Mungkin beberapa persen dibawah sebelumnya..

Maka benarlah perasaan saya. Soal yang diberikan bahkan diluar dugaan. Salah satu dari 3 dosen yang belum pernah saya ketahui sebelumnya membuat soal yang benar-benar mengejutkan saya, atau setidaknya 3/4 dari isi ruangan di kelas. Jika Anda pernah mengerjakan soal isian di sekolah dasar atau sekolah menengah, yah seperti itulah kira-kira. Kita diminta mengisi jawaban pada titik-titik yang tertera di soal dengan jawaban yang tepat. Selain tepat, kita juga diminta untuk mengisikan jawaban yang sama persis dengan kunci jawaban. Saklek.

Saya terkekeh di dalam hati. Bagaimana mungkin kami diberikan soal semacam ini? Bagaimana pula seorang dosen bisa memberikan pertanyaan semacam ini?

Maksud saya adalah, baiklah mungkin jawaban pada titik-titik di soal tersebut ada. Namun lantas mengapa jika jawabannya adalah X atau Y? Jika X adalah jawaban yang mewakili term “kemiskinan”, sementara Y mewakili “Chicago School”, mengapa tidak membuat pertanyaan yang lebih pintar seperti “Bagaimana Chicago School menjelaskan fenomena kemiskinan yang terjadi pada wilayah urban?”. Saya pikir itu adalah pertanyaan yang cukup pintar, meskipun mungkin sedikit memutar otak, namun bukankah pertanyaan memang berfungsi demikian, mengajak menjadi pintar dengan jalan berpikir logis dan analitis?

Jujur saja, saya tidak bisa mengerjakan semua soal yang diberikan dengan baik. Dari 20 seoal isian yang diberikan, ada beberapa soal yang tidak saya kerjakan, saya biarkan kosong begitu saja karena saya tidak tau jawabannya. Sementara sisanya saya sendiri tidak begitu yakin apakah jawaban yang saya berikan diterima oleh dosen pengoreksi ataukah tidak. Saya hanya yakin pada dua soal analisis yang diberikan oleh dosen yang saya kenal sebelumnya. Jenis pertanyaan yang baik, dan setidaknya keduanya berhasil mengajak saya berpikir dengan baik.

Well, setelahnya saya memang tidak lega, tentu saja karena saya mungkin tidak mendapatkan nilai yang sempurna. Namun saya tidak menyesal juga, sebaliknya kegagalan yang mungkin terjadi akibat tidak bisa mengerjakan soal justru saya anggap sebagai keberhasilan. Kita mahasiswa sudah seharusnya tidak diberikan soal sedemikian rupa. Kalau kita sampai bisa mengerjakannya, lantas apa bedanya kita dengan siswa SMA yang segalanya dipelajari dengan cara menghafal. Khususnya karena yang dipelajari adalah ilmu sosial, menghafal bukanlah jalannya tetapi memahami apa yang terjadi sehingga dapat dijelaskan dengan analisis yang logis.

Bukankah begitu?

Nampaknya membuat pertanyaan yang baikpun masih perlu banyak belajar, ya..