Tag Archives: run

Rencana Akhir Pekan

logoAKHIR PEKAN MUNGKIN HANYA SEBENTAR. Tetapi menurut saya tidak ada salahnya membuat rencana tentang apa yang ingin kita lakukan selama akhir pekan. Tidak perlu yang muluk-muluk, yang penting bisa membuat akhir pekan terasa lebih bermakna. Saya sendiri telah mempersiapkan beberapa. Seperti yang selalu khas pada saya, akhir pekan selalu berkaitan dengan buku, running shoes, dan segelas susu.

Lari
Yup, sesuai rencana, Sabtu kemarin saya sukses mengawali weekend dengan lari bareng teman-teman Derby. Lari yang istimewa bahkan, karena kemarin adalah pertama kalinya saya mengikuti trail run. Ada banyak pengalaman yang saya dapat dari sini, misalnya tentang teknik-tenik berlari. Tidak ketinggalan, tentunya saya mendapatkan motivasi lagi dan lagi dari Abang-abang Derby 🙂

Q

Baca, baca, dan baca buku
Rencana selanjutnya, saya ingin di rumah saja dan menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya untuk membaca. Ujian kemarin sempat menyita waktu saya untuk membaca. Lihat saja, banyak sekali buku saya yang menunggu untuk dibaca.

20150412_065809_1

Minum susu
Sebenarnya ini sih sudah. Saat menuliskan postingan ini saya sambilan minum susu. Hehe. Namun mungkin nanti saya bakal nambah lagi segelas karena hari ini juga saya mau mengerjakan tugas kuliah. Tahu kan, kalau mengerjakan tugas kuliah selalu membutuhkan banyak energi. Nah, susu ini maksudnya untuk membuat saya lebih semangat.

Jadi itulah rencana singkat akhir pekan saya. Sederhana saja, tapi saya berharap semuanya akan menjadi lebih bermakna.

Lalu, bagaimana dengan Anda? apa rencana akhir pekan Anda? Liburan? piknik? atau apa? 🙂

©Tina Latief 2015

Saturday and My First Trail Run

SATURDAY“BUSYET, ITU LARINYA DI MANA SAMPE BERLUMPUR GITU…” 

Hihihi… Acapkali ingat kata-kata berikut, rasanya saya tidak bisa menahan tawa. Komentar tersebut keluar dari mulut salah seorang pelari santai yang saya lewati bersama teman-teman Derby di saat menjelang finish. Ia terheran dengan kondisi kaki dan sepatu kami yang tak seperti layaknya pelari lainnya di UI.

Sepatu-sepatu kami tertutup lumpur, banyak bercak cipratan lumpur di betis hingga lutut. Bagi yang belum pernah lihat pelari seperti ini, mungkin mengherankan. Tapi bagi teman-teman Derby lari seperti ini sih biasa. Memang seperti itu trail running…

20150411_072841_1

Yup, hari ini Derby merubah tema lari. Lari yang biasanya mengambil trek di sepanjang jalan UI, hari ini ganti ke hutan UI.

Sejak diumumkan Bang Arief di grup kemarin, saya jadi antusias. Trail running, huh? Kalau saya ikut, ini akan menjadi trail run pertama yang saya ikuti.

IMG-20150411-WA0039_1

Maka Sabtu paginya pun saya segera bergegas ke parkiran Masjid UI yang biasa menjadi tempat mangkal Derby. Setelah pemanasan, dijelaskanlah rute untuk trail run pagi itu. Well, sejujurnya saya tidak begitu mengerti dengan rutenya karena memang tidak ada rambu-rambu yang pasti di hutan. Saya hanya mengandalkan teman-teman yang ada di depan. Setelah bergerak melewati parkiran Fisip, di situlah kami mulai masuk ke hutan, melewati UI Wood, kemudian berputar-putar di dalam hutan, lantas menembus jalan jalan yang mengarah ke Politeknik.

Kira-kira seperti inilah rutenya…

tina latief first trail run

IMG-20150411-WA0035_1

IMG-20150411-WA0030_1

Setelah keluar dari hutan, kami menuntaskan lari hingga halte perpustakaan lama. Seperti biasa, setelahnya ada pendinginan kemudian foto-foto.

IMG-20150411-WA0014_1

20150411_073132_1

My 1st trail run, saya pikir sangat menyenangkan. Dari pengalaman saya, trail run tadi itu jelas sangat berbeda dengan run biasa. Tekanannya lebih berat. Di dalam trek yang seolah tidak terlihat itu, otak harus bisa mensinkronkan antara mata yang harus tetap awas dengan jalanannya yang licin dan berlumpur serta memperhitungkan waktu yang digunakan.

Selain itu, jenis lari ini jelas memerlukan pertimbangan jenis sepatu tertentu. Karena dengan medan seperti tadi itu, jenis sepatu seperti milik saya ini jelas tidak begitu kompatibel.

Saya khawatir jika asal memakai sepatu, justru akan mencederai kaki. Ngomong-ngomong kaki saya tadi sedikit memar di bagian ibu jari dan telunjuk. Sepertinya ini akibat dari kemiringan medan yang cukup memaksa jari-jari kaki saya untuk membuat keseimbangan.

Well, Rute baru selalu membawa suasana baru. Sebagai tipikal pelari yang gemar menjajal rute baru, tadi itu sangat seru. Hanya saja mungkin saya tidak akan pernah menjajalnya sendirian, terutama di hutan UI. Selain seram, banyak hal tak terduga seperti misalnya bertemu kawanan anjing.

Di dalam hutan tadi, saya dan teman-teman sempat berhenti karena ada anjing. “Anjingnya ada empat, satu (pelari) lawan empat (anjing) pasti kalah” kata Bang Arsy. Itu sebabnya saya tidak mau ngetrail sendirian. Lagipula apa sih enaknya lari sendirian. Lari itu enaknya ya kalau rame-rame begini.

IMG-20150411-WA0011_1

Begitu deh ceritanya lelarian tadi. Sampai jumpa di acara lari berikutnya.

Salam Derby 🙂

©Tina Latief 2015

Note: Pictures mostly taken by Tata and Arsy, edited by Tina Latief

Running is about to chase away your pessimism

DUA BULAN yang lalu setidaknya, saya beranggapan berlari mengelilingi Hutan Kota UI itu mustahil. Ah, jangankan itu, menyelesaikan lari 2km saja, saya masih kepayahan.

Karena berlari terlanjur menjadi sesuatu yang sulit, lama kelamaan saya jadi enggan untuk berlari. “Lari itu capek, pokoknya cuma bikin capek.”, begitu kata saya dulu.

Pada akhirnya saya kapok berlari. Kalaupun mau berlari, paling-paling tidak pernah sampai di finish.

***

Beberapa hari sebelum pergantian tahun, saat itu bertepatan pula dengan liburan semester, saya berkesempatan mengikuti teman berlatih berlari. Mulanya saya hanya mengamati bagaimana dia berlari. Lama-kelamaan muncul dorongan di dalam diri saya untuk ikut berlari.

Dorongan itu berupa rasa penasaran. Saya penasaran dengan apa yang saya tangkap pada saat teman saya berlari. Yaitu rasa senang. Saya ingin membuktikan, apakah lari benar-benar menyenangkan seperti yang teman saya rasakan…?

Oleh karena itu, sayapun menguntit. Pokoknya setiap kali dia berlari, saya ikut. Pertama saya jogging di tempat yang elevasinya rendah, yaitu di Bandar Udara Gading, lalu disusul dengan track-track lain seperti Bukit Sodong dan Danau Tong Tong. Kuat sampai di finish, akhirnya muncul keberanian dalam diri saya untuk mau terus berlari.

Hari demi hari saya habiskan untuk berlatih berlari. Didampingi teman saya yang dengan sabar mengiringi ayunan kaki saya yang lamban, saya mulai serius belajar berlari. “Run is for fun”, begitulah yang sering disebutkan oleh teman saya meluruskan paradigma saya yang sudah terlanjur bengkok. Dan benar. Setelah berlari mencapai kurang lebih 50km, saya mulai bisa menerima bahwa berlari itu memang menyenangkan.

Apa yang menyenangkan dari berlari? Bagi saya, tentu bukan semata-mata karena bisa sampai di finish. Yang membuat senang adalah prosesnya, saat-saat yang menentukan antara ingin menyerah atau tetap berusaha.

Waktu saya berlari ke Danau Tong Tong, ada jalananan menanjak yang begitu melelahkan. Rasanya hendak menyerah, lutut saya sudah benar-benar goyah. Akan tetapi di saat saya ingin menyerah, justru muncul keinginan untuk terus berusaha. Alhasil saya bisa melewatinya. Dan ketika saya menenggak sebotol Pocari Sweat, rasanya benar-benar senang…

Nah, kemarin saya kembali berlari, sendiri. Berbekal latihan selama liburan kemarin, saya mengitari Hutan Kota UI dengan rute: halte asrama-hutan kota ui-teknik-fe-fib-fisip-psiko-stasiun ui-ui wood-faculty club ui-mang engking-halte asrama. Yang membuat saya senang kali ini adalah karena saya berhasil mengusir ketakutan dan ketidakpercayadirian pada diri saya. Dari sini sayapun berani menjajal rute yang lebih panjang. Next run, saya mau mencoba keliling UI. 🙂

©Tina Latief

Kristal-kristal Putih di Badan Usai Jogging

ADA sebuah keanehan yang muncul usai jogging beberapa kali kemarin. Dua kali jogging dengan jarak mencapai lebih dari 5km, badan saya mengeluarkan kristal-kristal mirip pasir putih.

image

Mulanya saya mengira kristal-kristal itu adalah sunblock yang saya pakai. Kebetulan, krim sunblock yang saya gunakan memiliki partikel-partikel yang kasar. Tetapi kemudian saya sanksi karena saya tidak menggunakan krim sunblock di kaki. Teman saya menjelaskan kristal-kristal itu adalah sejenis garam beracun yang keluar dari dalam tubuh melalui keringat.

Kata teman saya hal tersebut normal terjadi. Terutama jika kualitas lari cukup baik. Kristal-kristal serupa akan muncul jika tubuh mengandung cukup banyak racun. Kasusnya seperti kristal pada batu ginjal. Jika tidak dikeluarkan, ginjal akan bekerja lebih keras.

Saya masih belum menemukan apa nama ilmih dari peristiwa ini. Yang pasti, keluarnya kristal sejenis ini akan terjadi beberapa kali selama tubuh masih mengandung racun.

Apakah tubuh Anda pernah mengeluarkan kristal-kristal serupa? Mungkin ada penjelaslan yang lebih baik dari tulisan ini.

© Tina Latief