Tag Archives: ramadhan

Puasa bukan halangan berolahraga

Meski menahan makan dan minum seharian, puasa bukan halangan seseorang untuk tidak berolahraga. Puasa justru menjembatani orang yang biasanya jarang berolahraga menjadi rajin bangun pagi dan berolahraga.

Pagi ini, saya dan anak-anak dusun Gerjo menghabiskan waktu sedikitnya 3 jam main bulutangkis di lapangan dekat balai dusun. Terhitung sudah dua kali saya main bulutangkis bersama anak-anak selama Ramadhan ini.

Ide ini sebetulnya muncul dari anak-anak. Usai shalat subuh berjamaah, kami menyempatkan membahas program-program kegiatan Ramadhan yang cukup menyibukkan selagi menunggu suasana menjadi terang. Kemudian baru mengambil perlengkapan seperti raket dan kok, memasang net, lalu bermotor ke lapangan. Selanjutnya, kami bisa sangat seru bermain sampai beberapa ronde. He he he…

Menurut saya, puasa justru memberikan banyak peluang berolahraga, bukan sebaliknya. Jika tidak berlahraga karena takut lelah, lapar dan sebagainya mungkin tidak karena porsinya bisa diatur. Satu-satunya halangan kami adalah cuaca yang kadang tidak mendukung. Air hujan menyebabkan lapangan menjadi basah sehingga kadang kami harus mengeringkannya dulu agar tidak terpeleset.

Salam olahraga…

Ramadhan telah tiba

Beberapa hari lagi memasuki bulan Ramadhan. Selain puasa, sebentar lagi orang akan mulai disibukkan dengan kegiatan masjid seperti shalat tarawih dan tadarusan. Sebisa mungkin masyarakat ingin memberikan yang terbaik untuk keperluan selama satu bulan penuh. Untuk itu, banyak persiapan-persiapan yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Anak-anak remaja masjid mulai mempersiapkan keperluan shalat tarawih seperti mencuci karpet dan penyediaan kotak infaq. Tidak lupa pembuatan jadwal kultum dan gugah sahur. Juga mulai menggiatkan kembali anak-anak untuk aktif dalam kegiatan TPA .

Anak-anak dikumpulkan dengan undangan kado silang (menukarkan kado berisi makanan) di masjid, disusul sosialisasi kegiatan selama bulan Ramadhan. Kemudian, baru dimulai kegiatan TPA dan buka bersama setiap sorenya.

Kesannya memang tidak ada kemajuan dan perubahan karena cara yang digunakan masih sama seperti generasi yang dulu. Setiap sebelum puasa, pasti kado silang dulu. Namun sepanjang cara yang mereka gunakan masih efektif dan memperoleh banyak respon, saya rasa tidak masalah. Mungkin nanti akan ada ide baru untuk menggiatkan kegiatan TPA . Atau, suatu saat nanti tanpa kado silang pun anak-anak akan dengan sendirinya sadar untuk mengikuti rangkaian kegiatan TPA.

Anak-anak remaja masjid sudah bersiap, bagaimana dengan Anda? Jangan sampai tidak mempersiapkan apapun untuk menyambut datangnya Ramadhan!

Lupa…

Saya kemarin punya hutang puasa Ramadhan 10 hari. Kemudian puasa nadzar 28 hari. Jadi totalnya ada 38 hari.

Sebelumnya saya sudah sempat puasa beberapa hari. Tapi kemudian tertunda karena sakit.

Nah, setelah itu saya lupa berapa sisa hutang saya. Saya juga lupa kemarin sudah sempat puasa berapa hari. Yang jelas htang masih banyak. Tetapi sudah terbayar lebih dari sepuluh hari. Saya coba ingat-ingat, tetapi masih saja lupa. Tidak ingat.

Kira-kira bagaimana cara menyelesaikan kelupaan ini?

Hikmah saat berpuasa

Insyaallah, ini puasa yang ke-7  dari 38 yag saya lakukan dalam rangka membayar hutang puasa nadzar dan Ramadhan.
Dari hari ke hari, saya merasa puasa yang saya jalankan semakin membaik. Saya mulai bisa mengontrol apa yang saya sebut sebagai fatamorgana. Hehehe. Saya masih ingat ketika pertama kali puasa, saya benar-benar tidak berdaya. Ingin ini itu, membayangkan ini dan itu sebagai bahan berbuka puasa. Dan itu semua saya beli sebagai pemuas buka puasa. Mulai dari sup buah, toping coklat, mie pedas, wafer, teh manis dll.

Tapi setelah mencapai puasa yang ke-6 kemarin, satu persatu dapat saya eliminasi. Saya tidak lagi beli sup buah, sebagai gantinya ada teh manis. Tidak ada lagi mie pedas, tapi nasi biasa. Toping yang saya beli akhirnya nganggur juga di lemari.

Maksudnya adalah puasa itu benar-benar belajar menahan hawa nafsu. Apapun itu bentuknya, berbuka ya berbuka. Pertama membatalkan, kemudian makan biasa. Jadi, tidak perlu sebenarnya menuruti nafsu yang menuntut macam-macam. Nyatanya sama-sama nikmatnya. Yang terpenting lagi, dibalik kesederhanaan itu saya masih ingat untuk mensyukuri apa yang tersedia saat itu.

Waktunya beraktivitas kembali

Akhirnya, setelah dua minggu lamanya, terhitung sejak tanggal 5, menjalani ritual yang mengharuskan untuk mematuhi semua pantangan demi kelancaran ritual terlewati juga. Hehehe memang ritual apa sih. Tidak boleh makan pedas, berminyak, kasar atau asam. Juga tidak boleh makan mie atau yang aneh-aneh. Itulah yang paling saya ingat dari 2 dokter yang berusaha membantu saya sehat kembali.

Setelah berhari-hari memaksa diri untuk terus makan, badan sudah terasa cukup kuat untuk beraktivitas kembali. Ospek, kuliah, puasa, dan lebaran merupakan momen-momen yang tidak bisa dilewatkan dengan keadaan terbaring lemah. Siapa yang suka menyambut hari pertama puasa dengan bersakit-sakit ria sementara yang lainya bisa shalat berjamaah di masjid? Tentunya waktu sakit sudah cukup, waktunya beraktivitas kembali.

Selamat hari Selasa Ki Sanak. Semoga aktivitas hari ini dilancarkan..