Tag Archives: puasa

Puasa yang Banyak Maunya

Beberapa hari ini saya puasa. Tetapi bukan itu yang penting. Yang menjadi penting, mengapa pada saat puasa saya banyak maunya?

Beberapa hari yang lalu saya terbayang makan bubur ayam. Kemarin, saya kepingin ubi cilembu. Hari ini beda lagi, saya kepingin makan bakwan dengan sambal. Wah puasa kok banyak maunya ya. Padahal puasa itu soal menahan diri dari nafsu.

Saya jadi mempertanyakan, bagaimana kualitas puasa saya. Hmmm…

©Tina Latief 2015

Puasa bukan halangan berolahraga

Meski menahan makan dan minum seharian, puasa bukan halangan seseorang untuk tidak berolahraga. Puasa justru menjembatani orang yang biasanya jarang berolahraga menjadi rajin bangun pagi dan berolahraga.

Pagi ini, saya dan anak-anak dusun Gerjo menghabiskan waktu sedikitnya 3 jam main bulutangkis di lapangan dekat balai dusun. Terhitung sudah dua kali saya main bulutangkis bersama anak-anak selama Ramadhan ini.

Ide ini sebetulnya muncul dari anak-anak. Usai shalat subuh berjamaah, kami menyempatkan membahas program-program kegiatan Ramadhan yang cukup menyibukkan selagi menunggu suasana menjadi terang. Kemudian baru mengambil perlengkapan seperti raket dan kok, memasang net, lalu bermotor ke lapangan. Selanjutnya, kami bisa sangat seru bermain sampai beberapa ronde. He he he…

Menurut saya, puasa justru memberikan banyak peluang berolahraga, bukan sebaliknya. Jika tidak berlahraga karena takut lelah, lapar dan sebagainya mungkin tidak karena porsinya bisa diatur. Satu-satunya halangan kami adalah cuaca yang kadang tidak mendukung. Air hujan menyebabkan lapangan menjadi basah sehingga kadang kami harus mengeringkannya dulu agar tidak terpeleset.

Salam olahraga…

Cuaca yang mendukung

Banyak yang bilang puasa kali ini terasa lebih ringan karena cuacanya mendukung. Saya akui, kondisi cuaca yang dingin dan banyak hujan seperti ini mempermudah jalannya puasa. Kita jadi tidak mudah haus ataupun lapar. Sepertinya Allah memang memberikan kemudahan kepada umatnya. Bulan yang seharusnya kemarau panas dan kering diubahnya menjadi kemarau basah (musim kemarau yang banyak turun hujan) yang dingin menyejukkan.

Untuk mencapai prestasi yang bagus, biasanya orang membutuhkan dukungan yang prima. Begitu juga dengan puasa tahun ini, momen ini adalah sebuah kesempatan bagus untuk bisa beribadah yang lebih baik.

Hanya perlu diwaspadai, fasilitas dan dukungan bisa saja berubah sebaliknya. Fasilitas dan dukungan hanya akan menjadi prestasi jika dikelola dengan baik. Jadi cuaca yang terkihat mendukung ini sebetulnya tantangan. Mampukah kita beribadah yang baik dengan tersedianya fasilitas seperti ini?

Lupa…

Saya kemarin punya hutang puasa Ramadhan 10 hari. Kemudian puasa nadzar 28 hari. Jadi totalnya ada 38 hari.

Sebelumnya saya sudah sempat puasa beberapa hari. Tapi kemudian tertunda karena sakit.

Nah, setelah itu saya lupa berapa sisa hutang saya. Saya juga lupa kemarin sudah sempat puasa berapa hari. Yang jelas htang masih banyak. Tetapi sudah terbayar lebih dari sepuluh hari. Saya coba ingat-ingat, tetapi masih saja lupa. Tidak ingat.

Kira-kira bagaimana cara menyelesaikan kelupaan ini?

Kalau saja

Kalau saja tidak panas, pasti saya tidak akan kepanasan..

Kalau saja tidak kepanasan, pasti saya tidak akan haus..

Kalau saja tidak haus, pasti saya tidak akan mengeluh..

Kalau saja tidak mengeluh, pasti saya tidak akan seperti ini..

Kalau saja tidak seperti ini, pasti saya tidak akan puasa..

Kalau saja tidak puasa, pasti saya tidak akan kehausan..

Haus.. haus..haus..

Hikmah saat berpuasa

Insyaallah, ini puasa yang ke-7  dari 38 yag saya lakukan dalam rangka membayar hutang puasa nadzar dan Ramadhan.
Dari hari ke hari, saya merasa puasa yang saya jalankan semakin membaik. Saya mulai bisa mengontrol apa yang saya sebut sebagai fatamorgana. Hehehe. Saya masih ingat ketika pertama kali puasa, saya benar-benar tidak berdaya. Ingin ini itu, membayangkan ini dan itu sebagai bahan berbuka puasa. Dan itu semua saya beli sebagai pemuas buka puasa. Mulai dari sup buah, toping coklat, mie pedas, wafer, teh manis dll.

Tapi setelah mencapai puasa yang ke-6 kemarin, satu persatu dapat saya eliminasi. Saya tidak lagi beli sup buah, sebagai gantinya ada teh manis. Tidak ada lagi mie pedas, tapi nasi biasa. Toping yang saya beli akhirnya nganggur juga di lemari.

Maksudnya adalah puasa itu benar-benar belajar menahan hawa nafsu. Apapun itu bentuknya, berbuka ya berbuka. Pertama membatalkan, kemudian makan biasa. Jadi, tidak perlu sebenarnya menuruti nafsu yang menuntut macam-macam. Nyatanya sama-sama nikmatnya. Yang terpenting lagi, dibalik kesederhanaan itu saya masih ingat untuk mensyukuri apa yang tersedia saat itu.

Waktunya beraktivitas kembali

Akhirnya, setelah dua minggu lamanya, terhitung sejak tanggal 5, menjalani ritual yang mengharuskan untuk mematuhi semua pantangan demi kelancaran ritual terlewati juga. Hehehe memang ritual apa sih. Tidak boleh makan pedas, berminyak, kasar atau asam. Juga tidak boleh makan mie atau yang aneh-aneh. Itulah yang paling saya ingat dari 2 dokter yang berusaha membantu saya sehat kembali.

Setelah berhari-hari memaksa diri untuk terus makan, badan sudah terasa cukup kuat untuk beraktivitas kembali. Ospek, kuliah, puasa, dan lebaran merupakan momen-momen yang tidak bisa dilewatkan dengan keadaan terbaring lemah. Siapa yang suka menyambut hari pertama puasa dengan bersakit-sakit ria sementara yang lainya bisa shalat berjamaah di masjid? Tentunya waktu sakit sudah cukup, waktunya beraktivitas kembali.

Selamat hari Selasa Ki Sanak. Semoga aktivitas hari ini dilancarkan..