Tag Archives: politik

Korupsi Politik di Uni Soviet

WednesdaySETELAH MEMBAHAS KORUPSI DI THAILAND, saya bermaksud membahas korupsi yang terjadi di Uni Soviet (USSR). Melalui paper John M. Kramer, saya menemukan dua bentuk korupsi  yaitu korupsi yang dilakukan untuk kepentingan pribadi dan korupsi yang dilakukan untuk kepentingan birokrasi. Suap, penggelapan, dan spekulasi merupakan bentuk bentuk umum dari korupsi untuk kepentingan pribadi. Sementara korupsi untuk keuntungan birokrasi berbentuk manipulasi data dan penggunaan pengaruh ilegal yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas organisasi untuk kepentingan karyawan organisasi.

Korupsi untuk kepentingan pribadi
Korupsi untuk kepentingan pribadi di Soviet dijelaskan Kramer melalui beberapa kasus. Pertama, korupsi yang terjadi di sektor perumahan. Hal ini terjadi saat Uni Soviet menghadapi kekurangan perumahan yang serius, terutama di daerah perkotaan. Sehingga banyak pejabat publik yang menggunakan cara-cara ilegal untuk menggelapkan bahan-bahandari negara untuk membangun rumah pribadi mereka sendiri.

Kedua, korupsi di Uni Soviet terjadi akibat kesulitan mendapatkan mobil. Untuk membeli mobil, calon pembeli harus menunggu dua sampai tiga tahun, bahkan di beberapa kota sampai sepuluh tahun. Oleh karena itu, banyak pembeli mempercepat pengiriman mobil mereka dengan cara menyuap pejabat. Bahkan hal ini turut memicu pencurian terhadap bahan bakar dan suku cadang.

Kesulitan memperoleh buah dan sayur turut menyebabkan terjadinya korupsi di Soviet. Ada banyak pejabat yang mencuri buah dan sayur untuk diperdagangkan secara ilegal sehingga menguntungkan bagi banyak pejabat. 

Selain itu, korupsi juga terjadi akibat sulitnya mengakses sarana pendidikan tinggi. Adanya persaingan yang ketat untuk masuk ke lembaga pendidikan tinggi (VUZ) sementara kuota penerimaan tidak diimbangi dengan pendaftar  menyebabkan banyak orang tua berusaha meningkatkan prospek masuk anak-anak mereka dengan cara menekan administrator VUZ dengan cara ilegal.

Korupsi untuk kepentingan birokrasi
Untuk memahami korupsi tipe ini, kita perlu memahami lingkungan di mana personil produksi bekerja. Hal ini karena 1) mereka sering menghadapi ketidakpastian yang bukan hanya karena target rencana yang kadang-kadang berubah selama periode rencana, tetapi juga karena adanya aliran yang tidak menentu dari perusahaan, 2) para pekerja ini berada di bawah tekanan berat untuk meningkatkan produksi dan efisiensi perusahaan. Sementara itu, perencana sering menggunakan kriteria kuantitatif (misalnya, jumlah unit yang diproduksi) untuk mengevaluasi keberhasilan suatu perusahaan. Oleh sebab itu, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat perusahaan biasanya dilakukan dengan cara memanipulasi data produksi untuk menunjukkan keberhasilan kerjanya.

Bagaimana korupsi terjadi?
Menurut Kramer, seorang pejabat publik harus memiliki peluang dan insentif untuk terlibat dalam korupsi. Jika kedua hal ini tidak ada, korupsi tidak mungkin dilakukan.

Insentif dan peluang itu muncul melalui 1) insentif keuangan yang kuat yang bertemu dengan tindakan ilegal yang berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan konsumen, 2) regulasi di Soviet yang terlalu terpusat sehingga sulit bagi administrasi tertentu untuk mengikuti aturan tersebut, 3) kurangnya partisipasi kelompok atau individu dalam perumusan kebijakan sehingga memicu upaya-upaya untuk menggagalkan kebijakan tersebut, serta 4) banyaknya pejabat yang tidak memiliki stigma moral terhadap tindakan rezim yang korup. Continue reading

Susi Pudjiastuti & Posisi Perempuan di Dalam Pemerintahan

Saya masih tertarik dengan isu-isu gender tatkala Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan menjadi trending topic di media sosial. Tentu kita masih ingat bagaimana kemunculan beliau di ranah politis begitu mengundang pro dan kontra terkait dengan perilakunya yang sedikit eksentrik.

Saking gencarnya beliau diberitakan, keberadaan kabinet kerja yang baru saja diumumkan seakan hilang dari pandangan. Seluruh perhatian tersedot ke satu menteri yang bertato dan merokok itu. Sementara kabar baiknya justru terabaikan begitu saja.

Saya lega Kementerian Pendidikan berada dibawah naungan Anies Baswedan. Kini saya berani menggantungkan harapan bahwa sistem pendidikan di Indonesia akan semakin membaik di tangannya. Adapun kabar baik lainnya, kini perguruan tinggi berada di bawah naungan Kementerian Riset, Ignasius Jonan mengisi posisi Kementerian Perhubungan, Menkominfo berada di bawah Bapak Rudiantara, sementara yang istimewa: kini ada cukup banyak perempuan yang mengisi posisi kementerian di Indonesia.

Dari ke-34 kabinet kerja Jokowi, terdapat 8 perempuan yang kini mengisi posisi kementerian. Artinya ada seperempat perempuan yang duduk di posisi pemerintahan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana posisi menteri lebih banyak didominasi laki-laki. Kemunculan Bu Susi beserta para menteri perempuan lainnya adalah berkah khususnya bagi kaum perempuan yang pantas dirayakan.

Akhirnya ada banyak perempuan yang dipertimbangkan ke dalam pemerintahan dan pembangunan. Hal ini menjadi indikator yang baik bahwa pada akhirnya perempuan memiliki posisi tawar yang setara dengan laki-laki.

Karena pada dasarnya, laki-laki dan perempuan tidak berbeda dengan laki-laki. Kedudukannya setara, dan masing-masing memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi untuk negeri. Ketimpangan gender menyebabkan perempuan selalu diposisikan dalam posisi pinggiran, invisible. Agaknya inilah yang terlihat dari pemerintahan Indonesia yang baru,yakni pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan pemerataan, orang miskin, lingkungan dan perempuan.

Selamat bekerja, Bu Susi…

♥♥♥Tina Latief♥♥♥

UI Mengundang Capres Cawapres Berdialog

baliho capres di ui

Sore itu, baliho raksasa bergambar kandidat capres-cawapres pemilu 2014 nampak begitu anggun terpampang di jalan depan stasiun UI, Depok. Tidak seperti kemarin, sore ini tidak ada angin kencang yang memporandakan lembaran besar bergambar wajah Jokowi-Kalla, Prabowo-Hatta tersebut. Maka dengan leluasa saya mengambil foto dari trotoar seberang jalan tanpa mengganggu arus kendaraan yang memang lengang di hari libur. Saya juga bisa membaca dengan jelas apa gerangan isi baliho raksasa itu.

20140529_151133 Mahasiswa UI mengundang capres-cawapres untuk berdialog secara terbuka di kampus. Nah! Akhirnya apa yang saya nantikan datang juga. Setelah sempat sempat khawatir jika mahasiswa UI juga menerapkan sterilisasi kampus seperti yang terjadi di ITB beberapa waktu lalu, akhirnya saya bisa lega. UI tidak mencegah masuknya politik di kampus, sebaliknya UI justru mengundang masuk tokoh-tokoh politik itu untuk berdialog secara terbuka.

Ini menarik! Karena meskipun visi-misi kedua pasangan tokoh tersebut bisa dibaca langsung pada web KPU, mahasiswa tentulah belum puas jika belum beradu muka dan menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada calon pemimpin bangsa mereka. Saya yakin, ada banyak sekali pertanyaan yang membuncah seiring dengan gencarnya upaya-upaya para kandidat untuk memperoleh suara pada pemilu mendatang. Nasib bangsa selama 5 tahun ke depan bakal ditentukan oleh orang-orang yang ada di baliho tersebut. Bagaimana bisa mahasiswa tinggal diam…

Saya jadi penasaran, apa yang begitu diharapkan mahasiswa dengan diundangnya kedua pasang capres-cawapres tersebut. Apa yang mereka inginkan dari calon pemimpin negeri ini? terjangkaunya akses pendidikan, bebas korupsi?

Kita tunggu saja!