Tag Archives: perpustakaan

How many books have you read in your life?

img_20160610_141700“How many books have you read in your life?”

Berapa banyak buku yang telah kamu baca sepanjang hidupmu? kurang lebih begitulah terjemahan pertanyaan yang saya temukan di sebuah buku itu. Dan pertanyaan itu membuat saya berpikir, ada berapa buku yang sudah saya baca sepanjang hidup saya? Continue reading

Ingin Mengunjungi Perpustakaan-Perpustakaan Populer di Dunia

Jika saya diberi kesempatan berkeliling dunia, maka salah satu tempat yang ingin sekali saya kunjungi adalah perpustakaan-perpustakaan populer di dunia. Saya membayangkan betapa menyenangkannya berada di salah satu perpustakaan megah yang di dalamnya tersimpan jutaan koleksi legendaris.

Namun, saya tidak ingin datang ke sana lantas menjadi  turis yang hanya terkagum pada keindahan arsitektur dan tatanan ruang yang memang elok dipandang mata. Ketika saya berada di sana,saya ingin menjadi seutuhnya seorang akademisi yang begitu greget dengan keberadaan ilmu pengetahuan, haus pada misteri peradaban yang mungkin tersembunyi di antara lembaran perkamen dan buku tua berusia ratusan atau mungkin jutaan tahun lamanya…

Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat

Keinginan berkunjung pada perpustakaan-perpustakaan populer dunia sesungguhnya berasal dari pengalaman buruk saya di perpustakaan kampus. Pengalaman yang membuahkan mimpi untuk bisa turut mencicipi pelayanan perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan.

Seperti yang umumnya ada di universitas-universitas, di kampus kami terdapat perpustakaan yang kini dibuat dengan ukuran cukup besar dan mumpuni untuk ribuan mahasiswa. Sayangnya, menejemen perpustakaan yang dimiliki kampus masih sangat buruk, kurang memadai, sehingga ada banyak kendala yang membuat kunjungan ke perpustakaan sering tidak menyenangkan.

Seperti misalnya dalam hal mencari/ meminjam buku. Bagi saya, mencari/ meminjam buku seharusnya menjadi hal yang sangat singkat. Asumsinya kita hanya perlu mengetikkan judul buku atau keyword yang berhubungan dengan sebuah buku, melihat nomor panggilnya, lalu menemukannya di rak buku penyimpanan. Sayangnya, meminjam buku menjadi tidak mudah ketika buku yang kita cari tidak ditemukan di rak penyimpanan (seperti yang sering saya alami, buku yang dinyatakan tersedia di indeks sering tidak berada di dalam rak penyimpanan). Sistem pengaturan di perpustakaan masih belum mampu mengatasi masalah seperti kebiasaan mahasiswa yang tidak mengembalikan ke tempat semula, petugas yang salah meletakkan, atau juga karena petugas terlambat mengembalikan buku ke rak penyimpanan. Jadilah pengunjung sering kecewa karena tidak berhasil menemukan buku yang ingin dipinjamnya.

Dari sinilah saya berkeinginan mengunjungi banyak perpustakaan di dunia. Sekaligus menikmati koleksi, saya ingin tahu juga bagaimana memanage perpustakaan yang baik. Tentu menimbulkan tanya bukan bagaimana sebuah sistem dijalankan di perpustakaan megah di dunia. Apakah perpustakaan populer milik dunia mengalami masalah serupa? Andai saya bisa berkunjung ke sana…

tinaa

Waktu dan buku

Lagi-lagi, saya hanya menghabiskan uang hanya untuk membayar denda pada buku yang belum selesai saya baca. Saya tidak habis pikir, seharusnya waktu disela-sela kegiatan kuliah cukup jika digunakan untuk mengerti isi buku itu. Padahal perpusat memberikan waktu pinjam selama 2 minggu per sekali pinjam disertai 3x perpanjangan yang masing-masing berdurasi 2 minggu. Kalau ditotal, kita bisa belajar dengan buku tersebut selama 2 bulan.

Kalau dipikir-pikir, sebagian besar kegiatan kuliah adalah membaca. Seharusnya menamatkan buku-buku ini tidak menjadi masalah. Kalau sudah beginikan jadi rugi. Tidak dapat cukup ilmu, malah kena denda.

Namun sebenarnya begini. Kadang saya sering menggerutu kenapa mata kuliah yang tidak begitu menyumbang untuk mahir di bidang yang kita tekuni justru dimunculkan dengan durasi yang sangat lama. Sederhananya, jika Anda suka sosiologi, maka statistika, metode penelitian dan logika adalah hal yang penting untuk segera dipejalari. Bukanya belajar mata kuliah lain yang tidak mendukung Anda untuk mahir jadi sosiolog. Belum lagi jika sang dosen sebenarnya tidak memberikan apa-apa di kelas (entah itu umpan ataupun materi). Sia-sia saja bukan. Waktu habis, tidak dapat apa-apa, kosong melompong seperti sebelumnya.

Kalau sudah begitu, apa tidak lebih baik belajar sendiri saja. Misalnya menghabisnya waktu dengan buku-buku yang cerdas dan brilian. Dengan begitu, kan tidak rugi.