Tag Archives: pendidikan

Menjelang Hari Terakhir

BESOK ADALAH HARI PERTAMA MASUK KULIAH. Akhirnya saat-saat seperti ini tiba. Kuliah menjelang hari terakhir hanya terdiri atas satu atau dua mata kuliah.

Seperti yang umum terjadi, meskipun kuliah perjuangannya tiada tara, bisa dibilang kuliah tiga tahun ini tidak terasa. Rasanya baru kemarin menjejakkan kaki di perguruan tinggi, sekarang sudah harus bersiap menjejakkan kaki di tempat lain. Mahasiswa yang setahun lebih tua sudah banyak yang diwisuda dan sudah tiga generasi mahasiswa baru yang masuk menggantikan yang lama.

Makanya, tak salah jika saya merasa tak lagi muda. Hanya perlu menghitung hari, sebentar lagi yang tua ini pun juga akan terganti.

Saya jadi berpikir bagaimana sebaiknya menyikapi esok hari. Bagaimanapun, meskipun besok adalah hari yang pertama, besok adalah juga hari yang terakhir. Untuk itu, meminjam analogi hari akhir (kiamat), rasanya hanya ada satu hal terbaik yang paling mungkin dilakukan.

Yaitu mempersiapkan performa terbaik untuk menghadapi hari akhir. Karena itulah yang diinginkan semua orang, memperoleh hasil dan tempat yang terbaik di hari akhir.

©Tina Latief 2015

What a Boring Class Without School Drama

Setiap hari memasang wajah serius, perhatian penuh. Fokus—bahkan terlalu fokus. Bersamaan dengan itu, badan hampir tak bergerak, memilih kaku di sudut-sudut ruangan dengan buku lekat di tangan. Tidak ada satupun suara, melainkan hanya desingan dari buku tebal berisi kumpulan materi perkuliahan yang sebentar-sebentar dibolak-balikan halamannya.

Dan kemudian hening…

Nah, bisakah Anda membayangkan bagaimana kondisi perkuliahan yang sedemikian rupa?

Well, dugaan saya mungkin mereka kategori mahasiswa cerdas tingkat dewa. Tetapi, alangkah membosankannya aktivitas dengan kadar ketenangan yang sedemikian rupa. Bayangkan saja, setiap hari?? Maka beruntunglah di universitas di mana saya belajar saat ini suasana seperti itu justru jarang sekali ditemui. Malahan di sela-sela perkuliahan selalu ada drama yang tak henti-hentinya memikat perhatian kami.

Tadinya saya berpikir, ketika saya berada di bangku perguruan tinggi, saya sudah tidak akan menjumpai aktivitas malas, menyepelekan, hingga tidak mengindahkan tugas yang diberikan pengajar. Namun kemudian apa yang saya bayangkan terpatahkan. Ternyata, meski secara kedudukan orang yang menempuh pendidikan di bangku universitas lebih tinggi dibandingkan dengan siswa tingkat sekolah menengah, hal-hal seperti itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Seperti di angkatan kami misalnya, kebetulan kami baru akan melangsungkan penelitian. Di dalam proses persiapan penelitian itu, seharusnya seluruh mahasiswa di setiap kelompok ikut berproses, yakni dengan cara mengikuti kegiatan persiapan mulai dari pembuatan research design hingga persiapan turun ke lapangan. Akan tetapi, ada saja mahasiswa yang cueknya setengah mati. Meskipun sudah ditegur, diingatkan, bahkan setengah diancam (diancam tidak lulus) tetap saja, cuek. Tidak peduli.

Mulanya saya jengkel setengah mati. Secara, mahasiswa itu ada di kelompok saya. Tapi kemudian rasa jengkel saya berubah menjadi penasaran. Sesungguhnya, apa gerangan yang menyebabkan mahasiswa menjadi demikian? Mengapa kemudian seorang seperti RK menjadi begitu acuh dengan perkuliahan sementara jelas-jelas ia sendiri yang memutuskan untuk kuliah.

Karena ini sangat bertolak belakang dengan apa yang saya dan teman-teman kerjakan selama perkuliahan. Begitu kerasnya kami berusaha mengikuti perkuliahan dengan sebaik-baiknya, sementara ada saja yang sengaja kuliah seenaknya. Ini menarik. Menarik karena yang seperti ini hampir selalu ditemui di setiap bagian institusi pendidikan. Jika melihat kembali ke belakang, di mana kala itu masih SMP atau SMA, yang seperti ini akan selalu ditemui.

Ah, tapi apalah menariknya sebuah kelas tanpa adanya drama di dalamnya, kan?

Cara Mengerjakan Ujian Nasional

jadwal ujian nasional sma

jadwal ujian nasional 2013-2014 dari edukasi.kompas.com

Siang hari, tiba-tiba ponsel saya di ranjang berbunyi. Bukan sebuah telpon atau messanger melainkan sebuah sms. Saya perhatikan nomor pengirimnya, tanpa nama. Entah nomor siapa yang menghubungi saya siang ini namun, tentu dialah seorang anak yang hendak melaksanakan ujian nasional Senin mendatang. Pesan itu berisikan permintaan doa agar dimudahkan dalam mengerjakan soal ujian.

“Mba, aku minta doanya ya. Besok Senin-Rabu Ujian Nasional supaya diberi kelancaran, teliti, diberi kemudahan dalam megerjakan soal ujian” 

Saya tersenyum membaca pesan tersebut. Mengingatkan saya pada beberapa tahun silam di mana saya berada pada posisi yang sama, tegang sebelum menjalani ujian nasional. Dulu saya juga seperti anak ini, minta doa sana-sini. Berharap doa tersebut benar-benar menyertai saya dan memudahkan perjalanan saya dalam mengerjakan soal ujian hingga tiba waktunya pengumuman kelulusan.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa dengan meminta doa kepada orang akan membantu apa yang saya inginkan dikabulkan. Meskipun mungkin orang tidak benar-benar mendoakan saya seperti yang saya minta, yakni hanya menjawab permintaan saya saja. Namun, ketika orang berkata “Pasti kamu bisa. Semoga yang terbaik untukmu, semoga diberi kemudahan dan kelulusan oleh Tuhan Yang Maha Esa” saya merasa lebih yakin dan percaya bahwa saya memang bisa. Karena ketika orang berkata demikian, orang sudah memberikan sebuah dukungan/ support. Dan ketika orang lain mensupport, pasti Anda juga tau bagaimana rasanya. Bagi saya dukungan itu seperti sesuatu yang membakar semangat. Orang lain saja percaya kalau kita bisa, jadi mengapa saya tidak?

Meminta-minta doa sebetulnya adalah sesuatu yang saya pelajari dari generasi sebelum saya, kakak-kakak kelas saya. Saya tidak tau mengapa ujian selalu dianggap suatu hal yang menakutkan, dan anehnya anggapan itu menurun hingga sekarang. Sehingga berdoa sendiri saja tidak cukup, begitu katanya. Makanya timbullah inisiatif untuk meminta doa, berdoa bersama, hingga saling bermaaf-maafan bak lebaran.

Belajar dan berdoa mungkin sudah sering disinggung sebagai kunci dari kesuksesan ujian. Tetapi pengalaman saya selama mengikuti berbagai macam ujian, mentallah yang paling menentukan keberhasilan.

Mental berkaitan dengan ketenangan dan kemantapan seseorang. Bila mentalnya terganggu, maka pikiranpun akan sama terganggu. Sehari-dua hari sebelum ujian sebaiknya pikiran tidak dibebani macam-macam. Tidak perlu lagi belajar semalaman, apalagi wayangan. Selama dua hari menjelang ujian biasanya saya menghindari buku dan materi ujian. Yang saya lakukan adalah mencari ketenangan, dengan refreshing, main, nonton apapun yang menyenangkan pikiran. Termasuk menghindarkan diri dari pikiran tentang apa yang akan terjadi kemudian.

Mungkin ada kalanya siswa terbayang kehidupan setelah kelulusan. Kecewaan belum bisa kuliah sekarang, terbayang kerumitan dunia kerja, biaya sekolah yang mahal dsb sehingga berniat mengerjakan ujian asal-asalan. Asal lulus. Nah ini, bahaya. Orang bisa putus asa sebelum berperang.

Orang sering lupa bahwa orang tidak tau apa yang akan terjadi kemudian. Padahal bisa jadi sekarang belum ada kesempatan tapi di lain waktu akan ada banyak peluang. Sehingga rugi sebetulnya mengerjakan asal-asalan. Karena apa yang dikerjakan sekarang akan berdampak pada kehidupan mendatang.

Nah, ujian nasional bagi siswa SMA adalah dua hari kemudian, Senin-Rabu mendatang. Mendoakan sih tentu saya doakan untuk kesuksesan ujian, tapi kalau tips dan trik mengerjakan soal ujian, apalagi kunci jawaban saya tidak punya. Hanya, jika saya dimintai pendapat  bagaimana mengerjakan soal ujian, jangan sekali-kali dikerjakan asal-asalan. Kerjakanlah sebaik-baiknya, maka semoga hasilnya yang terbaik pula.

Selamat ujian nasional adik-adik, semoga sukses! 🙂

Mulai Masuk Sekolah Lagi

Malam Minggu kemarin saya berkesempatan bertemu dengan anak-anak Prisma di masjid. Seperti biasa, ketika bertemu kami lantas banyak ngobrol sambil sesekali bercanda. Topik menarik yang saat itu ramai dibicarakan adalah persiapan anak-anak masuk sekolah lagi. Seperti yang saya duga, tidak ada persiapan apapun yang mereka lakukan. Tidak ada dari mereka yang belajar sama sekali.

Hal ini mengingatkan saya di saat saya masih sekolah dulu. Seperti yang mereka lakukan, sayapun jarang melakukan persiapan-persiapan menjelang masuk sekolah. Saya tidak pernah belajar, bahkan sekedar pegang buku untuk dibaca. Bagi saya, 2 minggu adalah waktunya beristirahat, refreshing, melepas penatnya bangku sekolah. Seakan keluar dari penjara, saya benar-benar memanfaatkan waktu 2 minggu itu untuk meliburkan diri dari hal-hal berbau sekolah.

Nampaknya perilaku saya itu tidaklah mencerminkan siswa yang baik dan rajin. Mungkin benar. Tetapi melihat kondisi siswa-siswa sekarang yang ternyata melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan dulu, nampaknya bukan semata-mata karena siswanya yang punya kebiasaan buruk melainkan disebabkan oleh sesuatu yang salah lainnya sehingga membentuk budaya siswa yang sedemikian rupa. Seakan-akan totalitas liburan adalah sebuah protes terhadap sesuatu yang mengekang mereka.

Tahun-tahun di mana saya sekolah dulu, mata pelajaran dan ekstrakulikuler di sekolah begitu padat. Saya yakin saat inipun demikian, malahan mungkin lebih padat lagi.

Bila dirasakan dari waktu ke waktu, sekolah justru semakin membuat siswa tidak nyaman dan bahagia belajar di sekolah. Sekolah malah nampak seperti penjara bagi anak-anak. Berangkat pagi, pulang sore bahkan malam. Sedangkan yang mereka kerjakan hanyalah bergelut dengan buku dan buku, duduk manis, dan mungkin berhadapan dengan guru yang tidak begitu understanding.

Sekolah membuat mereka tidak senang belajar. Mudah bosan, tidak fokus dan seperti yang terjadi sekarang, liburan dianggap lebih menyenangkan daripada belajar.

Jadi bukan semata-mata karena anak malas. Tetapi ada yang membuat mereka menjadi malas sekolah. Bayangkan saja jika kegiatan di sekolah itu lebih menyenangkan, saya jamin keluhan seperti “ah, aku masih kepingin libur” tidak ada lagi melainkan menjadi “aku ingin cepat-cepat masuk sekolah lagi”. Pasti tidak akan ada yang mengeluh karena harus masuk ke sekolah lagi.

Senin kemarin anak-anak sudah mulai masuk sekolah kembali. Entah apa yang mereka rasakan saat duduk di bangku sekolah lagi. Saya hanya berharap sekolah akan terasa lebih menyenangkan bagi mereka. Entah bagaimanapun caranya, karena kondisi pendidikan kita masih seperti ini sampai sekarang. KIta tidak bisa mengatakan tidak untuk pendidikan…

Berburu catatan

Entah di lingkungan kampus saya saja atau tidak, acapkali mendekati waktu-waktu ujian, mahasiswa menjadi rajin berburu catatan. Catatan si A, si B, si C, dikumpulkan lalu di foto copy. Tidak terjadi kali ini saja, beberapa semester sebelumnya pun juga sama. Sebelum ujian, ritual yang dilakukan pastilah berburu catatan.

Padahal waktu perkuliahan itu kan cukup panjang. Ada beberapa bulan untuk persiapan materi sebelum ujian. Seharusnya, catatan bisa dibuat bersamaan dengan pada saat persiapan materi dengan pengajar. Menjelang ujian tinggal di baca-baca lagi.

Sunguh sayang jika kenyataannya yang membudaya justru budaya rajin foto copy. Alangkah baiknya jika budaya yang berkembang itu budaya rajin belajar yang baik. Bukankah dulu kita sepakat, budaya SMA sudah tidak layak dibawa ke kampus. Jadi, mulailah berbenah, buat catatan sejak awal. Syukur-syukur bisa mandiri tanpa catatan. Itu baru keren!

Sebuah ide untuk anak kost

Kalau kita mendengar kata kost dari anak-anak yang ngekost, sebenarnya kata itu berasal dari penyederhanaan frasa bahasa Belanda “in de kost” yang berarti “makan di dalam”. Secara lebih luas berarti “tinggal dan ikut makan” di dalam rumah tempat menumpang tinggal dengan sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu (umumnya pembayaran per bulan)

“In de kost” awalnya adalah gaya hidup yang cukup populer di kalangan menengah ke atas untuk kaum pribumi. Masyarakat yang saat itu berada di zaman penjajahan Belanda menganggap Belanda adalah sosok  yang terpandang dan berkedudukan tinggi. Dengan mengikuti trend ini, orang tua berharap agar anaknya cukup terdidik akan mampu hidup mandiri serta dapat bersikap dan berprilaku layaknya bangsa Belanda atau Eropa yang dirasa lebih terhormat. Hal ini dianggap mirip atau sama dengan konsep “Home stay” di zaman sekarang (Wikipedia).

Yang dituliskan Wikipedia cukup mewakili apa yang ingin saya katakan tentang anak kost. Saat ini, istilah in de kost lebih sering dikenal sebagai ‘kost’ atau ‘kosan’ saja. Tidak hanya istilahnya, maknanya pun mengalami perubahan. Tidak lagi dianggap sebagai gaya hidup populer di kalangan menengah ke atas, namun justru cenderung menunjukkan sebaliknya.

Sering kali orang mengidentikkan anak kost dengan mi instan. Karena keterbatasan biaya hidup, tidak mendapat perhatian orang tua, dan cenderung makan seadanya, kost justru menimbulkan gaya hidup yang “kurang terhormat”. Banyak dari anak kost yang cenderung sakit-sakitan, tidak bugar, kurus, dan dalam catatan lain juga mengalami obesitas. 

Hal itu disebabkan karena selama hidup di kost, mereka cenderung utuk bertahan hidup dari keterbatasan. Dalam rangka untuk tetap survive sekaligus menekan pengeluaran pribadi, maka hampir semua anak kost selalu sedia mi instan di kamarnya. Mi instan merupakan benda yang sangat membantu jika kondisi keuangan sedang tidak beres. Dengan mi instan, mereka tidak perlu mempertimbangkan masalah lauk. Cukup menambahkan nasi di atasnya maka cukuplah mengenyangkan hingga tengah hari. Selain mudah penyajiannya, harganyapun sangat murah.

Mulai dari sini mi instan menjadi sebuah sign (tanda) bahwa penikmatnya mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Dengan asumsi, orang yang punya cukup biaya untuk kebutuhan hidupnya pasti memiliki pertimbangan yang cukup tinggi pada kesehatannya. Ia akan memiliki hunian yang sehat serta bisa makan tepat waktu dengan menu makanan yang cukup bergizi dan lezat. Sebaliknya, bagi orang yang cost life-nya terbatas, akan lebih banyak mempertaruhkan kesehatannya dengan cara makan seadanya. Hal ini menunjukkan kost bukan lagi prestise dan gaya hidup kalangan atas, namun cenderung menjadi sebuah kondisi yang dialami oleh kalangan menengah ke bawah yang harus bertahan hidup dengan kondisi seadanya, dan mempertaruhkan segalanya untuk tetap survive.

Namun, di sini saya tidak ingin membahas perubahan penggunaan kost oleh kalangan atas ke bawah. Justru saya berfokus pada keinginan saya untuk menyelesaikan masalah anak kost yang demikian.

Menur,ut saya, salah satu indikator dari living condition anak kost adalah dinilai dari makanannya. Jika anak kost masih sering mengonsumsi mi instan, artinya living conditionnya tidak sehat. Apapun alasannya, entah berhemat, memang doyan, atau sekedar coba-coba, living condition (kost) semacam ini menyebabkan munculnya perilaku hidup tak sehat. Gemar junk food, lebih suka instan dan tidak memikirkan pertimbangan kesehatan. Terutama, sudah banyak hasil studi yang telah menunjukkan bahaya makan mi instan (bisa dibaca di sinidi sini atau di sini )

Masalahnya, kondisi anak kost memang jauh dari pengawasan orang tua. Tidak ada yang akan mengingatkan mereka ataupun menyiapkan makanan bagi mereka selagi aktivitas kerja atau kampus memaksa mereka untuk fokus dan bertindak cepat. Jika sudah lelah, tidak ada jalan lain selain ngejunk food atau membuat makanan-makanan instan lainnya. Dengan begitu, perilaku hidup tak sehat tentu sulit dihilangkan.

Saat ini saya sedang berpikir untuk melakukan sesuatu yang dapat mengubah perilaku mereka. Di tengah kondisi seperti itu, mereka tentu memerlukan makanan yang bisa disiapkan dengan cepat, mengenyangkan, dan juga bergizi. Di tambah, makanan tersebut harus terjangkau bagi anak kost mengingat salah satu kondisi yang menyebabkan mereka memilih mi instan sebagai solusinya adalah karena masalah keuangan. 

Saya sedang berpikir mengenai sesuatu yang bisa awet tanpa bahan pengawet. Sesuatu yang diawetkan oleh mekanisme biologis sehingga tahan hingga beberapa waktu ke depan. 

Saya juga sedang berpikir tentang sesuatu yang mudah dimasak hanya dengan air panas (direbus) atau dengan bantuan pemanas (dikukus). Dan saya juga sedang berpikir tentang apa yang dapat menjadi hal itu. 

Jujur, saat ini saya belum tau apa yang dapat memenuhi kriteria pemikiran itu mengingat saya bukan ahli biologi dan tidak sedang belajar biologi. Saya hanyalah seorang gadis yang belakangan ini berharap bisa melakukan rekayasa sosial dan bisa menyelesaikan masalah-masalah disekitar saya dengan ciptaan-ciptaan sederhana. 

Akan tetapi, menciptakan dan menemukan itu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya berharap ada sesuatu yang ajaib sehingga singkong, rumput laut dan keju bisa bertahan dalam waktu 1 minggu. 

Sementara itu, biar saya berpikir lagi. Ada yang punya ide?

gambar diambil dari http://1.bp.blogspot.com

Hubungan dokter dengan pasien, for better understanding

Setelah membaca buku Graham Scambler, saya jadi ingin tau bagaimana proses seorang dokter memutuskan hasil konsultasi dengan puluhan pasiennya. Benarkah dokter telah mampu  mengintegrasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan laporan dari pasien menjadi sebuah keputusan medis yang tepat? Saat ini, bahkan banyak program penyebaran dokter di pelosok-pelosok negeri, di berbagai etnis dalam rangka pengabdian dan pemerataan layanan kesehatan. Lalu, apakah mereka benar-benar telah memahami keputusan yang mereka berlakukan untuk si pasien?

Perlu kita ketahui bahwa karakteristik personal seorang pasien dan pengaruh struktural sangat mempengaruhi penilaian. Karakter-karakter seperti tingkat partisipasi pasien dengan dokter, tingkat pendidikan dan kelas sosial, keikutsertaan dalam kelompok etnis minoritas tertentu, bahkan being male juga berpengaruh. Seseorang bisa saja membangun sendiri laporan kondisi kesehatannya, mengurangi atau melebih-lebihkan suatu kondisi. Di sisi lain, dokter juga sama berpengaruhnya terhadap keputusan berkaitan dengan pengetahuan dan sifatnya yang kadang-kadang mendominasi. Sehingga, keputusan yang diambil dokter seperti pemberian obat, rawat inap dan sebagainya tidak bisa hanya melalui keputusan dokter saja, melainkan juga mengikutsertakan si pasien.

Jika kita ingat-ingat, berapa lama seorang dokter melakukan medical checkup? Berapa lama ia berdiskusi mengenai penyakit yang dikeluhkan pasien? Pengalaman yang paling sering, dokter akan bertanya berapa lama si pasien sakit? bagaimana rasa sakitnya, sakit sekali atau tidak? dsb. Setelahnya, kemudian resep diberikan. Tidak banyak konsultasi yang dilakukan pasien terhadap keluhan penyakitnya karena selain hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya tertutup, dokter juga membatasi waktu konsultasi. Tekanan waktu mendorong konsultasi dengan dokter menjadi terpusat. Kontrolnya menjadi lebih erat dengan tujuan mencapai diagnosis secepat mungkin. Akibatnya konsultasi berjalan singkat dan telah terbukti berhubungan lebih dengan resep yang diberikan dan masalah psikologis sedikit diidentifikasi (Scambler,1991:56).

Jadi bagi dokter dengan pasien dari berbagai latar belakang etnis dan pendidikan, bagaimana cara mereka menyatukan sudut pandang tentang keputusan layanan kesehatan yang diinginkan? Bagaimana para dokter menyiasati pasien yang tidak terlelu aktif dalam pengambilan keputusan medis? Saya khawatir kalau masyarakat banyak yang dijadikan mal praktik. Bagaimanapun juga, dokter lebih sering berperan seperti orang tua di mana segala keputusan ada di tangannya.

Saya pikir, baik dokter maupun pasien harus belajar bagaimana cara berkonsultasi dan menjalani peran sebagai konsultan kesehatan yang baik. Jadi ada pola hubungan yang baik antara mereka sehingga tidak ada yang perlu dirugikan antara yang satu dengan yang lain.