Tag Archives: makanan

Puasa yang Banyak Maunya

Beberapa hari ini saya puasa. Tetapi bukan itu yang penting. Yang menjadi penting, mengapa pada saat puasa saya banyak maunya?

Beberapa hari yang lalu saya terbayang makan bubur ayam. Kemarin, saya kepingin ubi cilembu. Hari ini beda lagi, saya kepingin makan bakwan dengan sambal. Wah puasa kok banyak maunya ya. Padahal puasa itu soal menahan diri dari nafsu.

Saya jadi mempertanyakan, bagaimana kualitas puasa saya. Hmmm…

©Tina Latief 2015

Jumat yang Sangat Kenyang

SAYA TIDAK SEMPAT SARAPAN sebelum berangkat ke kantor kemarin. Saya berpikir, mungkin saya akan sarapan di jalan saja.

Benar, saat masuk ke kompleks, saya membeli bubur ayam. Kebetulan saya sedang kangen makan bubur ayam. Maka pagi itu saya sarapan dengan sangat bernafsu.
2015-08-09_12.28.13
Saya baru ingat agenda hari ini adalah rapat dengan narasumber. Sayapun mendapatkan jamuan yang tidak sedikit:secangkir teh panas, sekotak snack dan makan siang.
2015-08-09_12.30.25

2015-08-09_12.34.58
Alhasil sebelum sarapan tadi pagi benar-benar dicerna seluruhnya, saya sudah makan dan makan lagi. Jumat ini menjadi Jumat yang sangat kenyang. Saking kenyangnya saya menjadi terkantuk-kantuk saat rapat dan memutuskan tidak makan malam karena masih kenyang.

©Tina Latief 2015

Secukupnya saja

Orang dewasa itu haram hukumnya jika menyisakan makanan di piringnya. Artinya ia tidak mengetahui porsinya sendiri. Artinya ia masih perlu dibantu untuk menentukan seberapa banyak ia akan makan seperti waktu kecil.

Yang biasa kita dengar, orang tua akan berkata kepada anaknya “makan yang banyak ya, supaya cepat besar”. Benar, memang cepat besar. Besar dalam arti obesitas dan besar porsi makanan yang terbuang karena tidak dihabiskan. Begitu seterusnya sampai dewasa, seseorang akan terbiasa mengambil makanan berlebih. Sebenarnya, apa yang dipahami orang-orang kebanyakan dengan kata cukup? Bukankah filosofi “makan secukupnya” itu sudah luar biasa?

Cukup atau secukupnya yang saya pahami berarti setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Dengan berkata secukupnya, artinya kita tidak membatasi seberapa banyak seseorang akan makan tetapi menunjukkan seberapa banyak kebutuhan kita sebenarnya.  Orang yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Secukupnya sama artinya dengan ambillah sesuatu sesuai kebutuhan kita. Manfaatnya, kita kenyang tanpa meninggalkan sisa makanan. Tidak ada yang mubadzir.

Masalahnya orang terbiasa dengan banyak. Kata cukup diartikan sebagai batas, batasan dan terbatas. Sepanjang eksistensi saya, belum pernah sekalipun saya ditawari makan secukupnya. Selalu saja “makanlah yang banyak”. Jika terdengar aneh, itu hanya karena belum terbiasa. Jika dibiasakan lama-lama akan menjadi biasa. Bukan begitu?

Saya jadi teringat waktu makan bakmi di warung Mbah Wito. Porsinya pas sekali. Berbeda dengan bakmi Mbah Noto yang satu porsinya hampir 2 kali porsi bakmi Mbah Wito. Sama-sama enaknya, tetapi tidak enak bagi makanannya jika akhirnya harus ada yang terbuang. Yang pas memang lebih enak 🙂

Bakmi Jawa Mbah Wito, Piyaman, Wonosari, Gunung kidul

Picture by Fa