Tag Archives: mahasiswa

Design Your Ideal Room

KETIKA saya menempati sebuah ruang, terlebih untuk jangka waktu yang panjang, maka yang terpenting dari ruang tersebut adalah seberapa ideal ruang itu untuk saya. Katakanlah ruang itu adalah sebuah rumah atau kamar, maka tingkat ideal rumah atau kamar itulah yang menjadi hal terpenting bagi saya. Karena menempati sebuah ruang artinya kita tinggal di dalamnya. Sudah tentu, orang ingin meninggali sebuah tempat yang ideal atau sesuai dengan yang diinginkannya.

Namun kali ini saya sedang tidak ingin membahas mengenai rumah ideal. Karena aktivitas saya sebagai mahasiswa lebih banyak di dalam kelas, saya ingin membahas mengenai ruang kuliah.

“Ideal room for study”.

Meskipun saya tidak memiliki latar belakang design, seringnya menempati banyak ruang kelas membuat saya bisa membedakan mana ruangan yang ideal dan mana ruangan yang tidak ideal. Misalnya apakah ruangan itu nyaman, mendukung suasana belajar-mengajar, atau justru sebaliknya. Sayangnya memang tidak semua ruang kuliah cukup nyaman untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan untuk sebuah kampus dengan standar world class sekalipun.

Perhatikan saja bagaimana ruangan yang ada di dalam foto berikut. Bisakah Anda memberi penilaian terhadap ruang kelas berikut?

2

Yang menjadi catatan saya adalah:

  1. Ruangan ini terlalu sempit. Untuk mahasiswa dengan jumlah yang cukup banyak—50an misalnya, kelas ini tidak cukup memadai.
  2. Penempatan pintu di depan yang sejajar dengan papan tulis, dosen mengajar, dan proyektor juga tidak benar. Selain karena mahasiswa yang keluar masuk ruangan (terlambat, ke toilet, dsb) dapat menganggu fokus belajar, proyeksi dari proyektor tidak bisa dilihat oleh semua mahasiswa.
  3. Posisi tempat duduk yang sama rata menyebabkan mahasiswa yang duduk di belakang tidak bisa melihat ke depan, terutama jika banyak mahasiswa dengan badan besar dan tinggi duduk di depan. Posisi duduk seperti ini jelas tidak menguntungkan mahasiswa yang memiliki postur tubuh lebih kecil karena pandangan mereka jelas terhalang.

Bentuk ruangan seperti ini tidak hanya saya lihat di kampus saya sendiri, melainkan di beberapa ruang kelas dari berbagai jenjang. Ruangan yang pintunya di depan, yang apabila ingin ke belakang, orang harus menunduk-nunduk kepada sang guru sebagai bentuk rasa hormat. Padahal yang seperti ini sebetulnya tidak efektif untuk belajar. Fokus pengajar harus terbagi selagi anak didiknya ingin izin ke belakang. Kalau mau ke belakang seharusnya ya ke belakang saja, kan. Pengajar tidak perlu khawatir apakah muridnya mau makan-minum, mengangkat telpon, ke toilet. Biar saja! Kalau dia melewatkan sesi belajar, toh siapa yang rugi…

design ruang kelas

my hand made my own design of ideal room for study

Lantas bagaimana ruangan yang cukup ideal untuk belajar? Menurut versi saya, ruangan ideal minimal harus seperti ini (lihat pada sketsa!)

Gambar ini mungkin tidak bagus, tetapi mewakili apa yang saya bayangkan tentang ruangan yang ideal untuk belajar.

Dengan ruangan seperti ini, kegiatan belajar-mengajar akan lebih fokus. Tidak perlu khawatir mahasiswa yang datang terlambat ataupun keluar masuk ruangan mengganggu suasana belajar. Bentuk meja dan kursi yang dibuat bertingkat (semakin ke depan semakin rendah) membuat siapa saja bebas melihat ke depan. Didukung dengan tata letak proyektor dan papan tulis yang sedemikian rupa, maka lengkaplah sudah ideal room buatan saya. Mahasiswa bisa belajar dengan lebih nyaman.

Nah, ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari design-design yang ada. Ada banyak design yang lebih memadai daripada yang saya buat. Hakikatnya, ketika orang menempati suatu ruangan pastilah ada harapan agar yang terbaik yang ia tempati. Begitu halnya dengan saya. Saya berharap dapat menempati ruang yang betul-betul nyaman dan mendukung aktivitas saya.

Bagaimana dengan Anda? Ruang seperti apa yang ingin Anda tempati?tinaa

31 Mei, Kemarin adalah Seminar Pertama Kami

Hari itu, Sabtu 31 Mei 2014, saya dan seluruh mahasiswa dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial Kuantitatif (MPS Kuantitatif) melangsungkan seminar Research Design untuk yang pertama kalinya. Seminar itu, meski hanya dihadiri oleh teman-teman satu angkatan dan para pengajar sendiri, namun kesannya begitu membekas di hati. Terkhususnya bagi saya sendiri. Sehingga saya tuliskan pula ceritanya di sini sebagai sebuah ingatan. Bahwa ini adalah permulaan atas eksistensi saya sebagai sosok yang ingin mendedikasikan diri untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan bidang akademis.

suasana presentasi Research Design di gedung AJS, Fisip UI

Presentasi Design Penelitian dengan tema Lingkungan

Meskipun demikian, di dalam cerita saya kali ini saya tidak akan menceritakan bagaimana sidang MPS itu berlangsung atau bagaimana kehebohan tim-tim riset dalam mempresentasikan karyanya. Di sini saya akan menuliskan beberapa hal terpenting dari terselenggaranya seminar kemarin.

1. Tentang Plagiasi
Tentang plagiasi adalah yang paling utama dari apa yang ingin sampaikan dari hasil seminar kemarin. Meski dari kami juga tidak ada yang melakukan plagiasi, ini adalah pesan yang perlu dicamkan dan diingatkan berulang-ulang. Karena bagi seorang akademisi plagiasi adalah hal yang paling tidak bisa dimaafkan. Dosa terbesar, begitu kami biasa menyebutnya. Dosa yang tidak akan pernah termaafkan, sehingga mutlak haram hukumnya.

2. Tentang Literatur
Kekurangan desain penelitian kami adalah tentang penggunaan literatur sebagai bahan kajian. Kentara sekali, kami banyak mengandalkan internet sebagai sumber kami memperoleh informasi baik jurnal maupun literatur jenis lainnya. Minimnya sumber-sumber literatur dari buku menandakan bahwa kami sangat dan sangat kurang membaca. Sehingga pesan utama di sini adalah saya harus lebih banyak membaca buku.

Masih dalam konteks penggunaan literatur, kami mahasiswa juga dipesan untuk menggunakan jenis literatur yang baik. Jenis literatur yang baik menurut seminar kemarin adalah literatur yang bersumber dari tulisan yang terpercaya, memiliki kredibilitas, dan dari sumber-sumber pilihan. Malu rasanya ketika reviewer mengatakan “Kalian mahasiswa UI, masa literaturnya memakai literatur dari sumber begini!” Begitu tertohok hati ini, sayapun hanya tertunduk malu. Mulai dari detik ini saya akan berusaha menggunakan referensi dari jurnal-jurnal dan tulisan-tulisan yang baik.

3. Tentang Presentasi 
Tentang presentasi, menurut saya ini juga penting. Bagi seorang akademisi, berbicara di depan umum menyampaikan gagasan dari apa yang ia temukan adalah hal yang tidak mungkin tidak. Nah, dalam hal ini, seseorang dituntut untuk bisa berbicara yang baik. Ia harus mampu menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang baik sehingga dimengerti orang banyak.

Saat itu saya memang tidak menjadi presentator, kebetulan saya bertugas sebagai penanggungjawab atas reviewer dan pembahas. Namun dari presentasi yang dibawakan oleh teman-teman saya yang lain, saya jadi belajar satu hal. Membawakan sebuah presentasi yang baik itu perlu belajar. Bagaimana seseorang bicara, menarik atensi, menyampaikan gagasan, semua itu perlu belajar untuk menjadi seorang presentator yang baik. Sehingga sayapun membuat rencana untuk studi di semester mendatang. DI semester mendatang saya ingin mengambil mata kuliah public speaking. 

Mengenai plagiasi, jelas ini harus benar-benar di jauhi. Tentang literatur, memang benar kami mahasiswa UI seharusnya memilih sumber-sumber dari penelitian yang terbaik. Meskipun demikian, saya masih memiliki pertanyaan. Di manakah saya bisa memperoleh jurnal dan literatur yang cukup kredibel?

Saat ini saya menggunakan JSTOR sebagai bahan referensi, beberapa lainnya saya peroleh dari perpustakaan online universitas-universitas dunia. Sejujurnya saya masih kesulitan mencari literatur yang baik. Hambatan pertama karena tidak semua jurnal maupun buku digratiskan/ dibuka untuk umum, selain itu saya mulai terbiasa mengandalkan internet.

Bukan karena malas membaca bukunya, tetapi karena sulit menemukan bukunya. Menejemen perpustakaan yang tidak baik menyebabkan saya kesulitan mendapatkan buku yang saya inginkan. Sesungguhnya saya berharap di tengah penggunaan internet yang makin santer ini ada browser yang dapat membawa saya ke penelusuran artikel, jurnal, dan penelitian yang memiliki kredibilitas tinggi. Saat ini seharusnya biasa memperoleh jurnal ataupun ebook dari internet seperti halnya pergi ke perpustakaan. Sayangnya sampai sekarang belum ada. Bahkan Google Cendekia pun tidaklah cukup membantu…

Foto-foto oleh: Ida Ruwaida

What a Boring Class Without School Drama

Setiap hari memasang wajah serius, perhatian penuh. Fokus—bahkan terlalu fokus. Bersamaan dengan itu, badan hampir tak bergerak, memilih kaku di sudut-sudut ruangan dengan buku lekat di tangan. Tidak ada satupun suara, melainkan hanya desingan dari buku tebal berisi kumpulan materi perkuliahan yang sebentar-sebentar dibolak-balikan halamannya.

Dan kemudian hening…

Nah, bisakah Anda membayangkan bagaimana kondisi perkuliahan yang sedemikian rupa?

Well, dugaan saya mungkin mereka kategori mahasiswa cerdas tingkat dewa. Tetapi, alangkah membosankannya aktivitas dengan kadar ketenangan yang sedemikian rupa. Bayangkan saja, setiap hari?? Maka beruntunglah di universitas di mana saya belajar saat ini suasana seperti itu justru jarang sekali ditemui. Malahan di sela-sela perkuliahan selalu ada drama yang tak henti-hentinya memikat perhatian kami.

Tadinya saya berpikir, ketika saya berada di bangku perguruan tinggi, saya sudah tidak akan menjumpai aktivitas malas, menyepelekan, hingga tidak mengindahkan tugas yang diberikan pengajar. Namun kemudian apa yang saya bayangkan terpatahkan. Ternyata, meski secara kedudukan orang yang menempuh pendidikan di bangku universitas lebih tinggi dibandingkan dengan siswa tingkat sekolah menengah, hal-hal seperti itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Seperti di angkatan kami misalnya, kebetulan kami baru akan melangsungkan penelitian. Di dalam proses persiapan penelitian itu, seharusnya seluruh mahasiswa di setiap kelompok ikut berproses, yakni dengan cara mengikuti kegiatan persiapan mulai dari pembuatan research design hingga persiapan turun ke lapangan. Akan tetapi, ada saja mahasiswa yang cueknya setengah mati. Meskipun sudah ditegur, diingatkan, bahkan setengah diancam (diancam tidak lulus) tetap saja, cuek. Tidak peduli.

Mulanya saya jengkel setengah mati. Secara, mahasiswa itu ada di kelompok saya. Tapi kemudian rasa jengkel saya berubah menjadi penasaran. Sesungguhnya, apa gerangan yang menyebabkan mahasiswa menjadi demikian? Mengapa kemudian seorang seperti RK menjadi begitu acuh dengan perkuliahan sementara jelas-jelas ia sendiri yang memutuskan untuk kuliah.

Karena ini sangat bertolak belakang dengan apa yang saya dan teman-teman kerjakan selama perkuliahan. Begitu kerasnya kami berusaha mengikuti perkuliahan dengan sebaik-baiknya, sementara ada saja yang sengaja kuliah seenaknya. Ini menarik. Menarik karena yang seperti ini hampir selalu ditemui di setiap bagian institusi pendidikan. Jika melihat kembali ke belakang, di mana kala itu masih SMP atau SMA, yang seperti ini akan selalu ditemui.

Ah, tapi apalah menariknya sebuah kelas tanpa adanya drama di dalamnya, kan?

Terus Menulis, Terus Belajar Menulis yang Baik

Saya merasa beruntung mengenal menulis di blog beberapa tahun lebih awal sebelum masa perkuliahan. Karena di perkuliahan, apalagi sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan ilmu sosial, menulis terbukti menjadi aspek yang sangat penting. Bisa menulis adalah awal yang bagus. Bisa menulis bagus, itu apalagi. Manfaatnya akan sangat terasa di perkuliahan.

Seperti dalam rangka penelitian misalnya, peranannya bisa menulis menjadi sangat penting. Karena seorang peneliti mau tidak mau harus mampu menjelaskan sekaligus menuliskan— seperti misalnya menjelaskan hubungan peristiwa satu dengan yang lain dengan penjelasan yang runtut, mempu menguraikan suatu rangkaian peristiwa dengan logis/ dapat diterima akal, atau kemampuan menyampaikan gagasan secara tertulis sehingga dapat diterima pembaca. Nah kemampuan yang seperti ini sangat penting dimiliki bagi mahasiswa ilmu sosial.

Makanya saya beruntung telah mulai menulis blog sedikit lebih awal dibandingkan, mungkin, dengan teman-teman mahasiswa yang lain. Saya beruntung, hingga saat ini masih memiliki kemauan rajin menulis di blog. Karena saya menyadari, tulisan adalah salah satu yang akan menjadi sumbangan terbesar ilmuwan sosial. Dan saya ingin menyumbang yang terbaik. Untuk itu, saya tidak pernah berhenti menulis. Saya akan terus menulis dan akan terus belajar menulis yang baik.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak Anda sekalian terus menulis dan terus belajar menulis yang baik!

Tinggal Mataku Berkelap-kelip

Di luar sudah sepi. Saking sepinya bahkan anjing liar yang biasanya sering menggonggong di sebelah Barat sana, sama sekali tak terdengar gaungnya malam ini. Tentu saja binatangpun bisa merasa lelah. Tentulah ia tengah istirahat. Jam segini, siapa yang masih mau bersibuk-sibuk ria?

Sebagai pengecualian itu aku.

Jam di laptopku sudah menunjukkan waktu dini hari. Aku sudah sangat mengantuk. Mataku tinggal beberapa kedipan. Capek sekali rasanya. Ingin rasanya kakiku dipijit, kemudian tidur. Sayangnya, kenyataan tidak semudah itu. Aku masih harus belajar dan mengerjakan tugas seabreg. Fyuh… Aku hanya berharap Tuhan selalu memberiku kesehatan untuk menjalani rutinitas seperti ini.

Aku tau terkadang seperti inipun berat buatku. Namun, kali ini aku sama sekali tak boleh mengeluh. Ini adalah konsekuensi yang telah ku pilih beberapa tahun yang lalu. Menjadi mahasiswa.

Jadi, sebagai mahasiswa, ya beginilah adanya. Begadang, kurang tidur, sudah biasa ha ha…

Tentang Soal Ujian yang Baik

gambar: republika.co.id

gambar: republika.co.id

Tadi siang adalah ujian tengah semester hari pertama. Seperti biasa, saya lebih rajin dari biasanya, bangun pagi dan kembali mengulang materi. Entah mengapa saya sedikit tegang kali ini. Berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya yang saya pikir mudah-mudah saja buat saya. Tentu saja, saya kan sudah belajar. Masalahnya kali ini saya diajar oleh beberapa dosen yang belum pernah saya temui sebelumnya. Karena seperti yang kita tau, setiap karakter dosen pasti berbeda. Dan karena berbeda, maka tipe pembuatan soalnya pasti berbeda pula. Hal inilah yang membuat saya sedikit tegang. Saya bakal masuk kelas dengan sedikit meraba-raba. Saya sih pede saja, toh sudah belajar. Tapi tanpa tau karakter dosen dalam membuat soal sebelumnya tentu persentase keyakinan saya lain dari biasanya. Mungkin beberapa persen dibawah sebelumnya..

Maka benarlah perasaan saya. Soal yang diberikan bahkan diluar dugaan. Salah satu dari 3 dosen yang belum pernah saya ketahui sebelumnya membuat soal yang benar-benar mengejutkan saya, atau setidaknya 3/4 dari isi ruangan di kelas. Jika Anda pernah mengerjakan soal isian di sekolah dasar atau sekolah menengah, yah seperti itulah kira-kira. Kita diminta mengisi jawaban pada titik-titik yang tertera di soal dengan jawaban yang tepat. Selain tepat, kita juga diminta untuk mengisikan jawaban yang sama persis dengan kunci jawaban. Saklek.

Saya terkekeh di dalam hati. Bagaimana mungkin kami diberikan soal semacam ini? Bagaimana pula seorang dosen bisa memberikan pertanyaan semacam ini?

Maksud saya adalah, baiklah mungkin jawaban pada titik-titik di soal tersebut ada. Namun lantas mengapa jika jawabannya adalah X atau Y? Jika X adalah jawaban yang mewakili term “kemiskinan”, sementara Y mewakili “Chicago School”, mengapa tidak membuat pertanyaan yang lebih pintar seperti “Bagaimana Chicago School menjelaskan fenomena kemiskinan yang terjadi pada wilayah urban?”. Saya pikir itu adalah pertanyaan yang cukup pintar, meskipun mungkin sedikit memutar otak, namun bukankah pertanyaan memang berfungsi demikian, mengajak menjadi pintar dengan jalan berpikir logis dan analitis?

Jujur saja, saya tidak bisa mengerjakan semua soal yang diberikan dengan baik. Dari 20 seoal isian yang diberikan, ada beberapa soal yang tidak saya kerjakan, saya biarkan kosong begitu saja karena saya tidak tau jawabannya. Sementara sisanya saya sendiri tidak begitu yakin apakah jawaban yang saya berikan diterima oleh dosen pengoreksi ataukah tidak. Saya hanya yakin pada dua soal analisis yang diberikan oleh dosen yang saya kenal sebelumnya. Jenis pertanyaan yang baik, dan setidaknya keduanya berhasil mengajak saya berpikir dengan baik.

Well, setelahnya saya memang tidak lega, tentu saja karena saya mungkin tidak mendapatkan nilai yang sempurna. Namun saya tidak menyesal juga, sebaliknya kegagalan yang mungkin terjadi akibat tidak bisa mengerjakan soal justru saya anggap sebagai keberhasilan. Kita mahasiswa sudah seharusnya tidak diberikan soal sedemikian rupa. Kalau kita sampai bisa mengerjakannya, lantas apa bedanya kita dengan siswa SMA yang segalanya dipelajari dengan cara menghafal. Khususnya karena yang dipelajari adalah ilmu sosial, menghafal bukanlah jalannya tetapi memahami apa yang terjadi sehingga dapat dijelaskan dengan analisis yang logis.

Bukankah begitu?

Nampaknya membuat pertanyaan yang baikpun masih perlu banyak belajar, ya..