Tag Archives: lari

Hutan Kota UI, Tempat Berkumpulnya Komunitas Lari

BERUNTUNGLAH UI memiliki jogging track yang baik. Setiap Sabtu dan terutama Minggu, jogging track UI selalu padat dengan pelari. Ah saya lupa, bahkan tidak hanya pelari saja yang sering datang untuk berolahraga di kompleks kampus UI ini. Bikers, penggemar skateboard, hingga pasangan keluarga yang hobi bermain raket pun turut berkumpul di sini.

20150308_075034_1

20150308_075344_1

Yang paling ramai adalah jogging track yang melintasi Hutan Kota UI. Hutan yang letaknya di sebelah Barat Danau Salam ini adalah pos peristirahatannya para pelari yang datang ke UI. Tempat ini strategis, selain karena tidak ada kendaraan umum yang melintas, hutan ini juga berbatasan dengan permukiman warga dan pasar kaget.

Karena ramai, Hutan Kota inipun dimanfaatkan sebagai sarana membuka lapak bagi warga sekitar. Tentu saja bukan seperti yang ada di pasar kaget. Memanfaatkan badan jalan yang kosong, para pedagang memfasilitasi para olahragawan dengan menyediakan minuman, sarapan, dan atribut olahraga.

Masyarakat kita memang unik, selalu saja bisa memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Meskipun sebenarnya mereka menempati tempat yang tidak legal untuk berjualan, mereka tetap saja berjualan.

Sebenarnya saya mulai sedikit mengkritik. Terutama karena sampah yang dihasilkan serta pengelolaanya yang tidak bertanggujawab. Lucu bukan ketika orang ingin sehat justru berperilaku tidak sehat. Agaknya harus ada sedikit perubahan supaya pedagang mau bertanggungjawab dengan sampahnya, misalnya dengan menyediakan tempat sampah besar di sekitar sana. Jangan sampai mereka diusir karena membuang sampah sembarangan. Karena bagaimanapun juga keberadaan para pedagang memiliki peran fungsional, yakni menjadi pusat berkumpulnya komunitas olahraga di UI.

©Tina Latief 

Running is about to chase away your pessimism

DUA BULAN yang lalu setidaknya, saya beranggapan berlari mengelilingi Hutan Kota UI itu mustahil. Ah, jangankan itu, menyelesaikan lari 2km saja, saya masih kepayahan.

Karena berlari terlanjur menjadi sesuatu yang sulit, lama kelamaan saya jadi enggan untuk berlari. “Lari itu capek, pokoknya cuma bikin capek.”, begitu kata saya dulu.

Pada akhirnya saya kapok berlari. Kalaupun mau berlari, paling-paling tidak pernah sampai di finish.

***

Beberapa hari sebelum pergantian tahun, saat itu bertepatan pula dengan liburan semester, saya berkesempatan mengikuti teman berlatih berlari. Mulanya saya hanya mengamati bagaimana dia berlari. Lama-kelamaan muncul dorongan di dalam diri saya untuk ikut berlari.

Dorongan itu berupa rasa penasaran. Saya penasaran dengan apa yang saya tangkap pada saat teman saya berlari. Yaitu rasa senang. Saya ingin membuktikan, apakah lari benar-benar menyenangkan seperti yang teman saya rasakan…?

Oleh karena itu, sayapun menguntit. Pokoknya setiap kali dia berlari, saya ikut. Pertama saya jogging di tempat yang elevasinya rendah, yaitu di Bandar Udara Gading, lalu disusul dengan track-track lain seperti Bukit Sodong dan Danau Tong Tong. Kuat sampai di finish, akhirnya muncul keberanian dalam diri saya untuk mau terus berlari.

Hari demi hari saya habiskan untuk berlatih berlari. Didampingi teman saya yang dengan sabar mengiringi ayunan kaki saya yang lamban, saya mulai serius belajar berlari. “Run is for fun”, begitulah yang sering disebutkan oleh teman saya meluruskan paradigma saya yang sudah terlanjur bengkok. Dan benar. Setelah berlari mencapai kurang lebih 50km, saya mulai bisa menerima bahwa berlari itu memang menyenangkan.

Apa yang menyenangkan dari berlari? Bagi saya, tentu bukan semata-mata karena bisa sampai di finish. Yang membuat senang adalah prosesnya, saat-saat yang menentukan antara ingin menyerah atau tetap berusaha.

Waktu saya berlari ke Danau Tong Tong, ada jalananan menanjak yang begitu melelahkan. Rasanya hendak menyerah, lutut saya sudah benar-benar goyah. Akan tetapi di saat saya ingin menyerah, justru muncul keinginan untuk terus berusaha. Alhasil saya bisa melewatinya. Dan ketika saya menenggak sebotol Pocari Sweat, rasanya benar-benar senang…

Nah, kemarin saya kembali berlari, sendiri. Berbekal latihan selama liburan kemarin, saya mengitari Hutan Kota UI dengan rute: halte asrama-hutan kota ui-teknik-fe-fib-fisip-psiko-stasiun ui-ui wood-faculty club ui-mang engking-halte asrama. Yang membuat saya senang kali ini adalah karena saya berhasil mengusir ketakutan dan ketidakpercayadirian pada diri saya. Dari sini sayapun berani menjajal rute yang lebih panjang. Next run, saya mau mencoba keliling UI. 🙂

©Tina Latief

Semakin Tertantang untuk Serius Berlari

image

image

MULANYA saya pesimis bisa menaklukkan Bandar Udara Gading saat jogging pertama kemarin. Saat itu saya sempat bergumam “Gila, jauh sekali rutenya…”.

Namun setelah melihat hasil percobaan pertama, tiba-tiba muncul keberanian saya untuk bisa berlari dengan jarak yang lebih panjang lagi. Pada kesempatan berikutnya saya ingin jogging dengan jarak tempuh dua kali lebih panjang.

Berdasarkan record, pada percobaan pertama saya berhasil menempuh 2,3 mil (setara dengan 1X putaran). Sedangkan pada percobaan kedua saya berhasil menempuh jarak sebesar 2,46 mil.

Meskipun tak genap 2X putaran, ada rasa optimis jika pada percobaan berikutnya saya akan berhasil melakukan 2X putaran lari. Adapun dengan sebuah catatan: tidak terlalu banyak minum terlebih dulu.

Hambatan saya pada saat berlari kemarin berasal dari rasa sakit di perut yang muncul setelah minum isotonik berlebih. Meminum air terlalu banyak saat berlari ternyata membuat perut saya tidak nyaman sama sekali

image

Jadi saya punya dua catatan penting selama berlatih berlari, yaitu selain berlari dengan tempo yang teratur (tidak tergesa di awal, ada baiknya tidak minum air terlalu banyak. Nah, dengan mengingat dua hal penting berikut saya semakin optimis bahwa pada kesempatan jogging berikutnya saya bisa menempuh jarak tempuh lari lebih panjang daripada sebelumnya.

Semangat!

©Tina Latief