Tag Archives: kampus

Menjelang Hari Terakhir

BESOK ADALAH HARI PERTAMA MASUK KULIAH. Akhirnya saat-saat seperti ini tiba. Kuliah menjelang hari terakhir hanya terdiri atas satu atau dua mata kuliah.

Seperti yang umum terjadi, meskipun kuliah perjuangannya tiada tara, bisa dibilang kuliah tiga tahun ini tidak terasa. Rasanya baru kemarin menjejakkan kaki di perguruan tinggi, sekarang sudah harus bersiap menjejakkan kaki di tempat lain. Mahasiswa yang setahun lebih tua sudah banyak yang diwisuda dan sudah tiga generasi mahasiswa baru yang masuk menggantikan yang lama.

Makanya, tak salah jika saya merasa tak lagi muda. Hanya perlu menghitung hari, sebentar lagi yang tua ini pun juga akan terganti.

Saya jadi berpikir bagaimana sebaiknya menyikapi esok hari. Bagaimanapun, meskipun besok adalah hari yang pertama, besok adalah juga hari yang terakhir. Untuk itu, meminjam analogi hari akhir (kiamat), rasanya hanya ada satu hal terbaik yang paling mungkin dilakukan.

Yaitu mempersiapkan performa terbaik untuk menghadapi hari akhir. Karena itulah yang diinginkan semua orang, memperoleh hasil dan tempat yang terbaik di hari akhir.

©Tina Latief 2015

Hari Pertama di Kampus

Hari pertama kuliah, great! Setelah lebih dari sebulan mendekam di Jogja, saya bisa kembali mencium aroma kampus tercinta di Depok. Meskipun kenyataannya prodi masih banyak berbenah terkait peristiwa 17 Januari lalu, saya tetap semangat menyongsong matahari yang mulai memanasi kampus, walau tak ada jadwal kuliah pagi sekalipun.

Ada yang ingin saya pastikan pagi itu. Pertama kabar teman-teman dan fakultas. Kedua terkait dengan IRS yang belum disetujui pembimbing akademis.

Entah karena saya yang terlalu idealis, ngotot ingin mengambil mata kuliah tersebut atau apa sehingga IRS saya belum disetujui sama sekali. He he.. Yang jelas, hingga hari ini saya tidak terdaftar di absensi mata kuliah manapun.

Pembimbing akademis berhalangan hadir dan saya tidak dapat berkonsultasi mengenai apapun. Sementara waktu, saya hanya bisa menunggu seraya berdoa. Semoga Mas Yerus segera sembuh dari sakitnya. Amin..

Masalah IRS sementara waktu tidak begitu parah.

Yang menjadi masalah sekarang adalah komentar orang-orang -dosen maupun kawan- yang prihatin melihat saya sepulang dari Jogja. Soal mendadak hitam saya sih cuek saja. Toh nanti juga imut lagi. Hehe.. Masalahnya komentar mereka yang satu ini loh. Memangnya seberapa kurusnya sih saya sekarang hingga orang-orang sebegitunya mengomentari saya? Astaga, asal tau saja saya selalu makan banyak meski sering terlambat 😀

Oke, yang ini masalah. Mulai sekarang saya berusaha makan banyak dan tepat waktu.

Berburu catatan

Entah di lingkungan kampus saya saja atau tidak, acapkali mendekati waktu-waktu ujian, mahasiswa menjadi rajin berburu catatan. Catatan si A, si B, si C, dikumpulkan lalu di foto copy. Tidak terjadi kali ini saja, beberapa semester sebelumnya pun juga sama. Sebelum ujian, ritual yang dilakukan pastilah berburu catatan.

Padahal waktu perkuliahan itu kan cukup panjang. Ada beberapa bulan untuk persiapan materi sebelum ujian. Seharusnya, catatan bisa dibuat bersamaan dengan pada saat persiapan materi dengan pengajar. Menjelang ujian tinggal di baca-baca lagi.

Sunguh sayang jika kenyataannya yang membudaya justru budaya rajin foto copy. Alangkah baiknya jika budaya yang berkembang itu budaya rajin belajar yang baik. Bukankah dulu kita sepakat, budaya SMA sudah tidak layak dibawa ke kampus. Jadi, mulailah berbenah, buat catatan sejak awal. Syukur-syukur bisa mandiri tanpa catatan. Itu baru keren!

Harga naik

Tantangan baru bagi mahasiswa adalah naiknya biaya hidup. Harga pangan tentu saja. Hari minggu, sebelum perkuliahan hari pertama dimulai, saya telah menjumpai beberapa jenis makanan yang harganya naik. Nasi plus dua jenis sayur dinaikkan 500 rupiah perporsinya. Sambil mengelus dada, setidaknya air putih masih gratis.

Ini pertanda buruk bagi orang tua. Jauh-jauh hari para orang tua harus diberi tahu kalau harga pangan di kampus naik. Uang jajan harus ditambah, seharusnya. Namun bagi yang tidak bisa bertambah, entah kabar ini harus diberitahukan atau lebih baik disimpan.

Saya khawatir jika tukang ojek juga ikut-ikutan menaikkan tariff. Masalahnya harga refill tinta printer di Vaneta juga sudah ikutan naik. Wah bahaya…

Di sudut Fisip

FISIPKU BERSIH

Saya berbangga hati turut memiliki kampus yang memberikan kenyamanan lingkungan seperti di FISIP. Selain padang rumputnya luas, pepohonannya cukup banyak dan hijau. Meskipun tak jarang saya mendapati sampah yang tercecer, namun beruntunglah kampus tercinta ini masih memiliki keindahan padang rumput yang hijau laksana permadani. Bagi saya, adanya rumput dan tanaman rindang di sebuah sekolah adalah cerminan sekolah itu sendiri. Bagi saya, FISIP UI masih berupaya memberikan kontribusi bagi kelestarian lingkungan dengan tidak mengubah seluruh tatanan bangunannya dengan tembok dan cor blok. Saya sangat mengapresiasi jerih payah bapak tukang kebun atas kerjanya merawat kebun dan taman di FISIP.

Akan lebih baik lagi, jika seluruh warga FISIP turut membantu keberlangsungan kebersihan lingkungan kampus tercinta ini. Siapa yang akan menjaga lingkungan FISIP kalau bukan kita? Bukankah ini menjaga kebersihan bukan hanya tugas tukang kebun? 🙂