Tag Archives: jawa

Antu Tawa

Hantu Casper

Di luar suasana malam telah lengang, sepi. Maklum sudah bukan waktunya lagi bagi orang untuk bercanda atau sekedar bernyanyi ria. Jam menunjukkan waktu dini hari, pukul 00.46. Tapi di sini, di kamar nomor 41, seorang gadis tak kunjung menunjukkan tanda-tanda segera memejamkan mata, tidur.

“Antu tawa. Antu tawa. Awas ada antu tawa! Tutup semua tempayan! Tutup semua makanan!”

Kutipan berikut merupakan awal di mana saya tidak bisa tidur. Jangankan tidur, mencoba terpejam saja susahnya minta ampun. Agaknya ini akibat ulah sang penulis yang nyata berhasil menghidupkan suasana di dalam cerita, membuat saya begitu menjiwai membaca sehingga tanpa perlawanan masuklah saya ke ranah imajinasi yang terlalu tinggi. Karena sejujurnya saya tidak mengerti apa itu antu tawa. Namun ketakutan saya pada kata-kata tersebut masih terngiang-ngiang di kepala. 

Saat itu, saya mencoba menghubungi salah seorang teman di ponsel. Mengirim pesan. Saya ketakutan…

Tetapi saya tidak beranjak menutup buku. Ketidakbisaan saya tidur justru membuat saya tetap awas pada lembar-demi lembar isi buku itu. Sebetulnya ada satu dugaan yang mungkin dapat menggambarkan sosok antu tawa. Hanya, keterbatasan saya pada pemahaman kosakata Jawa membuat saya mengurungkan niat untuk asal menebak. Tapi saya bisa sedikit menggambarkan. Antu tawa itu, mungkin, merupakan sosok berpijar seperti yang mendatangi kamar saya dulu di lantai 4. Sosok yang tentu bukanlah meteor atau asteroid jatuh. Melainkan sosok bola api yang dipercaya orang Jawa sebagai pembawa malapetaka. 

Ponser bergetar. Beruntunglah pesan yang saya kirimkan mendapatkan jawaban. Teman saya bangun, ia hendak kencing, namun kemudian ia menyempatkan membalas pesan saya. Menenangkan…

Lalu saya tertidur.

Esoknya saya memposting secarik tulisan ini di Facebook. Seolah saya mengundang seseorang untuk berkomentar. Dengan menggunakan pendahuluan kutipan itu, maka orang yang mengenal betul isi buku ini pasti akan merespon tanpa perlu dimention. Benar, orang yang saya maksud (om Hery Nugroho Djojobisono) merespon.

Antu tawa itu, dalam terminologi Jogja-Solo, dikenal dengan istilah “teluh braja”. Benda langit, biasanya berwujud bola api, yang jatuh ke suatu tempat (rumah, kampung, pulau). Biasanya jatuhnya benda ini hanya terlihat dari kejauhan, yang terkena justru tidak menyadari jika ada teluh braja yang jatuh di kampungnya.
Variasi dari teluh braja ini bisa bermacam-macam, intensitasnya juga berbeda-beda. Ada yang mengenalinya sebagai “pulung gantung”, yang ketika jatuh ke sebuah rumah, maka diyakini akan ada yang gantung diri di rumah itu. Pengalaman empiris menunjukkan, prevalensi bunuh diri dng cara gantung diri di Gunung Kidul berkorelasi positif dengan munculnya fenomena “pulung gantung” ini… Wallahualam.

Interpretasi saya tidak salah, antu tawa sejenis dengan hantu bola api/ pulung menurut Jawa. Dalam jalannya cerita sebuah padukuhan yang masih terbelakang itu, penampakan antu tawa akan sangat menghebohkan. Sama hebohnya ketika tiba-tiba melintas kobaran api dari jendela kamar saya di lantai 4. Mungkin terbelakangnya orang dalam cerita di padukuhan itu bisa disamakan dengan pemikiran saya. Namun bagaimanapun juga saya percaya, yang seperti ini memang ada. Sampai sekarang.

Setidaknya saya pernah dijumpainya…

Nb: karena saya takut, maka gambarnya saya ganti dengan Casper, ya.. 🙂

Di Jawa, Jadi Begini Rasanya Penelitian Sungguhan?

Turun ke lapangan untuk penelitian, saya lakukan pertamakalinya di Sukabumi. Namun karena saat itu masih didampingi dosen dan rombongan, kesulitan dan masalah selama di medan tidaklah begitu terasa karena masalah biaya dan keamanan ada yang digantungkan. Saya pikir penelitian kali itu hanyalah pemanasan belaka, atau yah latihan saja. Seperti apa rasanya penelitian sungguhan, sendirian? mungkin kenyataanya seperti yang dialami oleh seseorang dalam cerita berikut.

***

20140225_173934.resizedAdalah catatan perjalanan seorang Belanda sekaligus seorang doktorandus yang mendalami ilmu Antropologi, Neils Mulder, yang begitu tertantang menembus batas wilayah Indonesia yang saat itu masih diharamkan bagi bangsa Belanda untuk datang. Saat itu usia kemerdekaan Indonesia memanglah belum lama, hubungan Indo-Belanda masih kurang harmonis pasca perang kemerdekaan. Namun terselip tanya di pikiran Neils mengenai Jawa dan aliran politik agamanya seperti yang diungkapkan Geertz dalam The Religion of Java yang membuatnya terus terbayang pada Indonesia. Maka, pada tahun 1969 melengganglan ia ke Indonesia, ke Jawa.

Semangat Neils boleh jadi menggebu saat berhasil melintasi Kepulauan Sumatra, namun perjalanannya ke Jawa masih sangat panjang. Alat transportasi pada saat itu masih belum cukup memadai, dan meskipun ia diperbolehkan membawa motor miliknya, ia harus lebih banyak menuntunnya daripada menaikinya. Ada banyak kubangan lumpur hingga jalanan penuh lubang yang nyaris tidak terlihat oleh mata. Maklum jalan di Indonesia belum seperti sekarang. Maka iapun harus bersabar ketika ia berkali-kali terperosok dan terluka. Dan iapun harus terus bersabar ketika tidak ada medis modern yang akan cepat menangani lukanya. Waktu itu masih belum memungkinkan satu orang dilayani dengan satu jarum suntik seperti yang ia bayangkan.

Segera setelah ia tiba di Jawa, Neils mulai mencoba menjalin hubungan dengan orang-orang lokal guna mengumpulkan data-data yang ia butuhkan dalam penelitian. Dan seperti biasa, mengumpulkan informasi melalui wawancara mendalam (indepth interview) menuntutnya untuk benar-benar dekat dengan narasumbernya. Ia harus bersabar dengan betapa membosankannya orang Jawa saat berbicara, kemana-mana dan banyak basa-basinya. Ia juga harus meluangkan waktunya bagi mereka yang ingin ditunjukkan ramalan nomor lotere terkini atau saat ia menjadi pendengar para tetangga yang mengeluhan masalah ekonomi. Sebagai peneliti kualitatif ia memang harus terlibat dekat dengan narasumber. Namun tentu saja harus tetap menjaga jarak dengan emosi yang mungkin memicu simpati dan empati yang berlebih. Saya jadi teringat seorang remaja, Pikni, narasumber penelitian saya di Sukabumi yang sejak kanak-kanak sudah dibebani ibunya mengurus 3 orang adiknya yang masih kecil. Andaikan saya tidak ingat bahwa di sana saya berperan sebagai peneliti, akan memungkinkan sekali jika saya turut terseret ke dalam perasaan atas keprihatinan kondisinya.

Keagamaan, khususnya kebatinan Jawa di Jogja, menjadi poin utama dalam penelitian Neils Mulder. Namun, di sela-sela penelitiannya ia sempat menuliskan beberapa pemikiran kritisnya terhadap beberapa subjek yang ia temui di Jawa. Seperti misalnya pemikiran kritisnya pada pernyataan Koentjaraningrat mengenai pembangunan dan sikap yang harus dimiliki, konsep gotong-royong di Jawa yang mengalami pemaknaan ganda, atau kepada mahasiswa yang ditemuinya yang cenderung memberikan solusi teoritis kepada petani yang sebenarnya belum tentu dimengerti.

Saya sepakat bahwa hambatan pembangunan kita salah satunya masih dihalangi oleh adanya sikap konservatif dan takut menghadapi perubahan sehingga yang terjadi adalah bukan pembangunan namun peningkatan keterampilan yang kemudian justru memposisikan orang ke dalam posisi yang salah. Dan sebagai mahasiswapun saya menyadari bahwa tatkala turun ke lapangan, ke masyarakat sesungguhnya, mahasiswa masih cenderung kaku dan terpaku pada struktur. Masih kurang ‘merakyat’ dan terlihat sangat menggurui masyarakat. Lalu bagaimanakah seharusnya mahasiswa bekerja di masyarakat? Apakah kita harus mengikuti masyarakat dengan semua cara dan metodenya, ataukah berusaha idealis bahwa apa yang kita punya adalah sesuatu yang terukur dan mampu untuk diterapkan di masyarakat?

Kritik menarik lainnya terkait mahasiswa adalah betapa bergantungnya mahasiswa pada dosennya. Mahasiswa tidak dilatih untuk berpikir, namun menghafal buku-buku yang kebanyakan dari Amerika yang kemudian menerimanya begitu saja seakan semuanya adalah kebenaran mutlak. Dan sayangnya hal ini tidak saja terjadi di tahun di mana Neils memulai penelitiannya. Agaknya kebiasaan (atau mungkinkah budaya?) itu sudah menurun. Karena pola pikir mahasiswa di universitas yang mana mahasiswa bergantung pada dosennya, tidak berlatih berpikir namun menghafal masih terjadi sampai sekarang.

Well, di dalam bukunya Neils juga menuliskan sedikit perbandingan kondisi Jogja dalam kurun waktu yang berbeda. Ia menuliskan betapa berbedanya Jawa yang dulu (saat dia penelitian) dengan Jogja saat kedatangannya kedua kalinya. Tahun 1979, Jogja khususnya Jakarta, mulai ramai oleh kendaraan, wisatawan, hingga corak budaya yang mulai berbeda dari jaman sebelumnya. Orang-orang Jawa tidak lagi berbahasa Jawa halus, lebih dekat dengan orang tua tanpa harus krama dan menunduk-nunduk. Rambut bergelung kini berubah menjadi beberapa potongan modern yang sering dipakai model bintang film, dan khususnya busana, seiring pesatnya industri periklanan di Jawa, semakin jarang pula terlihat wanita berbusana kebaya nan kedaerahan.

Yogyakarta telah tumbuh menjadi lebih provinsial karena tunduk pada Jakarta yang merupakan tempat asal kebudayaan baru Indonesia-Jawa yang disebarluaskan. Sehingga ia kehilangan peranannya sebagai pusat kebudayaan (memproduksi dan mereproduksi) kejawaannya. Namun hal ini tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Neils di dalam bukunya. Mengenai perubahan sosial di Yogyakarta, akan saya tuliskan nanti melalui buku Selo Soemardjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta. 

Sampai jumpa di review buku berikutnya 🙂

Etnisitas dalam Perkenalan

13921298425030

Chihiro Hayashi, student exchange from Japan

Ketika memperkenalkan diri, apakah yang mewakili Anda dalam perkenalan? Kenegaraan kah? tanah kelahiran? etnis? atau  tempat tinggal?

Hari ini di kelas Relasi Etnis, kami kedatangan dua mahasiswa program exchange yaitu Chihiro Hayashi dan Jhon Choe. Mereka berdua akan belajar di UI hingga beberapa waktu ke depan salah satunya mengenai etnisitas.

Tak banyak yang mereka perkenalkan di kelas. Namun dari sana saya tau bahwa Chi, begitulah dia disapa adalah mahasiswa dari Jepang dan Sung Ho merupakan mahasiswa pasca sarjana dari Korea yang sebelumnya telah menyelesaikan studinya di Kanada.

Pilihan mereka tepat karena dengan belajar di UI mereka akan berkesempatan bertemu mahasiswa Ui dari beragam wilayah dan budaya. Melalui perkenalan saja, mereka sudah mengantongi banyak konsep bahwa Indonesia terdiri dari banyak wilayah dengan etnis yang bermacam-macam pula.

Jawa, Cina, Batak, Minang, Madura, Papua, dsb semua bisa dijumpai di UI.

Tetapi ada yang unik dari perkenalan di kelas tadi. Dari sekitar 25 mahasiswa, hampir seluruhnya memperkenalkan diri dengan menyebutkan golongan etnis dan tempat keahiran mereka. Maksud saya, mengapa mereka menyebutkan itu? Mengapa tidak tempat tinggal atau kenegaraan saja misalnya? Mengapa hampir semua orang memention etnis sebagai perwakilan identitas mereka?

Karena berbeda dengan Chi dan Sung Ho, mereka memperkenalkan diri hanya dengan menyebutkan kenegaraan mereka. Apakah ini karena mereka mahasiswa exchange? Mereka menjawab tidak. Bagi Chi dan Sung Ho, mereka sudah terbiasa memperkenalkan diri dengan menyebutkan Korea/ Jepang sebagai identitas mereka meskipun mereka juga berasal dari wilayah terkecil bagian dari Korea ataupun Jepang.

Kembali lagi ke Indonesia, mengapa bukan Indonesia yang menjadi wakil identitas?

Saya sendiri tidak begitu memperhatikan hal ini. Namun mengapa saya menyebutkan Jogja dan Jawa sebagai perwakilan identitas saya karena Jogja dan Jawa merupakan istilah yang lekas pada saya sedari kecil. Saya lahir di Jogja, dan secara ascribe merupakan bagian dari etnis Jawa.

Pertanyaannya selanjutnya, mengapa saya tidak menyebutkan Indonesia atau Jakarta? secara beberapa tahun lalu saya sudah mengubah status kependudukan saya menjadi penduduk Jakarta. Namun, sekali lagi ini tidak ada hubungannya dengan bagaimana saya memperkenalkan diri kepada mahasiswa asing. Meskipun Indonesia dan Jakarta merupakan bagian saya sekarang, namun Jawa telah lama merangkul saya, dan lebih dulu memberikan social identity pada saya.

Jadi jika seseorang menyebutkan golongan etnis sebagai perwakilan dalam perkenalan, tentu kita jadi tau apa maksudnya.

Term “Mbak” ada berapa makna?

Suatu ketika salah seorang teman wanita saya marah. Pasalnya, saya dikira menyamakannya dengan pembantu. Bagaimana bisa? Mulanya saya juga bingung.

Saya tidak tau kalau “mbak” memiliki makna lain bagi setiap orang. Bagi saya keturunan Jawa, kata “Mbak” maknanya ya hanya satu. Tidak berkonotasi ataupun berstrata. Namun bagi dia orang Lampung, kata “Mbak” sama artinya dengan pembantu. Saya bingung. Memangnya “mbak” ada berapa makna?

Selama ini saya belum pernah mendengar sebuah rumah tangga, khususnya Lampung, memanggil pembantu-pembantunya dengan sebutan “mbak”. Yang paling sering saya dengar “bibi”, atau dipanggil namanya langsung. Untuk kasus teman saya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu, ternyata dia selalu dipanggil “mbak” oleh majikannya. Pantas saja…

Jadi gimana ya… Pendapat ini saya kutip melalui komentar om Hery Nugroho Djojobisono, seorang Jawa tulen, di status Facebook saya.

Menurut evolusi etimologisnya, Mbok Ayu –> Mbakyu –> Mbak. Jadi, panggilan “mbak” itu sebenarnya merupakan “penghormatan” orang Jawa kepada perempuan yang lebih tua/lebih dihormati. Panggilan “mbak” yang ditujukan kepada pembantu (perempuan) sesungguhnya merupakan penghargaan kepada pembantu, bahwa yang bersangkutan telah ditempatkan pada strata sosial yang tidak berbeda dengan penghuni rumah yang lain. Bahwa kemudian terjadi reduksi atas makna “mbak” yang terkesan “rendah, leceh, dan sepele”, semata-mata itu hanya karena rendahnya daya nalar dan ketidak-ikhlasan mereka untuk menempatkan “pembantu” sebagai bagian dari anggota keluarga.

Hehe kok ngga pengertian banget ya. Ngga tau kalau yang manggil ini keturunan Jawa. Ah, tapi dia bukan sosiolog sih.. hihi

Sudah jarang

Orang tua sekarang sudah banyak berpikir ketika akan memberi nama ke anaknya. Pertimbangannya banyak. Kasihan juga kalau nama anaknya jelek. Tapi, sudah jarang sekali saya mendengar nama yang di dalamnya terdapat unsur-unsur nama yang berasal dari suku mereka. Bukan karena jelek, tapi anak-anak saja banyak yang minder. Makanya ketika mereka punya anak, namanya dibuat yang bagus. Meskipun ada, sudah jarang. Paling hanya digunakan untuk memberi nama keluarga.

Sudah tidak ada kan yang diberi nama Bambang, Sigit, Eko, Catur, Siti, atau yang di depannya dimulai dari Su-. Atau nama dari suku lain misalnya. (Saya hanya hafal yang dari suku Jawa). Kalau masih ada ya itu karena apes saja. Hehehe.

Nama-nama seperti ini sudah jarang, sebentar lagi sudah tidak ada lagi.