Tag Archives: Jakarta

Tahun ini Menyambut Ramadhan di Jakarta

IMG_20160605_213245SETELAH menantikan jalannya perhelatan sidang isbat nasional di televisi, akhirnya ditetapkan juga oleh pemerintah bahwa 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 6 Juni 2016. Suasana di rumah saat itu mendadak pecah dengan ucapan syukur dan teriak kegembiraan. Karena itu berarti malam ini seluruh umat Islam di tanah air sudah bisa mengawali shalat tarawih dan esok harinya sudah mulai berpuasa secara serentak.

Continue reading

Road to Jakarta Marathon 2016, This Year is My Turn!

Jakmar 2016

MATAHARI belum menyingsing tatkala saya dan teman-teman Derby mulai disibukkan dengan sejumlah aktivitas di WS kilometer 29. Kami harus mendirikan tenda, menyiapkan meja dan mengatur bahan-bahan logistik yang diperlukan selama perlombaan. Hari itu, waktu memang masih pagi. Arloji di lengan kiri saya bahkan belum genap menunjukkan pukul setengah enam. Meskipun demikian, kami semua harus bergegas. Setelah bendera start mulai dikibarkan, kami harus siaga menyambut ribuan pelari di jalanan yang berpartisipasi dalam ajang Festival City Jakarta Marathon 2015. Continue reading

Greeting from Jakarta

1438590416355

JAKARTA, The city of struggle and courage

Many people said that living in Jakarta is hard and full of competition. People must fight with the expensive of living cost, traffic jam, pollution, and sometimes flood.

Well maybe they’re right about Jakarta. And I’ve proved it.

That’s why, the man who can lived in Jakarta is must be the chosen one.

They must be strong, full of courage, brilliant and independent

Are you that man?

I am

#Jakartatoday #HelloJakarta #HappyMonday

©Tina Latief 2015

How Do You Spend Your Saturday Night?

“I spend my Saturday night by picking up the phone from someone located in Yogyakarta then continue to read some books, and I’m really happy about it…

MALAM ini Sabtu malam. Malam Minggu. Biasanya orang telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menikmati malam akhir pekan. Ada yang bersiap hangout dengan teman, pergi jalan dengan pacar, atau di rumah saja, having family time. Acara akhir pekan memang selalu menjadi yang paling ditunggu-tunggu kedatangannya. Karena apapun yang dilakukan, semuanya terasa menyenangkan.

Saya sendiri mengawali akhir pekan dengan berkereta menuju rumah di Jakarta. Setelah bertemu keluarga, saya jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama. Saya menemani nenek belanja, kemudian saya sendiri juga belanja. Setelahnya kami makan malam dan tak lupa kami juga meluangkan waktu khusus untuk bersama—kali ini kami memilih untuk pijat badan. Hehe..

Lalu apakah saya tidak memiliki acara pribadi sendiri?

Oh tentu saya punya.

Setelah mengucakan selamat malam kepada keluarga, saya berpamitan untuk masuk ke kamar. Di sana saya menyempatkan membaca buku yang kebetulan sudah saya persiapkan untuk akhir pekan. Yang kemudian menjadi yang paling menyenangkan adalah ketika menerima telpon dari seseorang di Yogyakarta. Mungkin hanya beberapa waktu saja, tapi rasanya begitu menyenangkan. Hihi…

Nah, itu cerita bagaimana saya menghabiskan waktu malam Minggu. Bagaimana dengan Anda? tinaa

Malam Minggu Kota Tua

Kota Tua malam hari

Malam Minggu ke Kota Tua, saya sendiri mulanya tidak terbayang malam-malam akan jalan-jalan ke sana. Tadinya malah saya ingin main sebentar ke Jogja, Sabtu-Minggu, begitu. Sayangnya mungkin waktu belum mengizinkan saya ke sana sekarang. Jadi saya urungkan saja. Sebagai gantinya saya mengajak teman hangout. Yah sekedar menghirup udara segar di Ibu Kota…  Continue reading

Traveling about the Train, It Shows Us The Other Understanding

Apakah Anda warga Jakarta? Moda transportasi apa yang paling Anda suka?

Kalau saya paling suka bepergian dengan kereta. Alasannya karena kereta akan mengantarkan saya dengan lebih aman dibandingkan dengan lain kendaraan. Dengan kereta saya tidak perlu meregang nyawa atas pengemudi ugal-ugalan ataupun yang kurang keterampilan. Dengan kereta saya tidak perlu khawatir terkena macet atau apa. Dengan kereta saya juga bisa menikmati perjalanan sambil sesekali melakukan hobi seperti menulis, memotret dan membaca. Soal copet atau penuhnya kereta, ah itu hal yang bisa terjadi di mana saja. Intinya saya suka bepergian dengan kereta.

Pagi ini saya melakukan perjalanan dengan kereta juga, ke Jakarta. Bosan dengan keseharian yang penuh tugas membuat saya ingin sesuatu yang berbeda, mungkin sekedar canda dan tawa dari keponakan di rumah. Maka sekitar pukul setengah sebelas melengganglah saya ke stasiun menuju ke Jakarta. Sekalian menukarkan refund tiket yang seminggu lalu belum sempat saya tukarkan, saya hampirilah petugas di loket untuk men-set ulang tiket. Tak lupa, saya mengucapkan keras bahwa tujuan saya ingin ke Kebayoran.

Saya harus memastikan bahwa tujuan saya benar-benar ke Kebayoran. Mengapa demikian? Hehe pengalaman waktu lalu sempat membuat saya ditahan petugas. Bukan kesalahan saya, petugas ticketing-lah yang tak mendengar ucapan saya. Saya mengatakan saya ingin ke Kebayoran. Tetapi olehnya dia berikan saya tiket ke Kemayoran. Untung saja petugas menerima argumen saya bahwa kemungkinan petugaslah yang tak mendengar saya. Jadi untuk sekarang, yang harus saya ingat adalah mengatakan kata “Kebayoran” dengan jelas, setidaknya menekankan pada huruf B atau suku kata Ba pada Kebayoran dengan jelas. Sambil membuat mimik muka menyakinkan, memastikan bahwa petugas tidak salah dengar.

Well, yang paling menarik selama perjalanan menggunakan kereta sebenarnya adalah suasana dan pemandangan di dalamnya. Saya melihat banyak manusia dan segala aktivitasnya selama di kereta. Bagaimana mereka menanti kedatangan kereta sambil sesekali mengeluhkan keterlambatannya, bagaimana mereka menjaga barang-barangnya, bagaimana menaiki dan menuruni kereta, serta bagaimana ketika mereka memberikan kesempatan kepada penumpang kereta yang lain untuk masuk ataupun duduk. Setiap saat begitu dan selalu seperti itu. Mereka sudah terbiasa dengan budaya yang membentuk sikap mereka hingga sedemikian rupanya.

Jakarta memang memiliki struktur, kultur, dan proses yang berbeda di dalamnya. Saya dan Anda sekalian yang saat ini memiliki kebiasaan berkendara seperti ini adalah berkaitan dengan ketiganya. Termasuk kenapa saya suka ke mana-mana dengan berkereta. Karena struktur kota yang kita punya sekarang, maka saya dan Anda sekalian terkadang tidak bisa memilih bus, motor, ataupun sepeda untuk mengantarkan ke mana-mana. Akan lain ceritanya jika di Jepang atau Korea misalnya. Masing-masing memiliki struktur berbeda yang tentunya juga kultur masyarakat yang berbeda pula.

Well lads, soal Jakarta pasti tidak ada habisnya. Sejarah kota yang berawal dari sebelum jaman penjajahan ini akan terus ada seiring dengan perkembangan zaman. Tapi saya sudah hampir tiba. Seyogyanya lain waktu kita kembali bercerita. Terakhir seperti biasa perjalanan kali ini saya aman, nyaman, dan menyenangkan. Menyenangkan karena tentunya saya tidak mengalami pengalaman berulang saat ditahan petugas. Hehe..

Pastinya karena saya selalu mengingat untuk mengucapkan kata KEBAYORAN dengan lafal yang jelas dan tegas.

Selamat siang…

We Prefer for The Beautiful One

Adzan Maghrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya berkumandang tepat pukul 18.48 yang lalu. Saya yang saat itu tengah asyik menekuni beberapa email yang masuk, seketika menghentikannya lantas mendengarkan lafal adzan yang berkumandang tak jauh dari kediaman dengan penuh perhatian.

Suara adzan dari si pemilik suara emas itu sungguh menenangkan, dipadu keindahan senja di perbatasan membuat suasana sore ini begitu memesona. Sesegera mungkin saya mengambil air wudhu kemudian menunaikan shalat tiga rakaat. Sore itu shalat terasa begitu nikmat, hikmat.

Seperti tersihir oleh kekuatan gema adzan. Atau memang begitulah seharusnya? Karena Islam menyukai keindahan maka mengumandangkan Adzanpun seharusnya diutamakan bagi yang memiliki suara paling indah. Karena menggugah minat untuk segera shalat itu sesungguhnya memerlukan sebuah kekuatan dan semangat. Maka sudah sepantasnya yang mengumandangkan adzan adalah orang yang memiliki suara yang paling indah diantara semua yang ada. 

Jadi kalau di masjid ada beberapa muadzin yang siap mengumandangkan adzan, sebaiknya diutamakan yang suaranya paling indah jangan seadanya.