Tag Archives: hujan

More Books to Read

BAGI mereka yang bekerja di luar ruangan, musim hujan mau tidak mau mengurangi produktivitas kerja. Mereka yang berkebun, bersawah, atau mungkin turun lapangan menjadi banyak menganggur akibat turun hujan.

Tapi lain halnya bagi saya. Hujan berarti sebaliknya.

Rain means more books to read.

Ya mau bagaimana lagi, mau main sebentar-sebentar hujan. Daripada menganggur lebih baik menambah ilmu dengan buku.

Yuk membaca buku!

©Tina Latief

Hujan di Depan Rumah

SORE ini hujan lebat di rumah. Airnya membasahi semuanya, kebun, tanaman, ayam-ayam. Seketika, halaman rumah penuh air karenanya.

Termasuk selokan yang tadinya kering, lambat laun mulai terisi dengan air hujan. Dalam waktu yang singkat, selokan di depan rumah mulai mengalirkan air menuju entah ke mana. Airnya keruh, meliuk-liuk seperti anakan sungai.

Memandangi hujan lebat di depan rumah yang airnya mengalir di selokan mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu saya suka sekali merobek halaman tengah pada buku untuk dibuat kapal-kapalan kemudian dihanyutkan ke selokan. Kalau ada teman lebih seru lagi, kami biasa bermain balap kapal. Sambil berteriak saling menyemangati kapal masing-masing, kami akan sangat betah melongok ke selokan. Kami tidak akan berhenti meski ibu kami sudah berteriak-teriak mengingatkan kami. Satu-satunya yang membuat kami berhenti adalah apabila hujan tak lagi mengalirkan air ke selokan. Jika kapal tak lagi hanyut, kami akan sangat menggerutu. Sementara orang dewasa berharap hujan segera reda, sebaliknya kami berdoa supaya hujan turun dengan lebatnya.

Ada lagi permainan yang menyenangkan selagi turun hujan, yaitu hujan-hujanan. Terutama saat sepulang sekolah, saya dan teman-teman sepermainan akan dengan senang hati melepaskan sepatu-sepatu kami, menyusuri jalanan becek berlumpur, bermain air. Jika ada genangan air, kami akan buru-buru mendatanginya. Siapa yang tercepat dia yang akan menjadi pemenangnya. Karena selain menikmati genangan lumpur terlebih dulu, dialah yang dapat mencipratkan air lumpur itu ke baju teman-teman yang lain. Hihihi…

Pokoknya menyenangkan sekali saat turun hujan. Bagi kami, hujan adalah anugerah terindah yang pernah diberikan Tuhan. Diam-diam saya tersenyum seorangan, mengingat masa kecil yang begitu menyenangkan. Kemudian saya tersenyum lebih lebar menyadari masa sekarang, yang mana beberapa menit yang lalu saya menggerutu karena kehujanan. Seharusnya saya tetap bergembira seperti dulu kala…

©Tina Latief

Kali ini Saya Membenci Hujan

Usai kuliah terakhir pukul setengah enam sore, saya segera bergegas berjalan ke supermarket untuk membeli perlengkapan mandi yang telah habis dua hari yang lalu. Karena hanya perlengkapan mandi, saya pikir tidak akan lama. Saya tak menghiraukan awan mendung di atas kepala saya dan memilih meneruskan perjalanan menuju tempat tujuan.

Di atas gedung Detos, langit telah menghitam. Angin bertiup kencang dan dedaunan gugur tak beraturan. Sebentar lagi jelas akan turun hujan. Maka sayapun mempercepat langkah dan membeli keperluan sesingkatnya.

Kurang dari setengah jam, saya sudah keluar dan mendapati langit gelap total. Hari telah berganti malam, ditambah hujan mulai datang.

Dari arah Timur, angin bertiup kencang membawa butiran air yang langsung menghujani saya di tempat. Segera saya keluarkan payung dari tas punggung, membukanya dan melindungi badan dari amukan hujan.

Begitu lebatnya hujan sore itu.Seluruh jalan tergenang air hingga menyentuh betis. Jalanan hampir tak terlihat. Banyak pengendara yang memilih berteduh di halte menanti hujan mereda.

Sayapun, dengan setengah badan yang telah kuyup, turut menjejalkan diri di halte yang telah penuh oleh peneduh. Dinginnya bukan main. Payung biru yang saya gunakan tak kuasa melindungi badan dari air bah yang terlalu besar. Dari ujung kaki hingga badan, saya basah seluruhnya. Di sana saya berharap bis kuning segera datang dan melarikan saya ke rumah.

Terguyur hujan sebenarnya tidak terlalu buruk. Dulu, saat masi sekolah dasar saya sering sengaja berbasah-basahan demi bermain dengan air hujan. Meskipun ada payung di dalam tas, saya memilih ikut teman berbasah-basahan dan main air sepuasnya.

Ya dulu menyenangkan bisa main air sebebasnya. Bahkan saya tidak peduli apakah buku saya akan basah atau akan jatuh sakit setelahnya. Tidak seperti sekarang yang mana setiap saat saya harus terhindar dari hujan. Sekarang saya adalah mahasiswa dengan banyak alat elektronik yang harus dijaga keamanannya agar tidak basah tergenang hujan.

Sayangnya saya lupa akan hal itu. Seperti berada dalam lamunan masa lalu, saya lupa membiarkan tas berisi barang elekteonik keperluan kuliah itu terendam air. Alhasil, ponsel dan laptop basah terkena air. Sementara ini ponsel saya selamat, namun laptop saya sekarat.

Sekarat adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana sedih dan marahnya saya. Gara-gara hujan, kini saya tidak bisa mengerjakan tugas.

Jika biasanya saya memuji hujan beserta suasananya yang menyenangkan, kini rasanya saya sangat membenci hujan.

Ingin rasanya mencubit hujan keras-keras, atau memakinya keras-keras…

Seharian tanpa Air Bersih

20140222_154740.resizedSaya duduk termagu di dekat jendela memandang ke arah luar di mana langit dengan leluasa memuntahkan airnya ke bumi. Sambil melamun, saya bingung antara menyesap the tubruk yang baru saja saya buat ataukah mengunyah beberapa permen mint terlebih dulu.

Beberapa menit yang lalu saya memanasi air dari galon untuk membuat the. Hujan yang turun sejak pagi tadi membuat saya menggigil kedinginan, membuat saya ingin sesuatu yang hangat untuk memanaskan badan. Permen mint dari Yura sebenarnya tak ingin saya makan, karena bila dimakan saya tambah kedinginan. Tetapi mulut yang tidak tersentuh pasta dan sikat gigi selama seharian ini benar-benar sudah tidak nyaman lagi. Pahit dan yuck… bau. Tapi kemudian saya lebih memilih menyesap the terlebih dulu. Sepertinya kali ini saya tidak peduli dengan bau-bau yang keluar dari badan saya. Badan lengket, ketiak asam, dan celana dalam yang sejak kemarin belum saya ganti pun sebenarnya sudah sangat tidak nyaman. Namun apa mau di kata, sejak subuh tadi air di asrama mahasiswa tidak menyala juga. Mandi dengan air hujan? Agaknya itu bukan pilihan yang tepat. Saya memutuskan untuk kembali menekuni buku, the, dan tetap berada di dalam kamar saja. Lagipula ini weekend, dan diluar hujan turun dengan derasnya.

Saya sudah tidak kaget lagi bila 1-5 jam air di asrama tidak menyala. Pengalaman tahun lalu, mahasiswa di satu gedung, di gedung E, harus ikut mengantre mandi di gedung sebelah. Namun kejadian ini berlangsung lebih dari waktu yang biasanya. Seharain, bayangkan! Dan tidak hanya dialami oleh satu gedung, tetapi terjadi di semua gedung asrama baik pria maupun wanita.

Saya tidak tau secara pasti. Namun nampaknya UI tidak menggunakan jasa PAM untuk mencukupi kebutuhan air bersih di asrama. Di beberapa titik di asrama terdapat semacam kilang-kilang air yang berada di dalam tanah yang setiap periode waktu tertentu dibuka untuk diperiksa. Tahun lalu di gedung E, kilang tersebut dibuka untuk dibersihkan karena saluran airnya mampat, terhambat pasir yang saya perkirakan bisa digunakan untuk membangun satu sisi tembok berukuran 3x2m. Apakah peristiwa air mati ini hanya terjadi sesekali? Bisa dibilang sesekali, sih. Tetapi cukup sering juga dan dampaknya wah.. bayangkan saja jika aktivitas yang membutuhkan air seperti masak, minum, mandi, shalat tidak didukung oleh ketersediaan air bersih! Terutama karena mahasiswa kan mau berangkat ke kampus…

Untuk peristiwa kali ini, nampaknya bukan disebabkan oleh mampatnya selang-selang dan pipa air. Menurut keterangan anak-anak yang bertanya ke petugas asrama, ada sambungan kabel yang putus yang karena kondisi hujan belum bisa diperbaiki hingga saat ini. Tetapi kabel di mana-nya pun saya tidak tau menahu. Tidak ada pemberitahuan resmi dari pihak asrama. Padahal mengkonfirmasi setiap permasalahan seperti matinya air di asrama,peringatan keamanan, atau listrik padam dengan cara mengumumkan melalui pengeras suara kan tidak ada salahnya. Semua akan tau dan tidak ada yang kebingungan. Kami semua pasti juga maklum.

Sementara menunggu air menyala, saya membaca-baca berita di Twitter. BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait adanya kemungkinan hujan lebat yang akan terjadi di wilayah Jabodetabek. Hujan inilah yang ia maksud. Memang sangat lebat dan lama turunnya. Namun saya bersyukur, air yang Tuhan turunkan ini adalah berkah buat kami yang kebingungan tidak ada air. Beramai-ramai kami mengumpulkan ember, menadahkannya di air hujan seember demi seember demi memenuhi kebutuhan air bersih. Meskipun tidak menggunakannya untuk mandi, tetapi aktivitas bab, bak, dan khususnya ibadah sangat tertolong dengan air hujan ini.

Semoga tak lama kemudian air segera menyala..

Sekali-kali Menurut

Hujan deras yang mengguyur Gunungkidul pagi ini mengingatkan saya pada rencana pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang rekayasa cuaca untuk mencegah terjadinya luapan air di Ibu Kota Negara. Pada Selasa, 14 Januari lalu usai gubernur DKI menandatangani persetujuan rekayasa cuaca, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melakukan rekayasa cuaca di Jakarta. Dari situ saya jadi berpikir, jangan-jangan ini masih serangkaian hujan dari Jakarta yang bernilai miliaran itu?

Tapi bisa jadi itu bukan. Karena alih-alih mendapati kabar perkembangan rekayasa cuaca tersebut, kabar yang saya terima justru kabar yang bertolak belakang dengan harapan saya pada rekayasa cuaca. Jakarta dilanda banjir. Sejumlah ruas jalan terendam air. Banyak warga terpaksa mengusi. Diikuti kabar terbaru bahwa rekayasa cuaca dinyatakan gagal menangani banjir.

Sudah saya duga. Kegagalan tersebut sudah pasti terjadi. Siapapun gubernur yang menjabat saat ini, yang sedang berusaha menangani banjir, mau tidak mau pasti menjadi olok-olok gagal menangani banjir. Karena bagi saya, melawan fitrah air tidaklah mudah. Apalagi tidak sekedar air yang dilawan, namun cuaca. Meskipun mungkin, gila menurut saya jika ketentuan alam dilawan.

Apalagi ketika kegagalan tersebut diakibatkan kurangnya persiapan dan perlengkapan. Waini. Apa tidak gila lagi melawan alam tanpa alat?

Kalau manusia ingin melawan fitrah air apalagi cuaca, 28 miliar tidaklah cukup. Paling tidak beberapa kali lipatnya lagi sehingga Jakarta punya ratusan pesawat Hercules yang setiap jamnya bisa digunakan untuk menebar garam.

Namun bagi saya, daripada membuang-buang uang untuk melawan sesuatu yang sudah benar, benar karena seharusnya hujan itu datang dan mengalir ke tempat yang lebih rendah, lebih baik manusia mengikuti saja apa aturan alam. Yakni dengan menjaga lingkungannya, merawat dan melestarikan fungsi-fungsi alam dengan sebaik-baiknya sehingga tidak perlu melakukan gencatan senjata dengan alam. 

Manusia tidak bisa terus-terusan memaksakan kehendaknya pada alam. Tidak bisa terus-terusan menuntut pada alam. Manusia menempati alam, jadi manusialah yang harus mengikuti alam, bukan sebaliknya. Jika manusia tetap melawan, bagaimanapun juga, manusia tetap akan kalah. 

Alam kok dilawan.

Sarapan Sesuai Cuaca

Apa menu sarapan Anda biasanya? Jika betul terkaan saya mungkin nasi goreng, bubur, sandwich dan roti menjadi menu sarapan Anda sehari-hari.

Beberapa diantaranyapun menjadi sarapan saya setiap harinya. Namun bangun di tengah dinginnya udara pagi akibat lama diguyur hujan membuat saya berkeinginan untuk makan sesuatu yang lain.

Nasi goreng ataupun makanan biasa lainnya sebetulnya tidak masalah untuk sarapan. Tetapi hangatnya tidak bisa dinikmati lama-lama. Rasa-rasanya saya ingin sesuatu yang panas dan berkuah. Berharap panas dari kuah itu bisa menghangatkan lebih lama.

Bagi sebagian besar orang mingkin biasa menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau teh. Sayangnya saya tidak seberuntung mereka yang memiliki perut cukup kuat untuk meneguk kopi. Kebetulan pagi inipun perut sudah lapar. Jadi tepat jika saya ingin sesuatu yang berkuah, hangat, dan mengenyangkan.

Dan inilah sarapan saya. Sepiring mie kuah panas buatan Mom.

20140116_082419

Seperti judul tulisan ini, sarapan sesuai cuaca. Mie buatan Mom sangat cocok dinikmati di tengah cuaca yang dingin seperti ini. Waktunya tepat, apalagi disajikan selagi panas.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana rasanya karena hanya lidahlah yang mampu menilai rasa. Cukup ditebak saja bagaimana rasa makanan yang di makan diwaktu yang tepat, didapat secara gratis, dan dibuat dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Tentu rasanya sangat hangat dan lezat 🙂

Nah temans, apa sarapan kalian hari ini?

Jogja cerah hari ini

Sebelum sampai di jogja saya sudah khawatir akan mendapati jogja dalam guyuran hujan. Tanda-tandanya sudah terlihat tatkala pesawat yang saya tumpangi ke jogja mendarat. Sesampainya di bandara adi sucipto, saya dan penumpang yang baru saja turun terpaksa lari kalang kabut karena diguyur hujan.

Beberapa hari yang lalu teman-teman di jogja mewanti-wanti saya dengan kondisi jogja yang selalu dingin dan basah. Ketiadaan matahari selama berhari-hari membuat semuanya dingin. Tantangan liburan kali ini lebih besar daripada liburan tahun lalu. Alih-alih mendapatkan liburan menyenangkan, kalau tidak aware dengan cuaca bisa manjadi korban masuk angin dan flu berat.
image

image

Tapi beruntunglah pagi ini
read more