Tag Archives: Field note

Dari Jakarta ke Penghujung Indonesia, Perjalanan ke Banda Aceh Bagian 1

Banda Aceh, 16 September 2015

“Di tempat baru, kita tidak punya pilihan selain menjalani hal-hal baru yang sebetulnya asing. Beberapa menyenangkan, beberapa memusingkan bahkan bisa sangat menjengkelkan. Terutama jika berkaitan dengan masalah aturan atau norma budaya yang tidak biasa bagi kita. Maka, satu-satunya jalan agar tetap survive adalah dengan cara menghormatinya, respect. Menganggapnya sebagai suatu hal yang lazim karena memang begitulah seharusnya saat kita berada di tempat baru…”

***
Pesawat Garuda yang membawa saya dari Jakarta melakukan boarding pada pukul 11.40. Selama kurang lebih 3 jam terbang, pesawat dengan seri penerbangan GA126 itu akhirnya mendarat di tujuan. Seperti yang biasa saya lakukan, saya akan terlebih dahulu mengagumi keadaan sekitar. Banda Aceh, sekilas memang nampak mengagumkam. Apalagi kenyamanan Bandar Udara Sultan Iskandar Muda memang tak sekedar tipuan belaka…

Tujuan pertama saya di Banda Aceh adalah Hotel Mekkah. Di situ saya dan rombongan akan menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe. Karena hari itu belum banyak kegiatan, saya menggunakan kesempatan itu untuk lebih banyak mengeksplor banyak tempat di Aceh. Hari pertama di Banda Aceh, saya berkesempatan mencicipi kuliner khas Aceh. Tak lupa saya juga mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman yang konon tidak ikut hancur saat musibah tsunami 2004 lalu.

Mencicipi Ayam Tangkap, mungkin tidak seheboh saat mengunjungi Masjid Baiturrahman. Saat makanan berbahan dasar ayam itu dihidangkan di meja, saya dan rombongan hanya sempat memperdebatkan, daun-daun apakah yang disajikan di atasnya itu? Namun saat di masjid, kehebohan itupun dimulai. Saya yang tengah asyik memfoto-foto masjid, mendadak terkejut dengan teriakan orang di belakang. Sejumlah polisi syar’i menegur saya seraya menunjuk-nunjuk celana yang saya gunakan. Mereka mengatakan “Ini terlalu membentuk ini” katanya dengan logat Aceh yang sangat kentara.

Dengan wajah kebingungan, saya keluar dari kompleks masjid. Ada perasaan kesal, mengapa hanya ingin shalat saja malah diusir? Padahal saya juga sudah menggunakan celana berbahan dan bermodel longgar. Sudah saya persiapkan pula sedari Jakarta, saya tahu, celana jeans tidak bisa digunakan di Aceh. Namun saya yang saat itu memakai celana bahan tetap saja diminta keluar dari masjid. Saya ingin membela. Tetapi di negeri orang, saya rasa tidak akan ada gunanya. Maka tidak ada pilihan lagi bagi saya selain menuruti omelan sang polisi untuk meninggalkan masjid.

Di tempat baru, kita tidak punya pilihan selain menjalani hal-hal baru yang sebetulnya asing. Beberapa menyenangkan, beberapa memusingkan bahkan bisa sangat menjengkelkan. Jika kita ingin survive, satu-satunya jalan adalah dengan cara menghormatinya, respect. Menganggapnya sebagai suatu hal yang lazim karena memang begitulah seharusnya saat kita berada di tempat baru…

Tina Latief 2015

 

Hunting Isu Sosial di Kebun Binatang Ragunan

MINGGU pagi kemarin saya dan rombongan mahasiswa Sosiologi UI ke Kebun Binatang Ragunan. Kami mengadakan field trip bagi mahasiswa Sosiologi angkatan 2014 yang sedang mengikuti mata kuliah Keterampilan Sosial. Agak lucu juga ketika tajuk acara ini adalah untuk hunting isu sosial, karena biasanya orang ke kebun binatang adalah untuk liburan.

Orang awam (common sense) mungkin bertanya-tanya, kenapa mencari isu sosial di kebun binatang. Tetapi justru itulah yang ingin ditunjukkan oleh teman-teman pembimbing mata kuliah Keterampilan Sosial. Bahwa bagi seorang Sosiolog, isu sosial ada di sekeliling kita dan bisa ditemukan di manapun ia berada. Isu sosial bisa bermula dari hal yang paling sederhana. Menarik dan tidaknya, tergantung dari bagaimana seseorang mengangkat isu tersebut ke ranah publik.

Briefing Acara pertama dimulai dengan briefing oleh teman saya, Adi. Dia menjelaskan bagaimana teknis pelaksanaan field trip di KBR. Sembari menikmati waktu jalan-jalan, mahasiswa baru diminta untuk mengenali isu-isu sosial atau melihat momen-momen di sana dengan sudut pandang Sosiologi. Berbekal kamera dan gadget, mahasiswa baru meluncur ke setiap pelosok kebun binatang hunting isu sosial.

Suhu udara di KBR menjelang siang cukup menantang. Meskipun memang banyak pepohonan rindang dan warung-warung penjual minuman dingin, panasnya udara membuat kami kepayahan juga. Keringat tidak henti-hentinya mengalir, muka-muka cerah kami mulai memerah dan kelelahan. Air dingin, kipas, payung, menjadi teman paling dibutuhkan di kala perjalanan. Hari itu, tak lebih dari pukul 12 akhirnya kami menghentikan perjalanan.

D

C

Cc

Ee

Yang pertama kali saya lihat, jelas para mahasiswa baru nampak kelelahan. Di samping panas yang membakar, rasa lapar mulai terasa. Berbagai cerita mulai mengudara. Capek, panas, laper, bete karena ngga dapet-dapet isu, well… 🙂

Beberapa mahasiswa sempat kebingungan dalam mengerjakan tugasnya. Mereka masih bertanya-tanya dan menebak-nebak momen seperti apa yang memungkinkan diangkat menjadi isu sosial. Namun saya senang melihat mahasiswa baru belajar. Rasanya seperti melihat proses bagaimana saya belajar dulu, dari yang dulu commonsense, kemudian seiring berjalannya waktu, secara bertahab mampu berpikir beyond commonsense. Hihi..

Nah, itu sedikit cerita bagaimana selama setengah hari saya membuntuti maba. Selama di Ragunan, tentu saya juga menikmati suasana kebun binatang yang ramah itu.

Saya mengunjungi banyak binatang seperti harimau, singa, buaya, ular, ikan, beraneka burung dan tentu saja monyet. Sekilas, saya jadi teringat ketika ke sini dengan Mom. Saya senang mereka sehat dan terawat. Beberapa jenis ular bahkan telah bertambah populasinya dibandingkan kunjungan saya di tahun 2011 lalu.

Beruntunglah pengelola di sini baik dan kompeten dalam merawat satwa. Mereka benar-benar mau memperlakukan para binatang sebagaimana mestinya. Saat melihat ke kandang harimau, mendadak saya teringat nasip Melani, seekor harimau malang di Kebun Binatang Surabaya. Akibat perawatan yang sangat sangat tidak memadai, ia harus meregang nyawa di atas nasibnya yang entah siapa yang memerdulikannya.

Di dalam tulisan ini saya ingin turut membantu mendukung gerakan penyelamatan satwa di Kebun Binatang Surabaya. Mari kita bantu mereka yang tidak bisa berbicara untuk menyampaikan suaranya ke muka publik. Tandatangani petisi berikut, Petisi #saveKBS maka Anda akan turut membantu keberlangsungan hidup para satwa di KBS.

Satu suara dari Anda, sangat berarti bagi kehidupan mereka kini hingga seterusnya nanti. #saveKBS

♥♥♥Tina Latief♥♥♥