Tag Archives: dusun gerjo

Peran masyarakat dalam penyelenggaraan jalan berkelanjutan

 

IMG_4651

Aku masih ingat bagaimana perjuangan anak-anak sekolah dasar, siswa SDN Karangmojo II, menempuh perjalanan untuk bisa sampai ke sekolah. Di samping jaraknya yang cukup jauh, jalan pada waktu itu masih belum rata. Banyak sekali batu-batu besar mencuat di sana-sini, sehingga seringkali kaki kami harus lecet-lecet karena terseok diantara bebatuan terjal di jalan. Continue reading

Kata dusun Gerjo, perantau adalah orang kaya

Saya tidak menyangka, meski termasuk angkatan tahun-tahun sekarang, saya masih menjumpai paradigma yang menyatakan bahwa perantau Jakarta adalah orang-orang kaya setelah kembali ke kampung halaman.  Saya pikir, pandangan seperti ini sudah berubah, tetapi nyatanya tidak. Teman-teman yang mengobrol dengan saya beberapa waktu lalu justru masih seperti angkatan tahun-tahun sebelumnya yang mana saat itu banyak anggota masyarakat yang menjadi perantau.

Sebagai orang yang termasuk dalam angkatan tahun-tahun yang modern, aneh jika paradigma seperti itu masih bertahan sampai sekarang. Kalau diuraikan satu-persatu, merantau ke luar daerah khususnya Jakarta memang sudah menjadi budaya turun-temurun, mulai dari ayah, anaknya, lalu anaknya lagi. Usai kelulusan, tak sampai 3 bulan kemudian sudah banyak kaum muda yang merantau ke Jakarta. Seperti yang kita ketahui, pada akhirnya desa kekurangan sumber daya manusia.

Tadinya saya berpikir, semakin mengenal pendidikan yang lebih baik, pola pikir masyarakat akan lebih baik pula. Katakanlah seorang buruh pabrik yang gajinya 2 juta dengan standar biaya hidup Jakarta. Karena ia tulang punggung keluarga, setiap bulan, setidaknya sepertiga gajinya, harus dikirim ke kampung halaman. Sisanya digunakan untuk makan, tempat tinggal dan biaya hidup yang lainnya. Kalau ingin memiliki tabungan atau kirim lebih banyak, biasanya akan ada kerja lembur. Menjelang lebaran atau akhir tahun, ia kembali ke kampung untuk liburan dengan wajah yang berbeda. Gadget baru, transportasi baru, uang banyak. Menurut masyarakat, ia sukses mejadi orang kaya. Singkatnya merantau=kaya.

Kalau uraiannya seperti itu, maka sukses dan kaya bertolak ukur pada uang. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, perantau bisa menjadi orang yang paling miskin. Selepas sekolah, seseorang  harus memutus hubungan dengan kawan-kawan di wilayah asal guna mencari uang di perantauan. Selama menjadi perantau, pergaulan terbatas pada teman-teman seprofesi. Itupun jika tidak lembur, jika lembur maka waktu bergaul dan beristirahat akan semakin berkurang. Selain kesehatan yang sering terganggu, arus informasi juga terbatas dan yang saya ketahui, pada akhirnya mereka hanya akan menikah dengan orang yang dikenal di lingkungan kerja tersebut.  Andai saja semua orang tau, untuk bisa mengumpulkan uang banyak, ia bisa saja makan sekenanya. Saya pernah mendengar penuturan salah seorang ibu yang anaknya merantau, anaknya makan 3 kali sehari dengan oreg tempe yang dibelinya di warteg seharga ribuan rupiah. Tidak heran jika banyak perantau pulang dengan badan kurus.

Bandingkan jika seseorang menetap di wilayah asal, menikmati kehidupan desa yang damai serta berkumpul dengan keluarga. Saya pikir, mereka yang mampu berkembang di daerah asallah yang merupakan orang terkaya di sini. Mereka berkembang, namun masih bersahabat dengan kampung halaman tanpa perlu berkorban banyak hal.

Jika permasalahan di kampung halaman adalah kurangnya lapangan pekerjaan sehingga memicu terjadinya urbanisasi, maka solusi agar desa tetap kaya SDM adalah perlunya diciptakan lapangan kerja. Siapa yang akan membuatnya tentu pemudanya itu sendiri. Kalau pemudanya pergi, mana mungkin konsep entrepreneurship bisa tercipta.

Paradoks

Siang tadi saya pergi ke bengkel sepeda milik teman semasa sekolah dasar dulu. Mulanya saya hanya ingin membetulkan sepeda yang rusak remnya, namun ketika bertemu dengan beberapa teman lama, saya justru terlibat perbincangan  yang menarik untuk saya dengarkan.

Dua orang teman saya ini sedang membicarakan rencana usaha mereka mendirikan bengkel sekaligus peyedia spare part sepeda (kayuh). Usaha bengkel yang selama ini dijalankan masih dalam taraf home industry, akan tetapi karena sekarang pengguna jasa makin banyak, ia berniat meluaskan usaha tersebut. Usaha diperluas dalam sektor sepeda kayuh.

Ide tersebut masih dikritisi kedua belah pihak. Salah seorang teman menyanggah, menurutnya sudah tidak sesuai menjadi penyedia sparepart sepeda kayuh sedangkan masyarakat desa tempat ia tinggal sudah beralih ke sepeda motor. Mereka perlu bengkel sepeda motor karena orang di desa makin banyak yang  berlomba-lomba memiliki motor mewah. Menurutnya, sepeda kayuh atau ontel sudah tidak jaman digunakan. Pemikiran itu memang benar, di desa ini memang sudah tidak banyak lagi yang bepergian dengan sepeda kayuh. Baik itu anak-anak, remaja dan orang tua, hampir seluruhnya beralih ke sepeda motor.

Mendengar perbincangan itu saya jadi membayangkan tempat di mana saya tinggal, Jakarta dan Depok. Di sana, pemerintah dan para pemerhati lingkungan berusaha untuk mengembalikan ekosistem alam dengan cara mengurangi kendaraan bermotor dan kembali ke kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda mengingat kondisi  lingkungan Jakarta sudah tidak ramah lagi. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan kondisi di desa ini yang mana masyarakatnya  justru berlomba memiliki kendaraan bermotor. Saya khawatir, suatu saat, entah kapan, tempat yang damai ini berubah menjadi kota yang penuh dengan lalu lalang kendaraan dengan asap yang menyesakkan itu. Saya hanya tidak ingin desa Grogol ini  berubah menjadi kota yang sudah-sudah.

Seperti dua kutub yang berbeda sumbu, kedua hal ini saling bertolak belakang. 

Menilik sisi kehidupan masyarakat Dusun Gerjo

Warga dusun Gerjo bergotong roong dalam rangka membangun jalan (cor blok)

RINDU dengan atmosfer sejuk daerah perdesaan, saya iseng membuka foto-foto lama yang saya kumpulkan beberapa tahun yang lalu di sebuah desa. Nama desa itu adalah Desa Grogol, desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, dan terdiri atas 6 dusun yakni dusun Karangmojo A, Dusun Karangmojo B, Dusun Tungu, Dusun Grogol, dan Dusun Gerjo. Continue reading