Tag Archives: DISKUSI

Mungkinkah Memiliki Kelompok Diskusi yang Baik di Sosial Media?

IMG_20140518_122822Mungkinkah kita memiliki kelompok diskusi yang baik di sosial media?

Bagi orang yang percaya dengan quote lama “nothing is impossible”, memiliki kelompok diskusi yang baik di sosial media bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Itulah mengapa saya mencobanya, yaitu dengan cara membuat sebuah group di sosial media lalu mengajak para anggotanya untuk berdiskusi. Apapun topiknya.

Mulanya saya berpikir dengan adanya peran pengarah (moderator) diskusi, akan tumbuh kultur berdiskusi yang baik di kelompok tersebut. Ya, sayapun berpikir apa yang saya tuliskan di sana dapat mengubah pemikiran orang. Tapi ternyata tidak. Hingga detik ini, yang terjadi justru seperti yang terjadi di sosial media sekarang ini. Bukan sebuah diskusi, melainkan sekumpulan orang yang berkumpul dan berdebat dengan egonya masing-masing. Apa yang sebenarnya menjadi topik diskusi malah tidak jadi bahan diskusi sama sekali.

Keinginan memiliki kelompok diskusi yang baik memang masih mungkin, tapi sangat sulit. Apalagi di luar kelompok ini, mereka (anggota kelompok) tidak biasa berdiskusi. Jadi harapan untuk mendapatkan masukan dari apa yang tertulis di situ ya sulit. Ditambah orang masih bertarung dengan egonya sendiri-sendiri, ya sulit.

Belajar Mengarahkan Diskusi

Semalam saya bermain-main dengan sosial media, tepatnya saya sedang uji coba (eksperimen). Eksperimen yang saya lakukan sederhana, yakni dengan membuat sebuah group di FB (yang kebetulan sudah saya buat beberapa minggu yang lalu), lalu mengajak anggotanya diskusi tentang suatu topik.

Nampaknya diskusi di sosial media sudah terdengar biasa, namun yang ini lain. Bagi saya ini adalah tantangan. Mengapa? Karena saya di sini dihadapkan dengan orang-orang dari berbagai kategori pendidikan dan profesi yang sama-sama menggunakan sosial media untuk membicarakan suatu hal namun tidak menggunakannya sebagai sarana diskusi yang baik. Nah, tujuan saya di sini adalah untuk menjadikan group tersebut menjadi group yang memiliki kultur diskusi/berbicara yang baik. Baik dari segi penulisan, bahasa, dan bahasan. Untuk itu di sini saya mencoba berperan sebagai pengarah diskusi.

Pada kesempatan malam itu, saya mencoba melontarkan sebuah topik kepada anggota di dalam group. Topik yang saya angkat sederhana saja, yang sedang hangat-hangatnya terjadi, yakni tentang banjir di Jakarta dan bagaimana solusinya. 

Setelah saya memposting topik tersebut di wall, banyak anggota yang memberikan tanggapan. Mau tau apa jawaban para anggota group?

“Cintaku untukmu tak akan pernah habis seperti banjir Jakarta” kata salah seorang anggota diskusi. Saya jadi tekikik. Mereka malah mengalihkan diskusi tentang banjir tersebut ke arah modus dengan cara mengkambinghitamkan kata “banjir” di situ.

Namun segera menyadari bahwa tujuan saya melontarkan topik banjir tersebut bukan untuk tertawa terpingkal, saya mencoba fokus kembali dengan berusaha mengembalikan diskusi ke jalur yang benar.

Berkali-kali saya berusaha mengembalikan perbincangan di sosmed tersebut agar kembali ke topik Banjir tadi tanpa terlihat mencurigakan dan aneh bagi mereka tetapi gagal. Anggota diskusi lebih tertarik menanggapi modus dari salah seorang peserta terhadap peserta lainnya tersebut. Akhirnya pada kesempatan malam itu saya berkesimpulan bahwa saya masih belum bisa mengarahkan group ini ke arah diskusi yang baik.

Saya masih menimbang-nimbang mengenai kemungkinan topik yang saya lontarkan masih terlalu sulit bagi mereka, ketidakmengertian mereka pada topik, atau memang keengganan mereka membahas topik tersebut. Seandainya demikian, maka saya harus menurunkan level topik diskusi tersebut ke level yang lebih mudah dan sekiranya menarik bagi mereka. Kemudian baru mempelajari bagaimana mereka menyampaikan pendapat agar selanjutnya perbincangan bisa lebih terarah.

Perlu diketahui bahwa group yang menjadi percobaan saya adalah group dengan anggota yang memiliki usia rata-rata setara, namun berbeda dari segi pendidikan, profesi, dan tempat tinggal. Satu-satunya yang menyamakan mereka adalah mereka pernah duduk di bangku sekolah yang sama dan memiliki budaya yang sama.