Tag Archives: di jawa

Di Jawa, Jadi Begini Rasanya Penelitian Sungguhan?

Turun ke lapangan untuk penelitian, saya lakukan pertamakalinya di Sukabumi. Namun karena saat itu masih didampingi dosen dan rombongan, kesulitan dan masalah selama di medan tidaklah begitu terasa karena masalah biaya dan keamanan ada yang digantungkan. Saya pikir penelitian kali itu hanyalah pemanasan belaka, atau yah latihan saja. Seperti apa rasanya penelitian sungguhan, sendirian? mungkin kenyataanya seperti yang dialami oleh seseorang dalam cerita berikut.

***

20140225_173934.resizedAdalah catatan perjalanan seorang Belanda sekaligus seorang doktorandus yang mendalami ilmu Antropologi, Neils Mulder, yang begitu tertantang menembus batas wilayah Indonesia yang saat itu masih diharamkan bagi bangsa Belanda untuk datang. Saat itu usia kemerdekaan Indonesia memanglah belum lama, hubungan Indo-Belanda masih kurang harmonis pasca perang kemerdekaan. Namun terselip tanya di pikiran Neils mengenai Jawa dan aliran politik agamanya seperti yang diungkapkan Geertz dalam The Religion of Java yang membuatnya terus terbayang pada Indonesia. Maka, pada tahun 1969 melengganglan ia ke Indonesia, ke Jawa.

Semangat Neils boleh jadi menggebu saat berhasil melintasi Kepulauan Sumatra, namun perjalanannya ke Jawa masih sangat panjang. Alat transportasi pada saat itu masih belum cukup memadai, dan meskipun ia diperbolehkan membawa motor miliknya, ia harus lebih banyak menuntunnya daripada menaikinya. Ada banyak kubangan lumpur hingga jalanan penuh lubang yang nyaris tidak terlihat oleh mata. Maklum jalan di Indonesia belum seperti sekarang. Maka iapun harus bersabar ketika ia berkali-kali terperosok dan terluka. Dan iapun harus terus bersabar ketika tidak ada medis modern yang akan cepat menangani lukanya. Waktu itu masih belum memungkinkan satu orang dilayani dengan satu jarum suntik seperti yang ia bayangkan.

Segera setelah ia tiba di Jawa, Neils mulai mencoba menjalin hubungan dengan orang-orang lokal guna mengumpulkan data-data yang ia butuhkan dalam penelitian. Dan seperti biasa, mengumpulkan informasi melalui wawancara mendalam (indepth interview) menuntutnya untuk benar-benar dekat dengan narasumbernya. Ia harus bersabar dengan betapa membosankannya orang Jawa saat berbicara, kemana-mana dan banyak basa-basinya. Ia juga harus meluangkan waktunya bagi mereka yang ingin ditunjukkan ramalan nomor lotere terkini atau saat ia menjadi pendengar para tetangga yang mengeluhan masalah ekonomi. Sebagai peneliti kualitatif ia memang harus terlibat dekat dengan narasumber. Namun tentu saja harus tetap menjaga jarak dengan emosi yang mungkin memicu simpati dan empati yang berlebih. Saya jadi teringat seorang remaja, Pikni, narasumber penelitian saya di Sukabumi yang sejak kanak-kanak sudah dibebani ibunya mengurus 3 orang adiknya yang masih kecil. Andaikan saya tidak ingat bahwa di sana saya berperan sebagai peneliti, akan memungkinkan sekali jika saya turut terseret ke dalam perasaan atas keprihatinan kondisinya.

Keagamaan, khususnya kebatinan Jawa di Jogja, menjadi poin utama dalam penelitian Neils Mulder. Namun, di sela-sela penelitiannya ia sempat menuliskan beberapa pemikiran kritisnya terhadap beberapa subjek yang ia temui di Jawa. Seperti misalnya pemikiran kritisnya pada pernyataan Koentjaraningrat mengenai pembangunan dan sikap yang harus dimiliki, konsep gotong-royong di Jawa yang mengalami pemaknaan ganda, atau kepada mahasiswa yang ditemuinya yang cenderung memberikan solusi teoritis kepada petani yang sebenarnya belum tentu dimengerti.

Saya sepakat bahwa hambatan pembangunan kita salah satunya masih dihalangi oleh adanya sikap konservatif dan takut menghadapi perubahan sehingga yang terjadi adalah bukan pembangunan namun peningkatan keterampilan yang kemudian justru memposisikan orang ke dalam posisi yang salah. Dan sebagai mahasiswapun saya menyadari bahwa tatkala turun ke lapangan, ke masyarakat sesungguhnya, mahasiswa masih cenderung kaku dan terpaku pada struktur. Masih kurang ‘merakyat’ dan terlihat sangat menggurui masyarakat. Lalu bagaimanakah seharusnya mahasiswa bekerja di masyarakat? Apakah kita harus mengikuti masyarakat dengan semua cara dan metodenya, ataukah berusaha idealis bahwa apa yang kita punya adalah sesuatu yang terukur dan mampu untuk diterapkan di masyarakat?

Kritik menarik lainnya terkait mahasiswa adalah betapa bergantungnya mahasiswa pada dosennya. Mahasiswa tidak dilatih untuk berpikir, namun menghafal buku-buku yang kebanyakan dari Amerika yang kemudian menerimanya begitu saja seakan semuanya adalah kebenaran mutlak. Dan sayangnya hal ini tidak saja terjadi di tahun di mana Neils memulai penelitiannya. Agaknya kebiasaan (atau mungkinkah budaya?) itu sudah menurun. Karena pola pikir mahasiswa di universitas yang mana mahasiswa bergantung pada dosennya, tidak berlatih berpikir namun menghafal masih terjadi sampai sekarang.

Well, di dalam bukunya Neils juga menuliskan sedikit perbandingan kondisi Jogja dalam kurun waktu yang berbeda. Ia menuliskan betapa berbedanya Jawa yang dulu (saat dia penelitian) dengan Jogja saat kedatangannya kedua kalinya. Tahun 1979, Jogja khususnya Jakarta, mulai ramai oleh kendaraan, wisatawan, hingga corak budaya yang mulai berbeda dari jaman sebelumnya. Orang-orang Jawa tidak lagi berbahasa Jawa halus, lebih dekat dengan orang tua tanpa harus krama dan menunduk-nunduk. Rambut bergelung kini berubah menjadi beberapa potongan modern yang sering dipakai model bintang film, dan khususnya busana, seiring pesatnya industri periklanan di Jawa, semakin jarang pula terlihat wanita berbusana kebaya nan kedaerahan.

Yogyakarta telah tumbuh menjadi lebih provinsial karena tunduk pada Jakarta yang merupakan tempat asal kebudayaan baru Indonesia-Jawa yang disebarluaskan. Sehingga ia kehilangan peranannya sebagai pusat kebudayaan (memproduksi dan mereproduksi) kejawaannya. Namun hal ini tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Neils di dalam bukunya. Mengenai perubahan sosial di Yogyakarta, akan saya tuliskan nanti melalui buku Selo Soemardjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta. 

Sampai jumpa di review buku berikutnya 🙂