Tag Archives: Derby runners

Pesan Tak Terduga dan Edisi Gagal Lari

DESEMBER MEMANG BULAN PENUH KEJUTAN. Dan karena ini masih bulan Desember, kejutan itu pun masih terus berlangsung.

Pertama dimulai dari hadiah tak terduga, kabar tak terduga, lalu bertemu orang tak terduga. Dan belum lama ini, tepatnya semalam, saya menerima pesan yang benar-benar tidak pernah saya duga.

Isi pesannya mengejutkan. Sayangnya saya tidak bisa cerita banyak karena isinya mengandung issue yang menyangkut hidup orang banyak 😀 Walau sebenarnya pesan tersebut lucu bagi saya, namun karena tuntutan moral, mau tidak mau saya harus menguras otak juga semalaman.

Lalu apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan di sini? Sebetulnya saya cuma kepingin bilang kalau gara-gara menguras otak semalaman itu, saya gagal lari pagi ini. Hari ini Wenrui diganti jadi pagi karena adanya Pilkada. Dan sayangnya, saya tidak bisa ikut karena masih mengurusi hal ini.

Nah, hari ini saya cuma bisa iri melihat teman-teman saya yang berlari. Mereka lari dan seperti biasa selfie-selfie. Untungnya, kabar yang ada di pesan ini sudah selesai. Sudah clear. Jadi, besok sudah bisa lari lagi.

Ya sudah, sampai ketemu besok lagi… 🙂 🙂

PilkadaRun

Oh yeah guys, I envy you… :]

©Tina Latief 2015

Berlaga di Ajang Lari Jalan Raya, Jakarta International 10K

LAGI-LAGI HAL YANG TAK TERDUGA TERJADI DI DALAM HIDUP SAYA. Tidak ingin tertinggal dalam hiporia para atlet nasional dan internasional yang datang ke Jakarta, tanggal 31 Mei 2015 kemarin saya turut mendaftar dalam ajang lari jalan raya, Jakarta International 10K yang diselenggarakan di Silang Monas.

Apakah saya sebegitu inginnya bersaing dengan para atlet tersebut? weitss, tunggu dulu. Saya hanyalah pelari biasa yang bulan Desember lalu baru mulai belajar menjejakkan kaki. Jadi, sudah pasti bersaing dengan para atlet bukanlah tujuan saya. Seperti yang saya ungkapkan di akun instagram saya “I just want to run for fun!”

Karena bagaimanapun juga, rasanya sudah terlambat jika saya ingin menghindari event-event lari seperti ini. Kalau memang serius berlatih, saya tidak akan mengelak. Saya ingin mencoba berlomba. Untuk itu, sehari sebelum berlomba saya berusaha mempersiapkan segala sesuatunya.

running shoes and my bib number

running shoes and my bib number

Tulisan ini saya buat sebagai penanda sekaligus untuk merekam pengalaman, memberikan kritik hingga saran untuk JI10K 2015.

Beberapa jam sebelum berlaga
Malam tanggal 31 Mei, saya sulit sekali untuk tidur. Di satu sisi saya takut terlambat bangun, di sisi lainnya ada perasaan gugup terkait masalah teknis di perlombaan.

Pertama, saya sama sekali tidak punya pengetahuan apa-apa tentang lari jalan raya ini. Adalah pertama kalinya saya mengikuti kompetisi lari yang bersifat publik seperti JI10K. Yang kedua, saya belum pernah sekalipun berlari sejauh 10km, bahkan di saat latihan bersama Derby. Dalam record latihan saya, 8km adalah jarak terjauh yang pernah saya tempuh, itupun hanya sekali. Nah, bisa dibayangkan bukan bagaimana risaunya saya malam itu. Apakah ini berarti saya tidak bunuh diri?

Alhasil, ketika seharusnya badan dipersiapkan sebaik mungkin alias tidur nyenyak, saya justru melakukan sebaliknya. Pukul 12.30 pagi saya sudah terjaga dan lanjut tidak tidur. Setelah packing, saya dan rombongan (Kang Uban, Mas Soni dan Bang Arief) berangkat menuju Monas.

Meskipun jam baru menunjukkan pukul 4.30, sudah banyak orang yang berdatangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pagi itu Monas telah ramai. Suasananya begitu gemilang, dipenuhi warna hijau muda lengkap dengan sepatu lari yang nampak berkilat-kilat.

Menuju start
Matahari yang meninggi mulai mempertegas wajah-wajah peserta lari yang telah memenuhi pelataran. Beberapa diantaranya mulai terlihat melakukan pemanasan, stretching hingga lari-lari pendek. Saya sendiri melakukan hal yang sama, mulai meregang-regangkan otot badan yang masih kaku kedinginan. Sambil sesekali menarik nafas dalam. Fyuh, nervous newlywed… 😀

Menjelang pukul 6.30, ribuan pelari bergerak memadati sekitaran garis start. Orang mulai berdesakan untuk mendapatkan tempat paling depan. Mendadak udara tak lagi segar. Sesaat kemudian saya merasa chaos.

20150531_055950

Saya terpisah dari teman-teman. Selain terjepit di tengah kerumunan, saya sama sekali tidak bisa melihat ke depan. Beruntung saya menemukan Bang Arsy, yang kemudian mengajak saya menyusup ke depan. Sekitar 10 meter dari garis start, di sana saya berdiri. Begitu terdengar suara pistol ditembakkan, di situlah saya tidak bisa lagi memikirkan di mana teman. Pelepasan pelari dimulai pada pukul 6.30. Dan saya harus mulai berlari! Continue reading