Tag Archives: burung

Berimajinasi dengan Foto

 

20140112_081148

 

Setiap orang memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat sebuah foto. Oleh karena itu, cerita yang dihasilkan pun berbeda-beda sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Seperti foto berikut. Foto yang diambil dengan latar sebuah rumah warga usai jogging kemarin pun membuat saya dan teman saya memiliki cerita yang berbeda. 

Menurut imajinasinya, foto diatas menceritakan bagaimana menikmati usia tua atau how to enjoy old age, begitu katanya. Seperti yang nampak pada gambar, bapak tua itu nampak menikmati memelihara banyak burung di usianya yang telah lanjut itu.

Di sisi lain, foto itu bagi saya adalah gambaran perbuatan dosa yang tidak mengenal usia. Yang mana orang yang sudah tua itu masih saja berbuat dosa dengan mengurung banyak burung yang seharusnya lepas  begitu saja. 

Nah, bagaimana menurut pendapat Anda? Di dalam postingan ini saya mengajak Anda untuk berimajinasi tentang sebuah foto.

Apa imajinasi Anda tentang foto ini?

 

Kicau burung x

Sejak pemburu banyak yang pergi merantau, sepertinya burung-burung di desa mulai banyak yang berkicau lagi. Mungkin populasinya mulai meningkat setelah burung dewasa tidak banyak diburu lagi. Siang ini, usai shalat zuhur saya tidur-tiduran di depan serambi rumah. Saya sedikit mengantuk, tetapi mendadak perhatian saya beralih ke suara-suara merdu yang terkadang terdengar sedikit lucu di samping rumah. Saya tidak tahu burung jenis apa yang berkicau seperti itu. Menurut saya rangkaian huruf abjad di keyboard ini tidak bisa mewakili kicauannya.

Berdasarkan cerita Mom, burung tersebut memiliki ciri-ciri berparuh panjang dengan warna bulu ungu mengkilat. Biasanya ,burung itu berpasangan sehingga kicauan yang dihasilkan sangat bagus. Mom menyebutnya burung yang sedang berpacaran. Namun, saya lebih suka menyebutnya bercengkrama. Lebih “burung” saya pikir.

Meskipun demikian, burung yang kicaunya terdengar merdu ini tidak seluruhnya kicauan riang. Kadang nadanya terdengar sedih dan mendayu-dayu. Menurut Mom, burung juga menyampaikan kesedihan hatinya melalui kicauannya. Hanya saja manusia tidak mengetahui itu, ia mendengarnya sebagai sebuah bunyi yang merdu saja. Namun apa yang dikatakan Mom memang benar, saya pernah membaca kisah burung Murai di sebuah buku.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah gerangan yang bisa membuat burung-burung merasa sedih. Sedih karena kehilangan telur atau anak-anaknya mungkin sama seperti manusia yang sedih kehilangan anggota keluarganya. Atau kehilangan sarang seperti nasib burung yang bersarang di pohon kedondong yang rubuh kemarin. Pernahkah burung-burung itu terpikir betapa menyedihkannya manusia yang lambat laun semakin menggerogoti isi hutan demi uang. Mungkin burung  atau monyet yang kehilangan sarang di hutan merasa sedih, tapi yang sebenarnya menyedihkan adalah manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, hanya demi uang manusia menghalalkan segala macam cara dan upaya. Menyedihkan.