Tag Archives: buku

The Da Vinci Code: Petualangan Mengungkap Misteri Cawan Suci dalam Kode Da Vinci

SECARA MISTERIUS, SIMBOLOG ROBERT LANGDON MENERIMA TELEPON MALAM dari seorang polisi yudisial yang mengundangnya ke Museum Lovre. Di sana, ia menyaksikan mayat telanjang kurator museum, Jaques Saunière, yang ditemukan tak bernyawa dengan cara yang teramat ganjil.

Di Grand Gallery, Saunière terbaring telanjang dengan sejumlah coretan simbol yang membuat siapa saja bergidik melihatnya. Peristiwa ini jelas membuat Langdon terkejut. Namun yang membuatnya lebih terkejut, kematian Saunière telah menyeretnya menjadi tersangka utama kasus pembunuhan tersebut.

Kemunculan tokoh Sophie Neveu, seorang agen Departemen Kriptologi DCPJ yang juga merupakan cucu Saunière menjadi penting di dalam cerita ini. Dengan bantuannya, perlahan-lahan misteri yang ditinggalkan Saunière terpecahkan. Coretan-coretan Saunière mengarahkan mereka pada misteri terbesar sejarah yang disembunyikan di dalam karya-karya Da Vinci, misteri tentang sebuah perkumpulan rahasia, Cawan Suci, sekaligus fakta mengejutkan yang dapat mengguncang keyakinan manusia di dunia.

Namun pemecahan misteri ini menjadi pelik ketika nama-nama Silas, Uskup Aringarosa, dan juga Leigh Teabing muncul sebagai sosok dengan ambisi besar untuk menguasai Cawan. Setelah mengelilingi kota Paris, London dan lainnya, serta melewati kejaran polisi, adu tembak dan banyak pembunuhan, pada akhirnya misteri Cawan Suci terungkap dengan sangat memesona.

***

20150314_194605_1Terlepas dari kontroversi yang terjadi di beberapa kalangan atas novel ini, saya sangat menyukai gaya penulisan Dan Brown. Terbukti dari upaya saya menuntaskan buku setebal 677 halaman itu, novel petualangan semi detektif Brown membuat saya dengan sukarela menghabiskan penghujung malam dengan membaca setiap lembarnya.

Ada banyak bagian yang saya sukai di dalam novel ini, misalnya saat Sophie, Langdon dan Teabing membahas Cawan di Château Villette atau saat adegan flashback di mana Langdon mengajar di kelas. Mungkin karena saya menyukai bagian cerita yang bersifat debunking. Sejujurnya saya mengagumi cara Brown membangun logika cerita.

Meskipun ada bagian cerita yang cenderung lebih saya sukai di dalam versi filmnya—adegan di mana pengungkapan jati diri Sophie ditemukan Langdon bersama dengan berkas-berkas yang ia temukan di lorong bawah tanah Rosslyn. Menurut saya, pengungkapan identitas oleh nenek Sophie justru mengurangi kadar kemisteriusan sang Cawan.

Namun tentu saja hal ini sulit dijadikan alasan untuk tidak jatuh cinta pada karya Brown. Terutama kehadiran sosok Landon yang digambarkan dengan cara memesona. Sosok bermata biru tajam, rambut keabuan, dengan gaya bicara seorang akademisi yang cerdas. Bagi Anda yang punya selera, rasa-rasanya sulit untuk tidak jatuh cinta 🙂

©Tina Latief

THE DA VINCI CODE
Copyright©2003 by Dan Brown

Gelombang, Petualangan Memecahkan Misteri Mimpi

1

Petualangan memecahkan misteri mimpi menguak jati diri.

HIDUP di tengah masyarakat Batak, Ichon, yang kemudian lebih sering disebut sebagai Alfa Sagala, tidak pernah menyangka sebuah upacara gondang akan benar-benar mengubah jalan hidupnya. Kemunculan sososk si Jaga Portibi dan mimpi-mimpi aneh di dalam tidurnya membuatnya diliputi misteri, terlebih ketika orang-orang sakti mulai berdatangan memperebutkan dirinya.

Misterinya menjadi semakin rumit tatkla di dalam setiap tidurnya nyawa adalah taruhannya. Sementara orang berharap untuk segera terlelap, Alfa harus terus terjaga agar mimpi-mimpi itu tidak datang membunuhnya. Ada sesuatu di dalam dirinya.

Petualangan memecahkan misteri mimpinya berlanjut tatkala ia merantau sebagai imigran ilegal di Amerika. Pertemuannya dengan Nicky dan Dr. Colin di Somniverse membuatnya semakin teguh untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Maka bertolaklah ia ke Lembah Yarlung, Tibet, menemui dr. Kalden Sakya demi sebuah petunjuk. Di sana ia berhasil mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Namun petualangan masih meninggalkan sepenggal misteri tentang sosok Ishtar, the legendary one night stand yang sempat hadir di dalam mimpinya.

Pada awal mula membaca seri pertama buku ini saya tau, novel ini bukan novel biasa. Sehingga, tak ubahnya para tokoh di dalam cerita yang berupaya memecahkan misteri hidupnya, sebagai pembaca setia seri Supernova, saya pun turut menerka-nerka petunjuk apa yang akan muncul pada kisah berikutnya.

Melalui Gelombang, pada akhirnya petunjuk itupun dimunculkan. Di sini saya mulai bisa membuat prediksi bagaimana kelanjutan cerita tokoh-tokoh seperti Bodhi (Akar), Elektra (Petir), Zarah (Partikel), dan Ferre (Ksatria). Atau siapakah sebenarnya sosok Ishtar, Gio, Diva, ataupun Kell.

Meskipun demikian sudah terlihat, di sini Dewi Lestari tidak ingin memuaskan pembacanya, melainkan membuatnya semakin penasaran dan mungkin kecewa. Sesuai dengan skenario yang telah dipersiapkan sejak 2001—skenario yang sempurna, menurut saya. Mendadak saya tidak sabar menunggu novel keluaran baru Dee, Intelegensi Embun Pagi.

©Tina Latief

Cerpen Pilihan Kompas 2012, Potret Kehidupan dan Problematika Masyarakat Indonesia

DIBANDINGKAN dengan cerpen, dulu saya lebih memilih membaca novel. Alasannya novel lebih kaya cerita. Kreativitasnya tidak berbatas sehingga mampu membawa pembaca ke ranah imajinasi yang sangat luas.

Cerpen menurut saya, saking banyaknya aturan yang diberlakukan (khususnya di media-media cetak) justru sering menjadikan ceritanya menggantung di tengah jalan. Saya sempat mempertanyakan pada waktu itu. Mengapa tidak membiarkan pengarang menuntaskan cerita dengan sendirinya? bukankah dengan lebih panjang ceritanya akan lebih kaya?

Kritik ini pernah disampaikan pula oleh beberapa kalangan yang menganggap membatasi jumlah halaman berarti membatasi kreativitas. “Membatasi ruang eksplorasi untuk menguak banyak hal” demikian sebuah pendapat yang saya kutip dari tulisan Mahayana.

Namun rupanya anggapan tersebut keliru. Bahkan, untuk cerita yang dibatasi tak lebih dari 2000 kata itupun tidak kalah kreatif dan imajinatifnya dengan cerita-cerita panjang lainnya. Hal ini telah saya buktikan setelah dua kali membaca kumpulan cerpen pilihan kompas yakni tahun 2011 dan 2012.

wpid-c360_2015-01-24-10-43-49-728.jpg

Bicara soal kreativitas di ranah sastra, tentu saya tidak bisa segamblang Maman dalam memberikan ulasan. Apalagi menyangkut metafora atau keindahan bahasa, soal itu biarlah epilog Maman pada akhir kumpulan cerpen ini yang akan menjelaskan.

Membaca cerpen-cerpen ini, bagi saya, seperti membawa saya blusukan ke pelosok-pelosok Indonesia. Menunjukkan potret kehidupan dan berbagai problema masyarakat Indonesia yang secara real terjadi di sekitar kita.

Permasalahan itu umumnya adalah masalah sosial-kultural yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan apik di tanah air kita. Atau yang seringkali saya jumpai, masalah yang berkaitan dengan masa kelam rezim Soeharto di masa lampau yang bagaimanapun masih menyisakan getir bagi sebagian kalangan. Hadirnya potret masyarakat yang lekat dengan mitos-mitos turut melengkapi bahasan tentang problem-problem di Indonesia. Dan di sinilah menurut saya kunci dari kreativitas para penulis cerpen di dalam menuliskan cerita, untuk mengisi ruang Kompas yang terbilang terbatas tersebut, mereka mampu mengangkat realita yang konkret dan berbobot tersebut ke dalam bahasan yang imajinatif dan multitafsir hanya dengan beberapa halaman cerita.

Meskipun demikian, sejalan dengan kritik yang juga dilontarkan oleh Maman di dalam epilognya, penting bagi suatu karya cerpen untuk tetap mempertahankan logika ceritanya di sela-sela keinginan untuk memperindah bahasa. Menurut saya, di sinilah penulis terjebak di dalam permainannya sendiri, bagaimana mungkin masalah-masalah yang sangat konkret itu digambarkan secara tidak logis?

Saya memang bukanlah seseorang pembelajar sastra. Namun sebagai penikmat, saya memiliki rasa yang tak kalah peka. Jika hendak memamerkan kalimat, maka hal yang dipamerkan itu perlu tanpa cacat (Mahayana,244). Bagaimanapun juga, dibandingkan dengan kata-kata berbunga dan mengawang-awang, tentu saya lebih suka dengan karya yang runtut, mampu menyampaikan maksud cerita kepada semua jenis pembacanya.

©Tina Latief

More Books to Read

BAGI mereka yang bekerja di luar ruangan, musim hujan mau tidak mau mengurangi produktivitas kerja. Mereka yang berkebun, bersawah, atau mungkin turun lapangan menjadi banyak menganggur akibat turun hujan.

Tapi lain halnya bagi saya. Hujan berarti sebaliknya.

Rain means more books to read.

Ya mau bagaimana lagi, mau main sebentar-sebentar hujan. Daripada menganggur lebih baik menambah ilmu dengan buku.

Yuk membaca buku!

©Tina Latief

The Great Adventure of Peter Nimble & His Fantastic Ayes

imageTANPA membaca seluruh isi buku ini, mungkin kita akan langsung tahu bagaimana akhir dari kisah Peter Nimble. Di lembar terakhir buku ini sudah jelas tertulis bagaimana kisah seorang pangeran yang pada mulanya menjadi pencuri kemudian menjadi seorang raja.

Akan tetapi apalah artinya mengetahui akhir cerita ini sementara kita tidak pernah mengetahui bagaimana perjalanan hidup si Peter Nimble. Peter Nimble dan Mata Ajaib mengisahkan petualangan menakjubkan antara Peter si pencuri, mata ajaib, Sir Tode, dan kerajaan yang hilang. Continue reading

How many books have you read in your life?

img_20160610_141700“How many books have you read in your life?”

Berapa banyak buku yang telah kamu baca sepanjang hidupmu? kurang lebih begitulah terjemahan pertanyaan yang saya temukan di sebuah buku itu. Dan pertanyaan itu membuat saya berpikir, ada berapa buku yang sudah saya baca sepanjang hidup saya? Continue reading

Di Jawa, Jadi Begini Rasanya Penelitian Sungguhan?

Turun ke lapangan untuk penelitian, saya lakukan pertamakalinya di Sukabumi. Namun karena saat itu masih didampingi dosen dan rombongan, kesulitan dan masalah selama di medan tidaklah begitu terasa karena masalah biaya dan keamanan ada yang digantungkan. Saya pikir penelitian kali itu hanyalah pemanasan belaka, atau yah latihan saja. Seperti apa rasanya penelitian sungguhan, sendirian? mungkin kenyataanya seperti yang dialami oleh seseorang dalam cerita berikut.

***

20140225_173934.resizedAdalah catatan perjalanan seorang Belanda sekaligus seorang doktorandus yang mendalami ilmu Antropologi, Neils Mulder, yang begitu tertantang menembus batas wilayah Indonesia yang saat itu masih diharamkan bagi bangsa Belanda untuk datang. Saat itu usia kemerdekaan Indonesia memanglah belum lama, hubungan Indo-Belanda masih kurang harmonis pasca perang kemerdekaan. Namun terselip tanya di pikiran Neils mengenai Jawa dan aliran politik agamanya seperti yang diungkapkan Geertz dalam The Religion of Java yang membuatnya terus terbayang pada Indonesia. Maka, pada tahun 1969 melengganglan ia ke Indonesia, ke Jawa.

Semangat Neils boleh jadi menggebu saat berhasil melintasi Kepulauan Sumatra, namun perjalanannya ke Jawa masih sangat panjang. Alat transportasi pada saat itu masih belum cukup memadai, dan meskipun ia diperbolehkan membawa motor miliknya, ia harus lebih banyak menuntunnya daripada menaikinya. Ada banyak kubangan lumpur hingga jalanan penuh lubang yang nyaris tidak terlihat oleh mata. Maklum jalan di Indonesia belum seperti sekarang. Maka iapun harus bersabar ketika ia berkali-kali terperosok dan terluka. Dan iapun harus terus bersabar ketika tidak ada medis modern yang akan cepat menangani lukanya. Waktu itu masih belum memungkinkan satu orang dilayani dengan satu jarum suntik seperti yang ia bayangkan.

Segera setelah ia tiba di Jawa, Neils mulai mencoba menjalin hubungan dengan orang-orang lokal guna mengumpulkan data-data yang ia butuhkan dalam penelitian. Dan seperti biasa, mengumpulkan informasi melalui wawancara mendalam (indepth interview) menuntutnya untuk benar-benar dekat dengan narasumbernya. Ia harus bersabar dengan betapa membosankannya orang Jawa saat berbicara, kemana-mana dan banyak basa-basinya. Ia juga harus meluangkan waktunya bagi mereka yang ingin ditunjukkan ramalan nomor lotere terkini atau saat ia menjadi pendengar para tetangga yang mengeluhan masalah ekonomi. Sebagai peneliti kualitatif ia memang harus terlibat dekat dengan narasumber. Namun tentu saja harus tetap menjaga jarak dengan emosi yang mungkin memicu simpati dan empati yang berlebih. Saya jadi teringat seorang remaja, Pikni, narasumber penelitian saya di Sukabumi yang sejak kanak-kanak sudah dibebani ibunya mengurus 3 orang adiknya yang masih kecil. Andaikan saya tidak ingat bahwa di sana saya berperan sebagai peneliti, akan memungkinkan sekali jika saya turut terseret ke dalam perasaan atas keprihatinan kondisinya.

Keagamaan, khususnya kebatinan Jawa di Jogja, menjadi poin utama dalam penelitian Neils Mulder. Namun, di sela-sela penelitiannya ia sempat menuliskan beberapa pemikiran kritisnya terhadap beberapa subjek yang ia temui di Jawa. Seperti misalnya pemikiran kritisnya pada pernyataan Koentjaraningrat mengenai pembangunan dan sikap yang harus dimiliki, konsep gotong-royong di Jawa yang mengalami pemaknaan ganda, atau kepada mahasiswa yang ditemuinya yang cenderung memberikan solusi teoritis kepada petani yang sebenarnya belum tentu dimengerti.

Saya sepakat bahwa hambatan pembangunan kita salah satunya masih dihalangi oleh adanya sikap konservatif dan takut menghadapi perubahan sehingga yang terjadi adalah bukan pembangunan namun peningkatan keterampilan yang kemudian justru memposisikan orang ke dalam posisi yang salah. Dan sebagai mahasiswapun saya menyadari bahwa tatkala turun ke lapangan, ke masyarakat sesungguhnya, mahasiswa masih cenderung kaku dan terpaku pada struktur. Masih kurang ‘merakyat’ dan terlihat sangat menggurui masyarakat. Lalu bagaimanakah seharusnya mahasiswa bekerja di masyarakat? Apakah kita harus mengikuti masyarakat dengan semua cara dan metodenya, ataukah berusaha idealis bahwa apa yang kita punya adalah sesuatu yang terukur dan mampu untuk diterapkan di masyarakat?

Kritik menarik lainnya terkait mahasiswa adalah betapa bergantungnya mahasiswa pada dosennya. Mahasiswa tidak dilatih untuk berpikir, namun menghafal buku-buku yang kebanyakan dari Amerika yang kemudian menerimanya begitu saja seakan semuanya adalah kebenaran mutlak. Dan sayangnya hal ini tidak saja terjadi di tahun di mana Neils memulai penelitiannya. Agaknya kebiasaan (atau mungkinkah budaya?) itu sudah menurun. Karena pola pikir mahasiswa di universitas yang mana mahasiswa bergantung pada dosennya, tidak berlatih berpikir namun menghafal masih terjadi sampai sekarang.

Well, di dalam bukunya Neils juga menuliskan sedikit perbandingan kondisi Jogja dalam kurun waktu yang berbeda. Ia menuliskan betapa berbedanya Jawa yang dulu (saat dia penelitian) dengan Jogja saat kedatangannya kedua kalinya. Tahun 1979, Jogja khususnya Jakarta, mulai ramai oleh kendaraan, wisatawan, hingga corak budaya yang mulai berbeda dari jaman sebelumnya. Orang-orang Jawa tidak lagi berbahasa Jawa halus, lebih dekat dengan orang tua tanpa harus krama dan menunduk-nunduk. Rambut bergelung kini berubah menjadi beberapa potongan modern yang sering dipakai model bintang film, dan khususnya busana, seiring pesatnya industri periklanan di Jawa, semakin jarang pula terlihat wanita berbusana kebaya nan kedaerahan.

Yogyakarta telah tumbuh menjadi lebih provinsial karena tunduk pada Jakarta yang merupakan tempat asal kebudayaan baru Indonesia-Jawa yang disebarluaskan. Sehingga ia kehilangan peranannya sebagai pusat kebudayaan (memproduksi dan mereproduksi) kejawaannya. Namun hal ini tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Neils di dalam bukunya. Mengenai perubahan sosial di Yogyakarta, akan saya tuliskan nanti melalui buku Selo Soemardjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta. 

Sampai jumpa di review buku berikutnya 🙂