Tag Archives: bukit sodong

Menaklukkan Tanjakan Setan di Jalur Lari Bukit Sodong

img_20161126_115021Ketika KA Senja Solo merapat di Stasiun Tugu, kembali saya menghirup udara Jogja yang beberapa minggu terakhir begitu saya rindukan. Udara pukul enam di Jogja tercium begitu khas. Ketika menghirupnya banyak-banyak, saya dapat merasakan bau kedamaian yang langsung menjalar ke sekujur badan. Continue reading

Running is about to chase away your pessimism

DUA BULAN yang lalu setidaknya, saya beranggapan berlari mengelilingi Hutan Kota UI itu mustahil. Ah, jangankan itu, menyelesaikan lari 2km saja, saya masih kepayahan.

Karena berlari terlanjur menjadi sesuatu yang sulit, lama kelamaan saya jadi enggan untuk berlari. “Lari itu capek, pokoknya cuma bikin capek.”, begitu kata saya dulu.

Pada akhirnya saya kapok berlari. Kalaupun mau berlari, paling-paling tidak pernah sampai di finish.

***

Beberapa hari sebelum pergantian tahun, saat itu bertepatan pula dengan liburan semester, saya berkesempatan mengikuti teman berlatih berlari. Mulanya saya hanya mengamati bagaimana dia berlari. Lama-kelamaan muncul dorongan di dalam diri saya untuk ikut berlari.

Dorongan itu berupa rasa penasaran. Saya penasaran dengan apa yang saya tangkap pada saat teman saya berlari. Yaitu rasa senang. Saya ingin membuktikan, apakah lari benar-benar menyenangkan seperti yang teman saya rasakan…?

Oleh karena itu, sayapun menguntit. Pokoknya setiap kali dia berlari, saya ikut. Pertama saya jogging di tempat yang elevasinya rendah, yaitu di Bandar Udara Gading, lalu disusul dengan track-track lain seperti Bukit Sodong dan Danau Tong Tong. Kuat sampai di finish, akhirnya muncul keberanian dalam diri saya untuk mau terus berlari.

Hari demi hari saya habiskan untuk berlatih berlari. Didampingi teman saya yang dengan sabar mengiringi ayunan kaki saya yang lamban, saya mulai serius belajar berlari. “Run is for fun”, begitulah yang sering disebutkan oleh teman saya meluruskan paradigma saya yang sudah terlanjur bengkok. Dan benar. Setelah berlari mencapai kurang lebih 50km, saya mulai bisa menerima bahwa berlari itu memang menyenangkan.

Apa yang menyenangkan dari berlari? Bagi saya, tentu bukan semata-mata karena bisa sampai di finish. Yang membuat senang adalah prosesnya, saat-saat yang menentukan antara ingin menyerah atau tetap berusaha.

Waktu saya berlari ke Danau Tong Tong, ada jalananan menanjak yang begitu melelahkan. Rasanya hendak menyerah, lutut saya sudah benar-benar goyah. Akan tetapi di saat saya ingin menyerah, justru muncul keinginan untuk terus berusaha. Alhasil saya bisa melewatinya. Dan ketika saya menenggak sebotol Pocari Sweat, rasanya benar-benar senang…

Nah, kemarin saya kembali berlari, sendiri. Berbekal latihan selama liburan kemarin, saya mengitari Hutan Kota UI dengan rute: halte asrama-hutan kota ui-teknik-fe-fib-fisip-psiko-stasiun ui-ui wood-faculty club ui-mang engking-halte asrama. Yang membuat saya senang kali ini adalah karena saya berhasil mengusir ketakutan dan ketidakpercayadirian pada diri saya. Dari sini sayapun berani menjajal rute yang lebih panjang. Next run, saya mau mencoba keliling UI. 🙂

©Tina Latief

Cerita Jogging Minggu Kemarin

20140112_061552.resized

Pagi itu, Minggu 12 Januari, matahari terbit perlahan-lahan merayap dari ufuk Timur mengikuti saya yang tengah lari-lari kecil menguntit teman yang sudah duluan berlari. Yup, akhirnya saya bisa jogging juga. Setelah minggu kemarin rencana jogging saya gagal karena dihalang cuaca buruk, akhirnya saya  bisa kembali ke jogging track ini lagi.

Jalan Wiyoko-Paliyan pagi itu nampak asri seperti biasa…

20140112_070644.resized

20140112_070809.resized

Fyuh, namun ternyata saya tidak kuat menempuh jarak lari yang terlalu jauh. Baru sekitar 1 km atau sekitar 1/3 rute jogging, saya tidak kuat melanjutkannya lagi. Akhirnya sayapun berhenti dan memilih melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Untungnya teman jogging saya yang sebetulnya masih kuat berlari itu mau menemani saya jalan. Sambil sesekali ngobrol dan bercanda, kami mengingat masa-masa jogging dulu. Ada banyak perbedaan antara kondisi sekarang dengan 10 tahun yang lalu. Jalan Wiyoko-Paliyan yang dulu selalu ramai dengan anak-anak dan remaja, kini sepi tiada pengunjung.

Jalan Paliyan hingga bukit Sodong dulunya adalah media sosial anak-anak dan remaja dari banyak wilayah. Tempat tersebut mempertemukan minat anak-anak yang tak hanya sekedar jalan-jalan dan berolahraga. Dari mulai berteman hingga berpacaran bisa ditemui di sini :). Namun semenjak kendaraan bermotor dan gadget marak di kalangan remaja, perlahan-lahan jumlah pengunjung berkurang hingga habis total.

Tempat wisata bukit Sodong yang merupakan akhir dari rute jogging inipun nampak tidak pernah dikunjungi lagi. Terlihat dari kondisi anak tangga yang licin, serta tempat singgah yang kotor. Padahal dulu banyak sekali anak-anak remaja yang datang ke tempat ini, entah itu pacaran atau sekedar melihat-lihat, yang jelas, tempat-tempat yang dulu ramai oleh anak-anak muda ini kini sepi, tak terjamah.

Populernya kehidupan dunia maya membuat tempat-tempat seperti ini ditinggalkan. Kini anak-anak muda lebih suka hangout dari jejaring sosial daripada hangout betulan di tempat-tempat semacam ini. Berkembangnya teknologi dan media sosial di internet telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, seperti kehidupan sosial di tempat ini.

Baca juga:

Jogging dan Trekking