Tag Archives: ATM

Sebuah Paradigma

Namun karena kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kalinya bagi saya —didatangi peminta-minta yang ternyata penipu—maka sayapun tidak banyak menggubris. Yang ingin saya lakukan saat itu adalah berkata, “maaf, tidak”, lalu keluar dari stasiun untuk meneruskan perjalanan ke tempat melaundry.

Rumah laundry yang biasa saya kunjungi letaknya di seberang stasiun. Acapkali mendatangi rumah laundry itu, saya selalu melihat kerumunan orang yang sedang mengantre di stasiun. Antreannya tidak mengular, melainkan bertebaran ke mana-mana. Seakan orang benar-benar tak sabar menanti giliran. Semuanya ingin segera didahulukan.

Hari itu sebelum ke tempat laundry, saya mampir ke sebuah ATM di stasiun. Seperti biasa, banyak orang yang berkerumun mengantre tiket. Siang itu begitu terik, sementara tidak ada cukup atap untuk melindungi para pengantre. Saya jadi tahu rasanya mengantre. Dengan panas yang langsung menerpa kulit dan kepala, rasanya orang yang sabar sekalipun tidak ingin berlama-lama mengantre.

Satu-satunya ATM yang ada di stasiun adalah ATM tanpa bilik yang belum lama ini telah dibangun. Dengan kondisinya yang seperti itu, ATM tersebut memungkinkan segala aktivitas kita diketahui oleh siapa saja yang dengan sengaja mengamat-amati kita. Tanpa saya sadari, rupanya seseorang telah mengamati gerak-gerik saya sedari tadi. Sepersekian detik sebelum saya membalikkan badan, saya dikejutkan oleh sapaan seorang ibu paruh baya yang dengan tangan kirinya mengacung-acungkan dompet berwarna hitam-biru.

Sang ibu memohon-mohon supaya saya mau menukar dompetnya dengan uang. Ia mengaku perlu uang tambahan agar bisa pergi ke tempat ia bekerja. Namun karena kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kalinya bagi saya —didatangi peminta-minta yang ternyata penipu—maka sayapun tidak banyak menggubris. Yang ingin saya lakukan saat itu adalah berkata, “maaf, tidak”, lalu keluar dari stasiun untuk meneruskan perjalanan ke tempat melaundry.

Rupanya sang Ibu belum menyerah. Dengan segala upayanya dia berusaha agar saya mau menukar dompetnya dengan uang. Dan pada saat itulah nurani saya berkata, “sudah berikan saja!”Jika dia memang penipu, toh bukan kita yang berdosa.

Lantas bagaimana akhir ceritanya?

Beberapa saat sebelum meninggalkan stasiun, saya masih sempat melihat sang ibu yang akhirnya bergabung dengan kerumunan para pengantre. Ada perasaan lega tatkala melihatnya akhirnya bisa meneruskan perjalanan. Namun taukah Anda apa maksud cerita ini? Di sini sesungguhnya saya ingin menunjukkan betapa dramatisnya kota ini dalam membentuk jalan pikiran kita.

Ketika saya sampai di rumah, saya mencoba menelaah. Saya menyingkirkan pertanyaan “apakah saya baru saja ditipu?”, sebaliknya berpikir “mengapa saya berpikir bahwa dia penipu?” Ternyata pertanyaan kedua menunjukkan gambaran yang berbeda, sebuah pandangan yang jelas lebih baik daripada gambaran sebelumnya.

Bagaimana seandainya orang yang saya temui tadi benar-benar memerlukan bantuan? Bagaimana jika dia sama sekali tidak mengada-ada bahwa dia tidak memiliki cukup uang untuk pergi ke tempat kerja? Sesungguhnya saya merasa berdosa. Mengapa saya mengikuti buruknya kota yang parahnya mendarah daging mejadi sebuah paradigma. Padahal hidup ini akan lebih indah jika kita memandang segala sesuatunya dengan cara yang berbeda…

tinaa

Apa yang Anda pikirkan saat berada di ATM?

Apa yang sering Anda pikirkan di dalam ruangan bersama mesin uang otomatis ini? Pengeluaran bulanan mungkin? Atau yang paling mungkin adalah berapa sisa saldo Anda?

Saya sering bertanya-tanya, berapa kali manusia pergi ke ATM untuk melakukan transaksi? Berapa kali melakukan penarikan? dan berapa jumlah penarikan. Yang paling sering saya tebak-tebak lagi adalah berapa sisa saldo manusia yang pernah datang ke ATM ini setelah melakukan penarikan?

Untuk menjawab pertanyaan itu saya pernah memungut potongan bukti transaksi di sebuah ATM tempat saya bertransaksi. Beragam jumlah saldo tersisanya, mulai dari ratusan juta, puluhan dan jutaan. Paling sedikit waktu itu lima ratus ribuan. Ternyata masyarakat masih banyak yang memiliki tabungan yang cukup banyak.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, berapakah saldo minimun yang dimiliki masyarakat? Waktu itu saya sempat memiliki saldo minimum sebesar seratus ribu di account bank Mandiri saya. Waktu itu saya menghela nafas dalam, ternyata pengeluaran saya untuk masuk kampus impian waktu itu banyak sekali. Benar-benar orang terbokek sedunia, pikir saya waktu itu. Namun kertas yang saya temukan kali ini membuat saya selevel di atasnya.

punya siapa ini??

punya siapa ini??