Category Archives: Books

Di Balik Manis Senyum Karyamin

IMG_20140503_093956

Terlepas dari karya Ahmad Tohari atau bukan, yang selalu mendahului rasa penasaran saya pada buku kumpulan cerpen adalah rahasia dibalik judul cerpen yang dipilih menjadi judul utama sebuah buku kumpulan cerpen. Karena orang tidak mungkin begitu saja meletakkan judul anu tepat di halaman muka sampul buku. Jelas tidak. Continue reading

Kocok! Uncut, It is About Community

Kocok! versi Uncut adalah buku yang pernah disebutkan Mba Linda Darmajanti dalam kuliah Sosiologi Komunitas. Saat itu kami sedang belajar mengenali komunitas-komunitas  yang ada di desa maupun perkotaan mulai dari bagaimana komunitas terbentuk hingga bagaimana komunitas mengelola aset untuk keberlangsungan anggotanya. Termasuk komunitas arisan urban yang turut menjadi topik diskusi kami. Bagaimana arisan yang dikenal diikuti ibu-ibu yang datang berantakan, bau dapur, menjadi sebuah ajang untuk show off, eksis, dandan total, hingga menemukan kesenangan dalam mengocok undian.

***

Brand bisa membuat seseorang merasa bisa upgrade status! Meskipun secara sosiologis tidak, banyak yang beranggapan begitu. Makanya demi sejajar dengan teman-teman elitenya, seseorang berusaha mati-matian mendapatkan tas keluaran rumah mode terkenal yang harganya puluhan hingga ratusan juta. Padahal tujuannya satu, hanya untuk ikut arisan. Tentu kita jadi bertanya, arisan seperti apa yang sedang dilakoninya itu.

IMG_20140215_210550.resizedArisan seperti yang saya kutip dari buku Kocok! adalah sekelompok orang (umumnya kaum hawa) yang berkumpul dan mengumpulkan uang secara teratur tiap periode tertentu. Uang yang terkumpul kemudian diambil nama pemenangnya secara bergiliran sampai periode putaran arisan berakhir yakni bila setiap anggota telah memenangkan undian.

Melalui definisi tersebut, agaknya tidak ada beda pengertian antara arisan di desa dengan di kota. Namun siapa sangka jika wanita-wanita urban mampu menyajikan arisan yang tadinya hanya menarik dan mengundi pemenang menjadi sebuah aktivitas rutin yang bisa membuat orang berdecak kagum, iri, hingga geleng-geleng kepala. Karena arisan yang isinya kebanyakan para sosialita itu merupakan sebuah wadah yang juga menyalurkan hasrat kreativitas mereka. Sebut saja kreativitas berbisnis, berdandan, narsis, hingga keinginan untuk mendapatkan ‘hasil kocokan’ yang wah dari si empunya acara. Saking kreatifnya, arisan juga tak lagi sekedar wadah sosialisasi dan silaturahmi keluarga melainkan juga wahana bagi si social climber yang ingin pamornya naik ke strata sosial berikutnya.

Saya jadi teringat fenomena narsis dan foto selfie yang dulu sempat menjadi bahan olok-olok di sosial media. Di arisan wanita urban dan sosialita, hal itu sudah biasa dan justru digunakan sebagai sarana mendongkrak pamor. Instagram dan BB adalah andalan untuk show off koleksi foto-foto narsis bersama koleksi barang-barang branded mereka. Setiap kali selesai berfoto, para anggota arisan beramai-ramai mengganti profil picture di BB. Untuk apa? Just wanna show you, this is who we are! Kurang puas dengan jepretan kamera ponsel, tak kurang akal para anggota arisan membawa fotografer profesional untuk mengabadikan momen masing-masing anggota arisan. Sayang kan dandan berjam-jam jika tidak diabadikan. Meskipun sebetulnya menggelikan, bergaya sangat narsis seperti cicak di dinding hingga pose ala stripper tetap dilakoni juga. 

Yang menarik adalah ketika sosialita kini menjadi sebuah profesi yang kemudian dapat dicantumkan di dalam selembar kartu nama. Bukankah sosialita adalah sebuah imej atas apa yang dilihat orang terhadap kedudukan dan kinerja seseorang di lingkungan sosialnya? Saya terkikik membaca pendapat salah seorang yang mengaku sosialita mengenai sosialita itu sendiri, “Sosialita ya kayak kita-kita ini. Sering datang ke event gaya hidup dan diburu fotografer”. Jadi seperti itukah mereka? 

Soal arisan berondong yang katanya menjadi sorotan kebanyakan pembaca buat saya ya… itu bisa saja. Toh ada pula yang arisannya dengan dollar, emas, berlian, hingga arisan yang anggotanya menggunakan jet pribadi untuk bolak-balik ke luar negeri. Yang menjadi pertanyaan, dari manakah mereka mendapatkan stok berondong? Apakah mereka punya kenalan seorang germo?

Membuat kepala bergeleng kan? mulanya sayapun demikian. Dibesarkan di tengah keluarga yang biasa saja membuat saya mengenal arisan sebagai kegiatan yang terlalu kaku, membosankan, bahkan cenderung memberatkan. Namun membaca hasil penelitian Joy dan Nadia membuat pola pikir saya berbalik 180 derajat. Tetapi ini nyata dan benar-benar ada di kehidupan kita. Arisan tak lagi kaku, tetapi sesuatu yang elastis, mudah dimodifikasi menjadi sesuatu yang fun dan juicy.

Di akhir kata, Joy dan Nadia sempat bertanya bagaimana pandangan tentang arisan setelah membaca bukunya. Bagi saya sendiri, inti dari kegiatan arisan adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan berkomunitas. Barang-barang branded, dandanan heboh, kostum seragam, untuk apa semua itu kalau bukan untuk komunitas. Melalui persamaan visi, misi, needs, karakter dan sense of belonging, orang bisa ngumpul ke dalam sebuah komunitas yang sama. Tidak masalah apabila arisan yang diikuti lebih dari 30 karena sudah hakikatnya manusia ingin menjadi bagian dari banyak komunitas.

Yang terpenting adalah bagaimana arisan menjadi wadah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak merugikan orang-orang sekitar. Jangan sampai gegara ingin tampil total di arisan, imej personal yang berkedudukan di korbankan. Tidak lucu jika imej jatuh gara-gara diperkosa barang branded. 

Perempuan yang Melukis Wajah, Keterlambatan yang Menyita Perhatian

Perempuan yang Melukis Wajah bukanlah buku yang seharusnya saya baca di tahun ini melainkan 2012 lalu. Bersamaan dengan tahun di mana buku ini terbit, Mj-lah yang lebih dulu membacanya dibanding saya. Kala itu ia berjanji akan memberikannya pada saya usai membacanya. Makanya saya tak segera membacanya meski menemukannya di Gramedia. Sayang buku ini musti terselip entah di mana. Hingga dua tahun berselang, barulah buku itu ditemukan dan diberikan Mj tepat 3 hari yang lalu saat saya main ke rumahnya.

***

20140205_160829.resizedMulanya saya bertanya-tanya mengapa buku yang berisi sebelas cerita pendek oleh Kak Ainun, Hanny, Ndoro Kakung, Mas Karmin Winata, Aan Mansyur, Mumu, dan Wisnu Nugroho, diberi judul Perempuan yang Melukis Wajah, cerpen karya mas Karmin? Mengapa tidak menggunakan milik Hanny atau yang lain?

Hehe, nampaknya saya menunjukkan keberpihakan. Secara, sebelum membaca karya ke-7 penulis lainnya, saya telah lebih dulu mengenal tulisan Hanny.

Namun, saya tak langsung berkesimpulan. Saya cermati dulu daftar isi buku tersebut. Saya melihat ada beberapa karya Hanny di sini. Di bagian pertama saya membaca tulisan Hany yang berjudul Humsafar (kekasih, belahan jiwa, teman hidup, kawan seperjalanan), sebuah istilah dalam bahasa Urdu yang layak ditiru untuk menyebut seorang pacar. Seperti biasa, membaca tulisan Hanny membuat saya terbawa ke dalam alur cerita yang begitu memainkan emosi. What if I became Julia? Or Nai, or Ella? Damn, why she talked about loosing people we love?. Saya jadi berpikir, sudah berapa pembaca yang direbut hatinya oleh tulisan ini? ah saya tidak perlu memuji Hanny lagi.

Di cerita ketiga, saya menemukan cerpen karya Ndoro Kakung. Dari awal saya sudah sangat penasaran, bagaimana seorang blogger sekaligus aktivis Twitter tersebut menulis cerpen. Saya pikir Om Wi akan menghadirkan romantisme yang begitu lekat pada kebiasaannya menulis, menggombal di Twitter. Namun entah, membaca tulisannya kali ini benar-benar berbeda dari kebiasaannya menulis di Twitter maupun di blog. Mungkin karena kali ini beliau tidak sedang membahas politik ataupun sekedar menggombal manis.

Kisah Rafi dan Banyu oleh Mumu Aloha juga sempat menyita perhatian saya. Tetapi benarkah kedua lelaki ini hampir terlibat dalam sebuah hubungan sesama jenis? Karena inilah imajinasi yang melayang di kepala saya saat membaca kisah duo pendaki gunung tersebut. Sayangnya ceritanya harus berakhir di lembaran ke-12. Andaikan ceritanya tak hanya sepenggal, mungkin saat ini saya masih menikmati jalan cerita kedua lelaki tersebut. Bagaimana akhir kisah mereka?

Well, tak lebih dari 2 jam saya menyelesaikan lembar-demi lembar cerita tersebut. Menarik, karena dalam waktu yang sedemikian singkat tersebut saya bisa terbawa ke dalam imajinasi 8 penulis cerpen tersebut.

Jika saya diminta memilih tulisan siapakah yang paling menarik, mungkin saya akan bingung sendiri. Masing-masing penulis memiliki nyawa dan karakter menulis masing-masing. Baik tulisan Kak Ainun, Aan Mansyur, dan Wisnu Nugroho yang tidak saya tuliskan secara langsung pun memiliki kekhasan masing-masing.

Di awal, saya sempat bertanya-tanya mengapa tulisan mas Karmin dipilih menjadi judul kumpulan cerpen ini dan mengapa tak menggunakan karya Hanny? Karena bagi saya, Humsafar, sebagai karya pertama dan memiliki istilah yang cukup menjual adalah judul yang bisa menjadi pilihan. Namun sebelum membaca tulisan mas Karmin tentang Perempuan yang Melukis Wajah, tentu saya tidak dapat berkesimpulan. Orang tentu tak mengira, dibalik sosok mas Fanabis yang pendiam itu, dia bisa menuliskan cerita dengan ide yang luar biasa. Nyatanya, cerita cinta seorang gadis yang akhirnya mendiami rumah sakit jiwa itu benar-benar menyita perhatian saya.

Jadi, jika pertanyaannya mengapa menggunakan karya mas Karmin sebagai ujung tombak cerita, saya tetap sepihak.