Category Archives: Undergraduate

Pasca Kebakaran, Gedung C Fisip UI Mulai Dihancurkan

20141125_132751SUARA gemuruh di seberang kelas mendadak mengaburkan fokus belajar kami. Suaranya begitu nyaring, berdentuman disertai getaran-getaran hebat bak gempa bumi. Dalam sekejab perhatian seluruh isi kelas tertuju pada arah datangnya suara yang kebetulan tak jauh dari tempat di mana kami belajar. Setelah ditengok, suara itu rupanya berasal dari sisa reruntuhan Gedung C Fisip UI yang terbakar 7 Januari lalu.

20141125_132644Uniknya, tidak ada yang mengeluh atas kebisingan tersebut. Seakan semua justru menikmati menonton Gedung C yang mulai diruntuhkan itu. Mungkin hal yang sama tengah dipikirkan dalam benak kami mahasiswa Sosiologi UI.

Keberadaan cakar-cakar kuning yang tengah menggempur dinding Gedung C itu justru membuat kami gembira karena itu berarti kemajuan bagi pembangunan kembali gedung Departemen Sosiologi yang baru.

Belum terlupa dari ingatan kami bagaimana Gedung C Fisip UI terbakar pada 7 Januari lalu. Musibah yang diduga akibat karena konsleting listrik itu terjadi saat kami semua tengah menikmati libur panjang akhir semester.

Seperti halilintar di tengah kemarau, kabar Gedung C kebakaran membuat kami yang sedang di luar kota kebingunan. Bagaimana tidak, selain musibah itu terjadi di saat tidak banyak aktivitas belajar, semuanya ludes tak tersisa termasuk aset-aset akademis yang menjadi kebanggaan kami selama ini.

20141125_132714Mulanya saya mengira rencana pembangunan kembali Gedung C hanyalah sebuah wacana. Dulu Gedung C direncanakan baru akan direnovasi tahun 2015, tetapi sekarang justru dimulai 2 bulan lebih cepat.

Oleh karenanya saya sedikit terkejut ketika pembangunan dilaksanakan lebih cepat dibanding rencana yang dulu sempat dijadwalkan. Segera dibangunnya kembali Gedung C jelas menjadi kabar yang menggembirakan bagi kami civitas akademika Departemen Sosiologi. Dengan terealisasinya pembangunan itu, maka kami akan  punya gedung prodi yang baru, dan tentunya tempat tongkrongan baru… 🙂

Jujur saya sempat khawatir tidak akan sempat melihat gedung prodi yang baru. Sebentar lagi saya akan lulus, sementara belum ada kabar akan dibangunnya kembali gedung prodi. Tetapi sekarang saya tidak perlu khawatir lagi. Sebelum lulus nanti, semoga dapat dipastikan saya masih bisa nongkrong-nongkrong dulu di sana. He he…

©Tina Latief 2014

Baca juga
Gedung C Fisip UI Terbakar
Pernak-Pernik Pasca Musibah Sosiologi UI
Pak Iqbal Djajadi Tutup Usia

Mendukung FISIP UI menuju Green Campus

FISIP UIFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) adalah salah satu fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Universitas Indonesia. Di dalamnya terdapat 8 bidang studi meliputi Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik, Ilmu Administrasi, Kriminologi, Sosiologi, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Antropologi dan Ilmu Hubungan Internasional yang masing-masing memiliki jumlah mahasiswa hingga mencapai ribuan mahasiswa.

Banyaknya jumlah mahasiswa yang dimiliki FISIP UI kerap mengantarkan kontingen Fisip menyabet gelar juara umum pada kejuaraan antar fakultas. Karena punya banyak mahasiswa, Fisip juga menjadi supporter paling ramai di kala pertandingan. Akan tetapi, banyaknya jumlah mahasiswa di Fisip juga menyebabkan Fisip rentan terhadap lingkungan. Hal ini berkaitan dengan masalah sampah yang diproduksi setiap harinya.

Masalah Timbulan Sampah

Jumlah timbulan sampah di FisipBelakangan ini jumlah timbulan sampah di Fisip terus meningkat. Bahkan jumlahnya sering melebihi kapasitas tempat sampah yang tersedia. Banyaknya jumlah mahasiswa di Fisip berkontribusi pada penambahan volume sampah yang dihasilkan. Jumlah sampahnya terus dan terus meningkat sejalan dengan perilaku konsumtif mahasiswa di Fisip.

Tempat-tempat makan/kantin di Fisip merupakan salah satu sumber timbulnya banyak sampah di Fisip. Semakin banyak pengunjung, kantin-kantin di Fisip berpotensi menjadi sumber sampah plastik dan styrofoam dalam skala yang besar.Perilaku konsumtif mahasiswaMasalahnya persoalan mahasiswa tidak selesai hanya dengan makan di tempat. Banyaknya mahasiswa yang sering membungkus makannya (take away) meningkatkan penggunaan plastik dan styrofoam. Akibatnya jumlah timbulan sampah di Fisip terus meningkat.  Alhasil, Fisip menjadi fakultas dengan jumlah timbulan sampah terbanyak dibandingkan dengan fakultas lain yang jumlah mahasiswanya lebih sedikit.

Kebiasaan Membuang dan Memilah SampahKetiadaan tempat pemrosesan sampah di FisipMasalah sampah di Fisip semakin urgent ketika banyaknya timbulan sampah dibarengi dengan perilaku membuang sampah yang tidak pada tempatnya. Sementara bagi mereka yang membuang sampah pada tempatnya, belum ada pemilahan sampah antara sampah organik dan sampah anorganik. Ketiadaan tempat pemrosesan sampah mandiri turut menjadi hambatan dalam menangani sampah di Fisip. Sehingga, jika disimpulkan masalah sampah di Fisip urgent pada 3 aspek, yaitu masalah timbulan sampah, kebiasaan membuang dan memilah sampah, serta masalah pemrosesan sampah.

Green Campus Fisip Ui

A green campus is a higher education community that is improving energy efficiency, conserving resources and enhancing environmental quality by educating for sustainability and creating healthy living and learning environments.
(US.Green Building Council)

Dalam rangka merespon masalah lingkungan terkhususnya sampah, Fisip bersama Tupperware Indonesia menggagas program Green Campus Fisip Ui. Green Campus merupakan komunitas pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada bangunan dan infrastruktur, melainkan mendorong penelitian, mempromosikan upaya-upaya advokasi, mengembangkan kurikulum, dan mendukung tujuan akademik berbasis keberlanjutan di kampus.

Green Campus berupaya meningkatkan efisiensi energi, konservasi sumber daya alam dan meningkatkan kualitas lingkungan dengan cara mendidik dan menciptakan lingkungan hidup dan belajar yang sehat secara berkelanjutan. Dalam menciptakan Green Campus, seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) seperti administrator, perencana modal dan staf, dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar sangat diperlukan peranannya dalam menyediakan sarana, gagasan, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menciptakan Green Campus.Green Campus Fisip UI

Berdasarkan US. Green Building Council, terdapat 8 langkah yang harus dilakukan dalam praktek Green Campus yang meliputi:

  • Mengadopsi operasi hijau dan pemeliharaan praktek (Adopting green operations and maintenance practices)
  • Menerapkan kebijakan pembersihan hijau (Implementing green cleaning policies)
  • Mengembangkan strategi transportasi alternatif (Developing alternative transportation strategies)
  • Mengkoordinasi pengadaan (Coordinating procurement efforts)
  • Membangun program daur ulang (Establishing recycling programs)
  • Mempromosikan perencanaan dan pemeliharaan yang inovatif (Promoting innovative landscape planning and maintenance)
  • Mengevaluasi prosedur pembelian makanan (Evaluating food purchasing procedures)
  • Mengorganisir program-program mahasiswa dan pendidikan staf untuk mengurangi energi dan konsumsi air (Organizing student and staff education programs to reduce energy and water consumption)

Delapan praktek inilah yang harus dilalui Fisip untuk menjadi salah satu Green Campus diantara banyak kampus di dunia yang telah mengaplikasikan program tersebut.

Bersama dengan Tupperware Indonesia, Fisip berupaya menjadikan kampus berbasis lingkungan berkelanjutan Green Campus Fisip UI, mulai dari menerapkan peraturan, hingga menyediakan sarana kebersihan. Melalui dukungan Tupperware Indonesia, kini telah terdapat 100 buah tempat sampah dengan jenis organik dan anorganik yang tersedia hampir di setiap sudut Fisip.

Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk tidak membuang sampah pada tempatnya. Meskipun demikian, keberhasilan program Green Campus tergantung pada pendekatan terpadu dalam perencanaan dan pelaksanaan yang keberlanjutan melalui keterlibatan seluruh stakeholders. Masalah lingkungan terkhususnya sampah adalah masalah krusial sehingga penyelesaiannya memerlukan  kerjasama seluruh warga kampus.

Oleh sebab itu,  untuk mewujudkan Green Campus Fisip UI diperlukan dukungan seluruh warga kampus. Adapun warga kampus dapat mendukung dengan berbagai macam tindakan dan peraturan seperti diantaranya:

1. Mencegah timbulan sampah secara serentak

Untuk menghindari jumlah sampah yang berlebih, timbulan sampah sampah harus dikurangi. Caranya adalah dengan memaksimalkan pencegahan timbulan pada sumber-sumber sampah. Pendekatan ini bersifat personal sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Kegiatan itu dapat berupa:

  • Konsisten menggunakan tempat makan dan minum isi ulang daripada membeli makanan dan minuman kemasan saat di kampus.Konsisten menggunakan tempat makan dan minum isi ulang
  • Memanfaatkan fasilitas air minum isi ulang dan tempat minum/tumbler di kampus daripada membeli air minum kemasan.Memanfaatkan fasilitas air minum isi ulang
  • Membawa kantong belanja sendiri saat belanja dan menolak menggunakan plastik di manapun berada.Membawa kantong belanja sendiri saat belanja
  • Mewajibkan setiap kantin di Fisip melayani pembeli dengan tempat makan & minum non kemasan, isi ulang, atau yang dapat digunakan secara berkelanjutanMewajibkan setiap kantin di Fisip melayani pembeli dengan tempat makan & minum non kemasan
  • Menghindari pola hidup konsumtif dengan cara membawa bekal dari rumah menggunakan tempat makan & minum sendiriMenghindari pola hidup konsumtif dengan cara membawa bekal dari rumah menggunakan tempat makan & minum sendiri
  • Mengganti penggunaan tissue dengan sapu tangan. Selain hemat, turut berkontribusi terhadap kebersihan lingkunganMengganti penggunaan tissue dengan sapu tangan untuk berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan

 2. Membuang dan memilah sampah

Pada kondisi-kondisi tertentu, ada jenis sampah yang tidak dapat dicegah timbulannya. Misalnya saja daun yang gugur, sampah kaca, botol obat, dsb. Oleh karena itu, dalam membuang dan memilah sampahpun perlu dicarikan solusi supaya sampah yang timbul tidak menumpuk menjadi masalah lingkungan. Untuk masalah membuang dan memilah sampah, rekomendasi saya adalah sebagai berikut:

♦Menegaskan peraturan kampus tentang kewajiban keharusan membuang dan memilah sampah. Pemilahan sampah FISIP

Jika selama ini peraturan masih belum ditegaskan sehingga masih banyak pihak-pihak yang membuang sampah tidak pada tempatnya atau belum melakukan pemilahan, maka melalui program Green Campus, Fisip UI harus mewajibkan seluruh warganya untuk menjalankan kewajiban membuang dan memilah sampah di tempatnya. Ketentuan selanjutnya, kita bisa menggunakan sistem reward & punishment

♦Memfasilitasi peraturan membuang dan memilah sampah disertai dengan tempat pemrosesan sampah mandiri di dalam kampus.Pemrosesan sampah Fisip

Jika mengamati sistem pengelolaan sampah di Fisip, pengelolaan sampah masih terbatas pada pengumpulan dan memindahkan sampah. Sementara Fisip terus memproduksi sampah, belum ada keikutsertaan Fisip dalam pengelolaan sampah secara mandiri.

Sesuai dengan langkah menuju Green Campus, Fisip perlu dilengkapi dengan program daur ulang (Establishing recycling programs). Menurut saya, akan lebih efisien apabila Fisip dilengkapi tempat dan sarana prasarana daur ulang sampah mandiri. Masalah timbulan sampah seperti daun dapat diolah sendiri menjadi pupuk kompos. Sementara sampah botol atau plastik kemasan dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan program kewirausahaan dengan cara memanfaatkan keberadaan penduduk di sekitar kampus untuk dapat mengolah barang-barang bekas menjadi pernak-pernik daur ulang bernilai guna.

3. Mengolah sampah

Langkah terbaik dalam menangani timbulan sampah di Fisip adalah dengan mengelola timbulannya seefisien mungkin. Dengan terdapatnya 2 jenis sampah yaitu organik dan anorganik, maka pengelolaannya pun perlu dilakukan dengan 2 cara.

Cara yang pertama yaitu mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos. Selain dapat digunakan di kalangan sendiri, pupuk kompos dapat dijual sebagai sarana pemberdayaan pegawai atau masyarakat sekitar.

pengelolaan sampah fisip ui

Sementara itu, sampah-sampah dengan jenis anorganik dapat diolah menjadi barang bernilai guna. Misalnya seperti sampah bekas jajanan kaleng. Dengan sedikit keterampilan menghias dan merangkai kain perca, saya dapat merubah kaleng bekas makanan menjadi celengan-celengan cantik. Melalui langkah-langkah sederhana ini, Fisip dapat merintis sebagai Green Campus.

***

Meskipun demikian, yang terpenting adalah bagaimana komitmen seluruh stakeholders dan warga kampus dalam penanganan sampah secara berkelanjutan. Karena bagaimanapun juga sampah adalah masalah krusial yang penyelesaiannya harus dilakukan secara serentak dan bersama-sama. Selain itu perlu keberanian untuk merubah: membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

Melalui tulisan ini saya turut mendukung Fisip UI sebagai Green Campus. Mari dukung Green Campus Fisip UI dengan berkomitmen untuk membiasakan yang benar!

©Tina Latief 2015
Mahasiswa Sosiologi, Universitas Indonesia
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Green Campus Fisip Ui dan berhasil meraih juara pertama. 

Hunting Isu Sosial di Kebun Binatang Ragunan

MINGGU pagi kemarin saya dan rombongan mahasiswa Sosiologi UI ke Kebun Binatang Ragunan. Kami mengadakan field trip bagi mahasiswa Sosiologi angkatan 2014 yang sedang mengikuti mata kuliah Keterampilan Sosial. Agak lucu juga ketika tajuk acara ini adalah untuk hunting isu sosial, karena biasanya orang ke kebun binatang adalah untuk liburan.

Orang awam (common sense) mungkin bertanya-tanya, kenapa mencari isu sosial di kebun binatang. Tetapi justru itulah yang ingin ditunjukkan oleh teman-teman pembimbing mata kuliah Keterampilan Sosial. Bahwa bagi seorang Sosiolog, isu sosial ada di sekeliling kita dan bisa ditemukan di manapun ia berada. Isu sosial bisa bermula dari hal yang paling sederhana. Menarik dan tidaknya, tergantung dari bagaimana seseorang mengangkat isu tersebut ke ranah publik.

Briefing Acara pertama dimulai dengan briefing oleh teman saya, Adi. Dia menjelaskan bagaimana teknis pelaksanaan field trip di KBR. Sembari menikmati waktu jalan-jalan, mahasiswa baru diminta untuk mengenali isu-isu sosial atau melihat momen-momen di sana dengan sudut pandang Sosiologi. Berbekal kamera dan gadget, mahasiswa baru meluncur ke setiap pelosok kebun binatang hunting isu sosial.

Suhu udara di KBR menjelang siang cukup menantang. Meskipun memang banyak pepohonan rindang dan warung-warung penjual minuman dingin, panasnya udara membuat kami kepayahan juga. Keringat tidak henti-hentinya mengalir, muka-muka cerah kami mulai memerah dan kelelahan. Air dingin, kipas, payung, menjadi teman paling dibutuhkan di kala perjalanan. Hari itu, tak lebih dari pukul 12 akhirnya kami menghentikan perjalanan.

D

C

Cc

Ee

Yang pertama kali saya lihat, jelas para mahasiswa baru nampak kelelahan. Di samping panas yang membakar, rasa lapar mulai terasa. Berbagai cerita mulai mengudara. Capek, panas, laper, bete karena ngga dapet-dapet isu, well… 🙂

Beberapa mahasiswa sempat kebingungan dalam mengerjakan tugasnya. Mereka masih bertanya-tanya dan menebak-nebak momen seperti apa yang memungkinkan diangkat menjadi isu sosial. Namun saya senang melihat mahasiswa baru belajar. Rasanya seperti melihat proses bagaimana saya belajar dulu, dari yang dulu commonsense, kemudian seiring berjalannya waktu, secara bertahab mampu berpikir beyond commonsense. Hihi..

Nah, itu sedikit cerita bagaimana selama setengah hari saya membuntuti maba. Selama di Ragunan, tentu saya juga menikmati suasana kebun binatang yang ramah itu.

Saya mengunjungi banyak binatang seperti harimau, singa, buaya, ular, ikan, beraneka burung dan tentu saja monyet. Sekilas, saya jadi teringat ketika ke sini dengan Mom. Saya senang mereka sehat dan terawat. Beberapa jenis ular bahkan telah bertambah populasinya dibandingkan kunjungan saya di tahun 2011 lalu.

Beruntunglah pengelola di sini baik dan kompeten dalam merawat satwa. Mereka benar-benar mau memperlakukan para binatang sebagaimana mestinya. Saat melihat ke kandang harimau, mendadak saya teringat nasip Melani, seekor harimau malang di Kebun Binatang Surabaya. Akibat perawatan yang sangat sangat tidak memadai, ia harus meregang nyawa di atas nasibnya yang entah siapa yang memerdulikannya.

Di dalam tulisan ini saya ingin turut membantu mendukung gerakan penyelamatan satwa di Kebun Binatang Surabaya. Mari kita bantu mereka yang tidak bisa berbicara untuk menyampaikan suaranya ke muka publik. Tandatangani petisi berikut, Petisi #saveKBS maka Anda akan turut membantu keberlangsungan hidup para satwa di KBS.

Satu suara dari Anda, sangat berarti bagi kehidupan mereka kini hingga seterusnya nanti. #saveKBS

♥♥♥Tina Latief♥♥♥

Design Your Ideal Room

KETIKA saya menempati sebuah ruang, terlebih untuk jangka waktu yang panjang, maka yang terpenting dari ruang tersebut adalah seberapa ideal ruang itu untuk saya. Katakanlah ruang itu adalah sebuah rumah atau kamar, maka tingkat ideal rumah atau kamar itulah yang menjadi hal terpenting bagi saya. Karena menempati sebuah ruang artinya kita tinggal di dalamnya. Sudah tentu, orang ingin meninggali sebuah tempat yang ideal atau sesuai dengan yang diinginkannya.

Namun kali ini saya sedang tidak ingin membahas mengenai rumah ideal. Karena aktivitas saya sebagai mahasiswa lebih banyak di dalam kelas, saya ingin membahas mengenai ruang kuliah.

“Ideal room for study”.

Meskipun saya tidak memiliki latar belakang design, seringnya menempati banyak ruang kelas membuat saya bisa membedakan mana ruangan yang ideal dan mana ruangan yang tidak ideal. Misalnya apakah ruangan itu nyaman, mendukung suasana belajar-mengajar, atau justru sebaliknya. Sayangnya memang tidak semua ruang kuliah cukup nyaman untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan untuk sebuah kampus dengan standar world class sekalipun.

Perhatikan saja bagaimana ruangan yang ada di dalam foto berikut. Bisakah Anda memberi penilaian terhadap ruang kelas berikut?

2

Yang menjadi catatan saya adalah:

  1. Ruangan ini terlalu sempit. Untuk mahasiswa dengan jumlah yang cukup banyak—50an misalnya, kelas ini tidak cukup memadai.
  2. Penempatan pintu di depan yang sejajar dengan papan tulis, dosen mengajar, dan proyektor juga tidak benar. Selain karena mahasiswa yang keluar masuk ruangan (terlambat, ke toilet, dsb) dapat menganggu fokus belajar, proyeksi dari proyektor tidak bisa dilihat oleh semua mahasiswa.
  3. Posisi tempat duduk yang sama rata menyebabkan mahasiswa yang duduk di belakang tidak bisa melihat ke depan, terutama jika banyak mahasiswa dengan badan besar dan tinggi duduk di depan. Posisi duduk seperti ini jelas tidak menguntungkan mahasiswa yang memiliki postur tubuh lebih kecil karena pandangan mereka jelas terhalang.

Bentuk ruangan seperti ini tidak hanya saya lihat di kampus saya sendiri, melainkan di beberapa ruang kelas dari berbagai jenjang. Ruangan yang pintunya di depan, yang apabila ingin ke belakang, orang harus menunduk-nunduk kepada sang guru sebagai bentuk rasa hormat. Padahal yang seperti ini sebetulnya tidak efektif untuk belajar. Fokus pengajar harus terbagi selagi anak didiknya ingin izin ke belakang. Kalau mau ke belakang seharusnya ya ke belakang saja, kan. Pengajar tidak perlu khawatir apakah muridnya mau makan-minum, mengangkat telpon, ke toilet. Biar saja! Kalau dia melewatkan sesi belajar, toh siapa yang rugi…

design ruang kelas

my hand made my own design of ideal room for study

Lantas bagaimana ruangan yang cukup ideal untuk belajar? Menurut versi saya, ruangan ideal minimal harus seperti ini (lihat pada sketsa!)

Gambar ini mungkin tidak bagus, tetapi mewakili apa yang saya bayangkan tentang ruangan yang ideal untuk belajar.

Dengan ruangan seperti ini, kegiatan belajar-mengajar akan lebih fokus. Tidak perlu khawatir mahasiswa yang datang terlambat ataupun keluar masuk ruangan mengganggu suasana belajar. Bentuk meja dan kursi yang dibuat bertingkat (semakin ke depan semakin rendah) membuat siapa saja bebas melihat ke depan. Didukung dengan tata letak proyektor dan papan tulis yang sedemikian rupa, maka lengkaplah sudah ideal room buatan saya. Mahasiswa bisa belajar dengan lebih nyaman.

Nah, ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari design-design yang ada. Ada banyak design yang lebih memadai daripada yang saya buat. Hakikatnya, ketika orang menempati suatu ruangan pastilah ada harapan agar yang terbaik yang ia tempati. Begitu halnya dengan saya. Saya berharap dapat menempati ruang yang betul-betul nyaman dan mendukung aktivitas saya.

Bagaimana dengan Anda? Ruang seperti apa yang ingin Anda tempati?tinaa

Membiasakan yang Benar

Masalahnya, orang sudah sangat terbiasa melakukan yang biasa dan menganggap itu sebagai hal yang wajar…

20140904_084115

Ketika orang ditanya apa saja di dunia ini yang benar, kebanyakan mereka menjawab Tuhanlah yang benar. Sebagai dzat yang diakui paling tinggi kedudukannya, orangpun takkan tidak sepakat untuk mengakui Dialah Yang Maha Benar.

Namun kali ini bukan Tuhanlah yang ingin saya bicarakan di sini. Yang ingin saya tuliskan di sini melainkan tentang kebenaran yang pada dasarnya telah kita sepakati bersama sebagai suatu hal yang benar (konsensus). Yakni kebenaran yang diketahui kebenarannya dan yang dengan sendirinya diakui sebagai sebuah kebenaran yang bersifat mengikat oleh semua orang. Sehingga jika terdapat seseorang yang melewati batas kebenaran tersebut, orang dapat secara langsung dinyatakan bersalah.

Datang tepat waktu di segala urusan (on time) misalnya, adalah salah satu kebenaran yang telah disepakati bersama. Semua orang tau kalau datang tepat waktu adalah benar, sebaliknya orang yang selalu datang terlambat adalah salah. Adapun membuang sampah pada tempatnya, orangpun tau kalau tindakan tersebut benar. Sebaliknya membuang sampah di sembarang tempat adalah salah. Mengapa salah? Karena selain merugikan diri sendiri, seseorang juga merugikan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Sehingga, tidak heran jika terkadang tidak hanya sebatas norma di masyarakat, kebenaran yang diakui bersama tersebut bahkan diwujudkan melalui peraturan-peraturan resmi pemerintah yang mana pelanggarnya dikenakan sanksi tertentu.

Masalahnya, kini orang seakan tidak lagi mengakui kebenaran yang hakikatnya telah ia sepakati secara bersama-sama tersebut. Orang mulai seenaknya saja datang terlambat, membuang sampah sembarangan, dan menganggap semua yang dilakukannya tidak berdampak bagi orang lain maupun lingkungan. Kesepakatan yang semula dihormati sebagai suatu yang benar kini tak lagi bernilai sama. Orang mulai berdalih, bahwa terlambat ataupun membuang sampah sembarangan adalah hal yang bisa dilakukan, yang kemudian biasa dilakukan…

Spanduk yang dipasang oleh Dekan Fisip UI tersebut adalah sentilan kepada siapapun yang membenarkan yang salah. Jika jelas-jelas salah, apalagi kita sendiri yang menyepakatinya, mengapa musti dilanggar. Jika masalahnya adalah orang sudah sangat terbiasa melakukan yang biasa dan menganggap itu sebagai hal yang wajar, sudah saatnya kita berubah. Tentu kita tidak mau menjadi orang munafik, yang selalu berkoar-koar tentang kebenaran namun nyatanya mengingkari sendiri apa yang telah disepakati…

Jadi mari membiasakan yang benar!

tinaa

Segelas Susu untuk Senyum Terbaikmu

Hari pertama perkuliahan di semester baru ini dimulai hari ini, Senin, 1 September 2014. Setelah tiga bulan lamanya menikmati liburan, kini mahasiswa harus kembali ke rutinitas sesungguhnya yaitu B E L A J A R.

Namun, apakah para mahasiswa sudah siap kembali ke medan laga? Jawabnya: biasanya sih tidak!

Hari Senin, jadwal pagi, bayang-bayang kemacetan selama di perjalanan. Biasanya inilah yang menjadi biang kerok, dalang dari lunturnya senyum ceria di hari pertama kuliah. Wajah-wajah cerah usai menikmati masa liburan seketika berubah menjadi wajah-wajah kusut berkerut-kerut.

FSI FISIP UI rupanya mampu membaca situasi ini. Dalam rangka menyambut hari pertama masuk kuliah tadi, mereka berinisiatif memberikan penyemangat kepada teman-teman mahasiswa di FISIP. Beramai-ramai mereka turun ke jalan, membagi-bagikan segelas susu, ditambah dua keping cookies dan kartu ucapan. Syarat mendapatkannya pun mudah, mahasiswa yang datang hanya perlu membayarnya dengan senyuman. 🙂

Kreatif sekali, ya…

20140901_074035Meskipun terbilang sederhana, namun saya menyukai ide tersebut. Berbagi semangat dengan cara yang unik, jarang-jarang bukan?

Saya jadi ada inspirasi. Mengingat semester ini adalah semester yang tidak mudah, alangkah baiknya jika kita meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama.

Saling bantu, support! Agar perkuliahan mendatang menjadi terasa ringan. Hingga pada akhirnya perjuangan akan berbuah manis. Semanis segelas susu, serenyah potongan cookies…

Have a cheerful Monday! 🙂

tinaa

Kembali…

20140623_145933

Hari Ketujuh, Senin, 23 Juni 2014

Pasir Buncir, Caringin

Saya seperti kembali ke masa kanak-kanak…
 

Hari ini adalah antiklimaks dari hari-hari sebelumnya. Suasana mulai santai karena pencarian responden hampir selesai. Tinggal beberapa mahasiswa saja yang masih harus bertemu responden. Sementara, sisanya bersiap menyelesaikan tugas pengmas kami di sini, di PAUD yang menjadi tempat tinggal sementara kami. Continue reading