Fighting in Social Media, Are You Sure?

In my humble opinion, it’s not a good idea to pick a fight in social media (moreover) with somebody who’s clearly mentally ill.

Konsekuensi dari sistem pemerintahan kita yang memungkinkan orang bebas berpendapat menyebabkan seringnya terjadinya perang opini di media sosial. Meski sebenarnya sah-sah saja berpendapat di media sosial, ada hal penting yang perlu diperhatikan yakni seperti yang diungkapkan Mas Enda Nasution, jangan sampai jatuh korban.

Hal ini bisa diantisipasi dengan cara tidak memilih untuk bertengkar di media sosial. Terutama dengan orang-orang yang sudah jelas-jelas sakit alias clearly mentally ill. Mentally ill yang saya maksud di sini adalah orang yang kalau berdebat masih suka melontarkan argumen sesat pikir atau logical fallacy. Logical fallacy itu salah besar. Kenapa? Pertama, karena bisa menjebak perdebatan konstruktif menjadi debat kusir penuh retorika. Kedua, kesimpulan yang dihasilkan akan sesat juga karena dibangun menggunakan logika yang tidak benar.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Yang paling sering saya temui dalam debat, bukanya membalas argumennya, orang malah menyerang pribadi lawan debat. Terutama kalau sudah terpojok, kehabisan kata-kata untuk membalas argumen lawan. Biasanya orang akan menyerang pribadi atau karakter lawan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Yang belum lama ini saya temui misalnya, orang memblas argumen saya dengan:

“Halah, kamu ini anak kemarin sore tahu apa? Makanya jangan kebanyakan lari…. dsb dsb”

Padahal, terlepas dari umur muda atau kebanyakan lari tidak ada hubungannya dengan topik yang diperdebatkan saat itu. Adapun sesat pikir kategori ini disebut sesat pikir Ad Hominem.

Potensi terjadi debat kusir memang masih cukup tinggi di beberapa kalangan. Terutama bagi orang yang terlalu fanatik, ketika menghadapi kontra-argumen bukanya sadar malah makin teguh dengan pandangannya. Orang seperti ini justru akan menghabiskan waktu mereka untuk berpikir dan aktif berdebat melawan argumen yang bertentangan. Akan tetapi jangan pesimis, mari sama-sama belajar berdiskusi secara konstruktif demi bangsa yang lebih maju.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Atau tidak usah muluk-muluk dulu, deh. Mari belajar berdiskusi untuk menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih baik 😊ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

©Tina Latief 2019

Untuk memelajari jenis-jenis logical fallacy yang lain, silakan download posternya di Your Logical Fallacy Is

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s