Membangun Komitmen Berlari

Lima hal yang perlu kamu ketahui untuk membantu berkomitmen dalam berlari

Bertemu dengan banyak teman pelari dari berbagai level usia dan komunitas seringkali membuat kami bertukar pikiran tentang bagaimana awal mula berlari dulu. Lalu pertanyaan itu berkembang menjadi bagaimana menjaga konsistensi berlari. Bagi kebanyakan orang, memulai berlari mungkin sesederhana ingin memiliki berat badan yang ideal, atau ingin membuat badan menjadi lebih kurus. Sayangnya apa yang saya hadapi tidak semudah itu. Saat itu saya dihantui perasaan takut pada penyakit— yang menurut diagnosa dokter—membahayakan kesehatan saya di jangka panjang. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya pernah terserang virus herpes. Kata dokter, tidak ada obat yang benar-benar bisa melenyapkan virus itu dari dalam tubuh. Satu-satunya cara adalah menekan penyebaran virus melalui sistem imun dengan cara memperbaiki gaya hidup seperti makan-makanan sehat, istirahat cukup serta berolahraga teratur.

Inilah masalahnya. Bagi orang yang tidak suka kegiatan berkeringat seperti saya, menuruti kata dokter untuk berolahraga saat itu adalah hal yang mustahil. Untuk mengelak dari olahraga, bahkan saya sempat bernegosiasi dengan diri saya sendiri, apakah tidak cukup minum obat saja?

Nyatanya memang tidak. Untuk mendapatkan kesehatan kembali, saya perlu menebus dengan harga yang mahal. Mungkin tidak selalu berupa uang yang harus saya bayarkan. Namun lebih seperti komitmen dan saya tahu harga untuk membeli sebuah komitmen jauh lebih mahal dari harga obat manapun.

Mahal dan sulit lebih tepatnya. Karena ketika komitmen telah dibuat, maka hal yang paling sulit dilakukan adalah mempertahankannya. Jika diingat-ingat, lima tahun yang lalu berlari bukanlah hal yang mudah bagi saya. Perjalanannya panjang dan membutuhkan banyak perjuangan.

Lalu bagaimana saya bisa bertahan?

Dari perspektif pengalaman pribadi, saya menyimpulkan 5 hal yang selama ini membuat saya bisa konsisten berlari.

Pertama, mulai dengan pikiran positif (start with positive mind) bahwa apa yang kita lakukan, terlebih jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak akan pernah sia-sia.

Kedua, cari teman yang tepat (find the perfect friends) karena berada di lingkungan komunitas atau para pecinta olahraga akan membuat kita selalu dikelilingi atmosfer yang sehat, membuat kita akan merasa merugi jika melewatkan olahraga. 

Ketiga, belajar dari orang lain (learn from others) karena orang lain akan banyak membantu kita melewati hari-hari sulit saat baru mulai berolahraga. Misalnya terkait dengan perlengkapan lari yang baik untuk pemula, informasi pendaftaran event, atau tentang mengatur jadwal latihan. Jangan pernah merasa malu karena menjadi pemula. Sebaliknya, banyaklah bertanya dan belajar dari pengalaman dan pengetahuan orang lain. 

Keempat, tantang dirimu (challange yourself) karena tantangan akan meningkatkan kualitas kita. Dalam olahraga lari, tantangan bisa seperti mengikuti event lomba yang tujuannya untuk mengetahui kemampuan kita. Adanya persaingan secara otomatis akan mendorong kita untuk lebih giat berlatih dan menjadi lebih baik.

Kelima, cintai prosesnya (love the process) karena tidak ada jalan pintas untuk menjadi lebih baik. Kuncinya adalah sabar dan tekun berlatih. Jika kita bersabar dan tekun, pada saatnya kita akan memetik manfaat yang bahkan tidak pernah kita duga. Seperti misalnya, tidak terasa kini saya sudah berlari sampai 5 tahun lamanya, memiliki banyak teman dari berbagai komunitas lari dan yang terpenting lagi kini saya menjadi 100% gadis yang sehat dan makin mencintai olahraga.

©Tina Latief 2019

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s