Tentang Berlari dan Mitos Kaki Menjadi Besar

Banyak perempuan yang enggan berlari karena khawatir kaki menjadi besar. Namun bagaimana jika ternyata berlari justru membuat kaki menjadi semakin ramping?

DULU saya punya banyak teman perempuan yang kalau diajak berlari pasti tidak mau. Alasannya mereka takut kakinya menjadi besar. Saya sempat terpengaruh juga waktu itu, sampai sempat membuat saya tidak mau lari lagi. Tapi pada akhirnya saya tetap berlari karena saya memang suka berlari. Masa bodohlah kalau kaki menjadi besar, tegas saya saat itu.

Sampai hari ini artinya sudah 5 tahun saya berlari dan isu soal kaki itu tak pernah kami bahas lagi. Mereka yang tidak mau berlari berhenti, sementara saya terus berlari. Selama itu pula saya juga tidak pernah dengan seksama memperhatikan bentuk kaki.

Namun entah mengapa belakangan ini mendadak saya terpikirkan tentang isu itu lagi. Hal ini bermula ketika saya menemukan kaus kaki yang saya simpan di lemari penyimpanan atribut olahraga sekitar 2 tahun yang lalu. Singkat cerita, dulu saya pernah salah membeli kaus kaki. Ukurannya terlalu kecil, ketika dipakai membuat pergelangan kaki dan betis menjadi sakit. Alhasil kaus kaki bermerk Nike Running Lightweight Compressions Otc yang sedang hits saat itu hanya menjadi penunggu lemari.

Pada saat membongkar lemari itulah, entah mengapa mendadak muncul keinginan saya untuk mencoba kaus kaki itu lagi. Taukah apa yang terjadi? Kaus kaki itu muat. Kaus kaki yang dulu stuck di pergelangan kaki itu sekarang muat sampai ke lutut. Benar-benar sampai ke lutut!

Dari situlah saya seperti mendapatkan petunjuk yang bisa menjelaskan mitos hubungan berlari dan kaki yang menjadi besar itu. Saya berpikir, apakah mungkin bentuk kaki saya semakin ramping? Padahal saat ini saya justru sedang mengalami kenaikan berat badan pasca rehat total karena cidera. Jadi, apakah mungkin ini manfaat dari bertahun-tahun berlari? Jika benar demikian, maka ini adalah kabar yang benar-benar bagus!

Saya bukan running coach ataupun seseorang yang memiliki latar belakang ilmu kesehatan. Namun dari sudut pandang pengalaman yang saya alami tersebut, saya kira inilah penjelasan tentang berlari dan mitos kaki menjadi besar yang sering disebut-sebut itu.

Its about efficiency, begitulah menurut Max Freiert dalam diskusinya di Quora. Diskusi ini membahas mengenai tubuh pelari terutama pelari jarak jauh atau Marathon. Ia mengatakan bahwa semakin eksplosif olahraga yang dilakukan, seorang atlet akan makin memiliki tubuh yang terbagun (kebanyakan orang menyebutnya semakin kekar, berotot dsb). Hal ini dipengaruhi oleh jenis otot yang dilatih oleh seorang atlet.

Otot yang dimaksud Max adalah slow twitch fiber dan fast twitch fiber. Slow twitch muscle dirancang untuk mempertahankan aktivitas berkelanjutan untuk jangka waktu yang lama. Sementara fast twitch muscle merupakan otot yang berkontraksi lebih cepat dan menghasilkan semburan kekuatan atau kecepatan jangka pendek namun berakibat cepat lelah. Jenis otot ini akan cepat tumbuh dalam ukuran ketika dilatih melalui latihan kekuatan (strenght training).

Lari maraton (dan olahraga ketahanan apa pun) bergantung terutama pada slow twitch muscle, sementara lari cepat (lari jarak pendek) hampir sepenuhnya bergantung pada fast twitch muscle. Itu sebabnya pelari maraton memiliki tubuh dan kaki yang ramping karena tubuh mereka sudah cenderung sangat ringan dan efisien. Sementara pemain sepakbola dan sprinter memiliki badan yang kekar dan lebih berisi.

Jadi apakah berlari membuat kaki menjadi besar? Jawabannya tergantung. Kaki kita akan menjadi besar atau kecil tergantung pada jenis lari yang dilatih.

Selama ini saya berlari dengan porsi lebih banyak untuk membangun endurance. Di beberapa kesempatan saya memang berlatih speed, namun latihan endurance tetap lebih dominan di dalam latihan saya. Dalam latihan endurance, saya memperbanyak lari dengan jarak yang panjang dengan pace santai atau nyaman. Begitu terus menerus secara bertahap, mulai dari 5k, 10k,15k sampai 20an kilometer hingga terakumulasi sampai 5 tahun lamanya. Hasil dari latihan ini, selain memperbaiki pola nafas, juga membuat saya mengalami penyusutan pada anggota badan secara keseluruhan seperti lengan, perut, paha dan betis. Bahkan saya melihat bentuk badan saya menjadi lebih bagus seperti misalnya munculnya garis paha dan betis.

Sehingga seharusnya tidak ada alasan untuk tidak berlari karena khawatir kaki menjadi besar. Sebaliknya, jika ingin merampingkan badan, kita bisa berlari dengan porsi lebih banyak berlari untuk membangun endurance atau lari jarak jauh (long run). Dengan memperbanyak latihan ini, disamping berat badan akan mudah turun, kaki akan menjadi lebih ramping dan kokoh. Lebih dari itu: seksi.

Tidak percaya? Silakan mencoba dulu 🙂

©Tina Latief 2019

2 thoughts on “Tentang Berlari dan Mitos Kaki Menjadi Besar

  1. Titik Asa

    Ternyata mitos itu ga benar ya mbak…
    Jadi inget zaman sekolah, suka ada ledekan ke temen wanita yg gila olahraga, katanya “awas loh, nanti wajah kamu keibuan, tapi kaki kamu kesebelasan…”

    Selamat rajin berlari terus mbak. Sehat & sukses selalu di tahun yg baru ini.

    Salam.

    Like

    Reply
  2. betawidias

    jadi termotivasi untuk rutin berlari nih…selama ini lebih sering jalan kaki. Kalo lari ngos-ngosan pemula mah… Untuk seusia saya aman gak ya? agak khawatir dengan lutut. Mulai ada gejala bunyi lutut saat jongkok tapi gak sakit sih…

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s