Selalu Ada Harga yang Mahal untuk Dibayarkan di Jakarta Marathon

Setiap tahun, semua pelari berlomba dengan mempertaruhkan keselamatannya di Jakarta Marathon.

SAAT teman-teman di klub lari sudah heboh dengan Jakarta Marathon 2017, saya justru sama sekali tidak bergeming. Saya sempat beberapa kali menyambangi situs yang sudah membuka registrasi itu. Namun, yah, saat itu saya cuma melihat-lihat saja. Belum tertarik untuk mendaftar.

Saya senyum-senyum saja melihat daftar harga yang terpampang di website itu. Satu hal yang selalu saja menarik dari Jakmar, begitulah populernya event lari ini di kalangan runners, bahwa harga untuk satu slotnya naik lagi. Tahun lalu, saya masih mendapatkan harga 250 ribu untuk kategori Half Marathon early bird. Tahun ini, early bird untuk kategori yang sama naik hampir dua kali lipatnya yaitu sebesar 400 ribu.

Saya hanya membayangkan, kejutan apa yang hendak diberikan Inspiro tahun ini. Dengan membandrol harga sebanyak itu, tentu Inspiro cukup percaya diri untuk mensukseskan penyelenggarakan event lari terbesar di Jakarta itu. Mengingat tahun lalu Inspiro sudah cukup telak dalam menuai kritik baik dari kalangan elite runners maupun komunitas-komunitas lari lokal terkait dengan penyelenggaraan event lari jalan raya itu, mungkin kali ini mereka ingin lebih berkomitmen. Namun sayapun tidak terlalu berpikir panjang tentang hal itu. Segera saya menutup halaman website itu dan melanjutkan pekerjaan di kantor.

Hari berganti hari. Beberapa minggu menjelang hari H, hiporia Jakmar mendadak membanjir di timeline saya. Mulailah berdatangan bocoran rute, desain finisher medal hingga finisher tee. Sekali lagi saya tidak bergeming. Malahan saya ketawa-ketawa saja melihat desain finisher tee yang mirip kaos kampanye parpol itu.

Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah ketika teman-teman saya mulai banyak yang upgrade level ke kategori Full Marathon. Mereka yang tahun lalu ikut Half Marathon, tahun ini ingin upgrade ke level Full Marathon. Bagi saya ini fenomena yang unik karena teman-teman saya adalah salah satu yang cukup kritis pada penyelenggaraan event tahun lalu. Jadi saya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan keputusan mereka. Sebegitu gigihnya mereka menaruh percaya pada event lari ini sampai-sampai mau mempertaruhkan diri dengan mengambil Full Marathon.

Tiga minggu menjelang perlombaan, hiporia Jakmar terasa semakin membuncah di kalangan komunitas. Teman-teman saya nampak semakin giat berlatih. Acapkali saya melihat-lihat story di Instagram, isinya tak lain adalah latihan dan latihan. Melihat pemandangan ini membuat saya dilematis. Belakangan pikiran saya dipenuhi dengan pertanyaan membosankan, masakah saya tidak ikut? Inikan event di rumah sendiri. Pikiran saya semakin terganggu ketika teman di Jogja datang menggoda, “Yakin ngga mau finish seperti ini lagi?” ujarnya lewat Whatsapp messenger seraya mengirimkan dua buah foto diri saya yang tengah tersenyum puas menikmati moment kemenangan di garis finish Jakmar tahun lalu. Sial! Momen seperti inilah yang paling membuat saya enggan melewatkan event lari besar seperti Jakmar.

Kepala saya kembali berputar. Diiming-imingi bayangan itu membuat adrenalin saya terpacu, tidak ingin tinggal diam. Mungkin ada baiknya ikut Half Marathon lagi saja. Malangnya, ketika saya menyambangi lagi situs Jakarta Marathon untuk mendaftar, pendaftaran telah ditutup. Registration closed. Saya hanya bisa tersenyum masam. Nampaknya, kali ini saya hanya bisa menggigit jari…

Namun rupanya dorongan adrenalin tak lantas membuat saya berhenti. Dari sini, mulailah saya menghubungi teman-teman dari berbagai komunitas agar membantu saya mencarikan tiket Jakmar “cancel” dengan kategori Half Marathon. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah lelarian, akhirnya saya membeli tiket milik orang lain. Beruntung, orang yang menjual tiketnya kepada saya adalah teman baik teman saya sehingga proses hand over-nya pun berjalan dengan lancar. Dari keberuntungan inilah, pada tanggal 11 Oktober saya mendapat kepastian bahwa tahun ini saya bisa kembali berlaga di Jakarta Maraton.

Dengan sisa waktu yang ada, saya mulai mempersiapkan semua keperluan perlombaan yang diperlukan. Mulai dari memesan penginapan untuk mensiasati keterlambatan, melakukan carbo loading yang tepat, hingga mengatur strategi di lintasan, setiap detilnya saya perhitungkan. Hal ini saya lakukan karena ada target yang ingin saya capai pada perlombaan kali ini. Tidak muluk-muluk, saya hanya ingin catatan waktu saya membaik 15 menit dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, saya berhasil finish di 2 jam 27 menit dari target 2 jam 30 menit. Tahun ini, saya ingin finish di 2 jam 15 menit.

Pagi hari pada hari H perlombaan, semua nampak berjalan sesuai rencana. Meskipun hanya berbekal dengan latihan reguler, saya cukup percaya diri bisa finish lebih baik dari tahun sebelumnya. Lagipula persiapan kali ini nampak matang, carbo loading oke dan saya tiba di lokasi lomba dalam keadaan bugar dan tepat waktu. Yah, pada saat itu semua nampak baik-baik saja. Saya pikir ini adalah permulaan yang bagus. Namun mendadak semua berubah ketika pada pukul 4.30 main gate menuju ke lokasi start tak kunjung dibuka. Pagi itu, sontak kompleks Monumen Nasional ricuh oleh teriakan dan makian peserta lomba. [ ]

RATUSAN pelari pria dan wanita yang berdiri persis di depan gate berteriak lantang kepada securitas agar segera membuka gerbang. Beberapa diantaranya adalah pelari dengan BIB berbaret merah. Pelari Full Marathon. Mereka mengomel dan menggerutu dengan berbagai macam umpatan. Saya sendiri tak bisa untuk tidak ikut berteriak. Bagaimana mungkin jam segini belum dibuka? Tahun lalu saja main gate sudah dibuka sedari awal atau setidaknya sesuai jadwal sehingga pelari bebas untuk persiapan. Tapi tahun ini, apa-apaan yang mereka lakukan kali ini?

Tak tahan dengan protes peserta, sekuritas akhirnya membuka gerbang besi yang membatasi kerumunan pelari. Dalam kondisi cukup ricuh, ribuan pelari langsung menghambur masuk untuk mengurus drop bag, mengantre toilet dan shalat. Antrean panjang mengular di ketiga kanal itu. Saya juga berada di salah satu dari ketiga kanal itu, menunggu. Sambil berharap-harap cemas karena bendera start hampir dikibarkan, tak henti saya heran mengapa event besar seperti Jakmar hanya menyediakan sedikit sekali sarana umum. Empat toilet portable untuk ribuan pelari, yang benar saja!

Alhasil apa yang saya cemaskan benar-benar terjadi. Saat masih mengantre toilet, rupanya start telah lama dimulai dan saya sama sekali tidak mengetahuinya. Seharusnya pelari HM diberangkatkan beberapa saat setelah jeda untuk pelari FM. Namun saya terlambat dan gagal diberangkatkan bersamaan dengan pelari HM lainnya. Dengan perasaan yang sudah tidak karuan, mulailah saya mengejar ketinggalan menerobos pelari 5k dan 10k yang baru saja diberangkatkan. Tak saya hiraukan lagi strategi-strategi yang telah saya susun sebelumnya. Pikiran saya melayang bukan lagi pada catatan waktu yang hendak saya capai melainkan bagaimana saya bisa menyelesaikan perlombaan ini dengan selamat.

Di dalam hati tak henti-hentinya saya mengumpat. Sial! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Start jelas-jelas sudah terlambat. Sekarang bagaimana aku bisa mengejar?  Semula saya berencana untuk membarengi pacer. Membarengi pacer adalah strategi terbaik untuk bisa bertahan berlari sejauh 21k dengan target waktu yang telah saya tentukan. Namun rencana itu berantakan bahkan sebelum saya memulainya.

Jantung saya berdebar kencang meluapkan rasa marah dan kecewa. Saya masih tidak menyangka apa yang saya rencanakan telah hancur seketika. Saat itu saya berlari dengan penuh emosional sehingga tidak tahu pada pace berapa saya berlari. Tiba-tiba saja menjelang masuk di kilometer pertama, nafas saya mulai memburu.

Saya tahu berlari seperti itu tidak akan membuat perlombaan saya berjalan mulus. Kerenanya, segera setelah menyadari hal itu, saya mulai berusaha menguasai emosi sambil menyusun kembali strategi. Saat baru saja meninggalkan papan sign bertuliskan kilometer pertama, saya mulai menguasai kembali jalannya perlombaan. Ayunan kaki saya kembali menemukan ritmenya, helaan nafaspun mulai terdengar teratur. Diam-diam saya bernafas lega. Syukurlah, saya tidak terlanjur brutal.

Angin sejuk seolah berembus tatkala dari kejauhan saya mulai melihat balon-balon biru milik pacer yang melayang di udara. Samar-samar saya melihat tulisan kecil yang tercetak di permukaannya, 2 30”. Pacer 2 jam 30 menit baru sampai sini? berarti 2 jam 15 menit tak jauh lagi! batin saya mulai bersemangat. Benar saja. Ketika saya menaikkan pace, saya mulai bisa menyusul pacer yang saya cari-cari itu. Mulai di kilometer kedua, sayapun mulai membarengi rombongan pacer yang terdiri dari Melanie, Ian, Erick dan kawan-kawannya itu.

Perasaan saya begitu gembira. Bayangan akan finish sesuai target jelas akan mengobati rasa kecewa pada momen keterlambatan sialan itu. Pada kilometer-kilometer berikutnya, sayapun mulai berlari dengan lebih mantap dan bersemangat. Saking semangatnya, saya turut serta bersama pacer meneriakkan semangat acapkali bertemu dengan pelari Full Marathon.

Saya juga berusaha mengikuti instruksi pacer sebaik-baiknya. Ketika mereka menginstruksikan untuk memasok hidrasi, sayapun segera berhenti dan minum. Dampak baiknya, saat melewati kilometer 10, saya belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Begitu juga saat di kilometer 11, 12 hingga 13. Saya pikir, membuntuti pacer adalah strategi yang sempurna.

Namun memasuki pertengahan kilometer 14, mendadak saya merasakan adanya kejanggalan yang muncul pada kaki kanan saya. Kaki kanan saya mulai mengejang dan sulit digerakkan. Beberapa saat kemudian, muncul rasa sakit yang sangat, yang seolah berasal dari otot-otot kaki yang mengkerut yang kemudian ditarik berlawanan arah.

Saya tahu ini adalah tanda-tanda kram. Yang membuat saya bertanya-tanya adalah, mengapa saya kram? padahal hidrasi saya bagus.  Jika benar apa yang disosialisasikan Pocari Sweat bahwa ketercukupan hidrasi memengaruhi performa berlari, seharusnya saya tidak perlu mengalami kram. Jika demikian adanya, lantas apa yang menyebabkan saya mengalami kram?

Lalu saya teringat bahwa sepersekian menit sebelum meninggalkan garis start, saya tidak sempat melakukan pemanasan. Bagaimana bisa pemanasan? di saat saya membutuhkan toilet, saya masih berada dalam antrean yang sangat panjang. Sontak, saat mengetahui pelari HM telah diberangkatkan, saya langsung ikut berlari menyusul ketinggalan tanpa berpikir panjang. Jadi, sangat logis jika sekarang saya mengalami kram yang sakitnya luar biasa.

Sampai di kilometer 15 saya sudah tidak bisa berlari dengan maksimal lagi. Saya berusaha menstabilkan pace, namun kaki sudah tak kuat lagi. Perlahan-lahan, saya mulai tertinggal dari rombongan pacer. Pada saat balon-balon biru itu semakin jauh dari jangkauan saya, saya mengalami momen paling menyakitkan di mana harapan saya untuk mencapai target kandas di tengah jalan.

Di kilometer 19, kaki saya mencapai puncak kesakitan yang luar biasa. Saya sudah tidak bisa berlari lagi. Sementara pertolongan medic yang diberikan justru membuat saya semakin menderita. Saya mengerang di sepanjang jalan menuju kilometer 20. Pada akhirnya, pasrah adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan. Meskipun begitu egoisme saya mengatakan agar catatan waktu saya tidak lebih buruk dari tahun sebelumnya. Saat berada di kilometer terakhir, saat mata menatap lurus ujung garis finish yang mulai nampak dari kejauhan, saya mengerahkan kekuatan yang masih tersisa untuk bisa mencapai garis finish. Pada momen inilah jantung mendadak berdebar lebih kencang memompakan dorongan kuat di dalam diri saya untuk terus berlari menjemput kemenangan hakiki. [ ]

SAAT mencapai finish line, saya sempat mendongak pada jam digital yang terpampang di atas garis start. Waktu yang ditunjukkan jam raksasa itu sedikit membuat saya terkejut. 2 jam 27′ 13”. Saya pikir saya berlari lebih lambat dari pencapaian waktu di tahun sebelumnya.

Meskipun tak puas, diam-diam saya tersenyum melihat catatan waktu yang baru saya dapatkan itu. Not good enough, but not bad at all! Saya hanya menyesalkan, andai saja tidak ada drama terlambat start dan kram selama di perlombaan, mungkin saya bisa lebih baik dari ini.

Bagaimanapun, saya berhak kecewa dan complaining atas apa yang saya alami kali ini. Karena semua kesulitan yang saya peroleh selama di perlombaan bukan berasal dari kesalahan diri saya pribadi, melainkan kesalahan penyelenggaraan acara yang lagi-lagi sangat tidak memadai. Seperti yang telah saya tuliskan di awal, hal ini diawali dari adanya barrier yang menghalangi peserta lomba untuk persiapan lebih awal. Pada saat ratusan peserta telah tiba di lokasi, mengapa main gate tidak serta merta dibuka? Akibatnya penumpukan antrean di mushola, toilet dan drop bag tidak dapat dihindari lagi. Disamping penyediaan fasilitas yang tidak memadai —seperti jumlah toilet portable yang tidak sebanding dengan jumlah peserta— rupanya start dimajukan 10 menit lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Saya tidak tahu apa alasan panitia memajukan waktu start ini. Namun apapun alasannya, entah itu karena Wakil Gubernur Jakarta turut mengikuti lomba atau apa, setahu saya, tidak ada yang namanya waktu start dimajukan.

Yang membuat saya paling emosional adalah lambatnya pelayanan panitia di venue. Pagi itu, jelas-jelas ada ribuan pelari yang harus segera dilayani di bagian drop bag. Tetapi lihat bagaimana kinerja panitia, penanganan mereka lambat sekali. Mereka seolah tidak mengerti bahwa waktu adalah hal yang paling berhaga bagi seorang pelari. Dan lagi, dengan luapan peserta sebanyak itu, bagaimana bisa panitia hanya membuka 4 kanal untuk pelayanan drop bag (satu untuk FM, HM, 10K dan 5K)? Saya tak habis pikir mengapa Inspiro tidak berinisiatif menurunkan laskar yang andal agar pelayanan bisa lebih cepat dan tidak menimbulkan antrean yang panjang. Apakah karena ini tahun kontrak terakhir mereka sehingga mereka berniat melakukan penghematan di mana-mana?

Shame. Padahal Jakmar masih didukung banyak komunitas tahun ini. Mereka menaruh percaya bahwa panitia bisa memperbaiki kualitas penyelenggaraannya. Tapi yang terjadi sekarang Jakmar malah makin mengecewakan dengan terulangnya persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan secara profesional.

Persoalan sterilisasi lintasan yang lagi-lagi menjadi momok dalam perlombaan ini, saya pikir sudah cukup banyak kalangan yang mengkritisi. Tahun ini dapat dipastikan jumlah pelari yang terancam mengalami kecelakaan di jalan semakin banyak akibat ketidakmampuan panitia dalam mengorganisasi acara. Namun yang menjadi poin saya adalah bahwa Jakmar sebagai event lari terbesar di Jakarta tidak pernah bisa menghargai pelarinya. Setiap pelari yang datang harus membayar lebih mahal untuk ikut berlomba. Jangankan untuk bisa mencetak PB, tidak ada jaminan bahwa peserta lomba akan selamat saat ikut berlomba. Sepanjang penyelenggaraan Jakmar masih seperti ini, harus siap tatkala latihan berbulan-bulan lamanya menjadi sia-sia karena ketidakpedulian panitia. Atau salah-salah nyawa menjadi taruhannya.

©Tina Latief 2017

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s