Ketika Orang Terus Bertanya Mengapa Saya Berlari dan Saya Tak Terganggu dengan Hal itu Lagi

Tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Berlari nyata memberikan banyak manfaat, bahkan yang tidak pernah kita duga.

TERHITUNG sejak Desember 2014 yaitu sejak memutuskan untuk berlari, saya sering mendapatkan pertanyaan mengapa saya berlari. Lalu kebanyakan dari mereka yang bertanya akan berkata, “Bukanya lari itu capek, apa kamu tidak capek?”

Terkadang saya bingung ketika hendak menjawab. Memangnya apa yang salah dengan berlari, bukankah tidak ada bedanya dengan olahraga yang lainnya? Perihal capek, tentu saja capek. Berlari berkilo-kilometer siapa yang tidak merasa capek. Tapi di sisi lain berlari itu juga menyenangkan. Dan yang terpenting, karena berlari itu menyenangkan saya tidak keberatan untuk terus melakukannya.

BAGI yang telah lama mengikuti blog ini tentu telah mengetahui alasan mengapa saya berlari. Ya, dulu saya memiliki masalah kesehatan. Saat memasuki tahun kedua di bangku universitas, saya terjangkit virus herpes. Virus itu secara drastis menggerogoti daya tahan tubuh yang membuat saya sering bolak-balik ke rumah sakit. Dokter yang menangani saya menekankan agar saya memperbaiki gaya hidup. Makan yang cukup, istirahat cukup, dan rutin berolahraga. Katanya hanya itu yang akan membuat saya sembuh dari sakit, begitu yang berulang-ulang ditekankannya. Bagi orang yang dalam hidupnya jarang melakukan kegiatan outdoor seperti saya, memenuhi persyaratan ini rasanya hampir mustahil. Namun dari sinilah awal saya berkomitmen untuk sehat dan mulai berolahraga yang mana lari adalah olahraga yang saya pilih.

Saya tidak langsung jatuh cinta dengan lari, tentu saja. Bahkan awalnya saya pesimis akan bisa berkomitmen dengan baik. Saat itu, berlari dengan jarak pendek, antara 2-3 km saja rasanya sudah sangat melelahkan. Namun saya tidak berhenti di situ. Saya terus mencoba sampai akhirnya saya bisa berlari sejauh 5km.

Pada kurun waktu berikutnya, saya mulai bergabung dengan komunitas lari. Saya menyadari bahwa berlatih sendiri akan membuat komitmen saya lebih susah tercapai. Benar saja, setahun pertama di komunitas, saya sudah bisa berlari dengan jarak yang cukup jauh dan bisa keep up dengan pace yang cukup baik. Kini saya tidak hanya sembuh dari sakit melainkan memiliki tubuh yang semakin sehat dari waktu ke waktu.

Saya pikir di sini saya berkomitmen dengan cukup baik.

TIDAK TERASA, kini tiga tahun sudah saya berlari. Dan tanpa saya sadari, ada banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan selama menekuni olahraga ini.

Saya merasa bahwa perlahan-lahan berlari telah merubah hidup saya. Dimulai dari adanya kesadaran bahwa sehat bukanlah takdir. Kini saya sepenuhnya menyadari bahwa sehat adalah pilihan yang mana harus dicari dengan cara diperjuangkan.

Secara alami, hal tersebut mendorong munculnya keinginan dalam diri saya untuk mendapatkan manfaat yang lebih dari sekedar sehat. Suatu ketika hati saya berbisik, saya ingin menjadi cantik dan menarik. Meskipun secara fisik saya tidak dilahirkan dengan wajah cantik dan berpenampilan menarik, saya mendambakan tubuh yang sehat dan indah. Seringkali saya melihat foto-foto pelari yang terpampang di Instagram dan hal itu membuat pikiran saya melayang. Sebagai seorang gadis, saya juga ingin memiliki tubuh indah dan kuat seperti itu.

Yang tidak pernah saya duga sebelumnya, saya mulai berani bermimpi untuk menyabet gelar podium. Bahkan saya memasukkannya ke dalam daftar 100 bucket list—100 hal yang ingin saya capai atau lakukan di dunia. Meskipun kedengarannya memang realistis, tetapi cukup gila untuk saya lakukan. Entah bagaimana bisa gagasan ini muncul di kepala saya. Namun acapkali mengikuti event perlombaan/race dan mendapati orang lain berlari lebih cepat, jantung saya sering berdebar mengalirkan perasaan iri. Dia juga hanya memiliki dua kaki, mengapa saya tidak bisa lebih cepat dari padanya?

Saya harus mengakui, berlari telah menjadi gaya hidup yang membuat saya tak hanya ingin sekedar berlari, namun ingin berlari lebih cepat lagi. Menjadi seorang atlet mungkin memang tidak pernah ada di dalam mimpi saya, hanya saja, mendadak muncul keinginan yang luar biasa dalam diri saya, yang menggebu-gebu, untuk bisa berlari cepat daripada yang lain.

Saya sendiri masih tidak percaya apakah ini hanya keinginan sesaat atau apa. Namun semenjak dua mingu terakhir, saya telah melihat adanya kemauan yang kuat dalam diri saya untuk berlatih lebih keras.

Jika biasanya hanya berlari 2x dalam seminggu, kini setiap dua hari sekali, saya menyempatkan diri untuk berlari 5 hingga 8k. Pagi hari sebelum berangkat bekerja, saya meluangkan waktu untuk memperbaiki pace dan endurance. Satu lagi yang berubah semenjak saya berlari, sekarang saya menjadi lebih rajin untuk bangun pagi dan tidak malas untuk pergi berlatih.

BERLARI, sebagian besar orang mungkin masih menganggapnya sebagai runititas yang sepele dan tidak memberikan manfaat apapun. Tetapi siapa sangka jika keberadaannya bisa membawa perubahan pada seseorang sampai sejauh ini.

Kini saya semakin mantap bahwa pada dasarnya memang tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan tentang berlari. Sebaliknya, saya akan bertanya balik kepada siapapun yang yang masih meragukan urusan berlari. Ya saya berlari, lantas mengapa Anda tidak? 

Saya tidak pernah menyesal telah memilih olahraga ini. Thanks God, saya berumur panjang berkat berlari. Bagi saya saat ini, tidak ada alasan untuk tidak berlari. I love running! Pada akhirnya, alasan berlari tidaklah penting lagi. Saya telah membuktikan sendiri bahwa berlari telah memberikan banyak manfaat, bahkan yang tidak terduga sebelumnya.

So, don’t ask me why I run, ask yourself why you don’t!

©Tina Latief 2017

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s