I’m a Girl and It’s not a Sin to do The Girl Thing

“Tina, why I never see you in makeup?” tanya teman lelakiku suatu hari. “And I never see you hang out with girls too,” sambungnya.

“Well, I don’t like wearing makeup”, jawabku singkat sambil tersenyum simpul. “And I’m hanging out with my running friends sometimes.” sambungku.

“Really? While running?” tanyanya tak puas.

Aku menjawabnya dengan senyum. “Why do you suddenly asking me this?”, tanyaku balik.

“Well, you’re just different from other girls I knew”, jawabnya kemudian sambil mengangkat bahu.

Is that bad? Sepertinya orang yang jadi suamiku nanti justru bahagia, deh, kalau aku ngga menghabiskan uang untuk membeli makeup atau hangout”, jawabku sambil tertawa lebar.

“Well, yes and no. I think a good husband will allow his wife to have a girl time like makeup and hang out“, jawabnya lagi.

“It sound’s like you force me to have something I don’t like”, jawabku masih sambil tertawa sambil memutar kursi menghadap ke arahnya.

“No, that’s not what I mean. I… “, jawabnya terbata.

“Okay, so what do you mean exactly by saying that?”, tanyaku memotong penjelasannya tak sabar.

“Well, It just seems that you’re not really enjoying your life as a girl. Isn’t the world of girls fun?” tukasnya mengakhiri percakapan.

Lalu aku tak lagi tertawa.

***

“Bukankah dunia para gadis menyenangkan?”

Sejak berbincang dengan Jusuf beberapa waktu lalu, aku jadi sering berpikir tentang momen hidup yang telah kulalui. Dan nampaknya aku menyadari satu hal, bahwa sebagai seorang gadis, aku jarang melakukan hal-hal yang umum dilakukan para gadis. Entah mengapa selama ini aku selalu merasa puas ketika sudah membeli buku di toko buku, lalu berbaring nyaman di dalam kamar seharian, menenggelamkan diri bersama khayalan-khayalan di dalam cerita. Sementara untuk hangout, berdandan, pergi ke salon, mengecat rambut, melakukan perawatan, aku melewatkannya. Sebenarnya, aku bisa saja tak acuh pada ucapan Jusuf, memangnya seberapa pentingnya, sih. Namun ketika suatu hari aku melihat diriku di dalam cermin, aku menjadi tau apa yang sebenarnya dimaksud Jusuf. Kulihat bayangan diriku di sana, seorang gadis dengan wajah yang kusam, berdiri tegak dengan rambut panjang yang tergerai membosankan. Dan dari pakaian yang ia kenakan, nampaknya ia juga tak perduli dengan apa yang ia kenakan.

Harus kuakui, selama ini aku memang kurang merawat diri. Aku sering membiarkan jerawat tumbuh dan merusak kulitku. Aku juga sering membiarkan rambutku tergerai begitu saja tanpa berusaha untuk membuatnya lebih rapi dengan potongan rambut yang lebih baik atau setidaknya yang sedang menjadi trend saat ini. Aku juga hampir tak pernah peduli dengan pakaian apa yang aku kenakan. Meskipun secara teknis aku tidak menggunakan pakaian murahan, aku hanya tidak pernah berpikir meluangkan waktu berdandan untuk terlihat cantik dengan balutan busana yang modis. Selama ini, aku memang melihat orang lain terlihat cantik dan menarik saat memakai hills, bermakeup dan berdandan dengan baju-baju yang manis.

Namun hal itu tak lantas membuatku benar-benar perduli dengan apa yang aku kenakan atau bagaimana aku nampak di mata orang.

Dulu sekali, mungkin aku pernah ingin merawat diri seperti teman-temanku yang lain—rutin ke klinik kecantikan, ke salon, belanja aksesoris, hangout. Namun kenyataan bahwa aku telah kehilangan ayah dan hari-hariku berubah menjadi survival, secara otomatis membunuh keinginanku untuk mengikuti gaya hidup tersebut. Aku tak pernah lagi benar-benar menikmati hidupku seperti yang lainnya. Sebaliknya setiap hari aku berpikir, how can I save this goddamn money for the next day? Saat itu hanya satu yang ada di kepalaku, bagaimana aku bisa survive saat menempuh pendidikan tinggi. Memikirkannya seringkali membuatku patah hati, iri, dan sakit.

Dan sekarang kata-kata Jusuf terdengar menyakitkan dan aku benci dengan apa yang ia katakan. Seakan ia sengaja membuka luka lama yang sudah bertahun-tahun berusaha aku sembuhkan.

Well, mungkin dia tidak bermaksud menyakitiku. Mungkin dia justru ingin menasehatiku agar aku mulai belajar untuk mencintai diriku. Yang membuatku benci adalah ketika aku tak bisa mengelak karena memang itulah yang sebenarnya. Dan belakangan, setelah aku menyadari maksud ucapannya, aku mulai mengutuk atas ketidakmampuanku mencintai diriku sedari dulu.

Aku terlalu lama memendam benci pada hidupku sendiri. Dan aku mulai menyadari bahwa ini tidak baik untuk hidupku jika tak mampu untuk berubah. Pada saat itulah, muncul gelombang keinginan yang besar di dalam diriku untuk untuk mulai berubah dan belajar mencintai diri sendiri. Untuk pertama kalinya aku memiliki dorongan yang kuat untuk berhenti mengutuk diri sendiri, berhenti iri dengan kehidupan orang lain, dan bertekad untuk merubah semuanya. Jika memang ini yang harus kulewati dalam hidup, biarlah. Aku akan lebih baik jika belajar memaafkan masa lalu karena akan melelahkan dan menyakitkan jika terus melawan arus. Lagipula tidak ada kata terlambat untuk menikmati hidup yang lebih baik. Everything has its time, and it’s time to start a better life.

***

Di awal Agustus, aku benar-benar melakukan perubahan besar pada diriku. Aku berjanji untuk memulai semuanya dari awal. Dan pada detik itu, aku meremajakan hidupku sebagai seorang gadis. Kubiarkan setiap sel diriku menikmati momen ‘kewanitaan’ itu. Kumanjakan diriku dengan setiap ‘sentuhan’ yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kubawa diriku ke dalam setiap aspek kehidupan yang diciptakan untuk wanita. Kubiarkan tanganku menyentuh, merasakan semua yang ia inginkan, dress, aksesoris, makeup, dan lain sebagainya. Pelan-pelan, aku akan belajar merawat dan menghargai diriku. Akan kukumpulkan sedikit demi sedikit pengalaman dan momen hidup yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Because life is a journey…

Mulai detik ini, aku akan menikmati hidupku. Dan aku tidak akan hanya hidup untuk survival, tetapi ingin memakninya sebagai berkah dan kebahagiaan dengan caraku sendiri. Jika memang hidup ini hanya sekali, lantas, mengapa tidak membuatnya lebih bermakna dan menyenangkan. Biarlah aku menjadi seorang gadis yang menyukai dunianya. Bukankah dunia para gadis itu memang demikian adanya, menyenangkan dan pernuh warna?

©Tina Latief 2017

Catatan:
Tulisan ini kudidedikasikan untuk teman-teman gadisku di manapun kamu berada, yang merasa dunianya telah direnggut oleh tuntutan kehidupan. Untuk sahabat karibku, Y, it’s time to live our life!

2 thoughts on “I’m a Girl and It’s not a Sin to do The Girl Thing

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s