Sekelumit Cerita dari Pelosok Banten

Sebagian besar masyarakat di Desa Sujung menggunakan dan mengonsumsi air sungai yang tercemar limbah dan kotoran. Ini kabar buruk bagi masyarakat.

Provinsi Banten hingga saat ini masih menjadi sasaran pembangunan sanitasi Indonesia karena buruknya sanitasi di wilayah tersebut. Terutama untuk wilayah perdesaan yang notabene memiliki tingkat akses terhadap sanitasi layak yang sangat rendah jika dibandingkan perkotaan. Hasil analisa sampel air di Desa Sujung oleh Laboratorium Teknik Penyehatan dan Lingkungan Universitas Indonesia menunjukkan parameter air yang selama ini digunakan warga untuk kegiatan rumah tangga (air sumur dan air sungai) masih melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakart (PerGub). Berdasarkan hasil uji laboratorium, air yang digunakan warga masih banyak mengandungan zat-zat yang berbahaya seperti bakteri E.Coli, COD, TSS, BOD, besi dan mangan.

Hasil pengamatan secara kasat mata, sumber air permukaan yang berupa air sungai di Desa Sujung telah terkontaminasi limbah, tinja dan sampah-sampah yang dibuang tidak pada tempatnya. Selain itu, sumber air tanah berupa sumur yang ada kotor dan asin akibat dekatnya lokasi dengan septic tank dan air laut. Selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Sujung telah hidup dengan kodisi sanitasi yang buruk tanpa sadar akan adanya bahaya dari hal tersebut. Bahkan bisa dibilang mereka telah terbiasa hidup berdampingan dengan limbah, sampah dan air tercemar tanpa sadar akan dampaknya bagi kesehatan.

Apakah Desa Sujung belum pernah terpapar program sanitasi? Pada tahun 2004, Lembaga Kemanusiaan Nasional, PKPU sebetulnya telah memulai penerapan program STBM di Desa Sujung dengan metode pemicuan yang menekankan pada 5 perubahan perilaku higienis. PKPU mendorong inisiatif warga agar menyadari pentingnya buang air besar di tempatnya melalui program pembuatan jamban yang diluncurkan melalui kegiatan arisan jamban. Tak hanya itu, PKPU juga mendirikan bank sampah, yakni bagian dari program sanitasi yang ditujukan untuk mendukung pengelolaan sampah di Desa Sujung. Akan tetapi, belum sampai setahun berjalan pembangunan program yang diberikan tidak lagi berjalan, mangkrak.

Pihak NGO, Puskesmas dan beberapa instansi terkait juga pernah turun tangan dalam mendukung terciptanya kondisi sanitasi yang baik di Desa Sujung. Berbagai instansi yang turun ini banyak memberikan program pembinaan kader dan sosialisasi masalah kesehatan. Meskipun demikian lagi-lagi program yang dijalankan gagal di tengah jalan. Banyak hal yang menjadi hambatan pelaksanaan program tersebut namun kurang baiknya sistem sosialisasi, monitoring dan evaluasi (monev) disinyalir menjadi penyebab kegagalan tersebut.

Menurut Hasanah, salah satu staf Desa Sujung, program yang diluncurkan tidak memiliki keberlanjutan. Hanya sedikit saja warga yang mau meneruskan program yang telah diajarkan kepada mereka. “Setelah diajari masih ada yang mau meneruskan tetapi hanya sedikit saja. Kebiasaan dan budaya buruk masyarakat belum bisa dihilangkan. Masyarakat di sini punya kebiasaan buang sampah sembarangan, BAB sembarangan”, demikian tuturnya. Selain itu, dari pengalaman sebelumnya, banyak pertentangan yang terjadi di kalangan warga setempat seperti misalnya warga tidak setuju dengan sistem pengelolaan bank sampah karena sampah yang diangkut hanya sampah yang laku dijual. Ditambah program yang bersifat dari inisiatif warga seperti arisan jamban tidak berkembang karena muncul kesalahpahaman dan ketidakpuasan terhadap dengan luaran/ jamban yang dibangun. Dari sini muncul kecemburuan sosial yang menimbulkan konflik-konflik di masyarakat.

Di samping itu, bagi Hasanah, masalah sanitasi di Sujung pun menjadi problematis karena warganya kedapati memiliki gaya hidup yang aneh. “Masyarakat kami juga tidak miskin-miskin amat orang motor mereka kredit kok. Tapi WC ngga punya”, demikian tambahnya. Dan lagi, uniknya warga yang memiliki jamban cenderung tidak menggunakan jambannya dan lebih memilih buang air di sungai atau sawah. “Alasan mereka karena di sawah lebih adem dan bisa sekalian ngerokok”, ujarnya. Jika disimpulkan, setidaknya terdapat dua kendala utama yang dihadapi dalam pembangunan program sanitasi di Desa Sujung, pertama kendala yang berasal dari warga Desa Sujung itu sendiri yakni budaya warga yang telah terbentuk sedemikian rupa, serta kendala dari elemen pembangun yang ternyata kurang memihak pada keinginan atau aspirasi warga dalam pembuatan sarana dan prasarananya.

Menurut catatan PBB, walaupun telah menghasilkan pertumbuhan material, pembangunan yang ada selama ini lebih bersifat jobless (tidak menghasilkan pekerjaan yang cukup dan bermartabat), ruthless (kejam, karena semakin menambah kesenjangan, kemiskinan, ketidakadilan), rootless (tidak mengakar di masyarakat, menancapkan dominasi budaya dari luar, mencerabut tradisi dan nilai-nilai budaya lokal), voiceless (tidak mendengarkan aspirasi rakyat, kurang demokratis dan partisipatif), dan futureless (menghancurkan lingkungan alam) (UNDP 1997). Faktanya, konsep pembangunan yang terlalu sektoral dan berorientasi pada pertumbuhan telah menuai berbagai kritik dari berbagai kalangan. Pengajar sekaligus ahli Pemberdayaan Masyarakat saya, Pak Paulus Wirutomo, menegaskan bahwa pembangunan yang demikian tidak berhasil membangun harkat dan martabat manusia. Untuk itu, pembangunan yang bersifat kebendaan perlu ditopang oleh ilmu sosial-budaya guna menyeimbangkan pembangunan yang ada.

Menurutnya, pembangunan sosial-budaya mempunyai prinsip yang tidak mudah diterima oleh logika pertumbuhan kebendaan (Wirutomo, 2013). Di dalamnya terdapat variabel-variabel sosial dan humaniora seperti kerukunan, kemandirian, kesetiakawanan, demokrasi, kesejahteraan, bahkan kebahagiaan. Namun demikian, di sinilah pentingnya karena penekanan pembangunan sosial adalah pemerataan sarana dan hak-hak manusia yang paling dasar atau guna menciptakan inklusi sosial. Dengan mempertimbangkan variabel-variabel tersebut di dalam pembangunan, diharapkan pembangunan yang ada dapat meningkatkan aspirasi, harga diri dan kebebasan warga.

Dalam konteks pembangunan sanitasi di Desa Sujung, prinsip pembangunan yang digunakan masih bersifat sektoral dan cenderung rootless atau tidak mengakar di masyarakat. Dan kritik yang paling mendasar untuk pembangunan sanitasi di sana adalah program penyediaan perangkat keras yang jelas tidak memberi daya ungkit pada masyarakatnya. Mungkin pembangunan yang dilakukan selama ini bertujuan baik, namun faktanya justru menciptakan masyarakat yang tidak memiliki kesadaran dan sense of belonging terhadap sarana dan prasarana yang telah dibangun. Sehingga tidak aneh jika pembangunan dan program yang telah diberdayakan mangkrak begitu saja.

Sinergi DRPM UI dengan PKPU untuk Membangun Desa Sujung yang Lebih Baik

Menyadari kondisi ini, DRPM UI menggandeng PKPU turun tangan untuk memperluas kerjasama dan mengumpulkan dukungan dari masyarakat setempat dalam meningkatkan program penyediaan air bersih dan manajemen sanitasi di Desa Sujung. Pada bulan September 2016, sinergi ini diawali dengan tahap pengumpulan data lapangan seperti pengujian sampel air, hingga data berupa aspirasi warga melalui rapat terbuka dan focus group discussion (FGD) (tahap pre-triggering). Selain itu, warga diberi stimulasi akan pentingnya sanitasi dan dampak negatif dari buruknya sanitasi (tahap triggering). Warga juga diajak untuk mengkaji aspek-aspek yang membentuk dan mengurangi buruknya sanitasi di Desa Sujung, serta bentuk penerapan sistem penyediaan air minum dan sanitasi (teknologi) berikut dengan penerapannya.

Sejauh ini, warga dan sejumlah stakeholders menyambut baik upaya yang dilakukan UI dan PKPU dalam rangka memperbaiki kondisi lingkungan di Desa Sujung. Warga juga banyak memberikan aspirasi-aspirasi baru terkait pembangunan sarana sanitasi dan air bersih di Desa Sujung. Di tahun pertama program, kerjasama ini ditujukan untuk menciptakan sebuah output berupa masterplan penerapan teknologi untuk sistem penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat di Desa Sujung. Di tahun berikutnya, masterplan yang telah dirancang diharapkan dapat segera diwujudkan. Kali ini, baik UI maupun PKPU sepakat untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara lebih ketat terhadap hasil yang telah diimplementasikan agar apa yang dilakukan tidak berakhir seperti program-program sebelumnya. Dengan perencanaan yang baik, pembangunan sanitasi akan lebih cepat dan tepat sasaran. Melalui kerjasama dan monev yang kuat, harapannya tidak ada lagi bangunan sarana yang akan sia-sia tidak termanfaatkan. Kebutuhan dasar warga Desa Sujung akan layanan sanitasi harus dapat terpenuhi.

©Tina Latief 2017

Disclimer
Tulisan ini merupakan intisari dari artikel laporan penelitian kerjasama DRPM UI dengan PKPU yang ditulis oleh penulis. Untuk membaca artikel lengkap tentang penerapan sanitasi di Desa Sujung, Anda bisa mendownloadnya di di sini. Sementara, untuk mempelajari hasil pengujian air di Desa Sujung, Anda juga bisa mendownloadnya di sini. Anda diperbolehkan untuk menggunakannya sebagai sarana belajar selama mencantumkan sumber.

4 thoughts on “Sekelumit Cerita dari Pelosok Banten

  1. Raf

    makasih untuk penelitian ini, berguna banget. kebetulan saya dari tahun kemarin ada semacam ‘kerjasama’ dengan dinas pertanian setempat, di sujung, menyoal development produk dari perusahaan pertanian tempat saya bekerja sekarang. tanpa bermaksud menjelekkan, saya sendiri sudah beberapa kali diare setelah menyantap makanan di sini, jadi lumayan tahu betul keadaan di lapangan seperti apa. bila ada rencana kunjungan lagi ke sujung, mungkin nanti bisa bertemu dan berbincang di sana. 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Hai Raf, terimakasih atas kunjungannya. Anda berdomisili di Banten kah?

      Saya mulanya memang tidak percaya saat tim lapangan pertama menunjukkan foto lokasinya. Tapi kenyataannya memang begitu, kondisinya sangat memprihatinkan.

      Kondisi inilah yang jadi bahan penelitian kami supaya kelak ada teknologi lanjutan yang bisa diterapkan di Sujung. Sayangnya saya tidak tahu kapan akan kembali ke Sujung, saat ini saya sudah memiliki profesi baru semenjak penelitian tahap ini berakhir. Saya tentu masih menaruh perhatian dengan perkembangan Desa Sujung, jika Anda mau ngobrol, diskusi dan sebagainya, bisa melalui email saya.

      Like

      Reply
  2. Raf

    btw tempat di foto itu beberapa saya tahu dan kenal orang-orangnya. penggilingan padi di foto itu misalnya, punya si Mas, orang yang betul-betul baik hati dan bersahaja. desa, adalah tempat sempurna untuk sesekali merenung dan memaknai alam.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s