Short story about live after school

IMG_20170815_071856_160

Suatu ketika, pernah aku rasanya hendak menjerit. Meratap. Tapi kemudian aku sadar, bahwa semua kesulitan ini hanya terjadi di awal.

WISUDA 26 Agustus 2016 lalu, tentu, aku masih ingat bagaimana rasanya. Oh God, dadaku serasa hendak meledak menahan rasa gembira. Mengenakan toga berbaret jingga, diapit oleh orangtua dan kerabat tercinta di upacara hari besar, bagaimana bisa aku tidak bahagia. Apalagi saat menyaksikan namaku muncul sebagai salah satu wisudawan dengan IPK tertinggi di layar lebar, ditonton oleh kurang lebih 24 ribu tamu undangan. Man, I still remember Mom can’t stop saying how proud she is to me…

Meskipun begitu, cukup 3 jam saja aku benar-benar merasa begitu gembira. Setelah meninggalkan aula upacara, hidupku kembali seperti sediakala, mungkin malah menjadi sedikit cemas. Karena aku tahu persis, hangar bingar wisuda hanyalah kesenangan sesaat. Setelah aku melangkahkan kaki keluar dari acara ini, itu berarti aku bukanlah siapa-siapa lagi. Aku bukan lagi mahasiswa universitas ternama, melainkan sosok baru yang sedang mencari status di kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Hidupku tak lagi bebas, melainkan terikat oleh tanggungjawab dibalik gelar sarjana. Singkat kata, kehidupan baru telah dimulai.

Aku akan memasuki babak kehidupan yang 360 derajat lebih menantang, berbahaya dan mungkin lebih kejam daripada sekedar kehidupan universitas.

***

Seperti rencana yang pernah kutuliskan, setelah lulus aku ingin bekerja sebelum melanjutkan S2. Dan itu benar-benar kulakukan. Tak lama setelah wisuda, aku langsung mempersiapkan diri untuk hunting pekerjaan.

Aku tak lantas “benar-benar bekerja” seperti yang kurencanakan. Pada bulan Oktober 2016, aku direkrut dosen Fakultas Teknik untuk membantunya dalam proyek pemberdayaan sosial di Banten selama tiga bulan. Pekerjaan ini memberiku banyak wawasan dan tambahan pengalaman, tentu saja. Meskipun begitu, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang aku idamkan. Bukan karena tidak menyenangkan, oh pekerjaan ini menyenangkan apalagi kami memiliki tim yang sangat friendly dan helpful. Hanya saja, pekerjaan ini menimbulkan stereotipe di sebagian keluargaku (terutama keluarga pamanku) karena menurut mereka bekerja 2-3 hari seminggu itu bukanlah bekerja yang sebenar-benarnya. I don’t get it why they said that…

Setelah kakek meninggal, aku yang saat itu tinggal bersama pamanku jelas merasa tertekan dengan kondisi ini. Well, sebenarnya aku bisa saja acuh seperti biasanya. Who cares about what the others say, right? Permasalahannya, seperti yang telah kusinggung di awal, sekarang aku punya tanggungjawab yang besar. Sekarang aku mengemban gelar sarjana dan tentu saja aku tidak bisa bertingkah sesuka hati dan mementingkan ego seperti dulu.

Aku mencoba sabar menghadapi semuanya. Namun buruknya, hari demi hari yang kujalani semakin menyiksa karena hal remeh itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan tetangga. Aku hanya berharap dimengerti bahwa aku tidak ingin buru-buru mengambil pekerjaan (yang terutama tidak kusuka) demi mendapatkan status baru sebagai “seseorang yang telah bekerja” dan bukan penganggur. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi, bukan. Aku tidak bisa memaksa orang untuk mengerti.

Aku tidak menyerah pada keadaan itu. Hanya saja, aku menolak untuk berdebat dan rasanya memang tidak ada gunanya juga complain dengan kondisi ini. Aku harus bertindak cerdas! Maka pada akhir bulan Oktober, akupun membuat keputusan besar untuk membuat perubahan dalam hidupku. Saat itu, di saat aku belum mapan dalam arti yang sebenarnya (belum memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang cukup), aku hengkang dari rumah dan menyewa sebuah kediaman di Depok. Aku sempat khawatir saat itu, bagaimana nantinya aku akan mencukupi kebutuhanku karena aku belum punya penghasilan yang cukup. Tapi thanks God aku memiliki banyak teman yang baik. Saat memulai kehidupan baruku di Depok, aku banyak dibantu teman-temanku baik itu support moral maupun material.

Kini aku tinggal di kediamanku sendiri dan bebas melakukan apapun yang kusuka baik itu belajar, meneruskan hobi berlari ataupun bekerja.

***

Setelah memutuskan tinggal secara mandiri di Depok, bukan berarti hidupku lantas benar-benar berubah. Memang, pikiran dan suasana hatiku menjadi lebih baik. Namun kini aku harus menghadapi realita kehidupan yang sebenarnya yang mana aku harus bertanggungjawab atas diriku, mencukupi semua kebutuhanku sendiri.

Sebulan pertama (bulan November) di kediaman baru, aku benar-benar strict pada semua pengeluaranku. Aku sangat berhati-hati dalam menggunakan uang sampai-sampai aku membuat semua detil pengeluaranku selama sebulan. Bulan kedua, aku masih bertahan dalam kondisi serupa, intinya jangan sampai ada celah untuk pemborosan. Suatu ketika, aku pernah merasa begitu tertekan, rasanya ingin ingin menjerit atas beban yang kuhadapi. Tapi kemudian aku segera sadar bahwa ini hanyalah awal dan sebagaimana umumnya, ketika awal selalu menjadi bagian yang paling sulit, akhir akan menjadi lebih mudah.

Di masa-masa sulit ini, ibukulah yang berperan penting. Setiap hari ia menelponku, memastikan kondisiku baik-baik saja. Tak henti-hentinya ia menyemangatiku, membakar semangatku agar aku tak berhenti untuk terus berusaha dan berdoa. Tanpa disangka, angin segar pun segera berhembus. Di bulan kedua ini, akhirnya aku bisa sedikit lebih rileks untuk persoalan kebutuhan dan tuntutan pekerjaan. Tepat sebulan sebelum kontrak kerjaku di Banten habis, per 1 Desember 2016 aku diminta bekerja di sebuah tech company di Jakarta.

Aku senang sekali. Bukan saja karena membuatku memiliki peran baru, melainkan karena pekerjaan ini sesuai dengan harapanku baik dari segi penghargaan atas upah, lingkungan bekerja dan kesempatan yang terbuka untuk belajar hal baru. Namun sekali lagi, hal ini tak latas membuat otot tegang dijidatku mengendur. Karena untuk benar-benar resmi menjadi karyawan tetap di perusahaan ini, aku harus melewati serangkaian proses seleksi yang lagi-lagi benar-benar menguji kegigihanku.

Untuk menjadi karyawan di perusahaan tempat di mana aku bekerja, pertama aku harus mengikuti seleksi berkas. Setelah dinyatakan lolos seleksi, aku diwajibkan mengikuti test. Sedikit banyak aku merasa beruntung karena di saat kuliah aku tidak melulu belajar di kelas melainkan banyak mengembangkan skill dan mencari banyak pengalaman di luar kampus. Jadi aku tidak kaget ketika namaku dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti seleksi kemampuan lainnya. Namun bukan berarti perjuangan telah usai. Setelah proses test selesai, aku masih harus bersaing di on the job training (OJT) selama lima hari hanya karena supervisorku ingin memastikan kembali apakah aku, yang notabene adalah wanita, bisa melakukan pekerjaan lapangan apabila kelak ditugaskan bekerja di luar kantor.

Rizki memang tidak akan kemana. Thanks God, aku lolos pada akhir ‘babak penyisihan’ itu. Namun lagi, aku harus menjalani masa probation selama tiga bulan untuk menentukan apakah aku cukup layak untuk menjadi karyawan di perusahaan itu. Bukan hal yang mudah menjalani hari-hari di tempat dan suasana yang baru. Aku harus belajar blend in serta bagaimana beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang sekitar.

Mulanya aku sangat kikuk, apalagi penggunaan bahasa tech dan pemrograman yang banyak tidak kumengerti.  Beruntungnya, di perusahaan tempat kubekerja sedikit banyak menggunakan bahasa Inggris—ini sangat membantu daripada menggunakan Bahasa. Selain itu, aku beruntung memiliki supervisor yang sangat baik dan pengertian. And also a very good team who always ready to help…

Well, soal adaptasi mungkin tidak menjadi masalah buatku karena aku pada dasarnya mudah beraraptasi. Yang jadi masalah, pada pertengahan Januari 2017, sekitar tanggal 13, aku harus menjalani operasi mata— dokter mendiagnosa aku terkena herdoleum internal. Operasi itu sempat membuatku ketakutan setengah mati. Bukan soal sakitnya yang sebenarnya merisaukanku, aku hanya khawatir tidak akan lolos probation karena setelahnya, selama seminggu, aku harus absen dari pekerjaan di kantor demi menunggu kesembuhan mata kananku.

Namun atas kehendak Yang Maha Kuasa, pada akhir bulan Februari, aku dinyatakan lulus probation oleh perusahaan. Dan itu berarti aku menjadi karyawan tetap di perusahaan itu. Aku senang bukan main. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia.

Tapi yang lebih senang lagi adalah ibuku. Sampai-sampai ia rela melakukan ritual puasa sunah untuk keberhasilan putri sematawayangnya ini. Aku tahu, ini bukanlah apa-apa. Belum ada apa-apanya. Yang menjadi poin ibuku, ia senang kini anaknya bisa hidup mandiri dan tentunya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.

***

Jadi beginilah hidupku sekarang. Kini aku berprofesi sebagai tech girl yang berkecimpung di sebuah perusahaan yang berdiri di kawasan elite bisnis Jakarta. Kini sudah hampir lima bulan aku bekerja dan sejauh ini aku merasa baik-baik saja dan bahagia. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Tuhan atas nikmat dan karunia yang telah diberikan kepadaku selama ini.

Tidak hanya soal pekerjaan yang keren ini tentunya, tetapi juga karena aku telah diberikan teman, tim dan tentunya orang tua yang baik yang tak ada hentinya mendoakan dan mendukung keberhasilan anaknya. Dengan lima bulan ini, tentu aku belum bisa menjadi apa-apa. Jauh dari apa-apa. Aku hanya berharap di sini aku bisa banyak belajar dan tentunya menjadi penyemangat untuk mencapai cita-citaku yang lainnya.

Semoga Tuhan memberikan kelancaran atas setiap mimpi dan cita-cita yang kuidam-idamkan. Tak lupa, kuucapkan terima kasih atas semua dukungan yang telah keluarga dan teman-teman berikan.

©Tina Latief 2017

7 thoughts on “Short story about live after school

  1. shiq4

    Selamat menikmati pekerjaan baru dan segala tantangan di dalamnya. Sukses selalu. Jadi bersemangat bekerja mengembangkan lapak buah saya setelah membaca postingan ini 🙂 sukses selalu ya……

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s