Mencari minuman cokelat instan paling enak

img_20150901_130016

Ada banyak varian cokelat instan. Namun, manakah yang paling enak?

BERAWAL dari sebuah debat kecil tentang minuman coklat instan, minggu lalu, aku dan teman-temanku membuat riset kecil untuk membandingkan coklat instan mana yang paling enak. Risetnya mudah saja, kami hanya perlu membeli coklat instan, menyeduhnya, lalu meminta sebanyak-banyaknya orang untuk mencicipinya. Orang yang sudah mencicipi lalu diminta untuk menuliskan pilihan coklat terenak menurut seleranya di dalam kertas sesuai pilihan terenak pertama dan kedua. Seduhan coklat dengan suara paling banyak dinobatkan sebagai coklat yang paling enak.

Coklat yang kami uji ada enam merk yaitu diantaranya:

  1. Sevel Belgian
  2. Roti’O
  3. Delfi Hot Cocoa Indulgence
  4. Check Hub Kokoo Originale
  5. Mandex
  6. Check Hub Kokoo with Hazelnut

Masing-masing dari cokelat ini dibawa sendiri oleh teman-temanku. Beberapa bahkan ada yang beli langsung di kedainya. Hari itu ruang makan riuh sekali. Suara tawa, canda dan dentingan sendok dan mug  yang saling beradu mendominasi suasana pagi menjelang siang yang sedikit mendung itu.

img_20170301_235724_773

Untuk mencegah bias, kami segaja membuat identitas si cokelat tersembunyi. Jadi semua cokelat yang sudah dibuat, diberi label dibagian bawah gelasnya agar orang yang mencicipinya tidak tahu merk cokelat yang dia minum. Adapun orang yang bertanggungjawab atas penamaannya hanyalah si penyeduhnya saja. Untuk mendapatkan rasa yang lezat, penyeduhan diserahkan kepada orang yang membawa cokelat tersebut.

Dan, walla…

Setelah kurang lebih dua jam saling mencicip seduhan coklat, kamipun akhirnya mendapatkan pilihan coklat terenak berdasarkan jumlah pilihan terbanyak. Minuman coklat instan terenak hari itu jatuh pada minuman coklat dengan merk Check Hub dengan varian Kokoo Originale. Ada sebanyak 4 orang yang memilihnya sebagai cokelat terenak nomor satu, dan sebanyak 3 orang yang memilihnya sebagai coklat terenak nomor dua.

Check Hub Kokoo Originale memiliki warna coklat yang pekat. Rasa coklatnya kental dan manis gulanya juga tidak berlebihan. Apakah itu cokelat yang juga aku pilih? Ha, sayangnya bukan. Meskipun Kokoo Originale mendapat suara terbanyak, aku tidak ikut memilihnya. Bagiku ada rasa yang lebih istimewa dibanding Kokoo Originale. Hari itu aku memilih dua cokelat yang menurutku lebih lezat. Satu adalah cokelat yang sudah sangat familiar rasanya karena sering sekali aku minum, yang kedua adalah cokelat dengan rasa baru yang hari itu baru pertama kalinya aku cicipi.

Cokelat yang sering aku buat di rumah adalah cokelat instan dengan merk Delfi. Aku sering sekali meminumnya di rumah terutama saat turun hujan. Aku sempat berpikir Delfi akan menjadi coklat terenak pilihanku hari itu. Namun pikiran itu berubah setelah aku mencicipi banyak varian rasa cokelat. Lidahku terpikat pada nikmatnya coklat Mandex, coklat buatan Indonesia yang dibawa temanku entah dari mana asalnya.

Coklat Mandex memiliki warna coklat yang sangat pekat, lebih pekat dari Kokoo Originale dan Delfi. Bedanya, tekstur serbuk minuman itu lebih kasar dibandingkan coklat yang lainnya. Ketika diseduh, cokelat Mandex sangat kental dan sedikit ada rasa pahit di dalamnya. Ini yang membuatku menobatkannya sebagai cokelat terenak di atas Delfi. Pada dasarnya, aku menyukai cokelat yang rasanya sedikit pahit.

Untuk coklat yang lainnya, well, I think they’re not bad. Setiap merk memiliki cita rasa khasnya masing-masing. Ada yang rasanya mirip kopi, kental, tawar dan ada yang creamy. Meskipun Kokoo Originale menempati suara terbanyak, uniknya, tidak ada satupun cokelat yang tidak terpilih.

Jadi artinya setiap orang memiliki selera minuman cokelat yang cukup bergam.

Keunikan lainnya dari riset ini, rupanya tidak sedikit pula orang yang terbalik (flipped) setelah mencicipi coklat dengan varian yang berbeda dari yang diminum biasanya.  Selain aku, temanku Bembi misalnya, dia jadi lebih suka coklat Kokoo with Hazelnut. Padahal mulanya dia sangat menyukai Sevel Belgian.

Riset kecil ini juga menunjukkan bahwa ternyata orang cenderung menyukai minuman cokelat dengan rasa dan warna yang pekat dan dengan kadar manis yang dominan. Hasil perolehan suara menunjukkan bahwa cokelat-cokelat yang kental dan manis seperti Mandex, Kokoo Originale lebih banyak disukai. Aku sempat mempertanyakan pengaruh jumlah takaran dan suhu air yang digunakan saat penyajian. Bagiku, kedua hal ini adalah variabel penting yang seharusnya turut dipertimbangkan dalam penyajian coklat panas. Well, kami memang kelupaan dengan kedua hal ini karena intinya, pada tahap ini kami hanya berusaha mencari cokelat terlezat melalui cara penyajian yang biasa kami lakukan. Untuk dua variabel itu, kami akan mengujinya di lain kesempatan. Di batch kedua, mungkin. Lagipula masih banyak merk coklat yang belum sempat diuji, misalnya Dunkin Donat Hot Choholate. Just so you know, Cokelat Dunkin adalah cokelat pertama yang menjadi favoritku. Bagiku, rasanya juga sangat lezat 🙂

Nah itu tadi cerita tentang riset cokelat kami. Kalau kamu, minuman cokelat instan manakah favoritmu?

©Tina Latief 2017

copy-of-introducing

18 thoughts on “Mencari minuman cokelat instan paling enak

    1. Tina Latief Post author

      Sepertinya engga mba. Saya lupa juga gimana temen-temen beli cokelatnya itu. Yang sudah pasti sih Delfi. Check Hub dan Mandex sepertinya pesan di situsnya

      Like

      Reply
      1. Tina Latief Post author

        Yang Mandex bisa juga pesen lewat Ig-nya mba. Kalau yang Kokoo kayanya sih udah beredar di pasaran juga, jadi lebih mudah nyarinya. Yang Dunkin sama Roti’O beli di gerainya

        Like

  1. Gara

    Saya jarang minum cokelat panas jadi tak bisa menjawab, hehe. Takut gemuk. Saya malah tertarik dengan penemuan-penemuan dalam riset ini. Unik, ada yang bisa tertukar pilihannya. Saya jadi penasaran untuk mengulas apa penyebab fenomena ini.
    Satu lagi pencerahannya: ternyata riset tak selalu harus berbiaya mahal. Dengan bahan-bahan sederhana pun sebuah penelitian bisa dilakukan. Analisisnya pun tak kalah karena ilmu pada dasarnya adalah universal. Saya jadi merutuki diri sendiri karena suka ribet kalau mau menganalisis sesuatu, haha.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Cobain mas, enak kok. Asal ngga keseringan pasti ngga gemuk juga hehe.

      Sebagai catatan saja, ini riset yang tidak terukur. Jadi validitas dan reliabilitasnya masih diragukan 🙂

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s