Throwback trip to Geoforest Watu Payung

IMG_20160304_213727

Girisuko memiliki aset yang sangat menjanjikan. Dengan sedikit kucuran dana, Watu Payung akan menjadi tujuan wisata yang tak kalah dari wisata alam lainnya.

KAPANPUN saat aku pulang ke kampung halamanku di Yogyakarta, aku akan menyempatkan untuk main ke banyak tempat di sana. Sawah, hutan, pantai, danau, perkampungan, semua aku jelajahi. Aku berusaha tidak melewatkan satupun dari mereka. Sebisa mungkin aku membawa banyak cerita sebelum aku kembali ke ibukota, tempat tinggalku sekarang.

Kampung halamanku saat ini sangat populer dengan wisata alamnya. Banyak wisata alam baru yang dibuka yang diberdayakan oleh penduduk sekitar. And there I go! Ketika aku sampai di sana, aku mengunjungi banyak wisata alam. Tahun lalu, setidaknya aku mengunjungi beberapa tempat menarik yang tergolong baru. Have a cozy sit, aku akan menceritakannya satu persatu. img_20170225_230355_753 img_20170225_230514_603

Orang di kampung halamanku menyebut tempat ini Watu Payung. Watu Payung berarti batu payung—ya, seperti batu dan payung sungguhan. Aku tidak tahu bagaimana mulanya disebut begitu, mungkin ada tempat atau batu yang menyerupai payung di sekitar sini. Tetapi begitulah orang di sini menyebut tempat ini. Watu Payung.

As I remember, Watu Payung dikategorikan sebagai wisata geoforest. Daya tarik utamanya terletak pada pemandangan alam pengunungan yang terbentang seluas puluhan kilometer dari timur ke barat. Pegunungan yang hijau itu yang sangat kontras dengan birunya langit apabila dilihat pagi dan sore hari. Akan lebih indah lagi jika beruntung menemukan kabut tebal di antara pegunungan ini. Penampakannya seperti negeri di atas awan.

Seperti halnya tempat wisata alam lainnya, di sana juga dibangun beberapa aksesoris wisata seperti pendopo, ayunan dan anjungan. Nampaknya, Watu Payung ingin mengadopsi wisata-wisata alam yang telah populer dengan anjungan. Namun karena tempat wisata ini masih baru dan belum banyak menarik pengunjung, aksesori yang dibangun masih tergolong sederhana dan seadanya. Untuk anjungannya, terutama, masih belum cukup aman untuk dinaiki beramai-ramai.

img_20170225_232128_597

Untuk menuju ke Watu Payung, aku harus melewati jalan dengan elevasi yang beragam. Bisa dibilang terlalu banyak tanjakan yang cukup membuat kita menahan nafas. Meskipun demikian, jalan yang dilewati adalah jalanan aspal yang cukup bagus dan aman. Hanya perlu berhati-hati untuk masuk ke areal geoforest ini karena setelah aspal, jalan masuknya akan disambung dengan jalan setapak yang masih bergelombang dan berbatu tajam.

Untuk tarif masuk, saat itu belum ada biaya retribusi yang bisa dibayarkan untuk ke wisata geoforest ini. Begitu pula parkir kendaraan, semua masih dibebaskan. Saat ini wisata alam yang terletak di Girisuko, Kecamatan Panggang ini memang masih belum cukup menarik minat pengunjung karena memang masih terbilang baru dan belum memiliki cukup insfrastruktur. Namun aku optimis, sebentar lagi tempat ini akan segera ramai dikunjungi. Apalagi semakin banyak traveler dan penggiat media sosial yang menulis tentang wisata Watu Payung ini.

img_20170226_000725_655

Dalam pandanganku sendiri, wisata geoforest Watu Payung memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Selain pemandangannya yang tak kalah indah, lokasi menuju tempat ini sebetulnya sangat setategis karena jalur yang melewati wisata ini telah terhubung dengan tempat-tempat wisata lainnya di Yogyakarta. Aku berani merekomendasikan bahwa tempat wisata ini akan semakin baik jika didukung oleh pemerintah setempat. Dengan sedikit kucuran dana dan promosi, wisata geoforest Watu Payung akan menuai banyak pengunjung.

Potensi yang sudah terlihat misalnya adalah budidaya buah dan bunga, flying fox serta hutan edukasi. Tanah di Watu Payung sangat subur untuk membudidayakan tanaman buah dan bunga, beberapa tanaman nampaknya sudah pernah ditanam di sana. Untuk hutan edukasi, sebetulnya hanya perlu meneruskan budidaya pohon jati yang telah dimulai sebelumnya dengan ditambah dengan tanaman-tanaman lain sebagai pelengkap kekayaan hayati. Sedangkan untuk fying fox, aku melihat potensi ini dari struktur dan posisi pegunungan yang saling berseberangan yang kelihatannya memungkinkan untuk dibuat jembatan gantung atau fying fox.img_20170226_030151_714

Watu Payung adalah wisata alam yang eksotis. Di sini orang bisa benar-benar melupakan lelah dan penat hanya dengan duduk-duduk sambil memandang di kejauhan. Tidak ada deru bising kendaraan yang terdengar, melainkan kedamaian, sejuknya udara dan kehijauan. Well, mungkin kadang-kadang akan terdengar suara-suara aneh yang sering bersahutan namun jangan takut, itu bukanlah suara hantu. Di penghujung bukit sana terdapat serumpun pohon bambu yang nampaknya adalah sarang monyet. Saat aku ke sana, banyak sekali monyet yang sedang berpesta, mungkin juga sedang bermesraan dengan pasangannya. Riuh sekali dari atas. Kadang-kadang terdengar lucu, membuat kita ingin menirukan suara uu- aa yang dibuat si monyet.

Nah, sampai di sini dulu cerita tentang wisata alam di Yogyakarta. Aku akan menuliskan tempat wisata seru lainnya di kemudian hari.

©Tina Latief 2017

Geoforest Watu Payung Turunan
Girisuko, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872
Koordinat: -7.974028, 110.436436

copy-of-introducing

14 thoughts on “Throwback trip to Geoforest Watu Payung

      1. Tina Latief Post author

        Wah jauh ya, 8 jam loh…
        Tapi meskipun mungkin minim wisata alam, Palembang kaya sama wisata kuliner kayanya ya Koh? Aku lagi baca tulisan Kokoh yang kuliner di Palembang nih 🙂

        Like

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s