Lesson from a Mockingbird

img_20170217_091305_397

Sungguh berdosa membunuh Mockingbird. To Kill A Mockingbird mengajarkan tentang makna kehidupan, lebih dari itu, kedamaian dan keadilan.

DI AWAL Februari, saat aku telah menyelesaikan novel pertama Harper Lee, To Kill A Mockingbird, aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta pada buku-buku bergenre klasik. Aku tidak tahu pasti apa yang membuatku begitu─mungkin karena aku memiliki jiwa masa lalu, old soul. Tapi aku pikir, buku terbaik apapun masa kini memang tidak ada yang bisa mengalahkan pesona buku-buku klasik.

Salah satu hal terbaik tentang buku klasik yang aku temui, misalnya, adalah keindahan pemilihan kata dan frasa yang digunakan. Di dalam To Kill A Mockingbird, bagaimana Lee menuliskan detil-detil kehidupan di Maycom County, sebuah wilayah yang menjadi latar utama tulisan ini, benar-benar membuatku terpesona. Meski tak selalu yang dituliskan Lee adalah momen-momen yang menyenangkan, misalnya saat ia menggambarkan sosok Cunningham yang miskin atau tentang bagaimana penduduk berkulit hitam menjalani hidup di atas superioritas penduduk berkulit putih, pesonanya tidak berkurang, sebaliknya justru bertambah. Baginya, seolah kemiskinan, kekolotan dan kebodohan adalah sesuatu yang indah.

Atau memang itulah yang ingin ditunjukkan Lee.

“Dari wajahnya, semua anak kelas satu tahu bahwa Walter Cunningham cacingan. Dari kakinya yang tak bersepatu, kami tahu bagaimana dia terjangkit. Orang terjangkit penyakit cacingan kalau bertelanjang kaki di halaman peternakan dan kubangan babi. Andai Walter punya sepatu, tentu dia sudah memakainya pada hari pertama sekolah dan menyimpannya sampai pertengahan musim dingin. Meskipun demikian, dia mengenakan kemeja bersih dan overall yang ditambal rapi.” (37)

“…keluarga Cunningham tidak akan pernah mengambil apapun yang tidak akan bisa mereka kembalikan-keranjang sumbangan gereja ataupun kupon makanan. Mereka tidak pernah mengambil apapun dari siapapun, mereka merasa tercukupi dengan apa yang mereka punya. Mereka punya banyak, tapi mereka mencukupkannya.” (38)

“Tak usah khawatir, Ma’am”, katanya. “Tidak perlu takut dengan kutu….

Pemilik kutu itu tak menunjukkan minat sedikit pun pada kehebohan yang diakibatkannya. Dia menelusuri kulit kepala di atas keningnya, menemukan kutu itu, dan menjepit mahkluk itu diantara jempol dan telunjuknya. (48)

Lee memiliki kemampuan menghidupkan cerita dengan sangat baik. Setiap momen yang diciptakannya di dalam cerita sangat natural dan tidak ada kesan dibuat-buat atau dipaksakan. Dalam alur cerita yang menakutkan sekalipun misalnya ia nampak benar-benar memahami bagaimana menempatkan setting cerita yang apik. Seperti dalam kutipan di bawah ini misalnya, ia menghidupkan cerita dengan paduan unsur-unsur alam. Desahan dedaunan, angin dan sepatu boots pria yang digambarkannya sangat hidup dan alamiah.

“Malam sunyi. Aku bisa dengan mudah mendengar napasnya keluar di sampingku. Sesekali angin sepoi-sepoi bertiup dan dengan tiba-tiba menerpa kaki telanjangku, tetapi itu hanyalah sisa dari malam yang katanya akan berangin. Ini adalah kesunyian sebelum badai petir. Kami memasang telinga.” (365)

“Teman kami perlahan menyeret kakinya, seakan-akan memakai sepatu yang berat. Siapapun dia pasti memakai celana panjang katun yang tebal; yang kukira desauan pepohonan adalah desir lembut katun menggesek katun, wess, wess, mengiringi setiap langkahnya.” (369)

Selain itu, meskipun kali ini aku membaca dalam versi terjemahnya, (aku sangat hapal biasanya buku terjemahan tak selalu mewakili tulisan aslinya) alur pemikiran-pemikiran Lee di dalam cerita tidaklah berkurang. Setiap kalimat yang dituliskan Lee selalu penuh makna. Aku sangat menikmati ketika harus menebak-nebak setiap maksud yang disembunyikannya dalam setiap paragraf.

Hal kedua inilah yang membuatku semakin menyukai buku klasik. Tulisan Lee menyiratkan pembelajaran yang sangat dalam (deep lesson) bagi kehidupan tidak sekarang ataupun nanti. Di dalam buku ini, Lee mengajarkan sebuah kepribadian lewat sosok Atticus Finch, seorang pengacara yang berusaha menegakkan hukum ditengah isu sara yang melibatkan penduduk kulit putih dan hitam. Meskipun hidupnya dan anak-anaknya harus dihujat karena membela niger (sebutan untuk penduduk kulit hitam), ia tak gentar demi menegakkan kebenaran dan keadilan bagi sesama.

“… kalau kau bisa mempelajari satu keterampilan sederhana, Scout, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya─ kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya.” (51)

“… kata Atticus, kita boleh memilih teman, tetapi jelas tak bisa memilih keluarga dan itulah keluarga mereka, baik kita mau mengakuinya atau tidak, dan kita akan kelihatan konyol sekali kalau tak mau mengakui.”(319)

Kutipan-kutipan inilah yang membuatku jatuh cinta. Sebagai sosok ayah yang membesarkan sendiri anak-anaknya, Atticus telah menunjukkan bahwa ia adalah ayah yang luar biasa bagi anak-anaknya maupun orang-orang di sekitarnya. Setiap kata yang diucapkan kepada Jem dan Scout ataupun kepada pembantu dan tetangganya, menjadi poin-poin pembelajaran yang sangat berarti. Aku hanya sedikit menyesal, aku termasuk terlambat membaca buku ini.

Secara general, buku ini mengajarkan tentang bagaimana kita sebagai manusia layaknya hidup bermasyarakat. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain yang bahkan mungkin tidak berlaku adil kepada kita, dan bagaimana seharusnya kita berperasangka terhadap orang yang tidak pernah kita ketahui apa yang sesungguhnya ada di dalam benaknya. Lebih dari itu, buku ini mengajarkan tentang perdamaian dan keadilan. Menariknya, meskipun buku ini berlatarkan cerita dari negeri Barat, nilai-nilai dan norma yang ada di dalam buku ini berfungsi sama di negeri Timur.

Aku berani bertaruh, seorang ilmuwan sosial tak akan tanggung-tanggung menjadikan buku ini sebagai referensi belajarnya.

Satu hal yang masih belum begitu kumengerti dari buku Lee adalah, mengapa ia memberi judul “To Kill A Mockingbird” pada bukunya. Apa arti Mockingbird baginya? Di dalam buku ini, setidaknya aku tak banyak menjumpai Lee menyebut kata Mockingbird. Sebanyak yang aku ingat, Lee paling banyak menyebut  Mockingbird hanya di bab 10.

“Aku lebih suka kau menembaki kaleng timah di halaman belakang, tetapi aku tahu kau akan menembak burung. Kalu boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa” (135)

“Ayahmu benar,”katanya. “Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa” (135)

Aku tidak tahu banyak tentang Mockingbird. Tapi aku bisa menebak, Mockingbird adalah sejenis burung yang dipercayai apabila disakiti akan menimbulkan celaka pada orang yang menyakitinya. Di dalam buku ini, saat Lee mulai memunculkan kata Mockingbird, ia sedang menceritakan kisah tragis Mr.Ewell yang mati jatuh menimpa pisaunya sendiri saat menyerang Jem dan Scout.

Atticus lama duduk terpekur. Akhirnya, dia mengangkat kepala. “Scout,”katanya, “Mr.Ewell jatuh menimpa pisaunya. Bisakah kau mengerti?”

Kelihatannya Atticus perlu dihibur. Aku berlari mendekat serta mencium sekuat tenaga. “Ya, aku mengerti,” aku meyakinkannya. “Mr.Tate benar.”

Atticus melepaskan diri dan menatapku, “Apa maksudmu?”

“Ya, itu sama saja dengan menembak mockingbird, ya, kan?” (390)

Ku kira itulah mengapa Lee mengangkat Mockingbird sebuah pembelajaran. Di dalam cerita ini, yang tidak bersalah dihancurkan oleh kejahatan dan mockingbird merepresentasikan hal tersebut. To kill a mockingbird berarti menghancurkan yang tidak bersalah, to destroy innocence.

Dan bagiku itu adalah dosa yang sangat besar.

©Tina Latief 2017copy-of-introducing

10 thoughts on “Lesson from a Mockingbird

  1. shiq4

    Wah seneng deh sama reviewnya. Meskipun ini pertama kali dengar tentang judul buku dan pengarangnya. Saya akan memasukkan pada list buku saya. Ntar klo stock buku di rumah sudah habis bisa nyari buju diatas. 🙂

    Like

    Reply
  2. Gara

    Wah, novel ini memang kaya akan pembelajaran. Satu yang paling mengesankan itu menurut saya adalah jangan asal nge-judge orang lain, karena kita tidak hidup sebagai mereka jadi kita tidak serta-merta tahu apa yang ada dalam pikiran mereka dan bagaimana berada di posisi mereka. Namun saya memandang “to kill a mockingbird” ini juga dalam kasusnya Mr. Atticus, bahwa orang tidak pantas dipandang dengan warna kulit saja. Seperti mockingbird, orang kulit hitam tidak mengganggu, malah membantu. Mereka sama-sama manusia jadi kenapa harus diganggu? Cuma saya belum baca Go Set A Watchman, doh… jadi kepengen baca, hehe.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Betul Mas Gara. Pun saya juga belum baca Go Set A Watchman. Sudah penasaran padahal sama karya lain Herper Lee. Beliau ini cuma menulis sedikit buku tapi sekali menulis langsung populer

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s