Derby last SAMRUI 2016, on one year journey

img_20160923_205702

Ketika berlari telah merubah hidupku. Aku tidak ingin hanya sekedar berlari. Aku ingin berlari lebih cepat.

SAAT memasuki tahun kedua di bangku universitas, saat aku memutuskan untuk tinggal di asrama, aku terjangkit virus herpes. Virus itu secara drastis menggerogoti daya tahan tubuhku. Aku masih ingat, saat terjangkit virus itu, berat badanku tidak pernah lebih dari 42 kilo.

Sebenarnya aku tidak keberatan dengan hal itu. Bagaimanapun kehilangan beberapa kilogram berat badan adalah keinginan setiap wanita. Yang membuatku takut, virus itu tidak hanya menggerogoti berat badanku, tetapi juga daya pikirku, kecerdasanku. Sementara saat itu bukan posisi yang menguntungkan jika aku menjadi tolol.

Selama terjangkit virus itu, aku selalu bolak-balik menemui  Dokter Sunny, dokter yang sering menanganiku di Pusat Kesehatan Mahasiswa. Kuikuti serangkaian pengobatan yang diberikan termasuk menghabiskan puluhan pil obat yang nampaknya tak memberikan efek yang signifikan. Acapkali datang, kuamati catatan demi catatan yang dibuatnya di kartu berwarna jingga milikku. Di sana tertulis, hampir setiap bulan aku jatuh sakit.

Dokter Sunny berkata, tidak ada obat yang benar-benar bisa melenyapkan virus herpes. Tubuh yang sudah terinfeksi akan memiliki kemungkinan penyakit kambuh lagi. Jika daya tahan tubuh menurun, virus herpes akan kembali menyerang dan melemahkan tubuh. Katanya, satu-satunya cara untuk menekan penyebarannya adalah dengan memperbaiki kekebalan tubuh.

Maka pada awal bulan Desember 2014, aku berkomitmen untuk menjalani ritual pemulihan daya tahan tubuh. Aku tidak pernah lagi melewatkan jadwal makan ataupun istirahat. Tepat menjelang akhir tahun itu pula aku membuat terobosan besar dalam hidupku, bertekad untuk rutin berolahraga. Kini tiga tahun sudah dan olahraga telah menjadi gaya hidup baruku.

Olahraga yang aku tekuni adalah lari. Aku sempat mempertimbangkan futsal dan gym, tapi setelah kupertimbangkan lagi, aku tidak punya cukup waktu untuk pergi ke sport center semacam itu. Dengan berlari, aku hanya perlu bangun pagi dan bergabung dengan teman-teman di komunitas. Sejauh ini, lari adalah olahraga yang praktis, dan yang membuatku semakin suka melakukannya, kurasakan hari-hariku mengalami banyak perubahan semenjak banyak berlari.

Running has changed my life. Tidak hanya kondisi tubuhku yang semakin membaik, kini aku 100% gadis yang sehat. Sharing knowledge antara aku dan teman-temanku perlahan telah merubah cara pandangku terhadap kesehatan. Sehat bukanlah takdir. Sehat adalah pilihan yang mana harus dicari dengan cara diperjuangkan.

Berlari juga memberiku banyak teman dan kenalan. Di akhir tahun ini, saat komunitas lariku mengadakan perayaan akhir tahun, aku banyak bertemu teman-teman baru. Selain saling berkenalan, kami saling berbagi pengalaman, kesan dan pesan selama setahun berlari. Ada banyak sekali cerita-cerita yang layak untuk diteladani, yang menjadi inspirasi dan semangat untuk terus berprestasi.

img_20170124_081925

Aku merasa, di tahun keduaku ini, komunitasku dan termasuk aku di dalamnya, semakin matang dalam berlari. Banyak sekali prestasi yang ditorehkan selama setahun ini. Aku sendiri, tanpa aku sadari, juga telah melakukan banyak peningkatan dalam berlari.

Ada setidaknya tujuh medali yang kukumpulkan tahun ini. Dua diantaranya fun run event, dan lima lainnya race run. Yang membuatku cukup bangga, ternyata aku bisa menepis keraguanku dalam berlari. If you can run, you can run faster, begitu kata salah seorang temanku. Tahun ini untuk pertama kalinya aku bisa menyelesaikan half marathonku dengan gemilang, dan sebagai penutup tahun, aku hampir menyabet gelar podium di ajang lari 5k di event BRI run.

I know that was not much. Meskipun begitu aku senang karena aku berhasil membuktikan bahwa dibalik rasa takut dan pesimisme yang selama ini mengendap dalam pikiranku, ternyata aku cukup kuat dan mampu menghadapi setiap tantangan. Aku hanya berharap di tahun yang baru ini akan ada semakin banyak kesempatan untuk berlari. Well, kehidupan pasca kuliah masih membuatku meraba-raba. Aku hanya bisa berdoa, semoga di kehidupanku yang baru ini juga memberikan sebakin banyak ruang untuk berkembangnya latihan lariku.

Aku masih bisa terus berlari di akhir pekan, tentu saja. Dan yang terpenting, aku tidak khawatir lagi di mana aku akan berlatih. All is in a good set. Aku benar-benar menikmati setiap petualangan seru selama setahun ini dan tak sabar untuk petualangan baru di tahun yang baru. Tentunya tidak lupa ku bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa memberikan kesehatan dan tentu saja kedua kaki yang kuat.

©Tina Latief 2017

copy-of-introducing

3 thoughts on “Derby last SAMRUI 2016, on one year journey

  1. dewi Nielsen

    Luar biasa loh kamu Tin, bisa disiplin begitu.
    Habis baca postinganmu ini, aku ajak suami buat jogging ntar sore. Doi bilang, diluar dingin banget beb..halaaah…jogging kan bikin anget ya..Masih bersalju sih disini…:)

    Makasih ya sudah menginspirasi 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Senangnya kalau tulisan kita bermanfaat, trims mba Dewi buat apresiasinya 🙂 Pengen deh nyobain lari di salju-salju. Mudah-mudahan kelak bisa tinggal di negeri empat musim juga 🙂

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s