Mengawali karir lari jarak jauh di Festival City Mandiri Jakarta Marathon 2016

img_20161026_191204

Di kilometer 20, saat aku hampir tak lagi merasakan kakiku, aku ingin menyerah. Tapi batinku menjerit, kemenangan sedikit lagi…

TAHUN 2016 bisa dibilang adalah tahun di mana saya membuat banyak keputusan yang cukup berani. Salah satunya yang berhubungan dengan hobi saya tiga tahun ini. Lari. Tahun ini saya memberanikan diri untuk menjajal ajang balapan lari jarak jauh dengan kategori 21k di Festifal City Mandiri Jakarta Marathon atau Jakmar 2016.

Saya katakan cukup berani karena dalam track record saya sebagai pelari yang masih tergolong baru, saya belum pernah sekalipun menjajal mengikuti race sejauh 21k. Pernah sekali saya mencoba berlatih berlari sejauh 21k. Tapi hasilnya luar biasa capek dan tidak membuahkan hasil yang baik. Selain itu saya juga tidak memiliki program lari khusus untuk persiapan lari jarak jauh. Selama ini saya berlatih normal dan biasa-biasa saja. Saya bertih setiap 2-3 kali seminggu bersama teman-teman Derby Runners dengan jarak lari yang pendek dan pace yang sangat santai. Adapun pengetahuan dan pengalaman saya tentang Jakmar hanya berasal dari partisipasi saya di water station ketika mensupport teman-teman komunitas yang telah lebih dulu ikut ajang lari jarak jauh ini. Selebihnya tidak ada persiapan khusus. Ini adalah keikutsertaan pertama saya di ajang balapan lari jarak jauh. This is truly my virgin long run race…

Saya memang tidak berharap apapun ketika mengikuti event Jakmar ini melainkan ingin have fun saja. Saya menyadari saya baru di ajang balap lari jarak jauh. Jadi saya tidak akan memaksa diri saya untuk bersaing dengan para pelari lain yang sudah memiliki banyak pengalaman dan memiliki catatan waktu terbaik mereka. Hanya saja, saya tetap memiliki target ingin menyelesaikan balap lari 21k ini dengan catatan waktu mencapai sub 2.30 (di bawah 2 jam 30 menit). Tidak untuk menyaingi pelari lain, tentu saja. Tapi sekedar untuk mengukur kemampuan diri saya sendiri, bisakah saya menaklukkan diri sendiri?

The Race Day
DUA HARI sebelum hari H race, saya terlebih dulu mempersiapkan kelengkapan teknis seperti mengambil racepack, memeriksa kelengkapan lomba seperti running tee dan nomor BIB. Race day jatuh pada tanggal 23 Oktober. Lokasi startnya sama dengan Jakmar tahun lalu yaitu di Silang Monas.

Pagi itu sekitar pukul lima pagi saat di sekitar kompleks Monas mulai dipenuhi oleh hiruk pikuk pelari Marathon. Saat turun dari kendaraan, mata saya langsung nanar, menegang. Fyuh, nervous newlyweed. Di tengah ribuan kerumunan peserta lari, saya mencoba mencari teman-teman jersey biru Derby—setidaknya dengan bertemu mereka akan mengurangi perasaan tegang saya. Beruntungnya, salah seorang dari mereka memanggil saya. Bang Uki, Firda, dan Bang Genta nampak memanggil saya dari samping kanan sambil melakukan stretching.

Saya bergabung dengan mereka untuk melakukan pemanasan. Lari-lari kecil sambil meregang-regangkan badan. Dengan cara ini lama-lama badan saya rileks, tak setegang di awal. Tepat pada pukul 5.25 menit setelah pelari Full Marathon dilepaskan saya telah siap di garis start untuk mulai berlari.

Seperti anak burung yang dilepaskan, seluruh pelari Half Marathon langsung memenuhi jalanan yang menjadi rute Jakmar saat bendera start dikibarkan. Kilauan lampu blitz dari para fotografer menjadi pengiring kepergian para pelari ke jalanan. Saat itu, saya tak lagi banyak berpikir. Saya terus mengayunkan kaki melaju menembus jalanan yang masih remang-remang. Sesekali saya memeriksa catatan waktu di ponsel, apakah saya terlalu cepat, ataukan terlalu lambat. Meskipun saya tidak memiliki ambisi untuk bersaing, tapi saat tiba di jalanan entah mengapa muncul perasaan dari dalam dada, saya ingin lebih cepat dan cepat…
img_20161023_162622 img_20161023_171300

Ini adalah event lari jarak jauh pertama yang saya ikuti sekaligus event pertama di mana saya menjalaninya di tengah guyuran hujan. Ya, pada pelaksanaan Jakmar tahun ini, semua peserta harus melewatinya di tengah guyuran hujan. Cuaca di Jakarta pagi itu diliputi dengan awan mendung yang pada gilirannya tumpah menjadi hujan yang cukup deras. Meskipun kedinginan, saya bersyukur tidak ada angin ataupun petir. Dan saya pikir meskipun hujan yang turun sempat membuat seluruh badan basah kuyup, hujannya juga lekas berhenti. Saya kira ada baiknya juga berlari di tengah hujan seperti ini. Setidaknya tidak seperti tahun lalu di mana peserta Jakmar harus melewati teriknya Jakarta yang cukup ekstrim.

img_20161024_173658

Jadi bagaimana rasanya berlari 21k? Phew, lelah tentu saja. Kaki dan tangan terasa kram seluruhnya. Saat di kilometer 20 rasanya saya hampir putus asa dan ingin menyerah. Saat itu pandangan mata saya sudah kabur dan saya tidak bisa merasakan kaki dan tangan saya lagi.

Ya. Di saat-saat terakhir inilah saya ingin menyerah. Rasanya sudahlah saya ingin berjalan saja. Tapi entah mengapa saya tidak berhenti meskipun kaki sudah menjerit ingin berhenti. Di dalam hati saya terus berteriak, “Jangan berhenti, kamu harus berlari! Lelah ini hanya sementara, kemenangan menantimu di garis finish!”

Lalu bagaimana saya bisa finish? Well, banyak orang berjasa yang membuat saya bisa menyelesaikan race Jakarta (Half) Marathon ini. Salah satunya bapak paruh baya dengan nomor dada 21491, Pak Ariston Sutandio, yang selama perjalanan mulai dari kilometer 9 menjadi pacer saya hingga finish. Pak Ariston membantu saya bertahan dengan cara membiarkan saya mengikuti pacenya yang sangat nyaman bagi pelari yang baru saja menempuh  karir jarak jauh seperti saya.

Kalau saya melambat, Pak Ariston tidak segan menunggu saya bahkan menjemput saya untuk kembali stabil lagi. Pak Ariston pula yang sering mengingatkan saya untuk segera minum agar tidak kram di sepanjang perjalanan. Kalau tidak mengikuti Pak Ariston, entah mungkin saya tidak akan berhasil di dalam race ini. Bantuan Pak Ariston tidak akan pernah saya lupakan.

The Race Result
DAN pada akhirnya, setelah berjuang melewati lintasan setan di kilometer 20, akhirnya saya menyelesaikan race hingga kilometer terakhir. Saya dan Pak Ariston finish secara bersamaan. Berikut adalah catatan waktu saya dan Pak Ariston, 2 jam 27 menit untuk 21k.

Rasanya senang sekali. Meskipun pada mulanya mustahil bagi saya untuk mencapai target, akhirnya saya mampu memenuhi target sub 2 jam 30 menit. Yah meskipun bagi pelari lain catatan waktu ini belumlah apa-apa, bagi saya ini adalah kemenangan mutlak karena ini membuktikan bahwa saya bisa mengalahkan pesimisme saya terhadap diri saya sendiri. Terima kasih untuk teman, keluarga dan mentor saya di Derby Runners, Bang Reiski, Bang Taki dan Oji, yang sudah banyak memberikan tips-tipsnya tentang lari Marathon. Karena orang-orang ini, saya bisa menyelesaikan race dengan selamat tanpa cidera yang berarti…

img_20161023_181245

tina

Satu-satunya yang saya sesali adalah saya gagal menyusul teman-teman di WS untuk bersama-sama mensupport pelari Derby yang ikut Full Marathon. Ya, andaikan saya bisa finish lebih cepat mungkin saya tidak akan terlambat menjemput pelari idola saya di Derby, Bang Reiski. Karena gara-gara finish lebih lama itu, sementara Bang Reiski finish lebih cepat, saya tidak bisa memberikan Frutty Blackcurrent, refreshment favorit Bang Reiski. Ah… my bad. So sorry, Bang… hiks… 

I don’t know what to say… 

img_20161025_080013

img_20161023_121142

Di saat saya baru akan menyusul Bang Reiski—saat itu saya baru berjalan keluar garis finish, saya melihat Bang Reiski memasuki garis finish. Dan saat itu saya bingung mau bagaimana. How come, He’s here already. Akhirnya tanpa pikir panjang saya berlari mengejarnya dari belakang. Haha. Dan di situlah momen berharga yang saya miliki di event Jakmar 2016 ini, saya bisa menyaksikan bagaimana seorang Marathoner menjemput kemenangannya di garis finish. Apalagi tidak sekedar finish, tetapi mampu mencetak waktu terbaik setelah berlatih keras sekian lama.

Sebuah perjuangan hebat. Luar biasa. Sebagai teman dan fansnya, tentu saya sangat bangga. Jujur ini sangat mengharukan. Ini perjuangan yang sangat menginspirasi yang layak didengarkan oleh pelari-pelari muda. Ah, mendadak muncul sebuah gejolak yang membuat saya begitu bersemangat. Hari ini saya bisa menyelesaikan Half Marathon. Kelak saya juga ingin menyelesaikan Full Marathon seperti layaknya Bang Reiski.

The Review for Jakarta Marathon 2016
AKHIR KATA, terlepas dari banyaknya kekurangan yang ditemukan di sana-sini terkait dengan penyelenggaraan event —soal sterilisasi jalan yang masih kacau misalnya— jujur, saya saya benar-benar antusias dan menikmati sekali berlari bersama ribuan pelari di event ini. Selain ini adalah race long run perdana saya, event ini memberikan saya banyak masukan dan pelajaran tentang karir di dunia lari. Hujan yang mengguyur cukup deras di tengah langkah yang mulai terseokpun tak jadi soal. Saya gembira, itu saja. Apalagi saya bisa menyelesaikan race dengan baik. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu mewujudkan ajang bergengsi di Ibu Kota ini. Salut dengan kerja keras kalian. Semoga penyelenggaraan untuk tahun depan bisa lebih dan lebih baik lagi.

Well, see you on the next race then 🙂 #salamlari #dontworryrunhappy #marilari

©Tina Latief 2016

6 thoughts on “Mengawali karir lari jarak jauh di Festival City Mandiri Jakarta Marathon 2016

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s