Suatu Sore di Pasar Tradisional Trowono

IMG_20160314_162922PASAR tradisional…

Yang selalu terbayang di dalam pikiran saya adalah sebuah keharmonisan. Keharmonisan dari sebuah interaksi dan perjuangan para kaum petani desa yang terbingkai dalam sebuah kerangka manis bernama kehidupan.

Tidak banyak pasar tradisional yang saya ketahui. Namun, ada salah satu pasar yang selalu saya gemari tatkala berkunjung ke Yogya. Pasar yang selalu bersaja, menampakkan aktivitas warga desa yang khas daerahnya. Adalah Pasar Trowono yang terletak di sebuah perkampungan di dataran tinggi di Gunung Kidul.img_20160314_170406

Tetapi berbeda dari kunjungan biasanya, kali ini saya berkunjung saat sore hari di mana tak ada lagi aktivitas jual beli di pasar.  Entah apa yang membawa saya dan teman saya, Mj, ke mari. Kami spontan saja bermain-main ke tempat ini.

Keadaan pasar tentu saja nampak sepi, lengang. Terdengar keriuhan di bawah barak-barak, namun bukan aktivitas para pedagang melainkan anak-anak kucing yang sedang bermain. Di luar pasar, beberapa kios nampak buka namun tetap saja, sepi tanpa pengunjung. Keadaan ini kontras sekali dengan keadaan pasar di saat sedang aktif yang ramai dan penuh hiruk pikuk.

Biasanya akan ada banyak sekali pedagang yang menjual beragam dagangan di sini. Seperti yang bisa saya ingat, ada banyak penjual ikan, buah, sayur, dan peralatan rumah tangga seperti perkakas dari anyaman bambu serta alat-alat pertanian seperti cangkul, parang dan gathul. Yang unik, biasanya akan ada angkutan umum yang mungkin usianya sudah puluhan tahun. Yang biasanya akan dinaiki oleh orang sekaligus hewan ternak yang akan dijual di pasar.

Dulu saya pernah dua kali iseng belanja di sini. Waktu itu selepas lari pagi, saya mampir ke tempat ini membeli ikan dan sayuran untuk membuat sup. Di sini, saya berkesempatan menawar ikan dari bapak-bapak penjual ikan. Berharap mendapatkan ikan dengan harga yang lebih murah, namun saya justru ditertawakan karena ketahuan menggunakan bahasa Jawa yang kacau. 😀

Berinteraksi dengan orang-orang di pasar ini juga menyenangkan. Dulu saya juga pernah hunting foto di sini dan orangnya ramah-ramah. Ah… saya jadi kangen jalan-jalan ke sini lagi. Berada dalam suasana ini justru membuat saya kaku dilanda rindu.

IMG_20160314_173035 IMG_20160314_164122Selanjutnya Karena sepi, tak banyak yang bisa saya lakukan melainkan hanya mencari objek menarik untuk difoto. Beberapa yang dapat di antaranya foto neraca besar yang biasanya digunakan untuk menimbang barang-barang berat, barak-barak kosong, dan karung-karung besar berisi jagung. Foto-foto ini menurut saya unik. Dengan melihatnya saja seolah bisa menceritakan peristiwa sesungguhnya yang biasanya terjadi di tempat ini.

Sementara waktu, bolehlah berimajinasi dengan foto ini dulu. Di lain kesempatan, semoga saya bisa menuliskan lebih banyak cerita tentang aktivitas di Pasar Trowono yang ramah ini.

©Tina Latief 2016

Pasar Tradisional Trowono
Karang Asem, Paliyan, Gunung Kidul Regency, Special Region of Yogyakarta
Koordinat: -8.047566, 110.521482

copy-of-introducing

 

31 thoughts on “Suatu Sore di Pasar Tradisional Trowono

  1. Lidha Maul

    ini kesunyian macam apa, tempat yang biasanya amat ramai…rasanya jadi unik kalau disinggahi. Dan iya saya juga pasti nebak2 berjualan apakah disini dan disana

    Like

    Reply
  2. DollyPR

    Aku suka ke pasar tradisional. mungkin karena bawaan pas masih balita kali ya, sering diajak bibi ke pasar, keterusan sampe tua gini.
    Btw, foto orang lari maraton di header itu, si Rian bukan?

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Di daerah mas nama pasar tradisionalnya apa?

      Wah saya ngga tahu mas namanya, itu foto yang diambil sama komunitas lari kami (Derby) waktu Jakmar 2015 kemarin. Wah jangan-jangan kenal ya? 😀

      Like

      Reply
    1. Tina Latief Post author

      Terima kasih atas kunjungannya, panggil saja Tina ya 🙂

      Iya kalau di Jogja hari buka pasarnya tidak setiap hari. Sejarah pastinya saya sih tidak tau, tetapi jika dilihat secara kasat mata menurutku karena menyesuaikan kebutuhan warga juga. Kalau setiap hari pasar buka yang dijual kan tidak ada kalau petani…

      Like

      Reply
  3. Anonymous

    A arsenal de lascívia em outras palavras peixe pode estar no convívio de 200 e também 300 gramas junto vários
    vegetação destinado a abranger os lumes e buchada.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s