Berkunjung ke wisata spiritual, makam Ki Ageng Giring III

IMG_20160313_191748APA yang membuat orang mengunjungi tempat-tempat peninggalan bersejarah?

Entahlah, saya sendiri tidak mempunyai alasan khusus mengapa saya datang berkunjung. Sore itu, dengan begitu saja saya dan salah seorang teman menelusur jalan menuju ke beberapa tempat bersejarah yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kami di Yogyakarta. Dimulai dari sebuah tempat yang terletak di Desa Sodo yang konon merupakan makamnya para pendahulu Kerajaan Mataram.IMG_20160313_183031Tempat itu bernama Makam atau Pesarehan Ki Ageng Giring III. Letaknya cukup berdekatan dengan dua situs bersejarah lainnya di Desa Sodo. Di bagian seberangnya terdapat Sendang Talang Warih, sumber mata air yang biasa digunakan penduduk sekitar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sementara tak jauh dari sendang, berdiri pula sebuah pondok bernama Padepokan Ki Ageng Giring.

Baik Sendang Talang Warih maupun Padepokan Ki Ageng Giring letaknya saling berdekatan. Keberadaannya diapit oleh pohon-pohon besar, pohon-pohon Randu yang nampaknya sudah ada puluhan tahun yang lalu. Adapun Padepokan Ki Ageng Giring merupakan bangunan rumah joglo yang di bagian dalamnya merupakan sebuah ruangan terbuka menyerupai balai-balai untuk sebuah perkumpulan. Keduanya menjadi satu paket peninggalan bersejarah yang dapat dikunjungi dalam satu waktu apabila kita berkunjung ke Pesarehan Ki Ageng Giring III.
IMG_20160313_204156IMG_20160314_062914IMG_20160313_184137Menikmati suasana di sendang dan di pondok sore itu terasa menyenangkan. Meskipun demikian, saya tidak menghabiskan banyak waktu di kedua tempat itu. Setelah selesai melihat-lihat dan mengambil gambar, saya meneruskan kunjungan ke bagian pesarehan. Di sinilah kemudian saya lebih banyak mengeksplor tempat yang bernuansa magis itu.

Pesarehan Ki Ageng Giring III
PESAREHAN Ki Ageng Giring III terletak kurang lebih 15 meter dari Sendang Talang Warih. Selanjutnya, untuk dapat mencapai bagian dalam makamnya saya harus berjalan sejauh 10 meter dari pintu masuk. Tidak ada peraturan khusus yang harus saya lakukan tatkala mulai memasuki makam melainkan cukup mematuhi aturan yang telah di tempel di bagian muka makam seperti menjaga kebersihan, tidak membawa senjata tajam, menjaga ketenangan dan lain sebagainya. Tidak ada pula larangan untuk mengambil gambar. Saat kami datang, penjaga makam mempersilahkan kami untuk membawa ponsel dan mengambil gambar di dalam.
IMG_20160313_183543 IMG_20160313_191218Makam Ki Ageng Giring III terletak di dalam bangunan kecil tertutup di ruang utama. Sementara makam sang ratu, Kanjeng Ratu Giring, terletak di bagian luar bersebelahan dengan makam Ki Ageng Giring III. Di depan makam Ki Ageng Giring III terdapat empat makam kecil milik para abdinya yaitu Eyang Purwosodo, Eyang Mandung, Eyang Manten dan Eyang Jampianom. Saat saya memasuki ruangan, tercium aroma kuat sisa dupa yang dibakar.

IMG_20160313_192052Yang istimewa dari kunjungan saya ke makam, yang sekaligus membuat mulut saya mengaga, adalah saat saya mendapati silsilah raja-raja di Indonesia yang terpampang di sisi kanan bangunan makam. Bagan silsilah itu menunjukkan alur keturunan raja-raja dari zaman kerajaan Kutai di Kalimantan hingga raja-raja di Jawa pada masa sekarang. Silsilah itu nampak begitu agung, namun juga sangat rumit.

Silsilah itu sangat panjang. Saking panjangnya saya yakin orang tak akan selesai membacanya dalam waktu 5-10 menit. Kamera ponsel saya bahkan tidak bisa mengcapturenya secara utuh. Mendapati hal ini seketika membuat saya takjub.

Apa yang terbesit dari wajah takjub saya adalah betapa luar biasanya sejarah raja-raja di Indonesia. Di luar sana, mungkin orang tidak tahu bahwa keturunan raja-raja yang pernah memerintah di tanah Indonesia saling berkaitan satu sama lain. Misalnya saja raja yang dulu pernah memerintah di Kalimantan bisa saja memiliki keturunan yang kemudian memerintah di Jawa bahkan Madura. Keturunannya beranak pinak dan menyebar ke seantero Indonesia. Berdasarkan silsilah inipun, Ki Ageng Giring III merupakan sosok keturunan yang bila diurutkan ke atas merupakan keturunan raja-raja di Kalimantan.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram
LANTAS bagaimana Ki Ageng Giring III dapat dikaitkan dengan kemunculan Kerajaan Mataram? Konon, ceritanya bermula dari sebuah wahyu yang ada di dalam buah kelapa muda.  Berdasarkan sejarah lisan yang saya tulis kembali dari sumber ini, Kerajaan Mataram berdiri dari sebuah wahyu yang turun dari Sunan Kalijaga. Alkisah, Ki Ageng Giring III merupakan orang yang menjadi perantara wahyu tersebut.

Wahyu itu berisi perintah untuk menanam sepet (kulit kelapa) yang nantinya akan tumbuh menjadi menjadi pohon kelapa. Kelak jika pohon itu berbuah, akan muncul sebuah yang disebut gagak emprit. Dalam wahyu selanjutnya dikatakan bahwa barangsiapa yang meminum degan (buah kelapa muda) itu sampai habis maka keturunannya akan menjadi raja-raja di tanah Jawa. Namun sayang, tindakan Ki Ageng Giring didahului adiknya, Ki Ageng Pemanahan, yang datang ke rumahnya dan memaksa untuk meminum air kelapa itu untuk dirinya.

Singkat cerita, dari peristiwa inilah kemudian Ki Ageng Pemanahan menjadi raja. Ia meneruskan perjalanan untuk membabat hutan yang menjadi cikal bakal Keraton Mataram. Sementara itu, Ki Ageng Giring III mendapatkan kesempatan untuk menjadi penerus wahyu atau penerus raja pada keturunannya yang ke-7. Selanjutnya, pada zaman penjajahan Belanja, Kerajaan Mataram inilah yang selanjutnya terbagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta atas perjanjian Giyanti.

***

BERKESEMPATAN mengunjungi makam bersejarah seperti ini bagi saya adalah momen emas. Bukan dalam arti karena saya sedang main ke Jogja, melainkan karena pada akhirnya saya memiliki keberanian untuk mengunjungi dan mempelajari peninggalan bersejarah seperti ini.

Bagi saya berkunjung ke tempat peninggalan bersejarah seperti ini tidaklah mudah. Itu karena saya tidak memiliki cukup keberanian untuk, setidaknya, mendekati areal makam. Pada kesempatan kali ini beruntung saya memiliki kawan yang cukup bernyali. Hanya saja lain waktu saya berharap bisa mewawancarai langsung sumber-sumber sejarah lisan yang ada di pesarehan. Bagi saya, dapat berbincang langsung dengan sumber kunci dari sejarah adalah momen terbesar di dalam belajar sejarah. Tidak hanya untuk belajar saja, namun untuk meneruskan dan menuliskan sejarah tentang Ki Ageng Giring III dan bagaimana terbentuknya Keraton Mataram di tanah Jawa.

©Tina Latief 2016

Pesarehan Ki Ageng Giring III

Jalan Raya Wonosari-Paliyan No.16
Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55871
Koordinat: -8.004235, 110.558949

9 thoughts on “Berkunjung ke wisata spiritual, makam Ki Ageng Giring III

  1. Gara

    Tempat yang bagus untuk menapaktilasi kemunculan kerajaan Mataram, Mbak, terlepas dari hawa dupa yang masih terus dibakar di sana ya, ini tempat bersejarah yang keren. Saya belum pernah mendengar/membaca tentang sejarah Mataram Islam jadi bagian sejarah yang ini tentunya sangat menarik. Ah, kalau ada kesempatan saya ingin baca-baca lebih jauh lagi soal ini :hehe.

    Like

    Reply
  2. adelinatampubolon

    letak makam ini ditengah hutan yach Tina? Aku juga kalau disuruh berkunjung ke makam-makam gitu mesti mikir dua kali. Benar yach sejarah raja-raja kita dulu saling bertautan satu daerah dengan daerah lainnya, padahal jaraknya jauh bangat.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Kalau makam yang ini di tengah-tengah perumahan masyarakat mba.. Yang ini makamnya terawat, berbeda dengan yang makam Joko Tarub.

      Iya mba, saya saja pakai mikir-mikir waktu mau ke sini hehe

      Liked by 1 person

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s