The End of The Hunger Games: Mockingjay 2

Setiap perjuangan selalu diikuti dengan pengorbanan. Seperti menelan pil pahit, namun untuk sembuh dari kekacauan semua itu harus dilakukan. Keluarga yang tewas, saudara, dan orang yang dicinta selamanya akan menjadi kenangan. Hanya satu yang akan benar-benar mereka lupakan, tidak akan ada lagi Hunger Games.
***

Katniss Everdeen dan distrik 13 masih terus berjuang untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Snow. Sementara itu, Peeta yang masih menjalani perawatan medis pasca dicuci otaknya oleh Capitol terus berupaya mengingat apa saja memori kebenaran yang pernah terjadi dalam hidupnya. Bersama dengan Katnis, ia mengikuti unit untuk menjalankan misi membunuh Snow. Namun seperti kembali ke dalam Hunger Games, mereka harus menghadapi Capitol yang kini telah diubah menjadi arena dengan ribuan ranjau mematikan.

Satu persatu dari anggota unit tewas dalam pertempuran. Dalam misi itu, tim harus kehilangan Finnick, Boogs dan sejumlah anggota lainnya. Pada penyerangan berikutnya, senapan dan bom semakin membabi buta, warga Capitol pun dijadikan sasaran. Pada saat bom kedua dijatuhkan, Katniss baru menyadari bahwa adiknya, Prim, berada di sana dan turut menjadi korban.

Katniss segera mengetahui bahwa penyerangan itu didesain oleh Coin untuk kemenangannya sendiri. Setelah Capitol dikuasai, Coin mengangkat dirinya menjadi Presiden Panem dan berniat menyelenggarakan Hunger Games untuk anak-anak Capitol. Katniss sekali lagi menjadi Mockingjay, tepat di bawah Presiden Coin berdiri, ia akan melakukan eksekusi terhadap Snow. Dengan mata memandang tajam, ia mengarahkan mata panahnya tepat di mana Snow diikat. Namun tanpa diduga, ia mengalihkan panahnya dan  melepaskannya tepat ke arah Presiden Coin.

Saya akui, buku trilogi terakhir Suzanne Collins membuat saya berekspektasi tinggi. Seperti yang biasa saya harapkan dari film yang mengangkat cerita dari buku, penggarapan filmnya, setidaknya harus bisa lebih hidup dan merebut perhatian publik.

Sejauh ini, penggarapan Mockingjay Part 2 tidak buruk. Musik, kostum dan make up artistnya seperti biasa, keren. Hanya saja film ini cenderung tergesa-gesa. Seolah penonton tak diizinkan berlama-lama berfantasi di dalamnya. Ketergesaan ini tentu saja tidak menguntungkan karena mengurangi feel dari si film itu sendiri. Jika diingat-ingat, bahkan saya tidak merasakan bagaimana sedih dan hancurnya Katniss saat Prim tewas dalam pertempuran.

Adegan yang paling terasa ketergesaannya adalah di bagian akhir cerita yaitu di mana Katniss dan Peeta menikah dan memiliki anak. Poin utama di sini seharusnya menunjukkan bagaimana kehidupan masyarakat pasca revolusi dan Hunger Games. Namun lagi-lagi sang sutradara terlalu tergesa dalam mengeksekusi cerita sehingga endingnya terasa begitu janggal. Pada saat closing scene ini muncul, penonton banyak yang tertawa. Entah hanya penilaian saya saja atau apa, tetapi bayi yang digendong Katniss itu memang sangat kontras sekali jika dipilih sebagai model untuk anak Katniss dan Peeta.

©Tina Latief 2015

2 thoughts on “The End of The Hunger Games: Mockingjay 2

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s