Ketika Mengantre Tak Lagi Butuh Emosi

SAYA MASIH INGAT BETUL BAGAIMANA kantor kelurahan wilayah di mana saya tinggal melayani penduduknya. Saat itu, kantor kelurahan yang salah satu tugasnya memberikan pelayanan masalah kependudukan itu masih berupa loket dengan celah sempit di mana kita hanya bisa mengintip dan meneriakkan keperluan kita dari celahnya. Tidak ada antrean. Biasanya, yang datang langsung menghambur di celah loket, ikut berdesakan bersama yang lain.

Tidak ada ruangan bagi pengantre. Ah, jangankan ruangan. Bahkan tempat duduk saja tidak ada. Pengunjung yang datang biasanya duduk-duduk saja di luar, memanfaatkan pot-pot besar sebagai sandaran. Kalau panas? Wah, mereka bisa berada di mana-mana: di bawah pohon, di bawah spanduk, dsb…

kelurahan 1Pelayanan petugas di loket juga sangat tidak bersahabat. Selain lama, prosesnya juga berbelit dan banyak kecurangan. Seringnya untuk urusan kependudukan, banyak sekali pegawai yang berlaku curang. Jelas-jelas sudah disosialisasikan bahwa pembuatan KTP tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi di kelurahan, saya masih sering menjumpai pegawai yang meminta uang dengan alasan biaya administrasi.

Singkatnya, urusan ke kelurahan menjadi hal yang sangat menyebalkan…

Meskipun demikian, pagi ini saya memutuskan pergi ke kelurahan. Dan saya terkejut, sekarang mengurus masalah kependudukan di kelurahan tidak serumit dan semenyebalkan yang dulu.

Begitu datang ke kelurahan, saya dipersilahkan duduk dan langsung menghadap ke petugas yang melayani bagian kependudukan. Tidak ada loket bercelah sempit. Kini urusan di kelurahan dilayani dalam satu pintu.

kelurahan 2Di Sudin (Suku Dinas dan Pencatatan Sipil) pun sama. Malah bisa dibilang jauh lebih baik lagi. Ada ruangan untuk pengunjung, ada nomor antrean seperti di bank-bank, dan tentunya pegawai yang bersahabat. Dalam waktu singkat, urusan saya pun selesai. Senin, saya sudah bisa mendapatkan berkas yang saya inginkan di kantor kelurahan setempat.

Entah kepada siapa saya harus berterimakasih atas kenyamanan dan kemudahan ini. Yang jelas, semenjak kepemimpinan gubernur terakhir, pelayanan di kantor kelurahan Jakarta menjadi lebih baik.

Kini mengantre bukan masalah lagi. Tidak ada panas, capai, dan mungkin kecurangan-kecurangan yang dapat menguras emosi.

Masyarakat menempati urutan pertama yang didahulukan kepentingannya. Benar, memang begitulah seharusnya!

Saya tidak sempat memfoto kondisi di kantor kelurahan dan Sudin tadi. Tetapi dengan adanya nomor antrean ini membuktikan bahwa saat ini kantor pelayanan kependudukan telah semakin baik

©Tina Latief 2015

3 thoughts on “Ketika Mengantre Tak Lagi Butuh Emosi

  1. mastur songenep

    kekayaan negeri ini memang seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh bangsa indonesia, saatnya semua pemangku kebijakan berfikir untuk kenyamanan rakyatnya dalam hal apapun.

    Like

    Reply
  2. SlameTux

    Kayaknya memang kantor layanan masyarakat sudah mulai berbenah, di Pamekasan – Madura saja sudah banyak pelayanannya yg memuaskan. Misal kantor imigrasi, kantor kecamatan, polres, dan polsek. Sekarang lebih muda, gampang, cepat, dan nyaman (tempatnya).

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s