Bedah Buku “Media dan Kekuasaan” oleh Ishadi SK di acara Dies Natalis Fisip UI Ke 47

BERTEPATAN DENGAN DIES NATALIS FISIP UI KE 47, FISIP UI banyak mendatangkan tamu alumni yang kini telah banyak berkiprah di berbagai bidang di Indonesia. Salah satunya adalah Dr. Ishadi SK M.Sc atau akrab disapa Pak Ishadi. Sosok yang kini menjabat sebagai Komisaris Trans Media itu merupakan alumni UI yang dulu sempat menempuh gelar doktoralnya di bidang Komunikasi Massa, Departemen Komunikasi.

Pada kesempatan ini, Pak Ishadi kembali ke FISIP untuk sharing hasil penemuannya selama menempuh pendidikan di UI. Didampingi jurnalis Kompas yang juga alumni FISIP, Imam Prihadiyoko serta seorang presenter MNC, Sheika Rauf yang sekaligus menjadi pemandu acara bedah buku, disertasi yang dibukukan dalam Media dan Kekuasaan, Televisi di Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto menjadi mahakarya yang dipersembahkan kepada kami mahasiswa.

C360_2015-03-17-18-30-55-253

Tanpa media tidak ada reformasi, begitulah kata Ishadi. Baginya tumbangnya rezim Soeharto tidaklah semata-mata karena mahasiswa dan para aktivis, namun tidak terlepas dari peran media yang meskipun media pada saat itu lebih banyak bergerak dari bawah (underground).

Media membuktikan diri bahwa ia tidak lemah. Justru sebaliknya, media punya kekuasaan yang teramat besar. “Buktinya ia mampu menumbangkan sebuah rezim,” jelasnya. Seperti yang sedang marak terjadi saat ini, media dapat mendapuk seseorang menjadi pemimpin.

Ishadi memaparkan pula bagaimana newsroom di televisi diperebutkan untuk melayani sejumlah kepentingan. Tidak hanya untuk kepentingan parpol, media juga dipergunakan untuk menunjukkan status atau kedudukan seseorang. “Jangan dikira sungkemannya Raffi (Raffi Ahmad) itu asli. Lihat saja nanti apa lahirannya juga mau ditayangkan” tambahnya berkelakar. Pada dasarnya newsroom tidaklah independen, namun dipengaruhi banyak pihak yang menaruh kepentingan di sana.

Di sisi lain, Imam membenarkan bahwa newsroom bukanlah ruang hampa. Justru keberadaannya sekarang terisi oleh tarik menarik kepentingan antar banyak aktor sehingga memungkinkan sebuah media berpengaruh besar terhadap kekuasaan seseorang. Inilah yang kemudian dilihat Ishadi sebagai kedudukan hierarkis antara jurnalis dan media owner. Pada akhirnya siapapun yang memiliki media (media owner) dialah yang berkuasa.

Namun, Imam menggarisbawahi pentingnya bagi jurnalis untuk memiliki posisi tawar di dalam media. “Harus terdapat kesepakatan sejak awal sehingga baik jurnalis maupun owner memiliki posisi yang tidak timpang di dalam menentukan produk media.” jelasnya. Karena bagaimanapun juga produk berita tidak ada yang bebas nilai. Di dalamnya terdapat tarik menarik kepentingan sehingga regulasi pemerintahpun penting diberlakukan sebagai kontrol.

©Tina Latief

2 thoughts on “Bedah Buku “Media dan Kekuasaan” oleh Ishadi SK di acara Dies Natalis Fisip UI Ke 47

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s