Overpopulation, Fact or Myth

TANPA DISANGKA, penemuan manusia tentang sistem pertanian atau bercocok-tanam menyebabkan pesatnya pertumbuhan penduduk. Penemuan metode produksi pangan melalui metode pertanian memberikan manusia cukup pangan dan nutrisi yang baik. Konsekuensinya manusia dapat hidup lebih lama, berkembang biak, dan mampu melestarikan keturunannya.

Dari waktu ke waktu, jumlah manusia terus bertambah. Selain karena didukung oleh ketercukupan pangan, ketersediaan sumber air minum, sanitasi yang baik, kemajuan di bidang kesehatan, dan antibiotik memungkinkan banyak anak manusia yang selamat dari ancaman berbagai macam penyakit epidemik. Saat ini kita hidup di tengah-tengah pertumbuhan populasi yang besar. Populasi dunia saat ini mencapai 6,3 miliar jiwa yang diprediksikan pada tahun 2050 jumlah penduduk mencapai 9 miliar jiwa dan 10 miliar pada akhir abad ini.

Kenyataan itu mengangkat isu  over population atau population bomb semakin marak dibicarakan di ranah publik. Orang mulai panik, “kita over populasi” atau “kita memiliki terlalu banyak anak”. Sementara itu, masalah ini tidak hanya sekedar kelebihan jumlah penduduk. Seiring dengan masalah overpopulasi, masalah-masalah seperti kurangnya supplai air bersih, deforestasi, ancaman mahkluk hidup lain kehilangan tempat tinggal bahkan punah berkembang menjadi masalah serius di antara masalah kependudukan.

Meskipun demikian, masalah over populasi ini masih menjadi perdebatan. Pertanyaan yang muncul: benarkah terjadi overpopulasi? Apakah isu overpopulasi ini hanya dibesar-besarkan atau memang merupakan masalah riil yang harus diatasi bersama secara serius?

Sejumlah pakar kependudukan seperti Steven Rosier menjawab fenomena over populasi sebagai sebuah mitos belaka. Steven menganggap jumlah penduduk yang ada hingga saat ini adalah fenomena kemenangan besar atas kematian karena ia percaya kini orang-orang hidup lebih lama dan lebih baik daripada sebelumnya

Dalam analoginya Steven mengatakan, mungkin untuk menempatkan sebanyak 6,3 miliar orang di Texas dengan menempati sebuah rumah dengan halaman depan dan belakang. Ketika terjadi demikian, dunia akan kosong atau masih tersedia banyak ruang bagi manusia. Dengan cara inilah ia menggambarkan fakta bahwa dunia ini masih merupakan tempat yang sangat kosong. Bukan overpopulasi.

Baginya, kemunculan kota-kota besar seperti New York atau Shanghai adalah karena orang secara sukarela memilih untuk hidup dengan orang banyak. Karena dengan tinggal dengan orang banyak akan terbuka lebih banyak banyak kesempatan untuk bekerja, kesempatan berpendidikan yang lebih baik, lebih banyak hiburan, kesempatan budaya, kesempatan yang lebih baik untuk memperoleh pekerjaan dengan upah tinggi, dan anak-anak mereka akan mendapatkan banyak keuntungan seperti pelayanan yang lebih baik.

Tidak ada paksaan bagi orang untuk tinggal di tempat-tempat seperti Hong Kong yang merupakan salah satu kota yang paling ramai di dunia. Mereka berada di sana karena mereka lebih suka berada di Hong Kong dengan standar hidup dunia pertama. Tentu hal ini berbeda jika tinggal di pedesaan dengan standar hidup dunia ketiga. Steven menekankan bahwa tempat yang sering kita sebut sebagai kota, adalah tempat yang dengan sukarela kita tinggali dengan alasan standar hidup yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, menurut Steven, kelebihan penduduk (overpopulasi) itu hanyalah mitos belaka.

©Tina Latief

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s